Admin Wisata Lokal Wong Tegal

Admin Wisata Lokal Wong Tegal Tempat Pariwisata Lokal di Tegal

30/09/2021

Selamat Hari Kesaktian Pancasila, 01 Oktober 2021

24/03/2021

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan, belanja barang untuk kementerian/lembaga hingga akhir Februari 2021 mencapai Rp 18,2 triliun

20/03/2021

Apa reaksi anda jika mengalami seperti ini..?

Tempat Wisata sejati adalah dalam diri hati masing-masing,,
20/03/2021

Tempat Wisata sejati adalah dalam diri hati masing-masing,,

Memperkaya wawasan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan YME
14/03/2021

Memperkaya wawasan keanekaragaman hayati ciptaan Tuhan YME

BERITA-Kawasan Pegunungan Bukit Barisan di Pulau Sumatra kaya akan keanekaragaman hayati berkategori langka dan dilindungi. Termasuk di dalamnya adalah hewan satu ini.

Asal Mula Kota Slawi – Dari Manakah Kata Slawi Muncul?Seperti Kota Tegal, ternyata Slawi pun sudah berumur ratusan tahun...
06/01/2021

Asal Mula Kota Slawi – Dari Manakah Kata Slawi Muncul?

Seperti Kota Tegal, ternyata Slawi pun sudah berumur ratusan tahun. Awal riwayatnya sezaman dengan kehidupan tokoh Ki Gede Sebayu yang berhasil mendirikan Tetegal pada awal tahun 1600-an.

Dikisahkan bahwa salah seorang anak putri Ki Gede Sebayu yang bernama Nini Dwijayanti memang terkenal cantik, cerdas, dan cekatan. Kegemarannya menunggang kuda membikin banyak orang semakin kagum. Konon, kalau Nini Jayanti sedang di atas pelana kuda kesayangannya akan tampak seperti bidadari yang turun dari langit biru. Jadi, wajarlah bila namanya populer di kalangan masyarakat. Wajar juga banyak pemuda atau perjaka yang ingin menyuntingnya.

Ki Gede Sebayu sering didatangi utusan yang menanyakan keadaan NIni Jayanti. Ada yang berterus terang ingin melamar, ada juga yang hanya sekadar mencari-cari keterangan. Pendek kata, Ki Gede Sebayu harus melayani banyak orang yang sama-sama berharap dapat menyunting Nini Jayanti. Ternyata hal itu menimbulkan kerepotan sebab keputusan bukan di tangannya sendiri. Jadi, tidaklah gampang menjawab atau menolaknya. Kemudian pada suatu senja, berkatalah dia kepada Nini Jayanti dengan kata-kata yang ramah.

“Ketahuilah anakku, sudah banyak orang yang menanyakan dirimu. Kata mereka, Nini Jayanti sudah pantas bersanding dengan seorang jejaka yang tampan. Lantas, bagaimana pendapatmu sendiri?”

“Alhamdulillah, Kalau betul banyak yang memandang saya berlebihan. Padahal rasanya masih harus belajar banyak perkara. Sedangkan soal perkawinan, pasti Ayahanda sudah menyimpan kebijaksanaan,” jawab Nini Jayanti dengan santun, tegas, dan jelas.

Jawaban itu membuat Ki Gede Sebayu merasa bangga dan terharu. Kemudian melanjutkan kalimatnya yang lembut.
“Nini Jayanti, perkawinan itu boleh dianggap gampang, tetapi kadang juga dianggap sukar. Buat orang jelata biasanya gampang. Namun sering menjadi sulit buat orang yang tinggi-tinggi.”

“Apakah sebabnya, Ayah?”
“Kebutuhan orang jelata itu sederhana. Sedangkan kebutuhan orang berpangkat makin banyak. Jadi timbbullah kesulitan.”
“Saya sendiri ingin kehidupan yang sederhana. Mengapa harus dipandang sulit?”
“Kesulitan bukan pada dirimu, Jayanti. Yang sulit adalah menetapkan satu pilihan dari belasan calon suami. Jangan sampai kelak timbul penyesalan.”

Nini Jayanti terdiam sejenak. Kemudian menjawab dengan penuh kesantunan.

“Ketika Jayanti masih kecil sering mendengar dongeng dan hikayat tentang sandiwara perkawinan. Apakah boleh dicontoh?”
“Engkau sungguh cerdas, Jayanti. Dengan sayembara itu akan tampak adil dan pasrah kepada takdir Ilahi. Lantas, apakah sayembaranya?”

Ternyata Nini Jayanti tidak mengharapkan sayembara harta kekayaan, ketampanan, dan kepangkatan. Usulnya adalah sayembara kesaktian. Katanya siapa pun yang dapat menebang dan merobohkan pohon jati raksasa di gunung selatan akan dijadikan suami Nini Dwi Jayanti, biar pun dia jelata miskin, atau tidak berpangkat akan tetap dilayani sepanjang hayat.

Akhirnya diputuskan sayembara itu dilaksanakan pada hari Jum’at Kliwon setelah sembahyang Jum’at. Tibalah pada hari yang ditentukan. Pada waktu itu datanglah 25 perjaka dari berbagai daerah dengan sejumlah pengiringnya. Kebanyakan dari mereka membawa pethel (Kampak). Pethel adalah alat pemotong kayu yang terbuat dari bilah besi yang kokoh bentuknya pipih dan terpasang miring pada kayu atau pegangan. Pethel itu harus diayunkan keras dengan tenaga keras agar tertancap mendalam dengan cara itulah biasanya batang kayu yang besar dan kokoh lama-lama akan tumbang.

Untuk mengjormati keberanian mereka dibuatlah perkemahan di sekitar pohon jati raksasa tersebut, tiap perjaka diberikan satu kemah sehingga ada 25 kemah di gunung selatan. Tentu saja pada zaman itu belum ada kata kemah. Yang lazim adalah kata candi yang berarti ‘rumah’. Jadi, dalah waktu singkat berdirilah dua puluh lima candi di gunung selatan.

Ki Gede Sebayu membuka sayembara itu dengan doa yang khusyuk. Kemudian menegaskan kepada seluruh peserta sayembara agar tampil dengan jiwa satria. Katanya, yang gagal janganlah menyesal, sedangkan yang menang janganlah sombong. Kelak semuanya harus tetap bersahabat. Kalau perlu dijamin damai tinggal di Tetegal. Pendek kata, semuanya harus berserah diri kepada takdir Ilahi.

Setiap peserta disediakan waktu sehari penuh untuk melaksanakan tugasnya. Pada malamnya, mereka dihibur dengan seni kentrung, seni mendongeng hikayat dengan iringan musik seperti rebana dan kendang. Lakon yang dipilih adalah Hikayat Putri Joharmanik dari Negeri Bagdad. Konon, Putri Joharmanik adalah citra seorang gadis yang cantik, cerdas, dan cekatan.

Satu per satu mereka memperlihatkan kehebatan masing-masing. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton semarak berkepanjangan. Setiap sore berduyun-duyun penduduk ingin menyaksikan robohnya jati raksasa. Akan tetapi, selama belasan hari belum ada tanda-tandanya. Padahal setiap peserta sudah menguras tenaganya dengan susah payah. Ternyata pohon itu tetap bertahan. Bahkan keesokan paginya pulih seperti asalnya.

Namun, hal itu tidak mengendurkan semangat para peserta. Yang sudah gagal pun masih bertahan di kemahnya. Ingin menyaksikan siapakah kelak pemenangnya.

Pada hari-hari terakhir, tontonan itu semakin meriah. Orang-orang semakin penasaran hendak mengetahui sang pemenang. Sampai-sampai banyak penduduk yang tidak pulang ke rumahnya. Bahkan ada yang mengajak istri dan anak-anaknya. Mereka bertahan di sanan karena dijamin makan dan minum oleh Ki Gede Sebayu. Pendek kata, tempat itu mendadak manjadi pusat keramaian.

Pada hari terakhir, suasana semakin tegang. Ki Gede Sebayu terus komat-kamit berdoa. Wajah Nini Jayanti pun memucat. Matanya meredup menahan tangis sambil bergayut ke pundak ibunya. Pikirnya, jagan-jangan suara gaib itu tipuan jin dan setan. Kalau tak ada yang menang, bagaimanakah nasibnya?

Menjelang sore datanglah seorang santri diiringi sejumlah remaja yang santun-santun. Dia mengaku bernama Ki Jadug dan memohon izin mengikuti sayembara. Dia terlambat karena memang baru saja mendengar kabar di perjalanan.

Kemudian berkatalah Ki Gede Sebayu dengan nada rendah.
“Baiklah. Silakan mencobanya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan mukjizat-Nya kepadamu.”

Sejenak Ki Jadug berpamitan untuk berwudu, lantas bersembahyang dua rekaat disaksikan seluruh penonton yang berdebar. Ada yang kontan ikut berdoa. Ada yang mengusap air mata. Ada yang tersenyum kecut. Ada juga yang secara lirih mengejeknya.

Tidak lama kemudian, tampaklah Ki Jadug mengayunkan kampaknya dengan jurus silat yang hebat. Ternyata pada ayunan kelima terdengarlah gemuruh angin lesus dan bumi pun berguncang. Orang-orang berlarian menjauhi gelanggang. Pada saat itulah pohon jati raksasa roboh perlahan-lahan tanpa menyentuh seorang pun di sekitarnya.

Lantas terdengarlah sorak sorai berkepanjangan. Setelah mereda, berkatalah Ki Gede Sebayu kepada segenap orang yang hadir.

“Saudara-saudaraku, saksikanlah, takdir Allah menetapkan Ki Jadug menjadi Suami Nini Jayanti. Upacara pernikahan akan dilaksanakan dengan syariat Islam dan adat yang pantas. Saksikan juga bahwa jati keramat ini adalah milik kita bersama. Kelak akan menjadi tiang utama atau saka guru keraton di bumi Tetegal. Saksikan juga kelak apabila tempat ini menjadi makmur akan bernama Candi Selawe. Sekarang bubaran dan bersyukur kepada Allah SWT.”

Orang-orang pun bubaran dengan hati yang lapang. Kelak tahulah mereka bahwa santri Ki Jadug adalah seorang bangsawan Mataram. Dia sengaja mengembara untuk berguru dan berdakwah. Setelah menikah dengan Nini Dwijayanti lantas menggunakan nama aslinya, Pangeran Purbaya. Mereka hidup bahagia dan dikenal sebagai tokoh terpandang di daerah Tegal.

Adapun nama Candi Selawe yang berarti ‘candi’ atau rumah dua puluh lima buah’ itu lama-lama terucapkan Selawi atau Slawi seperti sekarang. Pada tahun 1956, kota tersebut ditetapkan sebagai ibukota Kabupaten Tegal. Namun, Perpindahan Kantor Kabupaten Tegal ke Slawi baru berlangsung pada tahun 1986.

Sumber : Cerita rakyat dari Tegal (Jawa Tengah), Oleh Yudiono KS

Disalin dari : https://www.ditegal.com/asal-mula-kota-slawi-dari-manakah-kata-slawi-muncul/ #:~:text=Seperti%20Kota%20Tegal%2C%20ternyata%20Slawi,cantik%2C%20cerdas%2C%20dan%20cekatan.

SEJARAH TEGALNama Tegal berasal dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian. Sumber lain me...
16/12/2020

SEJARAH TEGAL

Nama Tegal berasal dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian. Sumber lain menyatakan, nama Tegal dipercaya berasal dari kata Teteguall. Sebutan yang diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500–an. Kabupaten Tegal berdiri pada tanggal 18 Mei 1601 pada saat Ki Gede Sebayu diangkat sebagai juru demung di Tegal oleh Sultan Mataram, dan mulai membangun daerah ini. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Tegal)

Dalam sejarah dijelaskan bahwa Ki Gede Sebayu memiliki peran besar terhadap eksistensi Kota Tegal. Ki Gede Sebayu merupakan seorang bangsawan keturunan Majapahit yang pergi ke arah barat dan sampai di tepian sungai Gung.

Bermula dari perang antara kerajaan Jipang melawan kerajaan pajang yang dipimpin oleh Aryo Pagiri ,Ki Gede Sebayu bergabung dengan prajurit Mataram bersama dengan Pangeran Benowo untuk Menyingkirkan Aryo Pagiri . Setelah Aryo Pagiri menyerah dan diusir dari Keraton Pajang , kemudian Keraton Pajang diserahkan kepada Pangeran Benowo . Setelah perang usai , Ki Gede Sebayu berniat untuk melakukan pengembaraan meninggalkan Tanah Mataram menuju arah barat .
Ki Gede Sebayu berjalan ke arah barat bersama dengan para pengikutnya. Sebelum menuju Tanah Tegal , beliau kemudian menyempatkan diri singgah di Desa Taji , wilayah Bagelan untuk beristirahat .Lalu keesokan harinya berangkat menuju Purbalingga untuk berziarah ke makam ayahnya yang merupakan mantan Adipati Purbalingga dan melanjutkan perjalanan hingga sampai menuju tepi sungai Gung.

Rombongan bertemu dengan warga pesisir dan rombongan menemui Ki Gede Wonokusuma yang menjadi tokoh di daerah tersebut. Ki Gede Sebayu kemudian menceritakan sejarah keluarga yang merupakan keturunan bangsawan dari Syech Sekar Delima .
Beliau sejak kecil diasuh oleh Ki Ageng Wunut , yang selama masa hidupnya diabdikan untuk memperdalam agama islam .Setelah dewasa Beliau dimasukkan ke dalam Kraton Pajang Sebagai Prajurit Tamtama .Disana Ki Gede Sebayu memperoleh ilmu peperangan dan ilmu kanuragan .

Ternyata Ki Gede Wonokusuma merupakan keturunan yang sama dengan Ki Gede Sebayu , lalu dengan ijin Ki Gede Wonokusuma , Ki Gede Sebayu mulai membangun daerah tersebut .
Dimulai dari menempatkan para pengikutnya sesuai keahlian masing – masing , Kehadiran Ki Gede Sebayu mulai menunjukan kemajuan beberapa tahun kemudian dampaknya mulai dirasakan penduduk sekitar . Peningkatan taraf hidup penduduk mulai dirasakan , pembangunan majid dan pondok pesantren , semua itu diprakarsai oleh Ki Gede Sebayu .
Meletusnya perang saudara di Kerajaan Pajang membuat kakek Ki Gede Sebayu yaitu Ki Ageng Ngunut mendesaknya agar menyelamatkan Kerajaan Pajang . Ki Gede Sebayu menolak , karena tidak tega melihat penderitaan manusia yang diakibatkan perebutan kekuasaan antar keluarga yang tak kunjung berakhir. Ki Ageng melepas gelar kebangsawanannya dan memilih diam cegah dhahar lawan guling atau mencari arti hidup .
Banyak pembangunan di daerah tepi sungai Gung yang dilakukan oleh Ki Gede Sebayu , mulai dari perluasan lahan untuk bercocok tanam dan pembangunan saluran irigasi. Daerah yang sebagian besar merupakan sawah tersebut kemudian dinamakan Tegal.
Sementara itu , setelah perang saudara yang panjang mulai dingin , Pangeran Benowo diangkat menjadi raja Pajang . Dia membutuhkan saudaranya yaitu Ki Gede Sebayu untuk menjadi patih , Dia pun mengirim sebuah utusan untuk mencari adiknya . Di desa Teteguali para prajurit utusan menemukan Ki Gede Sebayu , namun beliau menolak dengan alasan dia tidak mungkin meninggalkan penduduk Teteguali . Karena alasan tersebut Pangeran Benowo melantik Ki Gede Sebayu menjadi juru demang atau sesepuh Desa Teteguali.

Pelantikan tersebut diberikan pada malam Jumat Kliwon , 15 Sapar Tahu 988 Hijriah atau 12 April 1580 Masehi.Pengangkatan Ki Gede Sebayu menjadi pemimpin pertama Tegal dilaksanakan pada perayaan tradisional setelah menikmati hasil panen padi dan hasil pertanian lainnya .

Dalam Perayaan juga di kembangkan ajaran dan budaya agama islam yang hingga sekarang masih berpengaruh di kehidupan masyarakat Tegal. Hari , tanggal dan tahun Ki Gede Sebayu diangkat menjadi pemimpin Tegal atau Juru Demung Tegal ditetapkan sebagai hari jadi Kota Tegal. Hal ini sesuai dengan peraturan Daerah No5 tahun 1998 tanggal 28 Juli 1998.

Ki Gede Sebayu dengan misinya melakukan penyebaran agama islam ,beliau merupakan seorang ahli agama yang telah membimbing masyaakat dalam menanamkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa . beliau membuat sebuah masjid yang terdapat di Padepokan Karangmangu.

Pada suatu ketika Ki Gede Sebayu bermaksud membangun bangunan masjid , ada cerita yang menarik disini, beliau mengutus Ki Jaga Sura dan Ki Sura Laweyan untuk mencari satu pohon jati untuk dijadikan tiang penyangga utama masjid . Karena ukuran pohon jatu yang sangat lebar akhirnya mereka kembali.
Akibat tidak ada yang bisa menebang pohon tersebut , akhirnya Ki Gede Sebayu membuat sebuah sayembara yang diikuti beberapa orang. Pemenang sayembara akan dinikahkan dengan Raden Ayu Rara Giyanti . Berkumpulla dua puluh lima kesatria di suatu tempat yang akhirnya diberi nama Salawe yang sekarang bernama Slawi. Sayembara tersebut akhirnya di menangkan oleh Ki Jadug yang merupakan murid Ki Gede Sebayu yang memiliki nama asli Pangeran Purboyo.

Ketika Ki Gede Sebayu akan wafat , beliau mengumpulkan para sanak keluarga dan meninggalkan beberapa pesan kepada sanak keluarganya.Antara lain
- Hidup rukun diantara saudara dan sesama
Raden Mas Honggowono yaitu anak kedua Ki Gede Sebayu ditunjuk menggantikannya sebagai demung di Tegal
- Pangeran Purboyo atau Ki Jadug dipercaya mengurus pondok pesantren dan menyelesaikan pembangunan masjid
Setelah wafat Ki Gede Sebayu meminta dimakamkan di dekat Wangan Jimat di Desa Danawarih
- Rakyat tegal tidak boleh menebang pohon sembarangan dan mengotori sungai. ( https://dosenwisata.com/sejarah-kota-tegal/ )
Ki Gede Sebayu adalah putra ke22 dari 90 saudara. Putra beliau 2 orang yaitu, Raden Ayu Giyanti Subalaksana yang menjadi istri Pangeran Selarong (Pangeran Purbaya) dan Ki Gede Honggobuwono.

Antara abad 10 sampai 16 kemungkinan di wilayah Tegal ada sistem pemerintahan atau dikuasai kerajaan kecil, sebab menurut catatan Rijklof van Goens dan data di buku W. Fruin Mees, disebut kalau sekitar tahun 1575 daerah itu termasuk daerah merdeka yang dipimpin oleh raja kecil atau pangeran. Pendapat ini juga didukung di buku The History of Java karya Raffles yang menyatakan kalau ada kerajaan kecil yang bernama Kerajaan Mandaraka (ada juga yang menyebut Kerajaan Salya) di sekitar wilayah Tegal, tapi catatan ini sedikit meragukan.

Kerajaan Mataram mulai menguasai Tegal setelah penyerangan pasukan yang dipimpin oleh Pangeran Seda Krapyak. Sebagai bagian dari Kerajaan Mataram, wilayah Tegal mendapat status Kadipaten pada hari Rabu Kliwon tanggal 18 Mei 1601, dan Ki Gede Sebayu diangkat oleh Panembahan Senopati (penguasa Mataram) menjadi Juru Demang (setingkat Tumenggung).

Pada jaman perlawanan Pangeran Diponegoro (1825-1830), menurut catatan P.J.F. Louw dalam bukunya De Java Oorlog Uan, wilayah Tegal dipimpin Residen Uan Den Poet.
Sejarah. (https://sclm17.blogspot.com/2016/03/sejarah-tegal.html?m=1)

Sejarah kepemimpinan di Kabupaten Tegal telah mengalami serangkaian pergantian, dimulai dari Ki Gede Sebayu (1601-1620).

Berikut adalah pemimpin Kabupaten Tegal dari masa ke masa…

1. Ki Gede Sebayu ( Juru Demung ) setingkat dengan Bupati
Masa kepemimpinan : 1601 s/d 1620
keterangan : dimakamkan di Desa Danawarih, Kecamatan Balapulang
2. Ki Gede Honggowono ( Juru Demung ) setingkat dengan Bupati
Masa kepemimpinan : 1620 s/d 1625
Keterangan : dimakamkan di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru
3. Pangeran Adipati Martoloyo
Masa kepemimpinan : 1625 s/d 1678
4. Tumenggung Sindurejo ( Pranantaka )
Masa kepemimpinan : 1678 s/d 1679
5. Tumenggung Honggowono ( Reksonegoro )
Masa kepemimpinan : 1679 s/d 1680
Keterangan : dimakamkan di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru
6. Tumenggung Secowijoyo
Masa kepemimpinan : …. s/d 1697
7. Tumenggung Secomenggolo
Masa kepemimpinan : 1697 s/d 1700
8. Tritonoto
Masa kepemimpinan : 1700 s/d 1702
9. Tumenggung Bodroyudo Secowardoyo I ( Reksonegoro II )
Masa kepemimpinan : 1702 s/d 1746
10. Tumenggung Secowardoyo II ( Reksonegoro III )
Masa kepemimpinan : 1746 s/d 1776
Keterangan : dimakamkan di desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru
11. Tumenggung Kartoyodo ( Reksonegoro IV )
Masa kepemimpinan : 1776 s/d 1800
Keterangan : dimakamkan di Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru
12. R.M.Panji Haji Cokronegoro VI
Masa kepemimpinan : 1800 s/d 1816
Keterangan : dimakamkan di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng
13. Tumenggung Surenggrono
Masa kepemimpinan : 1816 s/d 1816
14. Tumenggung Sumodiwangso / Surodiwongso, Suroloyo ( Reksonegoro )
Masa kepemimpinan : 1816 s/d 1819
15. Tumenggung Secomenggolo
Masa kepemimpinan : 1819 s/d 1821
16. R.M.A. Reksonegoro VI
Masa kepemimpinan : 1821 s/d 1857
Keterangan : dimakamkan di Desa Tegalarum kecamatan Adiwerna
17. Tumenggung Sosronegoro
Masa kepemimpinan : 1857 s/d 1858
18. Mas Ronggo Surodipuro
Masa kepemimpinan : 1858 s/d 1862
19. R. Tumenggung Widyoningrat
Masa kepemimpinan : 1862 s/d 1864
20. R. Tumenggung Panji Sosrokusumo
Masa kepemimpinan : 1864 s/d 1869
21. R.M. Ore ( R.M.A. Reksonegoro VII )
Masa kepemimpinan : 1869 s/d ….
22. R.M. Kis ( R.M.A. Reksonegoro VIII )
Masa kepemimpinan : …. s/d 1903
Keterangan : dimakamkan di Desa Tegalarum, Kecamatan Adiwerna
23. R.M. Suyitno ( R.M.A. Reksonegoro IX )
Masa kepemimpinan : 1903 s/d 1929
Keterangan : dimakamkan di Desa Tegalarum, Kecamatan Adiwerna
24. R.M. Susmono ( R.M.A. Reksonegoro X )
Masa kepemimpinan : 1929 s/d 1935
25. J. Patih R. Subiyanto
Masa kepemimpinan: 1935 s/d 1937
26. R. Tumenggung Slamet Kertonegoro
Masa kepemimpinan : 1937 s/d 1942
27. Mr. Moh. Besar ( merangkap Burgermester )
Masa kepemimpinan : 1942 s/d 1944
28. Raden Sunaryo
Masa kepemimpinan : 1944 s/d 1945
29. Kyai Abu Sujai
Masa kepemimpinan : 1945 s/d 1946
Keterangan : dimakamkan di Talang
30. Prawoto Sudibyo
Masa kepemimpinan : 1946 s/d 1948
31. R. Soeputro
Masa kepemimpinan : 1948 s/d 1949
32. R.M. Susmono Reksonegoro
Masa kepemimpinan : 1949 s/d 1950
33. R.M. Sumindro
Masa kepemimpinan : 1950 s/d 1955
34. R.M. Projosumarto
Masa kepemimpinan : 1955 s/d 1960
35. Sutoro
Masa kepemimpinan : 1960 s/d 1966
Keterangan : dimakamkan di Kebumen
36. Pj. Munadi
Masa kepemimpinan : 1966 s/d 1966
37. Pj. R. Sutarjo
Masa kepemimpinan : 1967 s/d 1967
38. Letkol.R. Supandhi Yudodharmo
Masa kepemimpinan : 1967 s/d….
39. Letkol. R. Samino Sastrosuwignyo
Masa kepemimpinan : 1973 s/d 1977
40. Drs. Herman Sumarmo (Ymt)
Masa kepemimpinan : 1977 s/d 1978
41. Hasyim Dirjosubroto
Masa kepemimpinan : 1978 s/d 1989
42. Drs. H. Wienachto
Masa kepemimpinan : 1989 s/d 1991
43. Drs. Sudiatno (Ymt)
Masa kepemimpinan : 1991 s/d 1991
44. Drs. H. Soetjipto
Masa kepemimpinan : 1991 s/d 1998
45. Drs. Setiawan Sadono (Plt)
Masa kepemimpinan : 1999 s/d 1999
46. Drs. H. Soediharto
Masa kepemimpinan : 1999 s/d 2004
47. Agus Riyanto, SSos, MM
HM. Hammam Miftah, S.Ag, MM (Wakil Bupati)
Masa kepemimpinan : 2004 s/d 2009
48. Agus Riyanto, S.Sos, MM.
H. M. HERRY SOELISTYAWAN, SH, M.Hum (Wakil Bupati)
Masa kepemimpinan : 2009 s/d 2012
49. H. M. HERRY SOELISTYAWAN, SH, M.Hum
Masa kepemimpinan : Januari 2013 s/d Mei 2013
Plt. Bupati Tegal, Mei 2013 - Agustus 2013 : Drs. HARON BAGAS PRAKOSA, M.Hum
50. Ir. SATRIO HIDAYAT (Pj. Bupati)
Masa kepemimpinan : Agustus 2013 - 2014
51. ENTHUS SUSMONO (Bupati)
Dra. UMI AZIZAH ( Wakil Bupati)
Masa kepemimpinan : 2014 - 2019
52. Dra. UMI AZIZAH (Bupati)
SABILILLAH ARDIE, B.Sc (Wakil Bupati)
Masa kepemimpinan : 2019 - 2024
( http://utama.tegalkab.go.id/page/view/bupati_tegal_dari_masa_ke_masa_20190306090143 )

02/12/2020

Wisata adalah bagian dari wujud kearifan lokal warga sekitar

02/12/2020

Mari kembangkan Wisata Lokal agar masyarakat lebih mandiri dan berdaya saing

Address

Jalan Jurusan Jatibarang
Balapulang
52464

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Admin Wisata Lokal Wong Tegal posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Admin Wisata Lokal Wong Tegal:

Share