IPMIL RAYA PKPT UIN

IPMIL RAYA PKPT UIN Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from IPMIL RAYA PKPT UIN, samata, Makasar.

PKPT IPMIL RAYA UIN ALAUDDIN MAKASSAR DIDIRIKAN DIMAKASSAR PADA TANGGAL 7 JULI 1989,LEMBAGA INI SEBAGAI WADAH KADERNISASI DAN WADAH SILATUHRAHMI SESAMA MAHASISWA WIJA TO LUWU DI UIN ALAUDDIN MAKASSAR

29/11/2019

Inilah kami Wija To Luwu


23/02/2019

Sumber: Facebook Berita Terkini Indonesia

11/02/2019

Video warga Kecamatan Rampi, Kabupaten Luwu Utara, yang menandu jenazah hingga sekitar 35-60 kilometer. Akibat insfraktruktur yang kurang memadai. Mereka men...

06/07/2013

mari bangkitkan kembali semangat kita yang telah tertidur p**as semoga esok lebih baik dari hari ini.....

01/04/2013

Kisah Kep**angan La Galigo Ke Cina Dan terpikatnya kepada I Da’Batangeng

Sesudah mengadakan pembicaraan dengan cucu saudari saudaranya (cucu dari Batara Lattu yaiu sodaranya La Pangoriseng) maka La PAngoriseng bersaudara menuju istana Lakko Manurungnge ri Ale Luwu. Diperintahkannya kepada segenap rakyat, untuk berkumpul di depan istana. Setelah seluruhnya berkumpul, mereka kemudian bersama-sama berangkat menuju pelabuhan menjemput paduka yang dipertuan (I Lagaligo) untuk mendarat, menjejakkan kaki dipusat Kerajaan Luwu.Namanya titah Raja, perintah Sang Penguasa maka dalam sekejap mata saja terlaksanalah seluru titah baginda La Pangoriseng. Berdatanganlah segenap rakyat di negeri Luwu, memenuhi halaman istana raja Luwu.Rakyat banyak itu riuh rendah, karena bersuka cita atas kedatangan Baginda Yang Mulia yang sebentar lagu akan dijemput dipelabuhan.Timbullah kembali semangat hidup rakyat luwu, karena datangnya putra mahkota (I La Galigo) Opunna Ware. Lalu berangkatlah I La Galigo sampai ke istana Lakko Manurungnge Mai ri Luwu. Setelah tiba dilihatnya jamuan lengkap, ditunggui oleh puluhan dayang-dayang. Bertanyalah I La Galigo :“Apa gerangan yang telah terjadi wahai para dayang-dayang, sehingga di sini tersedia jamuan lengkap yang kalian tunggui, padahal tidak ada raja yang duduk dihadapan kalian ?”Para dayang-dayang lalu menjawab:“Santapan sehari-hari wahai Paduka yang mulia untuk Baginda (Sawerigading) yang pergi berlayar, mengasingkan dirinya dinegeri yang jauh. Seorang p**a yang telah gaib, melayang naik ke Botting-Langi’ (Tenriabeng, adik kembar Sawerigading), menemukan jodoh di Ruwa Lette. Beliaulah yang disiapkan santapannya.”Berkata I La Galigo:“Kumpulkan segenap dayang-dayang ini wahai Ina! Janganlah kalian menunggui jamuan, padahal di hadapan kalian tidak ada seorangpun raja yang bersantap.”Sesudah itu I La Galigo meneruskan langkahnya hingga ke ruangan tempat penyimpanan Genrang mp**aweng Manurungnge Mai ri Luwu. Lalu diraihnya Genrang itu, kemudian ditabuhnya bersama-sama dengan La Sulolipu, suaragenrangnya bertalu-talu. Tak ubahnya bunyi genrang apabila Sawerigading yang menabuh bersama La Pananrang.Maka bangkitlah Sawerigading di tepat tidurnya, sembari berkata:“Telah tiba wahai adinda Cudai, putramu di Luwu. Kanda dapat mendengarkan bunyi gendangnya sampai kemari.”Batara Lattu’ pun menggeliat diatas pembaringannya sambil berkata:“Telah tiba nian putranda di Luwu, bermukim di tanah leluhurnya Wattang mpare sambil menabuh genrang mpluaweng manurungnge, bersama-sama La Pananrang.”Berkatalah sang pengiring/pengawal Batara Lattu sambil menghaturkan sembah sujud:“Konon kabarnya wahai Paduka yang mulia! Dia adalah putranda dari ananda Sawerigading yang berbalasan dengan putranya La Pananrang menabuh genderang di luar.”Batara Lattu, berkata:“Suruhlah ia masuk ke dalam kamarku, agar aku bertutur sapa dengan bocah itu.”Maka berjalanlah I Lagaligo memasuki kamar kakeknya, Batara Lattu. Iapun menghaturkan sembah sujud sebanyak tiga kali, kemudian mengambil tempat duduk dihadapan Batara Lattu. Berkatalah Batara Lattu:“Tinggallah dikau di Luwu wahai ananda Galigo, menemaniku, selaku oenggati ayahandamu sebagai Pangeran Mahkota di ibu kota kerajaan Luwu.”I La Galigo menghaturkan sembah sujud sambil berkta:“Tapak tangan hamba hanya sekedar gumpalan darah, tenggorokan hamba pun tak ubahnya kulit bawang. Semoga nian hamba tidak kualat dalam menjawab titah paduka.”lanjut La Galigo:“Mohon restu paduka yang mulia. Hamba tidak dapat tinggal menetap di Luwu ini, sebab adinda We Tenridio’ sedang terserang penyakit parah. Ia mengidap penyakit yang menuntut diadakannya upacara tradisi di negeri Luwu, sebagaimana halnya yang pernah dilakukan bagi Baginda Ratu yang mulia, Mallajangnge ri Kalempi’na. Demikianlah waha Paduka yang mulia, sehingga ayahanda tercinta Opunna Ware menitahkan hamba untuk menjemput Genrang mp**aweng anurungngE di Luwu ini.”Berkatalah Batara Lattu:“Kalaupun demikian berangkatlah ke tanah Ugi wahai ananda Galigo untuk mengantarkan Genrang pluaweng ManurungngE. Kelak, setelah selesai penyelenggaraan upacara selamatan bagi We Dio’, kembalilah kemari, untuk menggantikan ayahandamu sebagai penguasa di Wattang mpare.”Sesudah selesai bertutur sapa dengan kakeknya, I Lagaligo pun melangkah ke luar. Berkisar satu tahun lamanya I Lagaligo tinggal di Luwu menunggui kakek dan ibu-ibu tirinya, barulah I Lagaligo bersama segenap sepupunya dan seluruh pengiringnya berlayar kembali menuju Cina. Diboyonglah Genrang mp**aweng ManurungngE ri Luw bersamanya.Upacara selamaan We Dio’ pun diselenggarakan. Sudah empat puluh hari empat puluh malam lamanya penduduk bergembira ria di Latanete sambil memanggang kerbau. Berdatanganlah segenap sepupu I Lagaligo yang perempuan untuk menyaksikan keramaian di Latanete.Pendopo penuh sesak dengan penduduk yang berdatanagan dari seganap penjuru. Tiada terkatakan ramainya suasana di Cina. Para anak-anak Datu yang tujuh puluh orang itu saling bergantian menabuh genderang, sehingga bunyinya pun bertalu-talu tiada hentinya. Tiada sekejappun genderang itu berhenti ditabuh silih berganti. I Lagaligo berpasangan dengan I La Sulolipu, La Pawennari dengan Sida’Manasa To Bulo’E, La Patenrongi dengan I La Pallajareng, dan berpasanganlah La Tenripale To Lamuru’E dengan La Pammusureng.Para anak datu yang tujuh puluh orang itu tidak kunjung terlelap. Ingin p**alah I Da’Batangeng, Punna Lipu’E Cina Rilau, puteri La Makkasau menyaksikan keramaian di Latanete, maka bertitahlah ibundanya:“Wahai anada I Da’Batangeng! Janganlah hendaknya ananda berkunjung ke Cina, hanya untuk menyaksikan keramaian di Latanete/Sinukkerenna I La Galigo/dari Luwu/Cobo’-cobonna maccariwakka I La Semmaga, tidak menyegani sesamanya raja, dianggapnya bahwa hanya dirinyalah raja yang berkuasa di kolong langit. Jangan sampai ditahannya usungan tumpanganmu dan tidak dibiarkannya dikau p**ang kembali ke negerimu Cina Rilau.”Berkatalah La Makkasau, ayahanda I Da’Batangeng, bahwa:“Mengapakah gerangan wahai ibundanya I Da’Batangeng, maka dikau tidak memperkenankan keinginan putrimu pergi ke Cina, untuk menyaksikan keramaian di Latanete.”Berkata p**a Punna Lipu’E Cina Rilau (La MAkkasau):“Kalaupun ternyata usungannya ditahan I La Galigo pakah salahnya jikalau ia dijodohkan dengan sepupunya itu. Biarlah putri kita pergi ke Cina, menyaksikan keramaian di Latanete.”Maka berdandanlah I Da’Batangeng, bersalin pakaian yang indah lalu berangkatlah menuju Cina untuk menyaksikan keramaian di Latanete. Hanya dalam sekejap saja maka tibalah usungan yang membawa I Da’Batangeng. Ia lalu turun di depan istana. Ketika itu I La Galigo sedang mengadu ayam di atas arena adu ayam.Ketika La Galigo menoleh, dilihatnya sepupunya yang sedang turun dari usungan, lalu melangkahkan kaki naik ke istana. Berkatalah La Galigo:“Siapakah gerangan putri mahkota nan cantik jelita yang barusan tadi tiba dengan usungan ?”La Pallajareng, menyahut:“Rupanya dinda Galigo tidak mengenal sepupu kita Punna Lipu’E Cina Rilau. Ia bernama I Da’Batangeng, puteri Baginda La Makkasau.”Serta merta I La Galigo mencampakkan ayam jagonya lalu bergegas melangkah ke istana untuk menyusul I Da’Batangeng. La Galigo langsung menuju ke atas pelaminan (lamming) menabuh genderang, berpasangan dengan La Sulolipu. Tabuhan genderangnya berbunyi seperti suara manusia:“Dahului-dahuluilah si orang Walana itu. Cegat, cegatlah si orang Solo’. Dahuluilah bersanding di atas pelaminan emas. Sungguh takkan kubiarkan Punna Lipu’E Cina Rilau kebali kenegerinya. Saya berkeinginan menyandera usungan putri juwita dari Cina Rilau.”Bergantian pamandanya menasehati La Galigo, demikian p**a ayahandanya turut menasehatkan, bahwa:“Janganlah wahai ananda Semmagga engkau menyandera usungan dari Cina Rilau. Jangan sampai hal itu menurunkan martabat pamndamu La Makkasau. Jikalau susungan putrinya tersandera. Biarkalah sepupumu itu kembali ke kampung halamannya.”I La Galigo tidak sudi mendengarkan nasehat ayahnya, lalu berkata:“Perkenankanlah wahai ayahanda adindaku I Da’batangeng tetap tinggal di istana Latanete, sementara itu ayahanda mengirimkan utusan untuk meminangnya pada baginda La Makkasau di Cina Rilau.”Berbalaslah Sawerigading:“Mengapakah gerangan wahai ananda Galigo engkau berkeinginan menyandera usungan dari Cina Rilau, padahal kita tidak menguasai wilayah kekuasaan pamandamu. Kita tidak dapat memaksakan kehendak sendiri terhadapnya.”Namun I La Galigo sudah lupa diri, tidak sudi lagi mendengarkan nasehat.

01/04/2013

Luwu; Jejak Sejarah Nusantara yang Terlupakan

Judul Buku : Ensiklopedi Sejarah Luwu
Penyusun : Idwar Anwar
Penerbit : Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS)
Cetakan : I, Januari 2005
Tebal : xiii + 656 halaman

Berbicara mengenai Sulawesi Selatan khususnya, maka sulit untuk tidak mengenang kerajaan Luwu dan tokoh-tokohnya. Sebab dari sinilah, lahir propinsi Sulawesi Selatan kelak. Bahkan termasuk beberapa daerah yang kini tidak berada dalam wilayah Sul-Sel (Luwu), di zaman dahulu termasuk wilayah Sulawesi Selatan (Luwu).

Demikianlah kenyataan sejarah yang melansir bahwa cikal bakal Sulawesi Selatan dan perdaban manusia bermula dari mitologi masyarakat tentang La Tongeq Langiq atau yang lebih dikenal dengan nama Batara Guru. Benar atau tidak, hal ini telah terintegrasikan dalam konsepsi masyarakat pendukungnya.

Kerajaan Luwu dikenal sebagai kerajaan tertua di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia Timur. Tokoh Batara Guru sendiri yang dikenal sebagai manusia pertama dalam wilayah kesadaran manusia Bugis diinformasikan melalui Sureq Galigo. Ia dturunkan dari Boting langiq untuk menyemarakkan Ale Kawaq (bumi) yang masih kosong.

Mitologi Galigo di kalangan masyarakat Bugis sampai saat ini masih dianggap sebagai sebuah kebenaran –meski terus menerus mengalami reduksi—bahkan sesuatu yang sakral. Karena kesakralannya ini, ia dijadikan sebagai kitab suci kedua setelah al-Qur’an. Mereka meyakini bahwa di dalamnya ada sebuah kekuatan yang tersimpan.

Begitu fantastis dan agungnya sejarah kebudayaan Luwu di masa lalu, telah memberikan justifikasi kemajuan peradaban masyarakat Luwu yang telah melampaui batas-batas nalar kita. Menjadi soal kemudian adalah, sejauh mana pengetahuan masyarakat Sulawesi Selatan dan Luwu khususnya tentang sejarah mereka sendiri?

Jika merujuk pada sejarah, Luwu dapat dikatakan sebagai sebuah kerajaan tertua, khususnya Sulawesi Selatan. Dan sebagai kerajaan tertua, tentunya Luwu banyak menyimpan berbagai catatan sejarah yang panjang. Sureq Galigo yang merupakan karya sastra terpanjang di dunia adalah salah satu bukti nyata dari perjalanan panjang sejarah Luwu dengan beberapa tokohnya yang telah membangun kerajaan Luwu, bahkan memberi warna pada beberapa kerajaan/ wilayah yang ada di nusantara.

Luwu sebagai sebuah wilayah yang otonom (kerajaan), sejak periode Galigo hingga Lontaraq, telah berperan penting dalam membangun tatanan masyarakat di beberapa wilayah. Berbagai wilayah, utamanya di Sulawesi Selatan bahkan kerap menghubungkan keturunannya atau
keberadaan kerajaannya dengan Luwu.

Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa Luwu merupakan akar kebudayaan yang telah berintegrasi dalam wilayah kesadaran masyarakat pendukungnya. Disadari atau tidak, keagungan dan kearifan sejarah dan kebuadayaan Luwu telah menjadi kekuatan tersendiri dalam menyerap dan mentransformasikan berbagai anasir kebudayaan dari luar yang kemudian berintegrasi dalam sebuah harmonisasi kebudayaan.

Meski demikian, kekuatan tersebut dewasa ini telah mengalami reduksi struktural. Bahkan secara horisontal, sejarah terlebih kebudayaan Luwu terus mengalami alienasi dari masyarakatnya sendiri. Kondisi ini semakin diperparah oleh adanya kecenderungan terjadinya proses politisasi sejarah dan kebudayaan. Hal ini tentunya juga akan menjadikan sejarah dan kebudayaan Luwu mengalami keterasingan dari pusat kesadaran masyarakat Luwu sendiri.

Berpijak pada kondisi di ataslah, maka Komunitas Kampung Sawerigading (KAMPUS) merasakan perlunya suatu langkah yang tepat untuk mendokumentasikan kembali serpihan-serpihan sejarah tersebut.

Hal ini selain bertujuan jangka pendek untuk mereuni memori masyarakat Sulawesi Selatan akan sejarahnya sendiri,yang pada gilirannya dapat dijadikan aset nasional dalam mengisi pembangunan dengan kerangka otonomi daerah untuk menjadi acuan konsep pemerintahan, juga berfungsi seebagai investasi intelektual bagi generasi selanjutnya. Karena bercermin pada sejarah, adalah salah satu hal yang mampu memicu proses kreatif.

Selain disebabkan alasan di atas, alasan lain yang tak kalah pentingnya adalah berhamburannya referensi tertulis dan non tertulis serta semakin hilangnya saksi-saksi sejarah. Olehnya, dengan segala kerendahan hati dan kerja keras yang hampir tak kenal lelah, KAMPUS telah berhasil menemukan formulasi yang betul-betul unik dalam upaya revitalisasi sejarah besar perdaban Sulawesi di masa lalu dalam bentuk sebuah ensiklopedi. Sebuah langkah fenomenal tentunya, di tengah sepinya referensi yang akan dapat bertutur lengkap dan padat akan nilai dari sebuah sejarah.

Buku yang hadir di hadapan dewan pembaca ini, disusun dalam bentuk ensiklopedi dengan tujuan memudahkan penelusuran jejak sejarah dengan sajian yang padat dan lugas tidak se-kaku bentuk buku pada umumnya --tentu tanpa mengurangi penghargaan terhadap rumitnya penyusunan buku sejarah pada umumnya. Buku ini telah berusaha memenuhi pengertian dasar tentang ensiklopedi sebagai karya yang menghimpun dan menyajikan berbagai data, baik yang tertulis maupun lisan tentang sejarah Luwu yang disusun secara sistemtis menurut abjad dengan memuat lebih dari 600 entri.

Meskipun demikian, buku ini tidak terlepas dari kelemahan manusia pada umumnya, dimana masih terdapat kalimat-kalimat yang tidak menggunakan tanda baca sebagaimana mestinya, yang terkadang mampu mengaburkan makna yang tersimpan di balik sebuah informasi. Hal ini
mungkin perlu dimaklumi, karena dengan keterbatasan waktu (penyusunan hanya berjalan sekitar 6 bulan), sementara begitu bertumpuk data yang mesti dihimpun dan ditata kembali, menjadi tantangan tersendiri.

Ensiklopedi ini selain memuat sejarah Luwu mulai dari diturunkannya Batara Guru hingga peristiwa kecil seperti pembuatan jalan poros Makassar-Palopo, juga memuat bioadata --baik singkat maupun panjang-- tokoh-tokoh Luwu (juga daerah-daerah yang masih menjadi bagian distrik Luwu dahulu) tanpa melihat apakah tokoh tersebut adalah pejuang, pengkhianat, dan selainnya. Sebab menjadi pejuang ataupun pengkhianat, atau papaun namanya, hanyalah persoalan nilai.

Sejarah yang sejati tak akan membuat demarkasi antara dua kenyataan hidup kontras, akan tetapi lebih dari itu, persoalan sejarah adalah persoalan pergulatan niali itu sendiri. Sehingga tak heran, jika satu kurun waktu tertentu misalnya, seorang Kahar Muzakkar menjadi pemberontak, tetapi di waktu yang lain, ia begitu dielu-elukan sebagai pahlawan yang berani menentang tirani yang berkedok nasionalisme. Akhirnya, kita mungkin masih ingat, seorang filsuf dunia, Epicurus pernah menyatakan bahwa Historia Magistra Vitae (Sejarah adalah Guru kehidupan) dan kepada dewan pembaca sekalianlah, buku ini mendapatkan tempat sebagai jejak langkah tertinggal namun tak terlupakan.
dikutip dari blog:Magrifah Amir

17/01/2013

Kemenangan hanya datang buat mereka siap!!!!!!

30/04/2012

insya allah tidak lama lagi kita bakalan punya sekret jdi tidak ada lagi alasan teman2 untuk tidak kumpul

21/04/2012

sampai kapan harus begini???

02/12/2011

iuran tri wulan dimulai pada desember 2011 bgi kwand kord.fakultas tlong untuk merapatkan anggota pkpt ipmil raya uin di fakultas masing2!
hormatku
HAMKA

25/11/2011

hasil rapat pengurus dan anggota ipmil raya pkpt uin.....
yakni iuran wajib pengurus dan anggota 100rbu dalm triwulan!!!!!!!!

16/11/2011

perjuangan tidak hanya smpai disni kawand msh bnyak yang harus kita benahiiiii!!!!!!!!!!!

Address

Samata
Makasar

Telephone

081242744722

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when IPMIL RAYA PKPT UIN posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share