07/03/2024
SERUAN AKSI!!!
KOMITE AKSI HARI PEREMPUAN SEDUNIA
(KAHPS)
“Perempuan Papua Dalam Cengkraman Kolonialisme”
Setiap tanggal 08 Maret, dunia akan memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD), untuk merayakan pencapaian sosial, ekonomi, budaya, dan politik perempuan. Kilas balik Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day (IWD). Perayaan ini dimulai pada 1908 ketika 15.000 perempuan melakukan aksi demo di New York, Amerika Serikat, menyuarakan hak mereka tentang peningkatan standar upah dan pemangkasan jam kerja. Pada 1910, Pemimpin ‘Kantor Perempuan’ Clara Zetkin mengajukan sebuah gagasan untuk menetapkan Hari Perempuan Internasional yang menyarankan setiap negara merayakan satu hari dalam setahun untuk mendukung aksi tuntutan perempuan. Gagasan itu disetujui Konferensi perempuan dari 17 negara yang beranggotakan total 100 orang perempuan. Sehingga disepakati 19 Maret 1911 sebagai perayaan pertama Hari Perempuan Internasional di Australia, Jerman, Denmark dan swiss. Pergerakan perempuan di Rusia menggelar aksi damai menentang Perang Dunia I pada 8 Maret 1913. Setahun kemudian, perempuan di seantero Eropa menggelar aksi yang sama di tanggal yang sama.Diera Perang Dunia II, 8 maret digunakan seluruh dunia sebagai momentum advokasi keserataan gender. Tanggal 8 Maret kemudian diakui keberadaannya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1975. Pada 2011, mantan Presiden AS Barack Obama menetapkan Maret Sebagai Bulan sejarah perempuan.
Hari perempuan bukan hanya sekedar seremonial saja, perayaan hari perempuan harus bisa dimaknai lebih terutama bagi perempuan Papua sebagai salah satu momentum untuk membangkitkan semangt perlawanan melawan system yang menindas harkat dan martabat perempuan sebagai manusia. Berbagai problematika social hari ini mendeskripisikan bahwa perempuan Papua merupakan salah satu kaum yang menderita akibat penindasan berlapis, tersistematis dan massif. Penindasan berlapis dari kebudyaan patriarki yang menomorduakan kaum perempuan dalam berbagai sector kehidupan. Akar penindasan perempuan adalah patriarki karena saat berbicara tentang superior berarti merujuk pada kekuasaan yang dimiliki oleh laki-laki untuk menguasai perempuan. Dalam keberadaan patriarki selama ini, tidak ada konsep keseteraan dan non diskriminasi yang ada didalamnya. Hingga sekarang banyak perempuan Papua yang mengalami berbagai bentuk pelanggaran dalam kehidupan mereka ini terjadi karena budaya patriaki yang menjadikan perempuan akhirnya tidak memiliki hak, membuat perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, tetapi juga karena keberadaan kapitalisme yang terus mengeksplotasi, mendiskriminasi menjadikan perempuan sebagai objek seksual, dan ini semua didukung oleh kolonialisme sebagai penyebab kemiskinan yang membuat perempuan mengalami beban ganda hingga akhirnya termarginalisasi. Dan juga militerisme yang ikut menjaga kepentingan Negara tak segan-segan melecehkan, memperkosa, bahkan membunuh suara emansipasi yang keluar dari mulut perempuan Papua yang berani melawan rezim kapitallis dan imperialis ini. Sebut saja mama Yosepha Alomang yang diperkosa dan disiksa karena tetap teguh menjaga tanahnya dari perluasan konsesi eksplorasi tambang Freeport, mama Tarina Murib yang di bunuh, ditelanjangi, dan dimutilasi oleh oknum aparat militerisme Indonesia di Puncak Papua, Jein Urpon dianiaya sampai mati oleh seorang anggota kepolisian di Pegunungan Bintang, Dan hingga hari ini kasus dua orang ibu yang diprkosa, kemaluannya di iris menggunakan pisau hingga mereka menginggal taka da kepastian hukum untuk penyelesaian kasusnya. Dan hingga hari ini banyak perempuan yang menjadi korban kekejaman militerisme yang tidak lain adalah anjing penjaga modal proyek Neolib Indonesia.
Jadi penting untuk kita membangun kebudayaan feminisme yang progresif sehingga kita bisa melihat situasi dan akar permasalahan penidasan hari ini dengan jeli. Akar Penindasan hari ini adalah kolonialisme yang memasifkan pelecehan harkat dan martabat perempuan Papua. watak fasis militeristiknya selalu menumbalkan nyawa rakyat Papua, dan sumber daya alam Papua demi kepentingan akumulasi modal yang maksimal. Semua kebijakan Negara yang mengarah kepada mekanisme pasar merupakan wajah dari system peerintahan Indonesia yang sudah terkooptasi oleh mekanisme pasar sehingga menumbalkan rakyat dan seluruh kekayaan sumber daya alam Negara untuk mengikuti dikte pasar global Bertepatan dengan momentum IWD ,maka kami mengajak seluruh organisasi pro demokrasi,individu progresif,komunitas perempuan dll, untuk terlibat dalam aksi mimbar bebas yang akan dilaksanakan pada :
Hari/Tgl : Jumat,08 Maret 2024
Pukul : 14:00 WPB (jam 02 siang) - Selesai
Tempat : Depan Studio Foto Ellyn Kota Sorong
Demikian seruan aksi yang dapat kami sampaikan, atas perhatian dan partisipasnya kami ucapkan terima kasih.
Sorong, 08 Maret 2024
……SALAM PEMBEBASAN……