22/03/2022
Disebut Bukan Lagi Partai Ulama, Ketua Mustasyar PDA: Itu Hal Biasa
Ketua Mustasyar Partai Daerah Aceh (PDA), Baihaqi Yahya, tidak mempersoalkan pihak-pihak yang menyebutkan PDA bukan lagi partai ulama. Namun, kata dia, PDA lahir dari rahim ulama.
“Kalau isu yang sekarang itu bukan jadi masalah. Itu hal biasa, karena kita ini berpolitik,” kata Baihaqi kepada Kantor Berita RMOLAceh, Selasa, 22 Maret 2022.
Baihaqi menjelaskan, PDA didirikan pada masa Abu Panton. Jangan gara gara loncat ke partai lain, kata dia, bicara nya lain p**a.
“Siapa saja yang sudah mau berhenti di sini (PDA). Dan ikut di tempat lain itu tidak apa-apa. Itu hak mereka,” ujar Baihaqi.
Baihaqi mengingat para kader supaya jangan berkhianat dalam politik. Jika lelah dengan dalam satu partai, kata dia, jangan dicela-cela.
“Tidak baik tindakan begitu. Nanti tidak bisa masuk lagi,” kata dia. “Baro kon lam uruk, jinoe ka ta ek istana (selama ini dalam lobang tanah, sekarang uda di istana). Jadi jangan lah seperti itu.”
Sebelumnya, Bekas Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Daerah Aceh (PDA), Sabirin Hutabarat, mengingatkan politisi PDA jangan lagi membohongi publik dengan menyebutkan PDA merupakan partai ulama. Karena dalam internal partai saat ini, tidak ada lagi ulama.
“Pada saat peralihan dari Partai Damai Aceh ke Partai Daerah Aceh sudah dihuni kaum-kaum melenial, jadi bukan lagi partai ulama,” kata Sabirin kepada Kantor Berita RMOLAceh, Senin, 21 Maret 2022.
Sabirin menilai kemunduran PDA saat ini karena tidak ada lagi ulama di dalamnya. Bahkan, pendiri partai pun menarik diri dari kepengurusan.
“Kenapa ulama tidak lagi bergabung? Ya, karena tidak sesuai lagi dengan semestinya,” ujar Ketua Taruna Merah-Putih Subulussalam itu.
Sabirin mengaku pada awalnya bergabung dengan PDA, karena ingin tau berpolitik dalam beragama. Namun, kenyataan tidak demikian.
“Ketika rapat ke pusat, bukan ilmu dan wejangan yang didapat, hanya mendengar orang marah-marah,” sebut dia.
Bahkan sebelumnya, Dewan Pendiri Partai Daulat Atjeh (PDA), Harmen Nuriqmar, menjelaskan PDA sekarang bukan lagi partai yang didirikan oleh ulama. Hal itu dikatakan terkait pengunduran diri sejumlah kader PDA.
Kini, PDA ada tiga versi. Yakni, Partai Daulat Atjeh, Partai Damai Aceh, dan Partai Daerah Aceh yang saat ini telah diubah menjadi Partai Darul Aceh.
“PDA sekarang bukan lagi partai yang didirikan ulama, hanya Partai Daulat Atjeh yang didirikan ulama,” kata Harmen yang juga selaku bekas Ketua Umum DPP PDA, kepada Kantor Berita RMOLAceh, Selasa, 8 Maret 2022.
Harmen menjelaskan, Partai Daulat Atjeh menampung seluruh aspirasi ulama, termasuk masyarakat. Hal itu tertuang dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
“Artinya, kalau PDA menang waktu itu sudah diatur oleh ulama,” ujar Harmen.
Namun, kata dia, PDA saat ini tidak lagi demikian. Di samping akte pendirian yang berbeda, juga AD/ART partai tidak samsa seperti Partai Daulat Atjeh, bahkan pendirinya juga bukan ulama.
“Partai Daulat Atjeh itu saya dirikan bersama Lem Faisal (Tgk. Faisal Ali). Didukung Abu Panton (Tgk. H. Ibrahim Bardan), Abuya Nasir Waly, Abu Mudi, Abah Asnawi Lamno, Abon Seulimeum dan ulama lain. Sedangkan Partai Damai dan Daerah Aceh, bukan ulama yang mendirikan,” sebut Harmen.
Harmen mengaku, sudah mundur dari kepengurusan PDA setelah AD/ART partai diganti. “Semua ulama juga mundur, PDA sekarang tidak lagi seperti yang dulu,” ujar dia.
Sementara itu, Dewan Pendiri Partai Daerah Aceh, Jamaluddin Thaib, membenarkan bahwa PDA saat ini bukan partai ulama. Pasalnya, ulama tidak ada yang terlibat dan tidak dicantumkan peran ulama di dalam AD/ART.
“Secara hukum yang terdaftar di Kemenkumham sudah berubah, tidak ada lagi kaitan. Partai Damai dan Daerah Aceh yang saat ini telah di ubah menjadi Partai Darul Aceh bukan ulama yang didirikan,” kata Jamaluddin.
Jamaluddin menjelaskan, Partai Daerah Aceh didirkan oleh Tengku Razuan, Muktaruddin Nara, Darwis, dan dirinya. “Kalau Partai Damai, kurang tahu siapa,” sebut dia.
Senada dengan Jamaluddin, Mukhraruddin yang juga Dewan Pendiri Partai Daerah Aceh (PD Aceh) kini diubah menjadi Partai Darul Aceh menjelaskan, partai yang didirikan oleh ulama itu Partai Daulat Atjeh yang berdiri pada tahun 2008, sampai hari ini masih terdaftar di Kantor Wilayah Kemenkumham Aceh.
Sementara Partai Damai Aceh, kata dia, didirikan oleh Abi Muhib dan kawan-kawan pada tahun 2012. Diantara tiga versi PDA itu, tidak ada kaitannya satu sama lain, termasuk akte pendiran atau badan hukum.
Mukhtaruddin mengingatkan agar pengurus PDA saat ini jangan lagi menyebutkan PDA sebagai partai ulama. Karena, hal itu sama saja membohongi publik.
Di samping itu, kata Muktar, pendiri PDA saat ini juga telah mundur. Seperti, Tengku Razuan, Jamaluddin, dan dirinya. Menurut dia, mundurnya mereka karena intrik licik pembajak yang tidak cerdas merangkul.
Bahkan, Tengku Razuan hanya diberi jabatan sebagai dewan pakar. “Jabatan itu hanya sebagai bumbu manis saja, padahal Tengku Razuan itu adalah sebagai sosok tokoh yang sangat dipertimbangkan, baik ditubuh partai maupun wilayah barsela,” sebut dia.
Menurut dia, kejadian itu merupakan suatu kemunduran bagi PDA. Karena, kata dia, kursi Dewan perwakilan Rakyak Aceh dan kabupaten/kota hari ini yang diduduki, tidak terlepas dari kinerja Tengku Razuan, termasuk besarnya nama PDA.
Harapannya, kata Mukhraruddin, pengurus baru harus tau perjuangan yang sudah lalu, siapa pendirinya. Sebab, lahirnya partai tidak instan. “Butuh proses dan perjuangan yang panjang,” ujar Mukhtaruddin.
Ketua Mustasyar Partai Daerah Aceh (PDA), Baihaqi Yahya, tidak mempersoalkan pihak-pihak yang menyebutkan PDA bukan lagi partai ulama. Namun, kata dia, PDA lahir dari rahim ulama.