Kamaruz Ansoruzzaman

Kamaruz Ansoruzzaman Anak kampung yang nyantri ke Zurich Swiss lalu balik jadi peternak kuda | Kalian aja yang pikirin, saya enggak Sesekali baca, sesekali nulis, banyak ngopi

Tak ada kamus malu dalam otak orang-orang itu. Rp50 juta buat loloskan nama di AHWA? Kalau benar, martabat musyawarah NU...
18/08/2026

Tak ada kamus malu dalam otak orang-orang itu. Rp50 juta buat loloskan nama di AHWA? Kalau benar, martabat musyawarah NU sedang dijual murah. Ahlul halli wal aqdi bukan barang dagangan, Rais Syuriyah bukan objek transaksi. Sejak kapan amanah kiai dihargai DP 50 juta? Miris.

Tim pemenangan yang diduga melibatkan pejabat daerah mengklaim langkahnya itu sebagai ‘perintah istana’.

17/08/2026

Kemerdekaan sebagai Jalan Peradaban

Kemerdekaan Indonesia adalah cita cita peradaban: ketika setiap bangsa dan setiap manusia berhak hidup merdeka, adil, dan bermartabat.

Mari kita isi kemerdekaan dengan ikhtiar menghadirkan Indonesia dan peradaban manusia yang semakin mulia.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 81 🇮🇩

Belajar dari Gus Yahya Sebagai santri, berkali kali saya sampaikan kita harus banyak belajar dari ketenangan Gus Yahya. ...
16/08/2026

Belajar dari Gus Yahya

Sebagai santri, berkali kali saya sampaikan kita harus banyak belajar dari ketenangan Gus Yahya. Saat sedang dicoba di MLB (muktamar luar biasa) kan oleh Gus Salam (Denanyar) suatu kali ia malah ziarah ke Mbah Bisri di Denanyar Jombang. Dalam foto yang beredar, ia ziarah ditemani Gus Salam yang ketika itu sedang keliling Indonesia untuk 'mendorong MLB PBNU alias menjatuhkan Gus Yahya dari kursi Ketua Umum.

Ketika terjadi gesekan dengan Cak Imin (Ketum PKB) Gus Yahya juga masih bisa menunjukkan foto sedang guyon dan duduk bareng Cak Imin.

Bahkan ketika Gus Yahya "dipecat" oleh Rais Aam PBNU Kyai Miftah, ia tetap terlihat terus menghormati Beliau.

Suatu hal yang menurut saya langka. Biasanya kalau sudah "berantem" bertemu saja kita males dengan "lawan berantem" kita.

Tapi tidak dengan Gus Yahya... Malam tadi selepas ziarah ke Mbah Wahab di Tambak Beras, Gus Yahya ziarah ke Mbah Bisri di Denanyar. Ia tetap mampir ke ndalem Mbah Bisri yang dijadikan tempat Gus Salam menerima tamu tamunya. Hanya saja malam tadi Gus Salam tidak ada di Ndalem. Tapi Gus Yahya tak lupa menitipkan salam untuk Gus Salam.

Di Ndalem yang pernah ditempati Mbah Bisri Gus Yahya bercerita banyak tentang Gus Dur dengan segala kelucuannya. Suasana malam tadi sangat cair... Tidak terlihat bahwa Gus Salam dan Gus Yahya sedang bersiap akan "tarung" di Muktamar NU 35 sebentar lagi...

Sikap dan kedewasaan pemimpin sejati... Saya menaruh hormat setinggi tingginya untuk njenengan Gus.




Foto di Ndalem Mbah Bisri Syamsuri di Denanyar Jombang.

*Terima kasih tulisan berkesannya Kang Mas Mas Purwaji

16/08/2026

Menjaga Arah Perjuangan

Muktamar bukan sekadar ajang pergantian figur pemimpin. Forum ini adalah sarana menentukan arah keberlanjutan perjuangan dan program organisasi ke depan.

Karena itu, fokus utamanya seharusnya bukan siapa yang terpilih, melainkan bagaimana arah NU tetap terjaga.

Kerja-kerja besar NU harus terus berjalan secara konsisten, tanpa terhenti atau terganggu oleh dinamika pergantian kepemimpinan.

Siapa pun yang kelak dipercaya memegang amanah memiliki tanggung jawab yang sama: meneruskan fondasi yang ada, memperbaiki kekurangan, dan menjaga keselarasan dengan cita-cita para muassis.

Karena itu, kemenangan sejati dalam Muktamar bukan diukur dari terpilihnya individu atau kelompok tertentu.

Kemenangan yang sesungguhnya terletak pada keberlanjutan khidmah NU bagi masyarakat.

Selama pengabdian itu terus berjalan, siapa pun pemimpinnya, perjuangan NU tetap berada di jalur yang benar.

16/08/2026

Rencana Besar, tapi Belum Selesai, Belum Bisa Disebut Berhasil

Memiliki target atau rencana besar tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan sebelum pekerjaan itu benar-benar tuntas di lapangan.

Dokumen perencanaan yang rapi hanya menjadi peta arah, bukan bukti pencapaian. Selama implementasinya belum selesai, klaim keberhasilan masih terlalu dini.

Keberhasilan organisasi sesungguhnya diukur dari jangkauan program hingga tingkatan paling dasar, yaitu Majelis Wakil Cabang (MWC) dan ranting.

Program yang hanya berhenti di tingkat pusat atau wilayah belum bisa disebut berhasil, sebab denyut nadi jam'iyah justru berada di akar rumput, tempat warga NU merasakan langsung dampak dari setiap kebijakan.

Karena itu, pengurus organisasi perlu menjaga sikap mental yang berorientasi pada hasil.

Kepuasan diri atau pujian atas rencana yang telah disusun tidak boleh datang terlalu cepat.

Selama target belum tuntas, pengurus harus tetap terbuka menerima kritik, bukan sibuk mencari pengakuan atas dokumen yang baru berupa rencana.

Pada akhirnya, ukuran hakiki keberhasilan jam'iyah bukan terletak pada seberapa bagus dokumen atau perencanaan yang disusun, melainkan pada manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh warga NU.

Rencana yang baik hanya bernilai jika benar-benar sampai dan terasa hingga ke akar rumput.

Periode selanjutnya, semua yang telah ditancapkan fondasinya, harus segera dituntaskan agar rumah besar ini bisa berdiri semakin kokoh.

15/08/2026

Muktamar Petani Nahdliyin: Merumuskan Masa Depan Pertanian Umat

LPP PBNU dan LPP NU bersama jaringan petani menggelar Muktamar Petani Nahdliyin di Pesantren Al-Itqon, Semarang, sebagai bagian dari rangkaian persiapan menuju Muktamar ke-35 NU.

Forum ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan ruang konsolidasi untuk merumuskan strategi penguatan ekosistem ekonomi pertanian secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Urgensi forum ini tidak lepas dari fakta demografis di mana dari 29,34 juta petani di Indonesia, sekitar 80 persen merupakan warga NU yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Angka ini menunjukkan bahwa nasib pertanian nasional sesungguhnya berkelindan erat dengan nasib warga Nahdliyin sendiri.

Karena itu, penguatan sektor pertanian bukan sekadar program ekonomi biasa, melainkan pondasi bagi kemandirian ekonomi umat sekaligus penopang ketahanan pangan nasional.

Ketika mayoritas petani adalah warga NU, memperkuat sektor ini berarti langsung memperkuat kesejahteraan jamaah di akar rumput.

Dalam forum tersebut, Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa petani adalah soko guru ketahanan pangan yang harus mendapat perhatian penuh, bukan sekadar dijadikan objek program tanpa keberpihakan nyata.

Harapannya, aspirasi yang lahir dari Muktamar Petani Nahdliyin ini dapat diakomodasi secara serius oleh para pemangku kepentingan, sehingga tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar melahirkan kebijakan yang berpihak pada petani.

AHWA selama ini menjaga nilai dan meneduhkan yang berkonflik. Sekarang ada wacana menyeretnya ke tengah gelanggang rawan...
15/08/2026

AHWA selama ini menjaga nilai dan meneduhkan yang berkonflik.

Sekarang ada wacana menyeretnya ke tengah gelanggang rawan politik, memilih Ketua Umum.

Kiai sepuh jadi juri konflik kepentingan? Sejak kapan penjaga marwah ulama dijadikan alat kekuasaan?

Oleh : IBG Dharma Putra SECARA sederhana AHWA ( Ahlul Halli Wal Aqdi ) dapat dipahami sebagai mekanisme memilih pemimpin melalui orang orang yang dianggap memiliki ilmu, pengalaman, integritas, disertai kebijaksanaan. Dengan begitu, AHWA tak hanya cara memilih, tetapi ikhtiar agar keputusan lahir da...

15/08/2026

NU dan Anak Muda, Bukanlah Tentang Cinta yang Hilang

Banyak yang mengira anak muda menjauh dari NU karena kehilangan rasa cinta pada organisasi ini.

Anggapan itu pada hakikatnya keliru. Mengapa?

Ketidakikutsertaan mereka lebih sering disebabkan oleh ketiadaan kehadiran NU saat mereka justru membutuhkan petunjuk dan arah dalam menjalani hidup.

Ketika anak muda sedang bingung menentukan pilihan, menghadapi tekanan hidup, atau mencari makna, NU semestinya hadir di sana, bukan hanya hadir dalam acara pembukaan, mengisi sambutan, lalu pulang.

Karena itu, kekhawatiran yang perlu digeser bukan lagi soal menurunnya pengaruh NU di ruang publik.

Persoalan yang lebih mendesak justru keterasingan anak-anak muda dari NU dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Pengaruh di panggung publik bisa terlihat besar, tetapi jika anak muda tidak merasakan kehadiran NU dalam persoalan nyata yang mereka hadapi, jarak itu akan terus melebar tanpa disadari.

Oleh sebab itu, ketika anak muda menjauh, langkah pertama bukan menyalahkan mereka.

Pengurus dan jajaran organisasi perlu melakukan otokritik yang jujur: sejauh mana kehadiran mereka benar-benar dirasakan oleh anak muda, bukan sekadar diklaim lewat program dan kegiatan.

Sebab mendekatkan anak muda kepada NU bukan perkara menambah daya tarik dari luar, melainkan memastikan organisasi ini benar-benar hadir di titik-titik kehidupan yang paling mereka butuhkan.

Kamaruz Ansoruzzaman
—Nahdliyin—

15/08/2026

Di Banjarbaru, PBNU melalui RMI dan Satgas Anti Kekerasan menggelar roadshow "Pesantrenku Aman" sebagai ruang edukasi bagi para pengasuh dan pengajar santri.

Ada pelatihan mencegah kekerasan. Ada deklarasi komitmen bersama. Dan yang menarik, kegiatan ini juga dihadiri unsur pemerintah daerah, tanda bahwa keamanan pesantren bukan urusan internal semata.

Dalam pidatonya Gus Yahya mengajak antar pesantren agar memperkuat kolaborasi dan saling tukar pengetahuan dengan harapan agar setiap pesantren mampu membangun standar ruang belajar terbaik untuk masyarakat menitipkan anak-anaknya untuk menuntut ilmu.

Peran Strategis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) mungkin bagi sebagian pihak hanya dipahami sekad...
13/08/2026

Peran Strategis Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)

Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) mungkin bagi sebagian pihak hanya dipahami sekadar mekanisme teknis untuk memilih Rais Aam, pucuk pimpinan Nahdlatul Ulama.

Padahal, perannya lebih besar dari itu. AHWA adalah penjaga moral sekaligus penentu arah bagi organisasi NU secara keseluruhan.

Kekeliruan memahami fungsi ini akan berdampak besar pada kualitas kepemimpinan yang dihasilkan.

Karena itu, proses di dalam AHWA sudah seharusnya dibebaskan dari arena perebutan pengaruh politik maupun pembagian representasi wilayah.

Ketika AHWA diperlakukan sebagai ajang tawar-menawar kekuasaan, fungsi moralnya akan luntur dan tergantikan oleh kalkulasi kepentingan sesaat.

Sungguh tercela, kita yang mengaku sebagai seorang Nahdliyyin menempatkan para Masyaikh yang duduk di AHWA hanya untuk kepentingan politik dan kuasa sesaat.

Naudzubillah..

Untuk menjaga fungsi tersebut, figur yang duduk di dalam AHWA wajib memenuhi standar yang jelas: kedalaman ilmu, kejelasan sanad keilmuan, keteladanan, pengalaman membimbing umat, dan kematangan spiritual.

Kriteria ini jauh lebih penting daripada sekadar menduduki jabatan struktural, sebab yang dibutuhkan adalah kapasitas untuk menjaga jamaah dan jamiyyah.

Dengan kualifikasi tersebut, AHWA memegang amanah besar untuk memastikan kepemimpinan ulama tetap berada di jalur Ahlussunnah wal Jamaah, musyawarah, serta kemaslahatan umat dan bangsa.

Amanah ini tidak bisa dijalankan oleh figur yang dipilih berdasarkan pertimbangan politik semata.

Oleh karena itu, pemilihan dan perlakuan terhadap AHWA bukan perkara administratif biasa.

Proses ini akan menentukan arah moral dan masa depan organisasi, sehingga menuntut kesadaran penuh serta tanggung jawab besar dari semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Address

Jalan Hassanuddin, No, 02 Gedung NU Kota Banjarmasin
Banjarmasin
70248

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kamaruz Ansoruzzaman posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Kamaruz Ansoruzzaman:

Shortcuts

Share

Category