Abdul Basyir Abdullah

Website

Abdul Basyir Abdullah Aktifis

Gubernur DKI Jakarta Hadiri Pelantikan Pengurus FUHAB Jakarta, Dorong Ulama-Habaib Jaga Kerukunan Jakarta
18/08/2026

Gubernur DKI Jakarta Hadiri Pelantikan Pengurus FUHAB Jakarta, Dorong Ulama-Habaib Jaga Kerukunan Jakarta

Kicaunews.com, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung,...

Insya Allah, Jakarta tetap adem dan menyala kawan.!!!
18/08/2026

Insya Allah, Jakarta tetap adem dan menyala kawan.!!!

KISAH TERSEMBUNYI DIBALIK LAHIRNYA PT PERTAMINA YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN, J.M. PATTIASINA MENGGADAIKAN RUMAH DAN TA...
03/08/2026

KISAH TERSEMBUNYI DIBALIK LAHIRNYA PT PERTAMINA YANG TIDAK PERNAH DICERITAKAN, J.M. PATTIASINA MENGGADAIKAN RUMAH DAN TANAH PRIBADI DEMI PERTAMINA

Oleh: Gerard Wakanno



Tahun 1957 adalah kelahiran awal PT Pertamina (nama awal Permina), tetapi juga kematian ekonomi kita. Pada 10 Desember, lahirlah PERMINA. Namun, jangan salah, itu hanyalah negara di atas kertas. Belanda pergi membawa otak, meninggalkan besi tua berkarat dan lubang kas yang menganga. Di Sumatera yang bergolak oleh PRRI, Presiden Direktur Ibnu Sutowo tidak mencari birokrat. Ia mencari panglima perang. Pilihannya jatuh pada Brigadir Jenderal J.M. Pattiasina, seorang perwira TNI yang otaknya bukan hanya paham taktik perang, tetapi juga rumus kimia kilang minyak.



Mei 1958. Pangkalan Brandan bukan medan perang, melainkan neraka industri. Pattiasina tidak disambut mesin, melainkan oleh tumpukan rongsokan mati. Tantangannya sangat jelas, Menghidupkan detak jantung negeri tanpa setetes uang pun di kantong.



LANTAS, BAGAIMANA CARANYA?

JM PATTIASINA MELONTARKAN TIGA PUKULAN KERAS!

Pertama: Kreativitas Menggantikan Uang. Daripada merengek minta alat baru, Pattiasina menyulap rongsokan Belanda dan Jepang menjadi monster produksi. Beliau telah berubah menjadi dokter bedah Mesin.

Kedua: Perang Melawan Penyakit Kronis. Ia sadar, tikus-tikus kecil sedang menggerogoti aset negara. P**a dan besi dicuri, dijual di pasar gelap. Di sinilah sisi Jenderal Rakyat-nya muncul. Bukan dengan tembok penjara, Pattiasina menyapu pasar dengan pidato membara "Kembalikan besi itu! Itu darah negara, dan kalian adalah bagian dari nadi itu! Ratusan ton material kembali. Ini adalah kemenangan moral sebelum produksi.

Ketiga: Mencetak Kader Bangsa. Pemuda-pemuda desa ia latih menjadi teknisi ulung. Ia bukan hanya membangun, ia membangun peradaban energi Indonesia dari nol.



Namun, puncak ujian belum berhenti, puncaknya adalah pukulan paling telak yang sangat mematikan; KAS NEGARA KERING KERONTANG.

Bayangkan, para pekerja tidak digaji. Bahan bakar untuk mesin habis. Moral ambruk. Di sinilah Sisi Gelap Kepahlawanan Pattiasina terungkap, sebuah rahasia yang selama lebih dari 60 tahun tertimbun oleh rasa malu dan segan untuk di buka ke public.



Di sebuah malam sunyi, di rumah mungilnya, Pattiasina mengambil sertifikat tanah dan rumah pribadinya. Sang Putri, Engelina, menyaksikan dari balik pintu. Suasana hening yang mencekam.

Dengan suara serak namun tegak, Pattiasina berbisik kepada putrinya, kalimat yang seharusnya menjadi semboyan para pemimpin negeri ini: "Engelina, dengarkan. Jika kita mencintai tanah air, kita wajib mengorbankan segala yang kita miliki. Bahkan jika nyawa ini harus melayang, itu adalah ongkos yang murah untuk kemerdekaan sejati. Rumah bisa diganti besok, tetapi martabat bangsa, jika jatuh tidak akan pernah kembali."

Ya, PATTASINA MENGGADAIKAN HARTA KELUARGANYA DEMI UNTUK KEPENTINGAN NEGARA. Inilah suntikan dana darurat pertama dari kantong pribadi seorang Jenderal!



Namun darah pribadi belum cukup. Pattiasina harus bermain di panggung internasional. Bersama sahabatnya, Tong Djoe, ia terbang ke Singapura. Di sebuah kafe sederhana dekat Orchard Road, seorang Jenderal TNI duduk dengan rendah hati di hadapan taipan-taipan asing. Ia memesan segelas lemonade, minuman langka dan mewah saat itu, sementara menawarkan jiwa bangsanya sebagai jaminan. Engelina kecil duduk di sudut ruangan diwarung sebelahnya dengan didampingi oleh Tong Djoe sahabat JM Pattiasina yang telah memperkenalkan para taipan Singapura tersebut. Engline menyaksikan martabat sang ayah ditawar demi meminjam modal. Rasa asam manis lemonade itu menjadi saksi, Inilah harga yang harus dibayar ketika pemimpin lebih memilih berutang ke luar negeri daripada mengganggu kas rakyat.



Lobi berdarah itu berhasil. Dana cair.



24 MEI 1958. TITIK BALIK SEJARAH.

Mesin-mesin di Pangkalan Brandan mengaum. Kilang yang mati suri itu meletuskan produksi perdana. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia mengirimkan minyak mentah hasil keringat sendiri ke pasar dunia. Dolar asing mengalir, menyelamatkan ekonomi bangsa yang nyaris kolaps. Itu adalah Proklamasi Ekonomi bangsa ini.



Pattiasina mengubur kisah ini dalam-dalam. Ia takut pengorbanannya dicibir sebagai cari panggung. Ia mati diam, tanpa pernah meminta ganti rugi satu rupiah pun.

Hari ini, saat kita duduk manis menikmati BBM, saat para pejabat bergaya di mobil mewah, tanyakan pada diri kita, KEMANA PERGINYA DARAH PERJUANGAN PATTIASINA?



Di usia 81 tahun kemerdekaan ini, aset-aset Pertamina yang dibangun dengan air mata dan gadai tanah itu harusnya menjadi Benteng Kekayaan Bangsa.

Pattiasina merelakan atap rumahnya, agar negara berdiri kokoh. Hari ini, jangan biarkan para perampok negara merobohkan atap itu lagi!



Sudah saatnya kita, generasi emas, menyalakan api semangat itu lagi. Korupsi adalah musuh bersama yang lebih keji dari penjajah! Mari sambut HUT ke-81 ini dengan tekad, Kembalikan martabat Pertamina, pulihkan harga diri bangsa!

Merdeka!

07/06/2026

Ziarah makam Alhabib Ali bin Abdurahman Al Habsyi.

Kami pencinta para Habaib dan Kiyai..

Rekap peristiwa Indonesia minggu ini:- Klarifikasi TIW ke Pak Dino- TIW dirujak netijen & Anies- Pleidoi Nadiem (mati la...
05/06/2026

Rekap peristiwa Indonesia minggu ini:
- Klarifikasi TIW ke Pak Dino
- TIW dirujak netijen & Anies
- Pleidoi Nadiem (mati lampu p**a)
- Revisi PPh Final UMKM 0,5%
- Dadan p**ang haji, dicopot, digeledah, ditahan
- Pleidoi Nicko, Donald, & Aldi
- Silmy Karim “hilang” (sore)
- Silmy Karim serahkan diri ke KPK (malam)
- Geng Air Keras TNI dituntut 2,5 tahun
- Moody’s kasih rating Baa2 Danantara
- Bhima Celios geruduk Danantara
- IHSG ambrol ke level covid
- USD tembus 18.000
- SGD tembus 14.000
- Prapid Andrie Yunus dikabulkan hakim untuk diadili di peradilan umum.
- TNi bunbun pelajar di medan vonis hanya 10 bulan penjara
- prabowo ngumpulin SPPG seindo di sentul diperkirakan menghabiskan biaya 71 M (55 M (gedung, akomodasi, konsumsi dll) + 16 M (bayar motivator Tony Robbins). Dan Prabowo masih omon : "kita harus efisiensi".
Efisiensi... Efisiensi.. Efisiensi ...??!!!

Hahaha........

dan ini masih hari kamis
mungkin besok ada lagi
siapkan mental kalian WNI

sumber: okkisutanto

Hanya sebuah cerita, cerita yang menggugah hatiku.Namaku Cristina Susilowati, usia 27 tahun. Dan ya, aku adalah seorang ...
18/05/2026

Hanya sebuah cerita, cerita yang menggugah hatiku.

Namaku Cristina Susilowati, usia 27 tahun. Dan ya, aku adalah seorang guru SD di Luxembourg dengan gaji Rp1,6 Miliar per tahun.
Angin musim dingin di Luxembourg City hari ini menembus sampai ke tulang rusuk, tapi kehangatan di dalam kelas 3 SD tempatku mengajar membuat segalanya terasa lumer. Melihat anak-anak bermata biru, cokelat, dan hijau itu memanggilku "Madame Cristina" dengan aksen Prancis-Jerman yang kental, rasanya seperti mimpi yang terlalu jauh untuk seorang gadis yang dulunya hanya berlarian di jalanan berdebu di Jawa.
Banyak orang melihat angka Rp1,6 Miliar itu dan langsung berdecak kagum. "Enak banget, Cris!" kata mereka. "Kerja santai, gaji pejabat."
Mereka tidak melihat malam-malam panjang di mana aku menangis sendirian di apartemen sempit seukuran kotak sepatu saat awal kedatanganku ke Eropa.
Perjuanganku sampai di titik ini berdarah-darah. Luxembourg bukan negara yang ramah bagi pendatang tanpa skill bahasa dewa. Di sini, untuk menjadi guru sekolah dasar negeri, kamu tidak cukup hanya pintar bahasa Inggris. Kamu harus menguasai tiga bahasa sekaligus: Prancis, Jerman, dan Luxemburgish.
Tiga tahun pertamaku adalah neraka.
Aku ingat betul rasanya ditolak puluhan sekolah. "Kualifikasi Anda belum cukup," kata mereka berulang kali. Sambil mengejar penyetaraan ijazah dan sertifikasi yang susahnya minta ampun, aku bekerja serabutan. Mulai dari baby sitter sampai pelayan restoran yang kakinya bengkak setiap p**ang kerja.
Aku tidur hanya 4 jam sehari. Sisanya? Belajar tata bahasa Jerman sampai kepala rasanya mau pecah, lalu lanjut menghafal kosa kata Prancis, sambil menahan lapar karena harga roti di sini mahalnya gila-gilaan buat kantong mahasiswa perantauan. Ada masa di mana aku hampir menyerah, ingin p**ang saja ke Indonesia, makan nasi goreng abang-abang, dan melupakan ambisi gila ini.
Tapi, Tuhan itu maha adil. Usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
Saat surat penerimaan itu datang, tangan aku gemetar. Aku resmi menjadi pengajar di sistem pendidikan negara dengan gaji guru tertinggi di dunia. Saat slip gaji pertamaku turun—setara ratusan juta rupiah per bulan jika dikurskan—aku tidak berteriak senang. Aku justru terdiam.
Aku menatap angka itu, lalu air mataku jatuh. Bukan karena bahagia, tapi karena rasa bersalah yang menusuk dada.
Pikiranku melayang p**ang ke Indonesia.
Aku teringat Pak Budi, guru honorerku dulu di SD. Beliau yang mengajarkanku membaca, yang sepedanya sering rantainya putus saat ke sekolah. Gajinya? Mungkin 300 ribu atau 500 ribu rupiah sebulan. Dibayar rapel tiga bulan sekali.
Aku teringat teman-teman kuliahku di jurusan pendidikan di Indonesia. Mereka orang-orang cerdas, penuh semangat, dan tulus mencintai anak-anak. Tapi sekarang? Mereka harus nyambi jualan pulsa, jadi ojek online, atau buka jasa ketik skripsi hanya untuk menyambung hidup. Gaji mereka sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" bahkan seringkali lebih rendah dari uang jajan anak sekolah yang mereka ajar.
Di Luxembourg, guru adalah profesi yang sangat dihormati, setara dengan hakim atau dokter spesialis. Pemerintah di sini paham betul: Jika kamu ingin masa depan negara cerah, kamu harus memuliakan orang yang mendidik masa depan itu. Makanya, mereka tidak segan menggaji kami miliaran rupiah per tahun.
Sementara di tanah airku?
Rasanya miris. Hatiku sakit setiap kali melihat berita guru di pedalaman yang harus menyeberang sungai deras demi mengajar, tapi di akhir bulan hanya menerima amplop tipis yang isinya cuma cukup buat beli beras seminggu.
Gaji Rp1,6 Miliar ini memang mengubah hidupku. Aku bisa mengirim uang untuk orang tua, merenovasi rumah di kampung, dan travelling keliling Eropa. Tapi jauh di lubuk hatiku, ada doa yang selalu kuselipkan.
Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memandang guru-gurunya seperti Luxembourg memandang kami. Bukan hanya dipuja dengan slogan "Pahlawan", tapi dimuliakan hidupnya, dicukupi kebutuhannya, dan dihargai keringatnya.
Karena aku tahu, di luar sana, ada ribuan "Cristina" lain yang berjuang di ruang kelas yang panas dan bocor, dengan perut yang mungkin setengah lapar, tapi tetap tersenyum demi anak-anak bangsa. Mereka layak mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih.

23/01/2026

Mana penegak hukum, ini bisa jadi petunjuk awal..

JawaPos.com - Anggota Kehormatan 001 Gerakan Rakyat, Anies Baswedan, melontarkan kritik tajam terkait kondisi ekonomi da...
22/01/2026

JawaPos.com - Anggota Kehormatan 001 Gerakan Rakyat, Anies Baswedan, melontarkan kritik tajam terkait kondisi ekonomi dan lingkungan di Indonesia. Dalam pembukaan Rakernas I Gerakan Rakyat di Hotel Aryaduta Menteng, Sabtu (17/1), ia menyoroti fenomena "kerusakan ganda" yang tengah melanda tanah air.

Menurut Anies, Indonesia berada dalam posisi yang memprihatinkan. Yakni, rakyat belum sejahtera, namun alam sudah terlanjur rusak.

Anies menekankan bahwa banyak negara maju merusak lingkungan demi kemakmuran rakyatnya. Namun, kondisi di Indonesia justru sebaliknya.

Ketidakadilan ekonomi dan ekologi berjalan beriringan tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

"Di banyak tempat, perekonomian memajukan seluruh rakyat, lalu perekonomian dikembangkan terus sampai merusak lingkungan. Ketika lingkungan rusak, rakyat sudah mendapatkan kesejahteraan. Nah di Indonesia ini, perekonomiannya belum mensejahterakan rakyat, tetapi lingkungannya juga sudah rusak," ujar Anies, Sabtu (17/1) malam.

Ia menyerukan agar ke depannya, agenda pembangunan harus berfokus pada konsep ekonomi ekologi yang berkeadilan.

Gugat Deforestasi Legal: "Aturannya yang Harus Dikoreksi"

Salah satu poin paling krusial yang dibahas adalah masalah penggundulan hutan. Anies mengungkap data mengejutkan bahwa mayoritas kerusakan hutan di Indonesia justru terjadi secara "resmi" di bawah payung hukum.

"Menurut data, lebih dari 90%, bahkan 97% adalah legal. Jadi memang benar ada pembalakan liar, tapi mayoritas terbesar adalah legal. Artinya, ada regulasi, ada aturan main yang harus dikoreksi," ungkapnya.

Baginya, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan penegakan hukum semata, melainkan melalui perombakan total pada regulasi yang ada.

Selengkapnya di https://www.jawapos.com/nasional/017081141/anies-kritik-deforestasi-97-persen-kerusakan-hutan-indonesia-ternyata-legal

Address

Jakarta

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Abdul Basyir Abdullah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share