ayahnya Abid

ayahnya Abid kajian kitab klasik
berbagi ilmu

**Pahala itu DiTawar-Tawarkan*"Uqail bin Ma'gil bin Munabbih menceritakan kepada kami: Aku mendengar pamanku Wahb bin Mu...
12/08/2026

**Pahala itu DiTawar-Tawarkan*"

Uqail bin Ma'gil bin Munabbih menceritakan kepada kami: Aku mendengar pamanku Wahb bin Munabbih berkata,
“Pahala itu ditawar-tawarkan, tetapi orang yang tidak beramal tidak menghasilkannya, orang yang tidak mencarinya tidak mendapatkannya, orang yang tidak memperhatikannya tidak bisa melihatnya. Ketaatan kepada Allah dekat kepada orang yang menyukainya tetapi jauh dari orang yang bersikap zuhud terhadapnya. Barangsiapa yang antusias terhadapnya maka ia akan mencarinya. Barangsiapa yang tidak mencintainya maka ia tidak memperolehnya. Barangsiapa yang tidak berusaha memperolehnya maka ia akan berlomba untuk mengejarnya. Orang yang berlambat-lambat tidak memperolehnya.
Ketaatan kepada Allah memuliakan orang yang memuliakannya dan menghinakan orang yang mengabaikannya. Kitab Allah menunjukkan kepada ketaatan, sedangkan iman kepada Allah mendorong kepada ketaatan.”

**Dengan Perniagaan Engkau Beruntung, dan Dengan hadiah Engkau Dimuliakan**Zafir bin Sulaiman, dari Abu Sinan Asy-Syaiba...
10/08/2026

**Dengan Perniagaan Engkau Beruntung, dan Dengan hadiah Engkau Dimuliakan**

Zafir bin Sulaiman, dari Abu Sinan Asy-Syaibani, dia berkata: Kami mendengar kabar bahwa Wahb bin Munabbih berkata, “Anakku, jadikanlah ketaatan kepada Allah
sebagai perniagaan untuk meningkatkan keutamaan dunia dan akhirat, iman sebagai bahtera yang membawamu, tawakal kepada Allah sebagai biduknya, dunia sebagai lautmu, hari-hari sebagai ombakmu, amal-amal fardhu sebagai perniagaan yang engkau harapkan keuntungannya, ibadah sunnah sebagai hadiah yang untuk memuliakan, antusiasme kepadanya sebagai angin yang menggerakkan, pengendalian hawa nafsu sebagai jangkarnya, kematian sebagai pantainya, Allah sebagai Pemiliknya. Pedagang yang paling dicintai Allah adalah yang paling baik barang dagangannya dan yang paling banyak hadiahnya. Sedangkan pedagang yang paling dibenci Allah adalah yang paling buruk barang dagangannya dan paling rendah hadiahnya. Dengan perniagaan engkau beruntung, dan dengan hadiah engkau dimuliakan.”

10/08/2026

Stempel Allah Swt Dibumi

09/08/2026

Konteks singkat dari masing-masing tokoh yang disebutkan:
1. Nabi Ayyub AS (Cobaan Penyakit dan Kehilangan)
Konteks:
Nabi Ayyub AS diuji dengan penyakit kulit yang berat, kehilangan seluruh harta kekayaannya, serta wafatnya anak-anak beliau.
Makna:
Riwayat tujuh tahun ini menggambarkan periode kesabaran mutlak Nabi Ayyub yang luar biasa, hingga akhirnya Allah menyembuhkan beliau dan mengembalikan segala yang hilang dalam jumlah berlipat ganda.
2. Nabi Yusuf AS (Masa Penjara di Mesir)
Konteks:
Setelah selamat dari sumur dan fitnah istri Al-Aziz, Nabi Yusuf AS harus mendekam di dalam penjara Mesir.
Makna:
Angka tujuh tahun ini merujuk pada masa penahanan beliau sebelum akhirnya ditafsirkan mimpi sang Raja, yang menjadi jalan bagi beliau untuk dibebaskan dan diangkat menjadi menteri bendahara negara Mesir.
3. Nebukadnezar / Bukhtanashar (Hukuman dari Langit)
Konteks:
Nebukadnezar II adalah raja Babilonia yang dalam sejarah Islam dikenal karena menaklukkan Yerusalem dan menghancurkan Baitul Maqdis. Dalam beberapa riwayat, karena kesombongannya, ia dihukum oleh Allah dengan dicabut akal sehatnya.
Makna:
Selama masa hukuman tersebut, ia hidup terasing di hutan belantara seperti hewan buas (kehilangan martabat kemanusiaannya) selama tujuh tahun, sebelum akhirnya kesadarannya dikembalikan.


**Ketika Akan Disesatkan Dari Arah Syahwat, Cinta dan Marah**Bakkar bin Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: ...
09/08/2026

**Ketika Akan Disesatkan Dari Arah Syahwat, Cinta dan Marah**

Bakkar bin Abdullah menceritakan kepada kami, dia berkata: Aku mendengar Wahb Ibnu Munabbih berkata:
“Ada seorang laki-laki ahli ibadah dan termasuk pengembara. Syetan hendak menyesatkannya dari arah syahwat, cinta dan marah namun syetan tidak mampu menggodanya sama sekali. Akhirnya syetan menjelma seekor ular di hadapannya saat ia shalat. Syetan tersebut melilit kakinya, tubuhnya, kemudian mengancam kepalanya, namun ahli ibadah tersebut tidak beranjak dari shalatnya dan tidak menundanya sama sekali. Ketika ahli ibadah itu hendak sujud, ular tersebut melingkar di tempat sujudnya. Ketika ahli ibadah itu meletakkan kepalanya untuk bersujud, ular tersebut membuka mulutnya untuk menelan ahli ibadah itu. Ia pun meletakkan kepalanya setelah menyingkirkannya sehingga ia bisa bersujud di tanah.”
“Syetan lantas berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku adalah yang menakut-nakutimu. Aku menggodamu dari arah syahwat, benci dan marah. Akulah yang menjelma menjadi hewan buas dan ular, tetapi aku tidak bisa menggodamu sedikit pun. Aku berpikir untuk berdamai denganmu, dan aku tidak akan menjumpaimu dalam shalat sejak hari ini.' Ahli ibadah itu berkata, “Segala puji bagi Allah, setiap kali engkau menakut-nakutiku, aku tidak takut kepadamu. Dan aku tidak pernah memiliki hajat kepadamu sedikit pun berkat karunia Allah.”
Syetan berkata, “Tidakkah engkau bertanya kepadaku, nanti aku akan memberitahumu?” Ahli ibadah berkata, “Apa yang bisa diharapkan untuk kutanyakan kepadamu?”
Syetan berkata : Tidakkah engkau bertanya kepadaku tentang seorang raja, apa yang dilakukannya sepeninggalmu?” Ahli ibadah berkata, “Seandainya aku ingin mengetahui hal itu, maka aku tidak meninggalkannya.” Syetan berkata, “Tidakkah engkau bertanya kepadaku tentang keluargamu, siapa di antara mereka yang telah mati?” la menjawab, “Aku telah mati sebelum mereka.” Syetan bertanya, “Tidakkah engkau bertanya kepadaku tentang cara aku menyesatkan anak Adam?” Ia menjawab, “Ya. Beritahu aku hal yang engkau yakini dapat menjadi jalan untuk menyesatkan mereka.” Syetan menjawab, “Ada tiga akhlak yang barangsiapa memilikinya, maka kami dapat mengalahkannya, yaitu pelit, keras dan mabuk. Jika seseorang pelit, maka kami jadikan hartanya tampak sedikit di matanya dan kami goda ia untuk mencintai harta orang lain. Jika ia seorang yang kasar, maka kami mempermainkan ia seperti anak-anak mempermainkan bola. Jika ia tukang mabuk, maka kami menggiringnya kepada setiap syahwat sebagaimana seseorang yang memegang telinga kambing menggiringnya ke mana saja ia suka.”

08/08/2026

Kecepatan mutlak dari takdir dan perintah Allah SWT yang melampaui logika kecepatan manusia maupun makhluk spiritual (seperti jin).

Pendapat Pertama (Singgasana Bilqis):
Sebagian orang mengingat kisah Nabi Sulaiman ketika meminta singgasana Ratu Bilqis dipindahkan. Orang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab berhasil membawanya dalam sekejap mata (sebelum mata berkedip).
Pendapat Kedua (Kiamat/Kejadian Alam):
Mengutip Surat An-Nahl ayat 77, menunjukkan bahwa ketetapan Allah seperti terjadinya kiamat atau penciptaan ulang bisa terjadi lebih cepat dari kedipan mata.
Penjelasan Wahb bin Munabbih (Kisah Nabi Yunus):
Wahb memberikan perumpamaan lain yang sangat spesifik dari khazanah kisah terdahulu. Ia menggambarkan betapa cepatnya perpindahan takdir yang dialami Nabi Yunus (Yunus bin Matta). Ketika Nabi Yunus berada di kapal di tengah laut (atau muara sungai besar dalam konteks riwayat ini), Allah memerintahkan seekor paus untuk menelannya. Jarak yang begitu jauh antara daratan/sungai dengan laut langsung terlipat oleh perintah Allah, menunjukkan tidak ada jeda waktu bagi kuasa-Nya ketika berkata "Kun fayakun" (Jadilah, maka jadilah).


“Ambillah yang tengah dari segala sesuatu.”Abdushshamad bin Ma'gil menceritakan kepadaku, dari Wahb bin Munabbih, ia ber...
08/08/2026

“Ambillah yang tengah dari segala sesuatu.”

Abdushshamad bin Ma'gil menceritakan kepadaku, dari Wahb bin Munabbih, ia berkata, “Ada seorang ulama yang berkata kepada ulama yang lebih tinggi ilmunya, “Berapa ukuran bangunan yang boleh kubangun?” Ulama yang lebih alim itu menjawab, “Cukup bagimu sekadar bangunan yang bisa menutupimu dari matahari dan melindungimu dari hujan.” Ia bertanya lagi, “Seberapa makanan yang boleh kumakan?” Ulama yang lebih alim menjawab, “Di atas lapar di bawah kenyang.” Ia bertanya lagi, “Seberapa pakaian yang boleh kupakai?” Ulamayang lebih alim menjawab, “Seperti pakaiannya Al Masih .”
Ia bertanya, “Seberapa banyak aku boleh tertawa?” la menjawab, “Seukuran yang bisa membuat wajahmu berbinar tetapi tidak sampai terdengar suaramu.” Ia bertanya lagi, “Seberapa banyak aku boleh menangis?”
Ia menjawab, “Janganlah kamu jemu untuk menangis karena takut kepada Allah.”
Ia bertanya lagi, “Seberapa rapat aku harus menutupi amalku?” Ia menjawab, “Sekadar orang yang memiliki semangat bisa meneladanimu, tetapi tidak sampai menjadi pembicaraan orang-orang.” Ia bertanya lagi, “Aku pernah mendengar seorang pendeta mengatakan bahwa segala sesuatu itu memiliki dua pinggir dan satu tengah. Jika engkau memegang salah satu ujung pinggirnya sama, maka pinggir yang lain akan condong. Tetapi jika engkau memegang yang tengah, maka kedua pinggirnya seimbang.” Kemudian ia berkata, “Ambillah yang tengah dari segala sesuatu.”

07/08/2026

Tekanan Hidup Adalah Filter Alami


06/08/2026

Tiga Pilar Hati Dalam Ibadah


05/08/2026

Pentingnya Menjaga Keseimbangan


Address

Liwa

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ayahnya Abid posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category