30/10/2025
Kisah Imam At-Tirmidzi – Sang Penjaga Sunnah yang Buta karena Cinta Ilmu
Bismillāhirrahmānirrahīm…
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, washshalātu wassalāmu ‘alā Sayyidinā Muhammadin, wa ‘alā ālihi wa shahbihi ajma‘īn.
kita akan menelusuri perjalanan hidup seorang ulama besar… seorang murid dari para raksasa ilmu hadis… seorang yang kehilangan penglihatannya, tapi justru karena itu hatinya semakin tajam melihat cahaya Allah.
Nama lengkap beliau adalah:
Abu Isa Muhammad bin Isa bin Sawrah bin Musa bin ad-Dhahhak as-Sulami at-Tirmidzi (أبو عيسى محمد بن عيسى بن سورة بن موسى بن الضحاك السلمي الترمذي)
Lahir: Tahun 209 H / 824 M
Tempat lahir: Kota Tirmidz, di wilayah Transoxiana (sekarang bagian dari Uzbekistan).
Beliau termasuk keturunan Arab dari kabilah Sulaim, namun lahir dan besar di wilayah non-Arab (Mawara’un-Nahr).
Kota kecil di tepi sungai Amu Darya itu menjadi saksi tumbuhnya seorang anak yang memiliki pandangan tajam, bukan pada dunia, tapi pada ilmu dan wahyu Allah.
Sejak kecil, beliau lebih senang duduk di majelis ilmu daripada bermain.
Ibunya sering berkata:
> “Anakku, setiap kali aku mencarimu, aku tak menemukannya di tempat bermain, melainkan di majelis orang-orang berilmu.”
Saat beranjak remaja, sekitar usia 15 tahun, beliau mulai melakukan rihlah (perjalanan mencari hadis).
Beliau pergi dari Khurasan ke Irak, dari Hijaz ke Syam — menempuh perjalanan berbulan-bulan, hanya untuk mendengar satu hadis langsung dari lisan para ulama besar.
Di antara guru-gurunya adalah:
Imam Al-Bukhari, sang guru utama,
Imam Muslim,
Abu Dawud As-Sijistani,
Ishaq bin Rahuyah.
Bayangkan… satu murid, berguru langsung pada tiga imam besar penyusun Kutubus Sittah.
Subhānallāh…
Beliau sangat dekat dengan Imam Bukhari.
Suatu hari beliau berkata:
> “Aku tidak pernah mengambil manfaat dari seorang guru seperti aku mengambil manfaat dari Muhammad bin Ismail (Al-Bukhari).”
Setiap kali Al-Bukhari berbicara tentang hadis, At-Tirmidzi mencatat dengan penuh perhatian, bukan hanya lafaznya, tapi juga hikmah dan rahasia sanad di baliknya.
Maka tak heran, metodologi penilaian hadis Imam At-Tirmidzi sangat mirip dengan gurunya.
Beliau bahkan menjadi orang pertama yang memperkenalkan istilah “Hadis Hasan” — hadis yang tidak sekuat shahih, tapi masih bisa dijadikan hujjah.
Istilah ini menjadi kontribusi besar dalam ilmu musthalah hadis hingga kini.
Karya Agung: Sunan At-Tirmidzi
Kemudian lahirlah karya monumentalnya: Al-Jāmi‘ As-Shahīh atau yang dikenal dengan Sunan At-Tirmidzi.
Kitab ini bukan sekadar kumpulan hadis, tapi juga panduan fiqih, perbandingan pendapat ulama, dan penjelasan hukum.
Dalam setiap bab, beliau menulis:
> “Dan di antara ulama yang beramal dengan hadis ini adalah fulan, fulan, dan fulan.”
Artinya, beliau tidak hanya menulis hadis, tapi juga menghubungkan teori dengan praktik ulama salaf.
Inilah yang menjadikan kitabnya jembatan antara ilmu hadis dan fiqih.
Selain itu, beliau menulis karya yang sangat menyentuh hati:
“Asy-Syamā’il al-Muhammadiyyah” — kitab yang menggambarkan sifat, akhlak, dan keseharian Rasulullah ﷺ.
Beliau ingin agar umat Islam tidak hanya mengenal hukum Nabi, tapi juga mencintai kepribadian Nabi.
Setiap kali beliau membaca hadis tentang senyuman Nabi, beliau menangis sambil berkata:
> “Betapa lembutnya engkau, wahai Rasulullah, hingga senyummu pun mengajarkan kasih.”
Ujian dan Keajaiban
Di akhir hayatnya, Allah menguji beliau dengan hilangnya penglihatan.
Matanya buta… tapi hatinya justru makin terang.
Beliau berkata dengan penuh syukur:
> “Aku kehilangan cahaya mata, tapi Allah gantikan dengan cahaya hati yang melihat kebenaran.”
Meskipun buta, beliau tetap mengajar hadis, dan murid-muridnya menulis setiap kalimat yang keluar dari lisannya.
Sampai akhirnya, ribuan hadis terselamatkan berkat ketajaman hafalannya.
Imam At-Tirmidzi wafat di kota kelahirannya, Tirmidz, pada tahun 279 Hijriyah (892 Masehi).
Beliau wafat dalam keadaan tenang, di atas hamparan ilmu, dengan kitab-kitab hadis di sekelilingnya.
Dan tahukah Anda…
Kini, di setiap pesantren, setiap madrasah, setiap majelis hadis di seluruh dunia — nama beliau selalu disebut.
Karena tanpa At-Tirmidzi, mungkin kita tak akan mengenal banyak hadis tentang akhlak Nabi, tentang cinta, tentang kesabaran, tentang kelembutan.
Dari imam At -Tirmidzi kita belajar satu hal penting:
> “Cahaya ilmu bukan di mata, tapi di hati yang ikhlas mencari ridha Allah.”
Dan beliau membuktikannya —
ketika mata tertutup, hatinya justru terbuka untuk melihat cahaya wahyu.
sumber rujukan :
1. Kitab-Kitab Tarajim (Biografi Ulama Hadis)
1. "Tahdzīb al-Kamāl fī Asmā’ ar-Rijāl" – karya Al-Mizzi (w. 742 H)
➤ Menyebut silsilah lengkap, guru-guru, dan murid-murid At-Tirmidzi.
(Lihat jilid 26, halaman 338–342, cet. Mu’assasah ar-Risalah)
2. "Siyar A‘lām an-Nubalā’" – karya Adz-Dzahabi (w. 748 H)
➤ Biografi Imam At-Tirmidzi disebut pada jilid 13, halaman 270–276.
Menjelaskan kedekatannya dengan Imam Al-Bukhari dan wafatnya dalam keadaan buta.
3. "Tārīkh al-Islām wa Wafayāt al-Masyāhīr wal A‘lām" – karya Adz-Dzahabi juga.
➤ Menyebut bahwa beliau lahir tahun 209 H dan wafat tahun 279 H.
4. "Tazkirat al-Huffāzh" – karya Adz-Dzahabi
➤ Menerangkan tentang kekuatan hafalannya, rihlah ilmiahnya, dan kedudukannya sebagai hafizh besar.
5. "Al-Bidāyah wan-Nihāyah" – karya Ibnu Katsir (w. 774 H)
➤ Menyebut peran At-Tirmidzi dalam penyusunan kitab Sunan dan kedekatannya dengan ulama Khurasan.
6. "Tārīkh Baghdād" – karya Al-Khatīb al-Baghdādī (w. 463 H)
➤ Disebutkan bahwa beliau banyak meriwayatkan hadis dari Qutaibah bin Sa‘id dan Ishaq bin Rahuyah.
7. "Tabaqāt al-Huffāzh" – karya As-Suyuthi (w. 911 H)
➤ Menegaskan beliau termasuk dalam deretan Huffāzh hadis terbesar sepanjang sejarah.