YPAMJ

YPAMJ Pelestari Budaya Jawa, Pelatihan Meditasi, Motivasi, Spiritual dan Alternative Health

Mumpung momentum ulang tahun mas Yayan. Nitip foto-foto lama perjalanan mas Yayan bersama YPAMJ  di sini.
08/04/2026

Mumpung momentum ulang tahun mas Yayan. Nitip foto-foto lama perjalanan mas Yayan bersama YPAMJ di sini.

UCAPAN ULANG TAHUN UNTUK MAS YAYANSugeng Tanggap Warsa, Mas Yayan @⁨Yayan YPAMJ⁩ Di hari yang penuh berkah ini, segenap ...
08/04/2026

UCAPAN ULANG TAHUN UNTUK MAS YAYAN

Sugeng Tanggap Warsa, Mas Yayan @⁨Yayan YPAMJ⁩

Di hari yang penuh berkah ini, segenap keluarga besar YPAMJ ingin menghaturkan selamat ulang tahun yang paling hangat.

Meskipun saat ini kesibukan membuat langkah Mas Yayan tidak sesering dulu di dalam aktivitas harian yayasan, namun bagi kami, *kontribusi, pemikiran, dan perhatian* yang pernah serta tetap Mas Yayan berikan adalah pondasi yang tak ternilai harganya.

Pengabdian Mas Yayan telah menjadi bagian dari nafas perjalanan organisasi ini.

Kami mendoakan agar di usia yang baru ini, Mas Yayan senantiasa:

PINARINGAN BERKAH KAWILUJENGAN (Diberi berkah keselamatan dan kesehatan).

DITEBIHAKEN SAKING SAMBEKALA (Dijauhkan dari segala rintangan).

LANCAR SEDAYA URUSANIPUN serta terus menjadi inspirasi bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Terima kasih telah terus membersamai kami dalam doa dan perhatian.

Semoga silaturahmi ini tetap terjaga selamanya.
Salam Rahayu, Rahayu, Rahayu mas Yayan sak brayat agung 🙏🙏

Sugeng Ambal Warsa, Bunda Rohani 🎂(Abdi Dalem Pawon Prabea - YPAMJ)APRESIASI UNTUK SANG PENJAGA DAPUR BUDAYASelamat ulan...
07/04/2026

Sugeng Ambal Warsa, Bunda Rohani 🎂
(Abdi Dalem Pawon Prabea - YPAMJ)

APRESIASI UNTUK SANG PENJAGA DAPUR BUDAYA
Selamat ulang tahun kami haturkan kepada Bunda Rohani, sosok ibu dan pendidik dalam Kawruh Jendra Hayuningrat YPAMJ yang dengan penuh ketulusan mengemban amanah sebagai *Emban Pawon Prabea*.

Tugas panjenengan bukan sekadar menyiapkan konsumsi, melainkan memastikan "NADI" kehidupan di setiap pagelaran budaya Jawa tetap berdenyut.

Melalui tangan dingin Bunda, setiap hidangan yang tersaji menjadi pelengkap sempurnanya pelestarian budaya yang di laksanakan oleh YPAMJ.

Dedikasi Bunda di dapur adalah bentuk cinta yang nyata bagi kelancaran setiap hajat kita bersama.

DOA DAN HARAPAN TERBAIK
Di hari yang bahagia ini, kami segenap keluarga besar YPAMJ mendoakan:

KESEHATAN & KEBERKAHAN:
Semoga Bunda senantiasa dikaruniai kesehatan yang prima, kekuatan, dan umur yang panjang agar terus bisa membimbing kami semua.

KEBAHAGIAAN KELUARGA:
Semoga Bunda selalu menjadi cahaya bagi suami, anak-anak, menantu, hingga cucu-cucu tercinta. Teriring doa agar keluarga Bunda selalu rukun, ayem tentrem, dan penuh kasih sayang.

KELANCARAN BERKARYA:
Semoga semangat Bunda dalam melayani di YPAMJ menjadi amal jariyah yang tak terputus dan inspirasi bagi generasi muda tentang arti sebuah pengabdian.

Terima kasih atas senyum tulus dan kerja keras panjenengan yang tak kenal lelah, Bunda.

Tetaplah menjadi sosok yang mengayomi dengan kasih sayang seorang ibu.

🙏 *Rahayu, Rahayu, Rahayu.* 🙏

01/04/2026

Kenang-kenangan Seminar Budaya KUNANG-KUNANG




01/04/2026

N G A J I K I T A B T E L E S
"R A S A G A T A L D A N G R E M E T - G R E M ET"

"Menunggal dalam Hening, Menghadapi "GODA ALUS" Sang Salira"

Rahayu Sagung Dumadi.
Teruntuk para Simpatisan Ypamj , Jawata, Siswa Jendra, Siswa Utama lan para Satriya Jendra ingkang Kinasih.

Dalam perjalanan kita mendaki Sangkan Paraning Dumadi, salah satu laku yang utama adalah Mati Sajroning Urip.

Belajar hening (meditasi) di tengah riuh, belajar diam di tengah gerak. Namun, seringkali saat kita baru saja hendak menata niat, duduk bersila, dan memusatkan rasa dalam meditasi... tiba-tiba datanglah sang pengganggu kecil yang tak diundang.

R A S A G A T A L DAN G R E M ET - G R E M E T

Mula-mula di lengan, kita garuk. Pindah ke kaki, kita garuk lagi. Tak berselang lama, ia "naik level" ke p**i, bahkan hingga ke tempat-tempat yang tak pantas disebut. Padahal, tubuh sudah bersih sehabis mandi, wangi sabun masih terasa, dan tak ada satu pun nyamuk atau semut yang melintas.

Dari manakah gatal atau gremet-gremet itu berasal?

Memahami "Isengnya" Sang Pikiran
Ketahuilah, anak-anakku, saat raga mulai diam, di situlah Pancadriya dan pikiran kita kehilangan mainannya. Biasanya mereka sibuk dengan gawai, percakapan duniawi, atau hiruk-pikuk pekerjaan. Begitu kita paksa untuk tenang, pikiran akan mulai "berulah" karena merasa kesepian.

Ia mulai membisikkan hal-hal kecil agar kita kehilangan fokus:

> "Itu gatal loh... penting itu..."
> "Kalau tidak digaruk, nanti jadi dosa karena menyiksa diri..."

Ini yang jarang disadari dan hampir tidak perna di bahas dalam melakukan salah satu aktifitas di Kawruh Jendra Jendra Hayuningrat. Saat luar tampak sepi, sensasi di dalam justru akan tampak membesar. Ibarat sebuah titik kecil di atas kertas putih bersih, ia akan terlihat sangat mencolok. Gatal, kesemutan, atau rasa pegal itu sebenarnya adalah "notifikasi" kecil dari otak yang kita perbesar sendiri lewat perhatian (fokus) yang salah arah.

CARA MENGHADAPI "GODA ALUS" TUBUH

Agar meditasi tidak berubah menjadi sekadar "latihan menggaruk" layaknya kera di hutan, simpanlah piwulang ini di dalam batin:

AJA KAGETAN (JANGAN PANIK):
Gatal bukanlah tanda kegagalan laku. Itu hanyalah uji cilik atau tes kecil untuk menguji keteguhan niatmu.

SABAR LAN NARIMA (TAHAN SEJENAK):
Cobalah bertahan 5–10 detik. Perhatikan saja rasa gatal itu tanpa membencinya.

Seringkali, saat hanya disaksikan tanpa diberi "makan" berupa perhatian berlebih, rasa itu akan sirna dengan sendirinya.

MADYAMA (JALAN TENGAH):
Jika gatalnya sungguh mengusik hingga merusak ketenangan batin, silakan digaruk saja dengan santai dan sadar. Meditasi bukanlah lomba menyiksa diri. Garuklah seperlunya, lalu kembalilah manunggal pada napas.

KIBLAT NAPAS:
Kembalilah ke rumahmu yang sejati, yaitu Napas. Gatal itu seperti awan yang datang dan pergi, sementara napas adalah langit yang tetap luas.

Intisari Piwulang Ini Adalah :
Semakin kita melawan gatal dengan amarah, ia akan menjadi tokoh utama dalam drama meditasi kita. Namun, semakin kita bersikap sumeleh (pasrah yang aktif) dan santai, gatal itu akan kehilangan taringnya.

Meditasi bukan hanya tentang menundukkan pikiran yang liar, tetapi juga tentang bersahabat dengan raga yang terkadang s**a "iseng" mencari perhatian.

Ayo, mengaku jujur para Satriya dan Siswa Jendra...
Di bagian tubuh mana biasanya "Gatal Misterius" itu muncul saat kalian sedang mencoba hening atau meditasi?

Dalam kacamata Kawruh Jendra Hayuningrat, segala sesuatu yang terjadi pada raga saat kita sedang hening adalah komunikasi antara batin, energi, dan raga itu sendiri. Mari kita bedah satu per satu fenomena yang di sampaikan oleh mas Rully Hartanto Jenengku Saiki dan mbah Jody Jodi Sidomekar⁩.

1. Gatal di P**i: Simbol "Citra Diri"

P**i adalah bagian dari wajah, bisa saja gatal itu terjadi di kening, di dagu, di ujung hidung ataupun di sekitar bibir yang secara simbolis mewakili muka atau citra diri kita di hadapan dunia.

PERTANDANYA : Secara psikis, gatal di p**i sering kali muncul saat pikiran bawah sadar kita masih memikirkan penilaian orang lain atau masih ada "topeng" sosial yang sedang berusaha kita lepaskan dalam meditasi.

SECARA ENERGI: Di area wajah terdapat banyak titik syaraf sensitif. Gatal di sini menandakan energi mulai naik ke arah kepala (cakra ajna), namun masih terhambat oleh sisa-sisa pikiran yang bersifat duniawi atau ego tentang harga diri.

Pesan-nya : "Abaikan riasan duniawi." Jangan dipikirkan apakah meditasimu terlihat bagus atau tidak. Cukup rasakan saja.

2. Sensasi Menjalar Atau "Gremet-gremet" @⁨Mbah Jodi Sidomekar⁩

Berbeda dengan gatal yang bersifat mengganggu (distraksi), sensasi menjalar seperti ada semut berjalan (gremet-gremet) namun saat diperiksa tidak ada apa-apa, justru merupakan pertanda yang sangat baik.

PERTANDANYA : Aliran "Banyu Suci" (Energi Kehidupan)

Dalam Kawruh Jendra, ini adalah tanda bahwa Prana atau energi kehidupan dalam tubuh mbah Jody @⁨Mbah Jodi Sidomekar⁩ mulai bergerak lancar.

Sumbatan-sumbatan energi di pembuluh halus (nadis) mulai terbuka.

PEMBERSIHAN (RERESIK):

Sensasi menjalar ini sering disebut sebagai proses detoksifikasi gaib. Energi sedang membersihkan sisa-sisa emosi atau ketegangan yang mengendap di otot dan syaraf.

AKTIVASI PANCA INDERA BATIN:

Ini adalah tahap awal di mana kulit mbah Jody @⁨Mbah Jodi Sidomekar⁩ mulai menjadi sangat peka terhadap getaran udara dan energi di sekitar mbah Jody.

Tubuh mbah Jody sedang "berkenalan" dengan frekuensi yang lebih halus.

Kalaupun terjadi pada siswa Jemdra yang lain, lalu bagaimana Sikap Kita?

Bagi para Satriya lan Siswa Jendra, ataupun Siswa Utama yang sedang bermeditasi. Jika tiba-tiba merasakan sensasi menjalar tersebut:

Aja Ditoleh, Aja Digubris (Jangan Terpaku): Jangan lantas kegirangan atau takut.

Kalau panjenengan terlalu fokus pada "RASA ENAK" atau "RASA ANEH" dari getaran itu, meditasimu akan berhenti di permukaan saja.

NIKMATI TANPA MEMILIKI: Rasakan saja aliran itu seperti air sungai yang mengalir. Biarkan ia membersihkan apa yang perlu dibersihkan dalam ragamu.

TERUS MANUNGGAL: Tetap fokus pada titik hening panjenengan. Sensasi itu hanyalah ibarat "PEMANDANGAN" yang panjenengan lihat di pinggir jalan saat panjenengan sedang menuju ke arah Sang Khaliq.

Jadi, gatal itu "Goda" (Ujian), sedangkan getaran menjalar itu "Anugrah" (Proses).

Keduanya adalah tanda bahwa raga panjenengan sedang bereaksi terhadap cahaya batin yang mulai menyala.

Tetap tekun dalam hening, para Kinasih.

Salam Rahayu, sugeng ngayahi Karsaning Gusti 🙏






31/03/2026

. *NGAJI KITAB TELES*
*"G A T A L"*

"Menunggal dalam Hening, Menghadapi "Goda Alus" Sang Salira"

Rahayu Sagung Dumadi.
Teruntuk para Simpatisan, Jawata, Siswa Jendra, Siswa Utama lan para Satriya Jendra ingkang Kinasih.

Dalam perjalanan kita mendaki Sangkan Paraning Dumadi, salah satu laku yang utama adalah Mati Sajroning Urip.

Belajar hening di tengah riuh, belajar diam di tengah gerak. Namun, seringkali saat kita baru saja hendak menata niat, duduk bersila, dan memusatkan rasa dalam meditasi... tiba-tiba datanglah sang pengganggu kecil yang tak diundang.

*Rasa Gatal*

Mula-mula di lengan, kita garuk. Pindah ke kaki, kita garuk lagi. Tak berselang lama, ia "naik level" ke p**i, bahkan hingga ke tempat-tempat yang tak pantas disebut. Padahal, tubuh sudah bersih sehabis mandi, wangi sabun masih terasa, dan tak ada satu pun nyamuk atau semut yang melintas.

Dari manakah gatal itu berasal?
Memahami "Isengnya" Sang Pikiran
Ketahuilah, anak-anakku, saat raga mulai diam, di situlah Pancadriya dan pikiran kita kehilangan mainannya. Biasanya mereka sibuk dengan gawai, percakapan duniawi, atau hiruk-pikuk pekerjaan. Begitu kita paksa untuk tenang, pikiran akan mulai "berulah" karena merasa kesepian.

Ia mulai membisikkan hal-hal kecil agar kita kehilangan fokus:

> "Itu gatal loh... penting itu..."
> "Kalau tidak digaruk, nanti jadi dosa karena menyiksa diri..."

Ini yang jarang disadari dalam Kawruh Jendra. Saat luar tampak sepi, sensasi di dalam justru akan tampak membesar. Ibarat sebuah titik kecil di atas kertas putih bersih, ia akan terlihat sangat mencolok. Gatal, kesemutan, atau rasa pegal itu sebenarnya adalah "notifikasi" kecil dari otak yang kita perbesar sendiri lewat perhatian (fokus) yang salah arah.

*Cara Menghadapi "Goda Alus" Tubuh*

Agar meditasi tidak berubah menjadi sekadar "latihan menggaruk" layaknya kera di hutan, simpanlah piwulang ini di dalam batin:

*Aja Kagetan (Jangan Panik):*
Gatal bukanlah tanda kegagalan laku. Itu hanyalah uji cilik atau tes kecil untuk menguji keteguhan niatmu.

*Sabar lan Narima (Tahan Sejenak):*
Cobalah bertahan 5–10 detik. Perhatikan saja rasa gatal itu tanpa membencinya.

Seringkali, saat hanya disaksikan tanpa diberi "makan" berupa perhatian berlebih, rasa itu akan sirna dengan sendirinya.

*Madyama (Jalan Tengah):*
Jika gatalnya sungguh mengusik hingga merusak ketenangan batin, silakan digaruk saja dengan santai dan sadar. Meditasi bukanlah lomba menyiksa diri. Garuklah seperlunya, lalu kembalilah manunggal pada napas.

*Kiblat Napas:*
Kembalilah ke rumahmu yang sejati, yaitu Napas. Gatal itu seperti awan yang datang dan pergi, sementara napas adalah langit yang tetap luas.

*Intisari Piwulang ini adalah :*
Semakin kita melawan gatal dengan amarah, ia akan menjadi tokoh utama dalam drama meditasi kita. Namun, semakin kita bersikap sumeleh (pasrah yang aktif) dan santai, gatal itu akan kehilangan taringnya.

Meditasi bukan hanya tentang menundukkan pikiran yang liar, tetapi juga tentang bersahabat dengan raga yang terkadang s**a "iseng" mencari perhatian.

Ayo, mengaku jujur para Satriya dan Siswa Jendra...
Di bagian tubuh mana biasanya "Gatal Misterius" itu muncul saat kalian sedang mencoba hening?

Tetaplah berproses dengan rasa syukur dan senyum di batin.

Salam Rahayu 🙏✨
Rahayu, Rahayu Sagung Dumadi...🙏

NGAJI KITAB TELESKACA BENGGALA – Episode 1(Seni Piwulang Kawruh Jendra Hayuningrat)Salam Rahayu 🙏Di suatu ruang tanpa ba...
23/02/2026

NGAJI KITAB TELES

KACA BENGGALA – Episode 1

(Seni Piwulang Kawruh Jendra Hayuningrat)

Salam Rahayu 🙏

Di suatu ruang tanpa batas waktu, cerita ini dimulai.

Sebuah tulisan besar—semacam baliho kosmik—muncul di layar raksasa di atas sebuah kedai tanpa usia:

“NGAJI KITAB TELES”

Karl Marx mengernyitkan dahi.

“Macam apa lagi ini? Ideologi baru kah? Agama baru kah? Atau apa…? Apakah ada yang bisa menjelaskan?”

Semar terkekeh pelan.

“Lha kok langsung curiga, nak Karl… (ananda Karl). Tanyakan saja pada yang punya istilah.”

Semua mata tertuju pada Ki Wongsodjono yang berjalan tenang, memegang rokok klobotnya yang bara apinya hampir padam.

Marx kembali bertanya,

“Apa yang dimaksud dengan Ngaji Kitab Teles, Ki Wongsodjono?”

Eyang tersenyum tipis.

“Ngaji… bukan sekadar membaca. Ngaji itu mengolah dan menghayati.”

“Kitab bukan hanya buku. Hidup ini juga kitab.”

“Dan Teles dalam bahasa Jawa berarti basah. Maksudnya, ajaran yang sudah basah oleh pengalaman hidup. Bukan teori yang kering.”

Sunyi sejenak.

“Ngaji Kitab Teles adalah membaca kehidupan sebagai kitab, agar manusia belajar dari lakunya sendiri.”

Siddharta Gautama yang baru merapikan jubah kain tanpa jahitannya bertanya lembut,

“Lalu apa itu Kaca Benggala, Ki Wongsodjono?”

Eyang menoleh ke arah Semar.

“Soal Kaca Benggala, itu wewenangnya Ki Lurah Semar.”

Semar tersenyum lebar.

“Kaca Benggala itu cermin besar.”

“Bukan cermin buat bergaya. Tapi untuk melihat wajah asli diri sendiri.”

“Kalau wajahmu kusut, jangan marah pada cermin. Kalau batinmu keruh, jangan salahkan ajaran.”

“Kaca Benggala itu alat mawas diri (introspeksi). Ia tidak menghakimi. Ia hanya memantulkan.”

Yesus mengangguk pelan.

“Jadi ini bukan untuk menilai orang lain, nggih para sepuh?”

Semar menjawab cepat,

“Kalau dipakai untuk menilai orang lain, berarti cerminnya diputar keluar, bukan ke dalam.”

Semua tersenyum.



Mereka berjalan menuju sebuah kedai kopi di sudut alam baka.

Di dalamnya terdapat layar Megatron raksasa.

Layar itu bukan untuk karaoke, melainkan menyiarkan seluruh perjalanan hidup manusia lintas zaman.

Terlihat Siddharta bertapa di bawah pohon Bodhi.

Terlihat Marx menulis di ruang kerjanya yang dingin.

Terlihat Yesus berjalan bersama kaum kecil dan para murid-Nya.

Terlihat Semar mendampingi para ksatria.

Terlihat p**a Ki Wongsodjono saat menjadi Satriya dan Patih di Kraton Ngayugjakarta Hadiningrat.

Semua laku terekam.

Eyang berkata pelan,

“Itulah Kitab Teles. Hidup yang sudah terjadi, tidak bisa diedit lagi.”

Semar menambahkan,

“Dan Megatron itu Kaca Benggala raksasa.”



☕ Mereka duduk.

Semar menyesap kopi.

“Waduh… lihat itu di bawah sana. Manusia makin canggih, tapi makin bingung cari bahagia.”

“Padahal sederhana: weteng wareg, ati tentrem (perut kenyang, hati tenang).”

Marx menggebrak meja pelan.

“Perut mereka tak kenyang karena sistem!”

Buddha berkata tenang,

“Mereka menderita karena keinginan.”

Yesus berkata lembut,

“Mereka lupa kasih.”

Adam Smith berkata,

“Pasar kehilangan moral.”

Gandhi menambahkan,

“Keserakahan adalah kekerasan yang halus.”



Layar menampilkan orang-orang berdoa meminta kekayaan.

“Ya Tuhan, jadikan aku kaya…”

Adegan berganti.

Orang-orang yang doanya terkabul tampak dalam Kaca Benggala menyembunyikan harta demi bantuan sosial.

Ada yang mengaku tak mampu saat membayar uang sekolah.

Ada yang bersedekah receh, tetapi memamerkan ponsel mahal dan jam pintar.

Marx berkata,

“Itu kesadaran palsu.”

Buddha berkata,

“Itu kemelekatan pada citra.”

Yesus berkata,

“Mereka ingin diberkati, tapi takut berbagi.”

Semar tertawa kecil.

“Nek njaluk sugih, kuduné yo gelem diuji sugih (kalau minta kaya, harus siap diuji dengan kekayaan).”

Semua menoleh pada Ki Wongsodjono.

Beliau berbicara pelan namun tegas:

“Rezeki itu amanah, bukan sekadar nikmat.”

“Kalau saat miskin kamu berdoa ingin kaya, maka saat kaya kamu harus siap diuji: apakah tetap jujur? apakah tetap peduli? apakah tetap setia?”

“Ujian terbesar bukan saat kekurangan, tetapi saat berkelimpahan.”

“Kawruh Jendra mengajarkan eling lan waspada (ingat dan sadar), bukan sekadar ingin dan memiliki.”

Sunyi menyelimuti kedai.

Yesus tersenyum lalu berkata ringan,

“Ngomong-ngomong, siapa yang bayar kopi kita ini?”

Marx mengangkat bahu.

“Saya tidak percaya kepemilikan pribadi atas tagihan.”

Buddha tersenyum.

“Tagihan hanyalah ilusi.”

Semar menggeleng.

“Halah… ujung-ujungnya rakyat kecil juga yang bayar.”

Ki Wongsodjono merogoh sakunya.

“Sudah… saya bayar dengan doa.”

Yesus tersenyum heran.

“Bayar dengan doa?”

Eyang menjawab polos,

“Uang ini diberikan murid-murid saya saat mereka berdoa. Semakin berat masalahnya, semakin besar pemberiannya.”

“Tapi ada juga yang memberi tanpa meminta apa-apa. Hanya karena ingat hari kematian.”

Beliau berdiri dan menatap layar yang masih menampilkan Bumi berputar.

“Versi manusia terbaik,” katanya pelan,

“adalah yang berani bercermin sebelum menyalahkan waktu dan dunia.”

Lampu kedai meredup.

Megatron tetap menyala.

Dan Kitab Teles terus bertambah halamannya.



Demikian Episode Pembuka Ngaji Kitab Teles dalam koridor Kaca Benggala.

Semoga menjadi bahan mawas diri, bukan bahan perdebatan.

Salam Rahayu 🙏

10/02/2026

Ketua Panitia dan pendiri Sanggar Tari Hastarini.
Pada tanggal 7 Februari 2026 adalah Ulang Tahun atau Hari Jadi Sanggar Tari Hastarini ke 7. Di meriahkan dengan acara Culture Fiesta (CF) di Auditorium Jember Town Squere






10/02/2026

Beberapa Putri Sanggar YPAMJ sedang berulang tahun di bulan yang sama (10 Februari)





10/02/2026

Beberapa Satriya Jendra sedang berulang tahun di bulan yang sama (8 Februari)





10/02/2026

Beberapa Putri Sanggar YPAMJ sedang berulang tahun di bulan yang sama (8 Februari)





Dengan Cak Cid – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 16 bulan berturut-turut. 🎉
06/02/2026

Dengan Cak Cid – Saya mendapatkan streak! Saya sudah jadi penggemar berat 16 bulan berturut-turut. 🎉

Address

Kantor :Jalan Panjahitan XII Blok A No. 02 RT. 001 RW. 026 Kel. Kebonsari Kec. Sumbersari Kab Jember Prop. Jatim 68122
Jember
68127

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when YPAMJ posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share