21/02/2014
6 Bahaya Pornografi Pada Anak
(Hal Paling penting diketahui Orangtua)
Semakin berkembangnya era informasi membuat kita sebagai orangtua harus ekstra waspada terhadap bahaya p***ografi yang bisa meracuni anak-anak kita. Seperti kita ketahui, dengan keberadaan internet, p***ografi kini tak hanya dapat diakses dari media print saja, namun juga dari internet, dimana media ini seringkali luput dari pengawasan orangtua.
Sebuah riset menunjukan bahwa sejak kehadiran internet, usia rata-rata anak mulai mengenal bentuk p***ografi adalah 8 tahun. Padahal sebelum keberadaan internet mereka baru mengenal p***ografi melalui media print berkisar antara 11 hingga 13 tahun. Parahnya, jika p***ografi dibiarkan meracuni anak-anak kita, maka bahaya yang ditimbulkan pun akan semakin besar. Agar anda lebih waspada,
berikut beberapa dampak p***ografi yang bisa membahayakan anak-anak kita:
1. Anak-anak mulai melakukan aktifitas seksual
Sifat dasar anak-anak adalah meniru. Mereka akan meniru apapun yang dilihat nya. Jika p***ografi meracuni mereka, bukan tak mungkin mereka akan melakukan aktifitas seksual yang mereka lihat kepada anak yang lebih muda, bahkan teman sebayanya yang lebih lemah. Jika hal tersebut dibiarkan, anak bisa menjadi pelaku kekerasan seksual anak-anak, dimana hal ini biasanya disebabkan oleh 2 simultan yaitu pengalaman dan exposure.
2. Sulit konsentrasi
Bagaimana bisa konsentrasi kalau yang ada dalam pikiran anak adalah pikiran-pikiran kotor. Belum lagi kalau anak belum paham sehingga yang ada dalam otak anak adalah berbagai pertanyaan seputar adegan atau tayangan p***o yang baru dia lihat. Ingat loh ini konteksnya anak usia dini. Mana ada sih anak balita yang paham dengan adegan p***o? Yang bahaya lagi, kalau sudah tertanam dalam otak maka untuk menghapus akan sangat sulit. Kenapa ? karena seks merupakan kebutuhan dasar manusia. Anak yang sudah menemukan kenikmatan seks sebelum waktunya dan tertanam secara mendalam dalam pikirannya akan sulit untuk dihilangkan. Kasihan kan padahal masa depannya masih panjang, masih banyak dibutuhkan konsentrasi-konsentrasi dalam hidupnya
3. Kecenderungan melakukan pelecehan seksual
Mengenal p***ografi terlalu dini juga dapat membuat seseorang melakukan kejahatan seksual seperti pelecehan seksual. ? 77% pelaku pelecehan terhadap anak laki-laki, dan 87 % pelaku pelecehan terhadap anak perempuan mengaku kebiasaan melihat p***ografi lah yang mendorong tindakan kriminal mereka.
4. Menangkap pesan yang salah
Pornografi bisa menimbulkan pesan yang salah bagi generasi muda terhadap hubungan antar mereka kelak. Mereka akan beranggapan bahwa kasih sayang antara ia dan pasangannya diukur oleh kepuasan seksual yang bisa mereka raih. Hal ini disebabkan sifat p***ografi itu sendiri yang memaparkan seksualitas tanpa pertanggungjawaban.
Contoh: Anak bisa saja jadi tidak percaya diri, kenapa? Karena frame yang dia lihat dari maraknya tayangan TV atau bahkan lingkungan disekitarnya, ” kalau mau cantik dan punya banyak teman ya harus berpakaian terbuka ”, ” kalau berpakaian tertutup kuper gak gaul, ndeso ”. Besok-besok anak akan muncul PD-nya ketika berpakaian minim dan terbuka.
5. Meningkatnya jumalah kehamilan usia dini
Tindakan seksual yang disaksikan anak, serta dorongan seksual yang secara alamiah dimiliki anak, akan membuatnya penasaran untuk kemudian melakukan sendiri tindakan seksual tersebut. Jika hal ini terjadi, kehamilan diluar nikah pada usia dini sangat mungkin terjadi.
Sebuah penelitian penyebutkan bahwa anak laki-laki yang ter-ekspos oleh p***ografi sebelum usia 14 tahun akan lebih aktif bahkan kecanduan seks saat dewasa nanti. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa diantara 932 pecandu seks yang di teliti, sebanyak 90% laki-laki dan 77% perempuan mengakui bahwa p***ografi berperan besar pada kecanduan mereka.
Begitu bahayanya p***ografi, yang bukan hanya bagi anak anda saat ini, namun juga bagi kehidupan mereka mendatang, maka dibutuhkan pengawasan dari anda, agar anak-anak anda tidak teracuni dengan p***ografi di usia yang tidak seharusnya. Jadi mulai sekarang, dampingi putra-putri anda saat hendak menonton televisi, bermain internet, ataupun memilih bacaan untuknya.
6. Penyimpangan seksual
Anak balita atau anak usia dini yang belum waktunya sudah melihat adegan atau tayangan hubungan intim suami istri atau tayangan –tanyangan p***o lainnya, dan tidak ketahuan orangtua sehingga tidak langsung diberi pemahaman (dengan bahasa yang mudah dipahami anak tentu saja) ketika dewasa kelak bisa mengalami penyimpangan seksual, karena yang ada dalam benak anak adegan itu jorok, sakit, seram dll…
Kecanduan adalah kondisi yang mana secara fisik dan kimia otak memaksa seseorang melakukan suatu perilaku tertentu tanpa adanya keterlibatan pikiran atau hati nurani. Tapi karena kekuatan dari sistem limbik otak (salah satu sistem pada struktur otak) dan kapasitas untuk menaungi bagian moral dan rasional dari otak, banyak orang yang mengklaim bahwa p***ografi adalah perilaku yang normal atau sebagai hiburan semata.
Pada dasarnya, satu-satunya perbedaan antara kecanduan narkoba, seperti he**in atau kokain dengan p***ografi adalah cara memasuki sistem. Otak merespons informasi yang diterima melalui mata lebih cepat ketimbang dari sumber lain. Informasi visual diproses di sistem limbik dalam waktu nanodetik (sepuluh pangkat minus sembilan detik). Inilah sebabnya mengapa kecanduan p***ografi menjadi masalah besar.
Informasi visual diproses lebih cepat daripada informasi indera yang lain, bahkan respons he**in atau kokain sekalipun jauh lebih lambat. Selain visual, hormon oksitosin juga berperan pada kecanduan p***ografi. Oksitosin dapat menciptakan rasa bersatu dan kebersamaan selama berhubungan seksual.