Adab Sehari-Hari

Adab Sehari-Hari Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Adab Sehari-Hari, Manoko Cisaroni Cikahuripan, Cikalong Wetan.

1. Kuasai Seni JedaJeda adalah kekuatan super yang sering diremehkan. Di dunia yang serba cepat dan dipenuhi notifikasi,...
27/08/2025

1. Kuasai Seni Jeda
Jeda adalah kekuatan super yang sering diremehkan. Di dunia yang serba cepat dan dipenuhi notifikasi, keheningan terasa tidak nyaman. Gunakan ini. Setelah kamu mengucapkan sesuatu yang penting atau provokatif, berhentilah sejenak. Jeda memberi ruang bagi kata-katamu untuk diserap dan dicerna oleh lawan bicara. Itu membuatmu terlihat lebih percaya diri dan tidak terburu-buru. Orang akan menunggu apa yang akan kamu katakan selanjutnya, dan itu membuat mereka benar-benar mendengar.

2. Bertanyalah dengan "Mengapa" yang Dalam
Jangan hanya bertanya tentang permukaan. Selami motivasi dan nilai di balik sebuah pernyataan. Ketika seseorang berkata, "Saya sangat sibuk akhir-akhir ini," jangan hanya mengangguk. Tanyakan, "Apa yang membuatmu begitu bersemangat untuk dijalani sampai waktumu habis untuk itu?" Pertanyaan seperti ini menggeser percakapan dari sekadar fakta menuju makna. Itu memaksa orang untuk berhenti sejenak dan merefleksikan hidup mereka, dan mereka akan mengingat percakapan itu karena kamu menunjukkan ketertarikan yang tulus.

3. Gunakan Analogi yang Segar dan Relevan
Otak manusia sangat mencintai analogi karena membuat ide yang abstrak menjadi konkret. Tapi jangan gunakan analogi yang sudah basi. Buatlah yang relate dengan zaman now. Daripada bilang "Itu seperti mencari jarum di tumpukan jerami," coba katakan, "Itu seperti algoritma TikTok yang mencoba menemukan satu video spesifik dari jutaan video tanpa hashtag." Analogi yang segar dan relatable tidak hanya membuat orang memahami poinmu, tetapi juga membuat mereka terkagum-kagum dengan cara pandangmu yang unik.

4. Katakan yang Kontroversial dengan Santai
Ini bukan tentang provokasi, tapi tentang menyampaikan sebuah perspektif yang jarang didengar dengan tenang dan percaya diri. Ketika semua orang berpikir A, dan kamu dengan kalem menyampaikan sudut pandang B tanpa emosi yang meledak, itu akan mengejutkan mereka. Misalnya, dalam diskusi tentang produktivitas, kamu bisa berkata, "Apa iya hustle culture 24/7 itu tanda kesuksesan? Bisa jadi itu justru tanda kita tidak percaya pada proses dan ingin instan." Penyampaian yang santai membuat argumenmu terkesan matang dan dipikirkan matang-matang, bukan sekadar reaksi.

5. Rendahkan Volume, Naikkan Intensity
Berteriak tidak membuat argumen jadi lebih kuat. Justru sebaliknya. Cobalah untuk berbicara sedikit lebih pelan dari biasanya. Ini menciptakan sebuah daya tarik. Lawan bicaramu akan secara tidak sadar memusatkan perhatian dan mendekat untuk mendengar apa yang kamu katakan. Ketika kamu memelankan suara, setiap kata yang keluar terasa lebih berbobot dan penuh perhitungan. Orang akan terdiam karena mereka harus berkonsentrasi, dan itu membuat setiap katamu terasa penting.

6. Sederhanakan Ide yang Kompleks
Jika kamu bisa menjelaskan sebuah konsep rumit dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna, itu menunjukkan kamu benar-benar menguasainya. Gunakan kata-kata yang sehari-hari dan hindari jargon yang berlebihan. Kemampuan untuk merangkum ide besar menjadi satu atau dua kalimat yang powerful adalah senjata ampuh. Misalnya, menjelaskan investasi bukan dengan istilah pasar modal, tapi dengan, "Intinya, kamu sedang membeli sedikit dari sebuah perusahaan dan berharap harganya naik di kemudian hari." Kesederhanaan yang elegan itu yang akan diingat orang.

7. Validasi Sebelum Berargumentasi
Sebelum menyampaikan pendapat yang berbeda, akui terlebih dahulu perasaan atau perspektif lawan bicaramu. Kalimat seperti, "Saya mengerti dari mana pendapat itu datang, itu memang masuk akal," atau, "Saya pernah merasa seperti itu juga dulu," membuatmu tidak terlihat seperti musuh. Ini melunakkan pertahanan mereka dan membuka pikiran mereka untuk mendengar apa yang akan kamu sampaikan selanjutnya. Orang cenderung lebih terbuka jika mereka merasa didengarkan dan dipahami terlebih dahulu.

Sabarlah menanti kedatangan tamu berikutnya dalam setiap langkahmu hari ini dan hari hari berikutnya!
21/02/2025

Sabarlah menanti kedatangan tamu berikutnya dalam setiap langkahmu hari ini dan hari hari berikutnya!

21/02/2025
Allahu Akbar...gak jenuh bacanya...Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter se...
10/12/2024

Allahu Akbar...gak jenuh bacanya...
Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa p**ang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa p**ang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa p**ang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak p**a. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku p**ang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Terima kasih Pak Paulus.

Kadipiro Yogyakarta, 2016

Dari wordpress GUBUGREOT

Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)copas,com (shared from Ferdy A)

Kajian Sabtu Ba'da Subuh masjid At-Taqwa BIB Lembang Bandung Barat
29/11/2024

Kajian Sabtu Ba'da Subuh masjid At-Taqwa BIB Lembang Bandung Barat

Mendoakan sesama muslim secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang didoakan memiliki sejumlah keutamaan.Salah satun...
26/11/2024

Mendoakan sesama muslim secara diam-diam tanpa sepengetahuan orang yang didoakan memiliki sejumlah keutamaan.
Salah satunya mendapatkan doa dari malaikat.

Keutamaan ini dijelaskan dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim sebagaimana dinukil Imam an-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar.

Dari Abu Darda RA, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Artinya: "Tidaklah seorang hamba muslim yang mendoakan saudara (seiman)-nya dengan sembunyi-sembunyi kecuali malaikat akan katakan bagimu seperti apa yang diucapkan."

STOP KEPO, STOP GHIBAH!!!Fudhul (kepo dengan urusan orang lain) itu memang telah menjadi budaya orang Indonesia, tak ter...
02/08/2024

STOP KEPO, STOP GHIBAH!!!

Fudhul (kepo dengan urusan orang lain) itu memang telah menjadi budaya orang Indonesia, tak terkecuali bagi orang-orang yang sudah kenal mengaji. Yang membedakan adalah objek fudhul-nya.

Mengingatkan diri sendiri (padahal sering melanggar juga) sabda Rasulillah shallallahu alaihi wa sallam

من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه

"Termasuk dari pada kebaikan seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untuknya."
(HR. Tirmidzi)

Yang lebih berat dari sikap fudhul ini adalah kepo dengan aib (tattabu 'aurat)

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam:

يا معشر من آمن بلسانه ولم يدخل الإيمان قلبه: لا تغتابوا المسلمين ولا تتبعوا عوراتهم، فإن من اتبع عوراتهم تتبع الله عورته، ومن تتبع الله عورته يفضحه في بيته

"Wahai orang yang beriman dengan lisan tapi iman belum masuk ke dalam hatinya: Janganlah kalian menggunjing kaum muslimin, jangan mencari-cari (kepo) aib-aib mereka, karena barangsiapa yang mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan jika Allah telah mencari aibnya, maka pasti Allah akan menyingkap aibnya meski ia berada di dalam rumahnya."
(Hr. Abu Dawud)

قالَ رجُل لابن المبارك : أوصنِي فقال لَه : اترك فضُول النظَر تُوفق للخشُوع وَاترك فــضُـول الـكَـلام تُـوفّق للـحِـكـْمـَة وَاتـرك فــضــول الطــعَـام توفّق للــعِــبَادة وَاترك التجسس عَلى عُيوب الناس توفق للاطلاع علَى عيُوبك

Seorang lelaki berkata kepada Abdullah bin Mubarak: "Beri aku nasehat."
Beliau berkata, "matamu jangan jelalatan, niscaya kau dapatkan kekhusyukan dalam ibadah. Jangan kebanyakan ngomong, akan kau dapatkan kebijaksanaan. Jangan kebanyakan makan, maka engkau dapatkan semangat beribadah. Dan jangan nyari-nyari aib orang lain, maka engkau akan mudah melihat aib sendiri."

Semoga Allah memperbaiki keadaan kita, dan menunjuk kita kepada jalan yang Dia ridhoi

Dua Sifat yang Paling Dis**ai Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam Rasulullah SAW bersabda,  ;         "Sesungguhnya or...
29/06/2024

Dua Sifat yang Paling Dis**ai Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam

Rasulullah SAW bersabda, ; "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat kedudukannya dengan majelisku pada hari kiamat nanti adalah orang yang paling baik akhlaknya. Sebaliknya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku adalah orang yang terlalu banyak bicara yang tidak bermanfaat dan sombong." ( H.R.Tirmidzi).

Akhlak yang dis**ai Allah SWT dan Rasulullah SAW serta diajarkan dalam Islam, yaitu al-hilmu (bijaksana )dan al-anah (tidak tergesa-gesa).

Baginda Rasulullah SAW berkata, :

إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

“Sesungguhnya ada dua sifat ada di dalam dirimu yang dis**ai oleh Allah Ta’ala, yaitu bijaksana dan tidak tergesa-gesa,” (HR. Abu Dawud).

• Watak bijaksana seperti apa?
Orang yang bijaksana memiliki kemampuan untuk melihat suatu situasi atau masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Mereka mampu memahami perspektif orang lain dan mempertimbangkan beragam pandangan sebelum membuat keputusan atau menarik kesimp**an. Sementara itu
Sikap bijaksana adalah sikap tepat dalam menyikapi setiap keadaan dari setiap peristiwa sehingga memancarlah keadilan. Sikap bijaksana juga bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga orang yang bijaksana akan menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas. Sifat bijaksana merupakan selalu menggunakan pengetahuan dan pengalaman serta pandai berhati-hati apabila menghadapi kesulitan dan sebagainya. Sifat ini tidak bisa timbul jika seseorang tidak memiliki keluasan dan kedalaman berpikir.

Ciri-Ciri Orang yang Bijaksana :

● Merencanakan segalanya dengan matang.
● Selalu berpikiran positif.
● Tidak anti kritik.
● Tidak pernah lari dari tanggung jawab.
● Tidak gampang baper.
● Bisa mengendalikan emosi.

•• Sifat tergesa-gesa
Tergesa-gesa merupakan sebuah keinginan yang besar dalam diri untuk memperoleh sesuatu atau melakukan sesuatu sebelum waktunya. Ibarat kita memanen buah yang belum waktunya panen.

Sikap tergesa-gesa merupakan hal yang harus dihindari karena hal tersebut berawal dari syaitan. Namun, ternyata tidak semua yang tergesa-gesa itu buruk. Bahkan, dalam ajaran agama, ada beberapa hal yang justru kita dianjurkan untuk menyegerakan amalan atau sebuah tindakan. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Hatim Al Asham ra, ia berkata sebagai berikut ;
"Tergesa-gesa itu berasal dari syaitan, kecuali pada lima tempat karena sesungguhnya tergesa-gesa dalam hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW."

Kelima hal tersebut yakni 'Pertama', menyegerakan dalam memberi makan kepada tamu jika ia menginap.
'Kedua', mengurus jenazah orang yang sudah meninggal. Selanjutnya, 'Ketiga' yakni, mengawinkan anak perempuan jika sudah usia baligh. 'Keempat", menyegerakan untuk membayar utang jika sudah jatuh tempo pembayarannya. Dan, 'Kelima', yakni tergesa-gesa dalam bertaubat dari dosa jika terlanjur.

••• Terlalu banyak bicara yang tidak bermanfaat

Kita memang tidak boleh menilai-nilai orang lain. Tetapi orang lain mau tidak mau, s**a tidak s**a tetap ia akan menilai kita. Karenanya menjaga lisan ialah untuk menyelamatkan kita dari penilaian buruk, disebabkan lisan yang terjaga. Lisan yang lepas dan tak terjaga bisa sangat membahayakan.

Orang yang berpikir lebih dahulu sebelum bicara, maka ia akan selamat dari bahaya lisan. Berbicara merupakan karunia dari Allah Swt. yang harusnya digunakan untuk kebaikan. Tapi kadang kita memang lebih s**a membicarakan hal yang buruk.

Orang yang s**a sekali berbicara hal-hal tidak penting, maka ia bisa terjerumus dalam keburukan. Karena pada saat berbicara ada pamer, riya, ujub. Bahkan ia tak sengaja membicarakan mengenai orang lain, entah itu benar atau salah. Kemudian seringkali membesarkan-besarkan masalah, mengeluh, curhat kepada orang yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya. Karena bila manusia dijadikan sebagai tempat berharap, maka hanya kecewa yang akan kita dapatkan.

Dampak dari perkataan yang diucapkan, sebenarnya mampu mengubah nasib orang lain. Kalimat baik dapat menginspirasi orang bergerak menuju pada kebaikan. Dan kalimat yang buruk akan memicu kemarahan maupun keburukan lainnya. Pikirkan apa yang akan kita sampaikan bermanfaat atau tidak.

Diam bukan hal terbaik, karena berkata yang baik lebih utama daripada diam. Tapi menahan bicara akan menyelamatkan.

Allah akan menjaga kita, dan memberikan rahmat kepada kita, ketika kita mampu menjaga lisan. Allah tidak melihat bentuk wajah, tubuh kita, tetapi Allah melihat hati dan niat kita melakukan kebaikan. Allah lebih mengutamakan apa yang ingin kita berikan kepada sesama. Allah akan meninggikan derajat kita. Semoga Allah memberikan rahmatnya bagi lisan kita dan menghindarkan keburukan darinya. Aaamiin.

“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan bentuk rupa kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” HR. Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad.

Wallahu a’lam fii Sawab (ADS)

Address

Manoko Cisaroni Cikahuripan
Cikalong Wetan
40391

Telephone

+6289507148881

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Adab Sehari-Hari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share