16/08/2023
URGENSI PERSATUAN NASIONAL MENYONGSONG INDONESIA EMAS 2045
(Catatan Reflektif Perayaan Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia 2023)
Oleh:
FORUM LITERASI MASYARAKAT INDONESIA - FORLITMAS INDONESIA
STUDI KAWASAN NUSA UTARA
Tahun ini, usia kemerdekaan bangsa ini menginjak 78 tahun. 22 tahun ke depan dari sekarang, Indonesia akan berusia 1 abad pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Dalam proyeksi 22 tahun ke depan, kita kerap mendengar slogan dan jargon populer yang di sebut dengan "INDONESIA EMAS". Jargon dan slogan yang memompa optimisme bangsa ini akan harapan terjadinya sebuah "quantum leap", di mana Indonesia akan bangkit menjadi salah satu negara paling berpengaruh di kawasan Pasifik sekaligus secara global. Harapan futuristik ini meyakini bahwa Indonesia akan menjelma sebagai salah satu "raksasa ekonomi" di kawasan Pasifik dan secara global.
Secara sederhana, quantum leap adalah sebuah loncatan yang membuat manusia mencapai potensi optimalnya, bahkan loncatan tersebut sanggup melampaui batasan kelaziman (beyond the limit). Makna analogis inilah yang sering populer melalui slogan dan jargon optimistik yang beredar di berbagai narasi publik. Tentunya, harapan optimistik ini bukan tanpa dasar. Saat ini, tak bisa di pungkiri bahwa Indonesia memiliki modal strategis yang sangat potensial menciptakan "quantum leap". Modal strategis ini memiliki dua sisi mata uang yang saling antagonis. Sisi peluang, jika berhasil mengoptimalisasi modal strategis ini, maka masa depan bangsa menjelma menjadi "raksasa ekonomi". Sebaliknya, jika gagal mengolah modal strategis ini, maka masa depan indonesia terancam nyungsep karena menjadi "kurcaci ekonomi".
Melimpahnya potensi pangan dan energi Indonesia akan menjadi lumbung paling di cari oleh dunia global. Belum lagi, geoposisi Indonesia secara maritim adalah jalur perdagangan dunia yang strategis. Jalur dagang global yang strategis adalah terusan Suez, terusan Panama, Selat Gibraltar dan ALKI (Alur laut Kepulauan Indonesia). Dari empat jalur dagang dunia, salah satunya berada di Indonesia yang di sebut dengan ALKI. Di mana ALKI terdiri dari empat jalur yang di bagi dalam ALKI I, ALKI II, ALKI III dan ALKI IV. Posisi sentral ini di sebabkan karena Indonesia berada pada posisi silang yang di apit oleh benua Asia dan Benua Australia, dan di apit oleh samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
Di perhadapkan dengan realitas konflik geopolitik global, dunia di paksa bergeser dari sistem uni-polar menjadi multi-polar. Sebelum kebangkitan ekonomi Tiongkok secara global, dominasi hegemoni Amerika memainkan peran sebagai negara adidaya bersama sekutu Barat dan Eropa lainnya. Kebangkitan Tiongkok yang mulai menggerus hegemoni Amerika, resistensi Rusia terhadap "proxy war" yang di lancarkan Amerika yang menunggangi Ukraina sebagai "proxy agent", di tambah lagi resesi ekonomi global pasca pandemi Covid 19 benar-benar memicu "disrupsi global". Dunia di paksa pada tatanan uni-polar menjadi multi-polar.
Dan, dalam kondisi konflik global di atas, Indonesia benar-benar menempati peran sentral yang sangat strategis di kawasan Pasifik. Dengan demikian, persatuan nasional dari setiap elemen elit dan akar rumput mutlak di bangun. Semua elemen pluralitas wajib di rekatkan melalui solidaritas nasional yang di hembusi spirit "Bhineka Tunggal Ika". Polarisasi identitas antara "kadrun" dan "cebong" harus di hentikan. Segregasi ini harus di rekonsiliasi sehingga melebur dalam satu entitas nasional yang di sebut, INDONESIA BERDAULAT dari Miangas sampai Rote dan dari Merauke sampai Sabang.
Indonesia tak bisa hanya sebatas nama sebuah bangsa dalam peta dunia. Tak bisa hanya di kenal sebatas salah satu negara yang menempati kawasan Pasifik. Indonesia harus menjelma sebagai "ekosistem kehidupan" yang membuat setiap warga negara bisa menghirup udara kemerdekaan penuh kelegaan. Slogan sakral "NKRI HARGA MATI" harus di resapi dan di bangun di atas prinsip konsensus kebangsaan yang egaliteristik. Artinya, setiap identitas suku, agama, ras dan antar golongan bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Dengan demkian, perilaku diskriminatif karena perbedaan identitas adalah khianat paling biadab terhadap konsensus kebangsaan.
Kita berhadapan dengan arena tarung globalisasi yang tak beda dengan "Colloseum Romawi". Ganasnya persaingan globalisasi akan memicu evolusi dalam alam modernisasi. Mereka yang gagal memiliki "survival instict" siap tergilas oleh roda perubahan. Konstruksi kompetensi menjadi faktor mutlak dengan tetap memiliki identitas kearifan lokal yang original. Navigasi spiritual yang membuat kita mudah membaur dalam ruang sosial tak kalah penting di miliki.
Dan, cetak biru insan Indonesia di atas akan tercipta saat setiap anak bangsa di bakar oleh "nation dignity" yang penuh kehormatan. Kita menjadi bangsa yang "tumbuh" dan bukan menjadi bangsa yang "lumpuh". Karena "sense of belonging" terhadap bangsa ini mengakar kuat dalam pikiran, rasa dan karsa dari setiap anak bangsa. Rasa memiliki (sense of belonging) ini lahir karena Indonesia menjadi rumah sejuk bagi setiap warganya. Prinsip keunggulan, keadilan, kesetaraan dan kesejahteraan benar-benar membumi secara konsekuen di setiap jengkal Nusantara.
Mengucapkan,
DIRGAHAYU PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA - 78
17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2023
Salam "Nayaka Bhadrika Dharma Nagara!"