31/05/2015
~Renungan Pohon Apel~
Sebagian dari Sobat
Muslim mungkin sudah pernah
membaca cerita ini, tapi apa
salahnya saya muat kembali di
pages ini buat saudara-saudara kita
yang belum pernah membaca cerita
ini dan sebagai bahan review buat
yang sudah pernah membaca.
Semoga bermanfaat………
Suatu masa dahulu, terdapat
sebatang pohon apel yang amat
besar.Seorang anak - anak lelaki
begitu gemar bermain-main di
sekitar pohon apel ini setiap hari.
Dia memanjat pohon tersebut,
memetik serta memakan apel
sepuas-puas hatinya, dan
adakalanya dia beristirahat lalu
terlelap di perdu pohon apel
tersebut. Anak lelaki tersebut begitu
menyayangi tempat permainannya.
Pohon apel itu juga menyukai anak
tersebut. Masa berlalu…
anak lelaki itu sudah besar dan
menjadi seorang remaja. Dia tidak
lagi menghabiskan masanya setiap
hari bermain di sekitar pohon apel
tersebut. Namun begitu, suatu hari
dia datang kepada pohon apel
tersebut dengan wajah yang sedih.
“Marilah bermain-mainlah di
sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Aku bukan lagi kanak-kanak, aku
tidak lagi gemar bermain dengan
engkau,” jawab remaja itu.
“Aku mau permainan. Aku perlu
uang untuk membelinya,” tambah
remaja itu dengan nada yang sedih.
Lalu pohon apel itu berkata, “Kalau
begitu, petiklah apel-apel yang ada
padaku. Juallah untuk mendapatkan
uang. Dengan itu, kau dapat
membeli permainan yang
kauinginkan.”
Remaja itu dengan gembiranya
memetik semua apel di pohon itu
dan pergi dari situ. Dia tidak
kembali lagi selepas itu. Pohon apel
itu merasa sedih.
Masa berlalu…
Suatu hari, remaja itu kembali. Dia
semakin dewasa. Pohon apel itu
merasa gembira.
“Marilah bermain-mainlah di
sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku
terpaksa bekerja untuk mendapatkan
uang. Aku ingin membina rumah
sebagai tempat perlindungan untuk
keluargaku. Bisakah kau
menolongku?”
Tanya anak itu.
“Maafkan aku. Aku tidak mempunyai
rumah. Tetapi kau boleh memotong
dahan-dahanku yang besar ini dan
kau buatlah rumah daripadanya.”
Pohon apel itu memberikan
cadangan.
Lalu, remaja yang semakin dewasa
itu memotong ke semua dahan
pohon apel itu dan pergi
dengan gembiranya. Pohon apel itu
pun turut gembira tetapi
kemudiannya merasa sedih
karena remaja itu tidak kembali lagi
selepas itu.
Suatu hari yang panas, seorang
lelaki datang menemui pohon apel
itu. Dia sebenarnya adalah anak
lelaki yang pernah bermain-main
dengan pohon apel itu. Dia telah
matang dan
dewasa.
“Marilah bermain-mainlah di
sekitarku,” ajak pohon apel itu.
“Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi
anak lelaki yang s**a bermain-main
di sekitarmu. Aku sudah dewasa.
Aku mempunyai cita-cita untuk
belayar. Malangnya, aku tidak
mempunyai
perahu. Bolehkah kau menolongku?”
Tanya lelaki itu.
“Aku tidak mempunyai perahu untuk
diberikan kepada kau. Tetapi kau
boleh memotong batang pohon ini
untuk dijadikan perahu. Kau akan
dapat belayar dengan gembira,” kata
pohon apel itu.
Lelaki itu merasa amat gembira dan
menebang batang pohon apel itu.
Dia kemudian pergi dari situ dengan
gembiranya dan tidak kembali lagi
selepas itu.
Namun begitu, pada suatu hari,
seorang lelaki yang semakin di
mamah usia, datang menuju pohon
apel itu. Dia adalah anak lelaki yang
pernah bermain di sekitar pohon
apel itu.
“Maafkan aku. Aku tidak ada apa-
apa lagi untuk diberikan kepada
kau. Aku sudah memberikan buahku
untuk kau jual, dahanku untuk kau
buat rumah, batangku untuk kau buat
perahu. Aku hanya ada tunggul
dengan akar yang hampir mati…”
kata pohon apel itu dengan nada
pilu.
“Aku tidak mahu apelmu karena aku
sudah tiada bergigi untuk
memakannya, aku tidak mahu
dahanmu karena aku sudah tua
untuk memotongnya, aku tidak mahu
batang pohonmu karena
aku tidak berupaya untuk belayar
lagi, aku merasa lelah dan ingin
istirahat,” jawab lelaki tua itu.
“Jika begitu, istirahatlah di
perduku,” kata pohon apel itu. Lalu
lelaki tua itu duduk beristirahat di
perdu pohon apel itu dan
beristirahat. Mereka berdua
menangis kegembiraan.
Tahukah Sobat Muslim...???
Sebenarnya, pohon apel yang
dimaksudkan di dalam cerita itu
adalah kedua-dua ibu bapak kita.
Saat kita masih muda, kita s**a
bermain dengan mereka. Ketika kita
meningkat remaja, kita perlukan
bantuan mereka untuk meneruskan
hidup. Kita
tinggalkan mereka, dan hanya
kembali meminta pertolongan
apabila kita di dalam kesusahan.
Namun begitu, mereka tetap
menolong kita dan melakukan apa
saja asalkan kita bahagia dan
gembira dalam hidup. Anda mungkin
terfikir bahwa anak lelaki itu
bersikap kejam terhadap pohon apel
itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya
bagaimana kebanyakan anak-anak
masa kini
melayani ibu bapak mereka.
Hargailah jasa ibu bapak kepada
kita. Jangan hanya kita menghargai
mereka semasa menyambut hari ibu
dan hari bapak setiap tahun.
Allah SWT berfirman :
“Kami perintahkan kepada manusia
supaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya, ibunya
mengandungnya dengan susah
payah, dan melahirkannya dengan
susah payah (p**a). Mengandungnya
sampai menyapihnya adalah tiga
puluh bulan,
sehingga apabila dia telah dewasa
dan umurnya sampai empat puluh
tahun ia berdo’a:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk
mensyukuri ni’mat Engkau yang
telah Engkau berikan kepadaku dan
kepada ibu bapakku dan supaya aku
dapat berbuat amal yang saleh yang
Engkau ridhai; berilah kebaikan
kepadaku dengan (memberi
kebaikan)
kepada anak cucuku. Sesungguhnya
aku bertaubat kepada Engkau dan
sesungguhnya aku termasuk orang-
orang yang berserah diri” [Q.S
46:15]
Belum ada kata terlambat untuk
kembali berbakti kepada kedua
orang tua kita biarpun mereka sudah
tidak ada di dunia fana ini…
sumber : http://blog-pelajar-islam.blogspot.in/2012/04/bahan-renungan-kisah-pohon-apel.html?m=1
Assalamu'alaikum Sobat Muslim... Selamat Datang Sobat Muslim Di Blog Pelajar Islam , Semoga Halaman Ini Bermanfaat... Salam Ukhuwah Dari Kami AHT & NH ^_^