01/04/2026
N G A J I K I T A B T E L E S
"R A S A G A T A L D A N G R E M E T - G R E M ET"
"Menunggal dalam Hening, Menghadapi "GODA ALUS" Sang Salira"
Rahayu Sagung Dumadi.
Teruntuk para Simpatisan Ypamj , Jawata, Siswa Jendra, Siswa Utama lan para Satriya Jendra ingkang Kinasih.
Dalam perjalanan kita mendaki Sangkan Paraning Dumadi, salah satu laku yang utama adalah Mati Sajroning Urip.
Belajar hening (meditasi) di tengah riuh, belajar diam di tengah gerak. Namun, seringkali saat kita baru saja hendak menata niat, duduk bersila, dan memusatkan rasa dalam meditasi... tiba-tiba datanglah sang pengganggu kecil yang tak diundang.
R A S A G A T A L DAN G R E M ET - G R E M E T
Mula-mula di lengan, kita garuk. Pindah ke kaki, kita garuk lagi. Tak berselang lama, ia "naik level" ke p**i, bahkan hingga ke tempat-tempat yang tak pantas disebut. Padahal, tubuh sudah bersih sehabis mandi, wangi sabun masih terasa, dan tak ada satu pun nyamuk atau semut yang melintas.
Dari manakah gatal atau gremet-gremet itu berasal?
Memahami "Isengnya" Sang Pikiran
Ketahuilah, anak-anakku, saat raga mulai diam, di situlah Pancadriya dan pikiran kita kehilangan mainannya. Biasanya mereka sibuk dengan gawai, percakapan duniawi, atau hiruk-pikuk pekerjaan. Begitu kita paksa untuk tenang, pikiran akan mulai "berulah" karena merasa kesepian.
Ia mulai membisikkan hal-hal kecil agar kita kehilangan fokus:
> "Itu gatal loh... penting itu..."
> "Kalau tidak digaruk, nanti jadi dosa karena menyiksa diri..."
Ini yang jarang disadari dan hampir tidak perna di bahas dalam melakukan salah satu aktifitas di Kawruh Jendra Jendra Hayuningrat. Saat luar tampak sepi, sensasi di dalam justru akan tampak membesar. Ibarat sebuah titik kecil di atas kertas putih bersih, ia akan terlihat sangat mencolok. Gatal, kesemutan, atau rasa pegal itu sebenarnya adalah "notifikasi" kecil dari otak yang kita perbesar sendiri lewat perhatian (fokus) yang salah arah.
CARA MENGHADAPI "GODA ALUS" TUBUH
Agar meditasi tidak berubah menjadi sekadar "latihan menggaruk" layaknya kera di hutan, simpanlah piwulang ini di dalam batin:
AJA KAGETAN (JANGAN PANIK):
Gatal bukanlah tanda kegagalan laku. Itu hanyalah uji cilik atau tes kecil untuk menguji keteguhan niatmu.
SABAR LAN NARIMA (TAHAN SEJENAK):
Cobalah bertahan 5–10 detik. Perhatikan saja rasa gatal itu tanpa membencinya.
Seringkali, saat hanya disaksikan tanpa diberi "makan" berupa perhatian berlebih, rasa itu akan sirna dengan sendirinya.
MADYAMA (JALAN TENGAH):
Jika gatalnya sungguh mengusik hingga merusak ketenangan batin, silakan digaruk saja dengan santai dan sadar. Meditasi bukanlah lomba menyiksa diri. Garuklah seperlunya, lalu kembalilah manunggal pada napas.
KIBLAT NAPAS:
Kembalilah ke rumahmu yang sejati, yaitu Napas. Gatal itu seperti awan yang datang dan pergi, sementara napas adalah langit yang tetap luas.
Intisari Piwulang Ini Adalah :
Semakin kita melawan gatal dengan amarah, ia akan menjadi tokoh utama dalam drama meditasi kita. Namun, semakin kita bersikap sumeleh (pasrah yang aktif) dan santai, gatal itu akan kehilangan taringnya.
Meditasi bukan hanya tentang menundukkan pikiran yang liar, tetapi juga tentang bersahabat dengan raga yang terkadang s**a "iseng" mencari perhatian.
Ayo, mengaku jujur para Satriya dan Siswa Jendra...
Di bagian tubuh mana biasanya "Gatal Misterius" itu muncul saat kalian sedang mencoba hening atau meditasi?
Dalam kacamata Kawruh Jendra Hayuningrat, segala sesuatu yang terjadi pada raga saat kita sedang hening adalah komunikasi antara batin, energi, dan raga itu sendiri. Mari kita bedah satu per satu fenomena yang di sampaikan oleh mas Rully Hartanto Jenengku Saiki dan mbah Jody Jodi Sidomekar.
1. Gatal di P**i: Simbol "Citra Diri"
P**i adalah bagian dari wajah, bisa saja gatal itu terjadi di kening, di dagu, di ujung hidung ataupun di sekitar bibir yang secara simbolis mewakili muka atau citra diri kita di hadapan dunia.
PERTANDANYA : Secara psikis, gatal di p**i sering kali muncul saat pikiran bawah sadar kita masih memikirkan penilaian orang lain atau masih ada "topeng" sosial yang sedang berusaha kita lepaskan dalam meditasi.
SECARA ENERGI: Di area wajah terdapat banyak titik syaraf sensitif. Gatal di sini menandakan energi mulai naik ke arah kepala (cakra ajna), namun masih terhambat oleh sisa-sisa pikiran yang bersifat duniawi atau ego tentang harga diri.
Pesan-nya : "Abaikan riasan duniawi." Jangan dipikirkan apakah meditasimu terlihat bagus atau tidak. Cukup rasakan saja.
2. Sensasi Menjalar Atau "Gremet-gremet" @Mbah Jodi Sidomekar
Berbeda dengan gatal yang bersifat mengganggu (distraksi), sensasi menjalar seperti ada semut berjalan (gremet-gremet) namun saat diperiksa tidak ada apa-apa, justru merupakan pertanda yang sangat baik.
PERTANDANYA : Aliran "Banyu Suci" (Energi Kehidupan)
Dalam Kawruh Jendra, ini adalah tanda bahwa Prana atau energi kehidupan dalam tubuh mbah Jody @Mbah Jodi Sidomekar mulai bergerak lancar.
Sumbatan-sumbatan energi di pembuluh halus (nadis) mulai terbuka.
PEMBERSIHAN (RERESIK):
Sensasi menjalar ini sering disebut sebagai proses detoksifikasi gaib. Energi sedang membersihkan sisa-sisa emosi atau ketegangan yang mengendap di otot dan syaraf.
AKTIVASI PANCA INDERA BATIN:
Ini adalah tahap awal di mana kulit mbah Jody @Mbah Jodi Sidomekar mulai menjadi sangat peka terhadap getaran udara dan energi di sekitar mbah Jody.
Tubuh mbah Jody sedang "berkenalan" dengan frekuensi yang lebih halus.
Kalaupun terjadi pada siswa Jemdra yang lain, lalu bagaimana Sikap Kita?
Bagi para Satriya lan Siswa Jendra, ataupun Siswa Utama yang sedang bermeditasi. Jika tiba-tiba merasakan sensasi menjalar tersebut:
Aja Ditoleh, Aja Digubris (Jangan Terpaku): Jangan lantas kegirangan atau takut.
Kalau panjenengan terlalu fokus pada "RASA ENAK" atau "RASA ANEH" dari getaran itu, meditasimu akan berhenti di permukaan saja.
NIKMATI TANPA MEMILIKI: Rasakan saja aliran itu seperti air sungai yang mengalir. Biarkan ia membersihkan apa yang perlu dibersihkan dalam ragamu.
TERUS MANUNGGAL: Tetap fokus pada titik hening panjenengan. Sensasi itu hanyalah ibarat "PEMANDANGAN" yang panjenengan lihat di pinggir jalan saat panjenengan sedang menuju ke arah Sang Khaliq.
Jadi, gatal itu "Goda" (Ujian), sedangkan getaran menjalar itu "Anugrah" (Proses).
Keduanya adalah tanda bahwa raga panjenengan sedang bereaksi terhadap cahaya batin yang mulai menyala.
Tetap tekun dalam hening, para Kinasih.
Salam Rahayu, sugeng ngayahi Karsaning Gusti 🙏