H R M Rajo Malano

H R M Rajo Malano "INDONESIA BANGKIT"Negeri ini membutuhkan Pemimpin yang JUJUR, VISIONER, MERAKYAT, BERANI & BERTANGG

MINANG KEMBALI BANGKIT?https://www.fajarsumbar.com/2026/04/minang-kembali-bangkit_18.htmlPadang - Tulisan ini dibuat set...
20/04/2026

MINANG KEMBALI BANGKIT?

https://www.fajarsumbar.com/2026/04/minang-kembali-bangkit_18.html

Padang - Tulisan ini dibuat setelah membaca media tentang kunjungan tiga orang tokoh media senior Sumatera Barat menemui Menko Polkam Djamari Chaniago. Poin penting yang dibahas disini adalah realitas sosial, agama dan adat dalam kehidupan nyata di era digital ini.

Pernyataan Djamari Chaniago itu pada dasarnya memukul titik yang sangat sensitif dalam tubuh sosial Minangkabau. Pertama ia mengkritik kerusakan ukuran malu, melemahnya sanksi moral, dan kaburnya batas antara kehormatan adat dengan kesalahan pribadi.

Dalam laporan yang memuat pernyataan itu, Djamari menegaskan bahwa jika seorang pemimpin adat terbukti bersalah, maka atribut adat yang melekat pada dirinya harus dicabut, agar publik paham bahwa yang dihukum adalah pribadinya, bukan adatnya.

Ia juga mengaitkan perlunya rekonstruksi hukum adat dengan upaya membangkitkan kembali kejayaan Ranah Minang setelah tekanan militer dan psikologis pasca-PRRI.

Saya melihat pernyataan ini penting, tetapi belum cukup. Sebab masalah Minangkabau hari ini bukan hanya soal oknum yang bersalah, melainkan soal budaya publik yang terlalu lama membiarkan kesalahan menjadi biasa.

Ketika pelanggaran tidak lagi menimbulkan rasa malu kolektif, ketika uang mulai mengalahkan marwah, dan ketika ABS-SBK lebih sering dipakai sebagai slogan ketimbang ukuran perilaku. Jadi yang runtuh bukan hanya figur, tetapi juga otoritas moral kebudayaan Minang itu sendiri.

Masalahnya, kita sering sibuk membanggakan watak egaliter Minangkabau. Tetapi gagal membedakan antara egaliter dengan anti-otoritas. Antara kritis dengan tidak hormat pada kepantasan. Antara demokratis dengan tidak mau tunduk pada standar moral.

Watak egaliter yang sehat melahirkan musyawarah, koreksi, dan keberanian menegur pemimpin.

Tetapi watak egaliter yang kelewat batas justru melahirkan kebiasaan meremehkan kewibawaan, mengolok simbol, membongkar hormat, dan menganggap semua orang sama. Bahkan dalam hal yang seharusnya dijaga dengan adab. Dalam kondisi seperti ini, yang hilang bukan kebebasan, melainkan hierarki moral.

Sebagai contoh “panjat batang pinang” yang masih diwariskan bisa dibaca bukan sekadar permainan rakyat, tetapi simbol psikologi sosial Ramai berebut naik, saling injak, tertawa melihat yang jatuh. Dan, kemenangan akhirnya milik yang paling licin membaca situasi. Ini tentu bukan seluruh watak Minang, tetapi metafora itu terasa relevan.

Ada semangat kompetitif, tetapi kadang kurang dibarengi dengan etika kolektif. Ada keberanian tampil, tetapi tidak selalu diikat oleh rasa malu spiritual. Akibatnya, daya saing tidak berubah menjadi peradaban, melainkan sering berhenti pada perlombaan saling mendahului.

Di sinilah kritik kedua Djamari, menjadi sangat tajam. Politik berbayar dianggap sepele, padahal dalam Islam itu bukan kecerdikan, melainkan risywah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan risywah, suap, ghulul, dan hadiah kepada pejabat sebagai perkara terlarang. Sedangkan penjelasan fikih yang dirujuk banyak lembaga keagamaan juga menempatkan suap sebagai perbuatan haram yang merusak keadilan, dan bahkan masuk kategori dosa besar.

Tetapi dalam praktik sosial-politik kita, suap sering diputihkan dengan istilah yang lebih lunak. “Uang transport”, “Pengganti lelah”, “Tali asih”, “Biaya operasional”, “Serangan fajar”, “Bantuan”.

Bahasa diperhalus agar dosa terasa administratif, bukan moral. Padahal di titik itulah kehancuran dimulai. Ketika sogok dianggap biasa, maka pemilihan tak lagi melahirkan pemimpin terbaik.Tetapi pemenang terbaik dalam mengelola transaksi.
Dari sini lahir birokrasi yang ingin balik modal, proyek yang diperas, jabatan yang diperdagangkan, dan kebijakan yang tidak lagi berorientasi maslahat.

Lebih pahit lagi, keadaan ini sering terjadi di daerah yang paling lantang meneriakkan agama dan adat. Terus kritik ketiga Anda, sangat tepat. Hambatan terhadap syariah justru datang dari mereka yang paling keras menyuarakan ABS-SBK.

Kasus konversi Bank Nagari ke syariah memperlihatkan dengan gamblang, bahwa isu syariah di Sumatera Barat bukan sekadar soal keyakinan. Tetapi juga soal kepentingan, kalkulasi politik, dan keberanian mengambil resiko institusional.

Sejumlah pemberitaan menunjukkan konversi itu tersendat karena syarat regulatif. Tarik-menarik politik, dan penolakan atau penundaan dari sebagian pemegang saham serta kepala daerah.

Tentu, secara adil harus diakui. Ada aspek hukum dan tata kelola yang memang kompleks. Tetapi dari sisi moral publik, masyarakat juga berhak bertanya. Mengapa yang paling nyaring bicara syariah justru sering paling lambat berkorban untuk syariah?

Lantas, di sinilah publik melihat gejala yang bisa disebut hipokrisi kolektif. Islam dipakai sebagai identitas simbolik. Tetapi ketika menuntut konsistensi kebijakan, komitmen finansial, atau keberanian struktural?. Tak pelak lagi yang ditemui adalah tiba-tiba yang muncul seribu alasan serta dalih.

Bukan syariah yang ditolak secara verbal, tetapi syariah yang diperlambat secara praktik.

Keadaan ini makin parah ketika keteladanan pemimpin informal diruntuhkan. Dalam tradisi Minangkabau, kerusakan formal masih bisa ditahan kalau ninik mamak, alim ulama, cerdik pandai, dan tokoh masyarakat berdiri tegak.

Tetapi jika unsur informal ini ikut terlibat dalam pragmatisme. Diam terhadap politik uang, akrab dengan broker kekuasaan, dekat dengan proyek, atau ikut menikmati jaringan patronase, maka masyarakat kehilangan tempat bertanya tentang benar dan salah. Yang tersisa hanyalah keramaian opini, bukan kepemimpinan moral.
Padahal adat Minangkabau sejak awal bukan dibangun untuk melindungi pelaku salah, tetapi untuk menjaga marwah bersama. Terus, usul Djamari agar atribut adat dicabut dari pemimpin adat yang terbukti bersalah sesungguhnya, itu sangat relevan.

Itu bukan penghinaan kepada adat, justru penyelamatan adat dari kontaminasi perilaku individu. Kalau ini tidak dilakukan, publik akan membaca bahwa adat hanya tegas kepada rakyat kecil. Tetapi lunak kepada yang punya gelar, jaringan, dan pengaruh.

Itu sangat berbahaya, karena akan melahirkan sinisme turun-temurun terhadap adat dan ulama sekaligus.

Masalah keempat kritik Djamari, dan mungkin yang paling serius, adalah bahwa Islam dan adat sering tinggal jargon saat pemilihan. Menjelang pilkada, pileg, atau pemilihan organisasi, semua mendadak berbicara tentang ABS-SBK, surau, ulama, marwah nagari, dan kepemimpinan beradab.

Tetapi setelah menang, yang bekerja bukan nilai, melainkan tim sukses, hutang politik, pembagian akses, dan kompromi dengan pemodal. Akibatnya, Islam dan adat bukan lagi sumber etika. Melainkan perangkat mobilisasi suara.

Di titik ini, kita harus berani jujur. Krisis Minangkabau hari ini bukan semata krisis ekonomi atau pembangunan, tetapi krisis kejujuran kebudayaan.

Kita belum sepenuhnya jujur mengakui bahwa banyak kerusakan bukan datang dari luar, melainkan dari dalam, dari pembiaran terhadap politik uang, dari toleransi pada kemunafikan publik, dari pengaburan antara simbol dan substansi, serta dari hilangnya rasa malu ketika agama dan adat diperalat untuk jabatan.

Pernyataan Djamari tentang trauma pasca-PRRI juga patut dibaca bukan hanya secara historis, tetapi psikologis. Sejumlah kajian memang menunjukkan bahwa pasca-PRRI masyarakat Sumatera Barat mengalami trauma sosial berkepanjangan, pembungkaman memori kolektif, perubahan karakter sosial.

Bahkan kecenderungan pragmatis dalam menyesuaikan diri dengan pusat kekuasaan.

Dari sini mungkin lahir watak defensif. Keras dalam simbol, tetapi ragu dalam langkah. Bangga dalam retorika, tetapi lemah dalam konsolidasi. Ramai dalam identitas, tetapi rapuh dalam kelembagaan.

Oleh karena itu, kebangkitan Minang tidak cukup hanya dengan nostalgia pada masa lalu. Tidak cukup dengan seminar, slogan, atau romantika kejayaan ulama dan adat. Kebangkitan hanya mungkin bila ada pembalikan moral pada empat hal.
Pertama, watak egaliter harus disucikan kembali. Dari egaliter yang liar menjadi egaliter yang beradab. Kritis boleh, tetapi hormat harus tetap ada. Demokratis boleh, tetapi kewibawaan moral harus dijaga.

Kedua, politik uang harus diperlakukan sebagai najis sosial, bukan kenakalan biasa. Selama pemberi dan penerima masih bisa berbaur mulus di podium adat dan agama tanpa rasa malu, selama itu p**a Minang sulit bangkit.

Ketiga, ABS-SBK harus diukur dari keputusan yang berbiaya, bukan dari pidato. Orang yang paling banyak mengucapkan syariah harus dibuktikan dengan keberanian memilih kebijakan yang sejalan dengan syariah, meskipun berat dan beresiko.

Keempat, pemimpin informal harus dipulihkan marwahnya. Ninik mamak, ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat harus kembali menjadi penjaga batas moral. Bukan penonton yang netral, apalagi pemain terselubung dalam transaksionalisme politik.

Jadi, apakah Minang kembali bangkit?

Jawabannya, Bisa!, tetapi tidak dengan slogan yang sama dan kebiasaan yang lama. Minang hanya akan bangkit bila berani menghukum kesalahan tanpa memandang gelar, berani menyebut suap sebagai laknat bukan strategi.

Bahkan, berani membedakan Islam sebagai nilai dari Islam sebagai alat kampanye, dan berani membersihkan adat dari mereka yang menjadikannya tameng bagi cacat pribadi.

Kalau tidak, maka yang bangkit hanya euforia identitas. Bukan marwah. Bukan peradaban. Dan bukan Minangkabau yang sejati.(ds).

Cepat dan Akurat - Indeks berita terbaru hari ini dari peristiwa, kriminal, hukum, tajam dan terpercaya

Kepada Penggemar & Penggila Sang Legenda "The Beatles" Mari Bergabung di indo beatlemania club dengan follow IG di bawah...
10/02/2026

Kepada Penggemar & Penggila Sang Legenda "The Beatles" Mari Bergabung di indo beatlemania club dengan follow IG di bawah ini.
Dan Mohon kiranya berkenan menyebarkan/share ajakan kami ini, terima kasih.
ALL TOGETHER NOW

458 Followers, 469 Following, 100 Posts - See Instagram photos and videos from Indo Beatlemania Club (.beatlemaniaclub)

13/01/2026
Indo Beatlemania Club (IBC)  a holding community of Beatlemania Indonesia, held a charity event titled "Beatlemania for ...
27/12/2025

Indo Beatlemania Club (IBC) a holding community of Beatlemania Indonesia, held a charity event titled "Beatlemania for Sumatra, With a Little Help from My Friend."

https://rakyatsumbar.id/pre-event-media-release-beatlemania-4-sumatera-malam-dana-untuk-korban-bencana-di-aceh-sumatera-utara-dan-sumatera-barat/

This event was held to help ease the burden on fellow countrymen affected by natural disasters in Aceh, North Sumatra, and West Sumatra.
The "Beatlemania for Sumatera, With a Little Help from My Friend" event will be held on Sunday, December 28, 2025, from 7:30 PM to 11:00 PM WIB at the renowned Umasan restaurant in the Rawa Buntu area of ​​BSD, South Tangerang.

The show will feature renowned musicians and bands such as Jelly Tobing, Awan G-Pluck, De Bitels Band, Dicky Lennon, Yudha Romeo, The New Chapter, Adam Smith, Naura, Taxman, and IBC All Stars, who will enliven the fundraising night (Sutisna, 2025).
The entrance fee is set at IDR 150,000, with additional donations being collected throughout the event. All proceeds will be distributed through the South Tangerang City Government as a form of transparency and accountability.

Those interested in attending can reserve tickets or obtain further information via WhatsApp at 0852-1080-1976, or purchase tickets on-site during the event.
President of IBC, A. Guzchoy Sutisna explained in a written statement that this activity represents a demonstration of solidarity among music-loving communities and communities to provide tangible assistance to those affected by the disaster in Sumatra. (*)
____________________

Indo Beatlemania Club (IBC) Payung Besar, komunitas penggemar, pecinta, dan penggila The Beatles di Indonesia, mengadakan acara amal bertajuk “Beatlemania For Sumatera, With A Little Help From My Frienda.”

Acara ini diselenggarakan untuk membantu meringankan beban saudara sebangsa yang terdampak bencana alam di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Event “Beatlemania For Sumatera, With A Little Help From My Frienda.” akan digelar pada hari Minggu, 28 Desember 2025, mulai pukul 19.30 hingga 23.00 WIB di salah satu restoran ternama, Umasan, yang berlokasi di Kawasan Rawa Buntu, BSD, Tangerang Selatan.

Pertunjukan akan menampilkan sejumlah musisi dan band terkenal seperti Jelly Tobing, Awan G-Pluck, De Bitels Band, Dicky Lennon, Yudha Romeo, The New Chapter, Adam Smith, Naura, Taxman, serta IBC All Stars yang akan menyemarakkan malam dana tersebut (Sutisna, 2025).

Harga tiket masuk ditetapkan sebesar Rp150.000,- dengan pengump**an donasi tambahan yang akan dilakukan selama acara berlangsung. Seluruh hasil dana yang terkumpul akan didistribusikan melalui Pemerintah Kota Tangerang Selatan sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas.

Bila masyarakat berminat untuk hadir, dapat melakukan reservasi tiket atau memperoleh informasi lebih lanjut melalui WhatsApp di nomor 0852-1080-1976 atau dapat langsung membeli tiket di tempat saat acara berlangsung.

Presiden IBC, A. Guzchoy Sutisna, dalam keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud solidaritas komunitas dan masyarakat pecinta musik untuk memberikan bantuan nyata bagi saudara-saudara yang terkena musibah di Sumatera. (*)

Beatlemania Club (IBC) Payung Besar, komunitas penggemar, pecinta, dan penggila The Beatles di Indonesia, mengadakan acara amal bertajuk "Beatlemania For Sumatera, With A Little Help From My Frienda."

"Alam Takambang Jadi Guru" https://regional.kompas.com/read/2025/11/30/10264631/alam-takambang-jadi-guru.Penulis : Firda...
01/12/2025

"Alam Takambang Jadi Guru"
https://regional.kompas.com/read/2025/11/30/10264631/alam-takambang-jadi-guru.
Penulis : Firdaus Arifin
Editor : Sandro Gatra

BAGI orang Minangkabau, alam bukan sekadar lanskap, melainkan lembaga pendidikan paling tua dan paling jujur. “Alam takambang jadi guru” bukan ungkapan puitis, tetapi fondasi filsafat hidup: manusia belajar dari pergerakan air, arah angin, lenturnya bambu, kedewasaan pohon, dan harmoni rimba.

Alam adalah kitab yang tak pernah selesai dibaca. Namun, manusia hari ini lebih sibuk membaca angka pertumbuhan ekonomi daripada membaca tanda-tanda alam. Kita memaksa tanah mengalah demi investasi, memaksa sungai tunduk pada beton, dan memaksa hutan diam saat perluasan lahan terus berjalan.

Kita memperlakukan alam bukan sebagai guru, tetapi sebagai pelayan. Maka ketika banjir bandang, longsor, dan gelombang besar menghantam, kita menyebutnya musibah; padahal itu hanyalah pelajaran yang selama ini kita abaikan. Bencana yang menerpa banyak kawasan di Sumatera Barat bukan datang tiba-tiba. Ia adalah rangkaian panjang dari kelalaian yang diulang-ulang.

Ketika hutan di lereng gunung ditebang, kita diam. Ketika rumah dibangun di bantaran sungai, kita maklum. Ketika batuan dan pasir diambil tanpa kendali, kita sebut sebagai mata pencaharian. Ketika perizinan mengabaikan kontur tanah dan karakter wilayah, kita menyebutnya kemajuan.

Kita lupa bahwa pembangunan yang tidak menghormati ruang adalah undangan bagi bencana. Pelajaran itu selalu datang terlambat — datang setelah air bah menerjang rumah dan murid-murid sekolah mengungsi, setelah jembatan roboh dan masyarakat kehilangan mata pencaharian. Kita seakan menolak mengingat fakta sederhana: alam menyimpan semua perlakuan manusia, baik atau buruk.

Minangkabau sejak dulu menempatkan rasa sebagai inti kearifan — raso jo pareso. Raso berarti empati; pareso berarti kemampuan menguji diri. Itulah etika batin yang membuat masyarakat memutuskan sesuatu bukan hanya berdasarkan benar–salah secara formal, tetapi juga berdasarkan pantas–tidak pantas secara moral. Namun, hari ini raso semakin tergusur oleh kalkulasi. Kita bertanya: berapa keuntungan? Berapa pendapatan daerah? Berapa nilai investasi? Namun, kita jarang bertanya: berapa nyawa bisa selamat jika kita menahan diri? Berapa generasi yang terlindungi jika hutan dipertahankan? Raso pudar ketika ruang hidup hanya dinilai dari uang, bukan dari kehidupan. Alam tidak pernah menolak manusia mencari nafkah, tetapi alam menolak manusia kehilangan raso hingga membiarkan seimbangnya dunia runtuh.

Tidak ada gunanya berpura-pura: kerusakan alam bukan hanya soal perilaku masyarakat, tetapi juga soal keberanian negara mengambil sikap. Perizinan longgar, konflik tata ruang, eksploitasi kawasan rawan, dan tumpang tindih kewenangan memperbesar risiko bencana di banyak wilayah Sumatera Barat.

Pemerintah daerah kerap berdalih bahwa mereka membutuhkan pemasukan PAD, sedangkan pemerintah pusat menekankan percepatan pembangunan. Keduanya benar — tetapi keduanya bisa salah ketika keselamatan publik hanya menjadi catatan kaki.
Negara hadir setelah bencana, tetapi negara seharusnya hadir sebelum bencana. Kiriman logistik dan kunjungan pejabat menyentuh hati; tetapi keberanian menolak izin yang merusak ruang hidup jauh lebih menyelamatkan.
Pemimpin bukan hanya mereka yang membantu korban, tetapi mereka yang mencegah munculnya korban.

'Surau'
Dalam kosmologi Minangkabau, surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi universitas masyarakat. Surau mengajarkan agama, adat, dan etika hidup — terutama tanggung jawab moral manusia atas alam.
Di sana, anak-anak diajarkan bahwa kesalehan bukan hanya soal ritual, tetapi juga soal menjaga kehidupan. Doa tanpa tindakan adalah kesalehan yang lumpuh. Ibadah tanpa kepedulian terhadap lingkungan adalah ketaatan yang belum selesai.
Namun, generasi hari ini tumbuh di zaman di mana pendidikan lebih mengutamakan keahlian teknis daripada kesadaran ekologis, lebih mengagungkan kompetisi daripada kebersamaan menjaga ruang hidup. Kita mengubah banyak hal, tetapi kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting: kompas moral dalam memperlakukan alam. Dalam sejarah Minangkabau, keputusan hidup tidak pernah dibuat sendirian. Ada kaum, ada musyawarah, ada tanggung jawab bersama. Ketika seseorang menebang pohon di hulu, itu menjadi urusan masyarakat hilir. Ketika air keruh, itu menjadi kewajiban bersama untuk mencari sebab. Ada kesadaran kolektif bahwa kerusakan alam bukan risiko individu, tetapi risiko sosial. Hari ini kita hidup dalam dunia yang lebih individualistis.
Orang menganggap membuang sampah ke sungai adalah urusan pribadi, membangun rumah di daerah rawan adalah keputusan ekonomi keluarga, dan mengalihkan fungsi hutan adalah kewenangan administratif. Padahal, akibatnya berskala umum: desa terendam, sawah rusak, anak-anak sekolah tak bisa belajar, dan pengungsian menjadi takdir tahunan. Kita kehilangan gotong royong ekologis — padahal itu pernah menjadi kekuatan terbesar masyarakat Minang.
Adat Minangkabau sejak dulu bersandar pada alam: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah; syarak mangato, adat mamakai.
Di balik formula itu tersimpan logika ekologis yang kuat. Syarak mengajarkan amanah menjaga titipan Tuhan, adat menerjemahkannya ke dalam tata ruang dan tata perilaku manusia.
Itulah sebabnya karuhun menentukan kawasan yang tidak boleh diganggu: hutan larangan, mata air, dan aliran sungai. Namun, adat kehilangan daya ketika hukumnya tidak dijadikan pijakan kebijakan, dan syarak kehilangan kekuatannya ketika ia berhenti pada kewajiban ibadah tanpa etika ekologis.
Keduanya tidak hilang, tetapi keduanya kurang dihidupkan. Padahal, jika adat dan syarak konsisten dijalankan, banyak bencana dapat dicegah, bahkan tanpa teknologi modern.

'Sadar'
Kita tidak perlu menunggu bencana berikutnya untuk berubah. Kita hanya perlu mengingat pelajaran yang selama ini diberikan alam.
Menjaga lereng berarti menjaga warga hilir. Menjaga leuweung berarti menjaga sawah. Menjaga sungai berarti menjaga sekolah dan masa depan anak-anak. Menjaga laut berarti menjaga ekonomi rakyat. Mitigasi bukan pengeluaran, melainkan investasi untuk generasi mendatang. Keselamatan bukan biaya, melainkan kewajiban.
Pemerintah pusat dan daerah harus satu napas: keselamatan publik adalah batas tertinggi pembangunan. Masyarakat pun harus kembali pada raso jo pareso: mengambil secukupnya, tidak merampas melebihi yang diperlukan.
Kita tidak akan kehilangan kemajuan jika kita memperlambat ambisi. Namun, kita akan kehilangan masa depan jika kita terus mengabaikan pelajaran alam.
Bencana bukan finalitas. Ia adalah panggilan untuk sadar. Alam bukan musuh yang perlu dilawan, tetapi guru yang perlu didengarkan. Yang rusak bukan takdir; yang rusak adalah pilihan. Maka pulih bukan hanya pekerjaan teknis — membangun jembatan, menata tebing, mengeruk sungai — tetapi pekerjaan batin: menata cara kita memandang alam. Alam akan kembali ketika manusia kembali. Sungai akan tenang ketika ambisi mereda. Hutan akan tumbuh ketika keserakahan berkurang. Masa depan akan aman ketika keputusan-keputusan hari ini berani berpihak pada kehidupan. “Alam takambang jadi guru” bukan wejangan masa lalu — ia adalah kompas agar bangsa ini tidak belajar melalui duka, tetapi melalui kebijaksanaan.
Bencana bukan nasib, itu pelajaran. Dan pelajaran itu akan berhenti ketika manusia mau belajar.

Manusia lebih sibuk membaca angka pertumbuhan ekonomi daripada baca tanda-tanda alam. Memperlakukan alam bukan sebagai guru, tetapi sebagai pelayan.

Address

Malang

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when H R M Rajo Malano posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to H R M Rajo Malano:

Share