19/05/2025
Istri yang kuabaikan akhirnya pergi. Namun, aku menyesal setelah kepergiannya karena ternyata ....
***
Satya dan Lintang menatap Hanum yang sedang memangkas jarak. Andai tidak ada Lintang di sampingnya, Satya pasti akan segera menyongsong Hanum dan memeluknya, mencari sebait rasa tenang di dalam rengkuhan perempuan yang selama dua tahun mengisi hatinya itu.
“Aku ikut belasungkawa, Mas,” ujar Hanum setelah berdiri di hadapan Satya. “Semoga dosa Bunda diampuni dan beliau ditempatkan di tempat terbaik.”
Lintang memandang Satya dan Hanum bergantian. Hatinya terasa nyeri saat melihat sorot mata mendamba di mata suaminya ketika bersitatap dengan Hanum. Tatapan yang tidak pernah ia dapatkan semenjak resmi menjadi istrinya. Duka yang bergelayut di mata Satya tak mampu menyembunyikan rindu dan kenangan yang tersimpan di sana.
“Terima kasih, Num.” Suara Satya seperti desau angin bertiup di hari yang sendu.
“Kemarin pagi padahal kami masih ngobrol dan Bunda kelihatannya baik-baik saja.” Hanum menjeda kalimat dengan satu tarikan napas. Ingatannya kembali pada pertemuan kemarin. “Wajah Bunda bahkan terlihat cerah.”
“Kita tidak pernah tahu umur manusia, Num. Aku juga nggak nyangka. Tapi mau bagaimana lagi, memang sudah begini takdirnya.” Satya mencoba bersikap bijak meski belum mampu melerai rasa kehilangan di hati.
Hanum mengangguk. “Kalau gitu aku pamit dulu, Mas.”
“Nggak mampir rumah?” tanya Satya.
“Pengen, sih, mampir. Tapi aku masih ada kerjaan. Nanti malam aku datang pengajian.” Hanum menyalami Satya dan Lintang bergantian lalu pergi.
Satya menarik napas panjang sembari menatap punggung Hanum yang menjauh. Diam-diam pikirannya mengandaikan kekasihnya itulah yang berada di sisinya saat ini. Tentu hatinya lebih tenang dan akan membantunya melewati masa-masa berat ini.
“Kita pulang sekarang, Mas?”
Suara Lintang menarik Satya dari kecamuk pikiran. “Ah, eh, iya.” Satya membalikkan badan kemudian membukakan pintu mobil untuk Lintang sebelum ia duduk di balik kemudi.
Makam keluarga Satya memang terletak cukup jauh dari rumah sehingga membutuhkan kendaraan bermotor untuk mencapainya. Makam tersebut dibangun leluhur Satya dan telah menjadi tempat tetirah terakhir keluarganya sejak tiga generasi sebelumnya.
Sepasang suami istri itu dicekam sunyi sepanjang dua puluh menit perjalanan dari makam ke rumah. Satya mengunci mulut rapat-rapat dan memilih fokus menatap jalanan kota yang ramai. Sementara itu, Lintang menghabiskan waktu dengan berzikir sembari memandang suasana kota Solo yang dilaluinya. Ia tidak punya cukup keberanian untuk memulai percakapan dengan Satya.
Tujuh hari berlalu sejak kematian Bu Sekar dan bagi Satya, waktu seolah berjalan begitu lambat. Ia merasa semesta tengah menggodanya dengan membuat waktu bergerak melambat. Setiap sudut rumah selalu mengingatkannya tentang Bunda dan setiap kenangan itu menyeruak, air matanya seolah ingin tumpah. Tamu-tamu yang masih terus berdatangan tidak mampu mengusir lara di hati lelaki bertubuh atletis itu. Meski berusaha tetap tegar di hadapan para tamu, tetapi dalam kesendirian tangisnya tak terbendung. Ia tidak tahu kenapa bisa serapuh ini.
“Besok aku balik Bandung dulu, Lin.” Satya membuka pembicaraan setelah para tamu yang mengikuti pengajian hari ketujuh pulang. Jarum pendek jam di dinding menunjuk angka sepuluh.
Lintang yang tengah membereskan ruang tengah menghentikan pekerjaan. Ia mendekat dan duduk di dekat Satya. “Iya, Mas. Besok berangkat jam berapa?”
Satya menatap wajah Lintang yang terlihat lelah. Ada haru yang menyelusup ke relung hatinya. Meski diabaikan, Lintang tidak pernah menampakkan wajah tidak s**a atau pun kecewa. Ia bahkan cukup cekatan mengurus semua keperluan pengajian sejak hari pertama hingga terakhir.
“Pesawat berangkat jam tujuh. Jadi aku berangkat setengah enam.”
“Aku siapkan baju-bajunya sekarang kalau gitu. Biar besok nggak terburu-buru.”
“Eh, nggak usah.” Refleks Satya meraih tangan Lintang yang baru saja bangkit dari duduk. Sesaat kedua pasang mata itu saling bersitatap. Dalam hati, Satya mengakui jika wajah Lintang memang tidak secantik Hanum, tetapi selalu menawarkan keteduhan.
“Aku bisa menyiapkan sendiri,” lanjutnya agak gugup. “Kamu istirahat saja. Kamu pasti lelah.”
Entah kenapa Satya merasa jantngnya berdetak lebih cepat ketika tatapan mata sebening telaga milik Lintang memindai tubuhnya. Namun, wajah Hanum yang berkelebat cepat di benak menormalkan kembali detak jantung Satya. Ia harus menjaga diri. Bagaimanapun juga ia sudah berjanji akan kembali kepada Hanum.
Lintang tersenyum. “Nggak, kok, Mas. Sudah jadi tanggung jawabku untuk menyiapkan keperluan Mas Satya.”
Jemari kokoh Satya kembali meraih tangan Lintang. “Nggak usah, Lin. Nanti aku beresin sendiri. Aku bukan anak mama yang semua keperluannya harus diurus orang lain.” Membiarkan Lintang membereskan pakaiannya sama saja membuka kesempatan mereka lebih dekat karena perempuan itu memasuki salah satu bagian privatnya dan Satya tidak mau itu terjadi. Ia harus menutup semua celah yang mampu menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
“Oh, baiklah kalau begitu.” Meski senyum masih menetap di wajah Lintang, tetapi rasa kecewa diam-diam menggumpal di hatinya.
“Kapan kamu balik Jogja?” Satya mengalihkan pembicaraan.
“Kalau Mas Satya mengizinkan, besok aku balik Jogja,” jawab Lintang setelah kembali duduk di sofa.
Satya tersenyum. “Kenapa harus minta izin? Kamu bebas pergi ke mana pun. Jangan merasa terikat denganku.”
Ucapan Satnya seperti cubitan di hati Lintang. “Ya, aku, kan, istri Mas Satya. Kewajiban seorang istri untuk minta izin suami ke mana pun dia pergi. Jadi kalau terjadi apa-apa, meninggal misalnya, suami ridha.” Lintang berusaha menjawab pertanyaan Satya setenang mungkin.
Satya berjengit. “Kamu ngaco. Jangan ngomongin mati. Cukup aku kehilangan Bunda.”
“Ya, memang -- “
“Pokoknya jangan ngomongin soal mati. Titik!” potong Satya cepat.
Lintang menutup mulutnya. Sepasang mata bening miliknya menatap wajah Satya yang terlihat keruh. “Ma-maaf. Aku nggak bermaksud apa-apa.”
Satya mengganjur napas. “Aku yang minta maaf, Lin. Aku cuma nggak ingin ngomongin soal mati.” Ia menatap wajah Lintang yang menunduk. “Kamu boleh pergi ke mana pun tanpa minta izin kepadaku. Kita memang suami istri, tapi hanya sementara. Kamu tetap manusia bebas, tidak terikat. Tidak perlu bersusah payah meminta izinku, apalagi mengurus keperluanku.”
“Ya, Salam, Ya, Latif,” batin Lintang perih. Ia berharap pendengarannya salah dan bukan Satya yang baru saja mengucapkannya. Nyatanya, kalimat demi kalimat setajam duri mawar itu memang diucapkan Satya.
“Udah malam, Lin. Yuk, istirahat.” Satya bangkit. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat merasa bersalah dengan ucapannya yang telah melukai hati Lintang. “Besok biar kamu diantar Pak Parjo. Jadi nggak usah ngebis.” Satya menatap wajah istrinya sekilas lalu pergi ke kamarnya, meninggalkan Lintang yang nyaris meledakkan tangis.
Dua minggu berlalu sejak Satya dan Lintang kembali ke kehidupan masing-masing. Lintang berusaha mengejar waktu yang tersisa. Ia menenggelamkan diri di perpustakaan dan sesekali ke laboratorium untuk mengambil hasil analisis. Beruntung, ia tidak perlu mengulang penelitian karena hasil analisis sesuai dengan hipotesis penelitiannya.
Sepekan pertama terpisah jarak, tidak pernah satu kali pun Satya berkirim kabar lebih dulu. Selalu Lintang yang mengawali percakapan di antara mereka hingga Lintang merasa malu dan khawatir dianggap terlalu mengejar-ngejar Satya. Akhirnya, pada minggu kedua, Lintang memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Satya meski hanya sekadar bertanya apakah suaminya sudah makan atau belum sebagaimana yang dilakukannya pada pekan sebelumnya.
Lintang baru saja membereskan buku-buku ketika ponselnya bergetar. Refleks tangannya membekap mulut saat melihat nama Satya terpampang di layar ponsel.
“Lin, besok kamu Sabtu Minggu kamu pulang ke Solo nggak?” tanya Satya setelah membalas salam Lintang.
“A-apa Mas Satya besok pulang?” Tiba-tiba Lintang merasa gugup. Ia berharap sikap Satya berubah.
“Iya, ini aku sudah di bandara. Malam ini juga aku ke Solo.”
“Kalau gitu, besok aku pulang, Mas. Aku ngebis paling pagi,” ujar Lintang semringah.
“Nggak usah naik bus. Besok aku jemput kamu,” pungkas Satya sebelum memutus pembicaraan.
***
Judul aplikasi: Perempuan Masa Lalu Suamiku
Penulis: Anifah Setyawati
Apk: KBM App