GUS GUS Indonesia

GUS GUS Indonesia Semoga Yang Melihat Mendengarkan Menyimak Mengkaji dan Mengamalkan Serta Membagikannya Selalu Mendapatkan Ridho dan Rahmat Allah SWT

09/03/2026

MASUK SURGA DENGAN TAHLIL
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, Rasul ﷺ bersabda :
نَادِ فِي النَّاسِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Umumkan kepada semua orang bahwa barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) maka ia akan masuk surga. [HR Ibnu Hibban]

_Catatan Alvers_

Ada pernyataan menarik ketika Al-Hasan Al-Bashri diberikan pertanyaan “Jika disuruh memilih di antara dua perkara, Shalat dua reka’at dan masuk surga mana yang kau pilih terlebih dahulu?” Beliau menjawab :
سَأَخْتَارُ الرَّكْعَتَيْنِ أَوَّلاً لِأَنَّ فِى أَدَائِهِمَا رِضَاءً لِرَبِّى وَفِى دُخُوْلِ الْجَنَّةِ رَضَاءً لِنَفْسِي وَأَوْلَى بِالْعَبْدِ الْمُؤَدَّبِ أَنْ يُفَضِّلَ رِضَاءَ رَبِّهِ عَلَى رِضَاءِ نَفْسِهِ
Aku memilih mengerjakan dua rekaat terlebih dahulu karena hal itu akan mendatangkan ridlo tuhanku sedangkan masuk surga itu merupakan ridlo diriku. Maka yang lebih utama bagi seorang hamba yang ber-adab agar dia mengutamakan ridlo tuhannya dari pada ridlo dirinya sendiri. [amrkhaled net]

Pernyataan ini dan semacamnya bukan berarti menafikan pentingnya surga dan menjadikan keinginan masuk surga menjadi hal yang tercela. Mengapa demikian? karena surga memang dijadikan oleh Allah sebagai kabar gembira agar manusia termotivasi untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman :
وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُم جَنَّـٰتٍ تَجرِى مِن تَحتِهَا ٱلأَنهَـٰر
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan ber-amal shalih, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai... [QS Al-Baqarah : 25].

Rasul ﷺ sendiri juga meminta surga dan mengajarkan agar kita juga meminta surga dalam lantunan doa kita. Rasul ﷺ pernah mengajarkan doa tersebut kepada sayyidah Aisyah RA, yaitu :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ
Ya Allah, sungguh aku memohon surga kepada-Mu dan semua perkataan atau perbuatan yang dapat mendekatkan diriku kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua perkataan dan perbuatan yang dapat mendekatkan diriku kepadanya. [HR Ibnu Majah]

Kata “Surga” itu sudah cukup mewakili semua keindahan dan kenikmatannya. Sehingga Sa’d (bin Abi Waqqash) ketika mendengar anaknya berdoa :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيمَهَا وَإِسْتَبْرَقَهَا...
Ya Allah Aku memohon kepada-Mu surga, kenikmatannya dan sutera tebalnya...
Maka Sa’d berkata : sungguh engkau telah meminta kebaikan yang (terlalu) banyak kepada Allah... Aku telah mendengar Rasul ﷺ bersabda : Akan datang satu kaum di mana mereka berlebih-lebihan dalam berdoa. Allah berfirman “Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. [QS Al-A’raf: 55] Cukuplah bagimu doa “Allahumma inni As’alukal jannata mawa qarraba ilayha min qaulin wa amal..dst” [HR Ahmad]

Berdoa memohon surga merupakan keinginan yang baik. Lihatlah bagaimana sabda Nabi ﷺ :
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتْ الْجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
Barang siapa meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali maka surga akan berdoa “Ya Allah masukkanlah dia ke surga”. [HR Turmudzi]

Tidak hanya dengan perbuatan dan amal-amal besar, ternyata meraih surga bisa juga dengan cara mengucapkan kata-kata yang “ringan” misalnya dengan “kalimat tahlil” sebagaimana hadits utama di atas. Hadits riwayat Jabir tersebut dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan juga Albani mengatakan sanadnya shahih dan memasukkan dalam as-silsilah as-shahihah. Dalam riwayat lain, suatu ketika Rasul ﷺ memanggil Muadz dan beliau bersabda :
بَشِّرِ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Berilah kabar gembira kepada semua orang bahwa barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) maka ia akan masuk surga. [HR Thabrani]

Dalam riwayat yang lain, Rasul ﷺ memerintahkan Bilal agar mengumumkan bahwa :
مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِسَنَةٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ شَهْرٍ أَوْ جُمُعَةٍ أَوْ يَوْمٍ أَوْ سَاعَةٍ
Barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) sebelum kematiannya satu tahun maka ia akan masuk surga, atau satu bulan, satu minggu, satu hari atau satu jam.

Bilal (menilai bahwa mudah sekali mendapat surga sehingga) Ia berkata : Kalau begitu nanti dikhawatirkan orang-orang akan berpegangan dengan sabda tersebut?. Rasul ﷺ menjawab : Ya, meskipun demikian. [HR Thabrani]

Kejadian serupa juga terjadi pada Abud Darda’ setelah mendengar orang yang membaca tahlil akan masuk surga maka ia bertanya kepada banginda Nabi ﷺ : Apakah orang yang membaca tahlil akan tetap masuk surga meskipun ia berzina dan mencuri? Rasul ﷺ menjawab : Ya, meskipun ia telah berzina dan mencuri. Abud Darda mulai mengabarkan kabar gembira tersebut, namun ketika Umar RA mengetahui hal ini maka Umar RA mencegahnya karena khawatir orang-orang gegabah karena berpegang dengan sabda Nabi tersebut. Abud Darda’ melaporkan pelarangan Umar RA tersebut dan Nabi ﷺ bersabda : Umar benar. [HR Ahmad]

Zaid bin Arqam meriwayatkan hadits di atas dengan tambahan, bahwa Rasul ﷺ bersabda :
مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) dengan ikhlas maka ia akan masuk surga.

Rasul ﷺ lalu memberikan penjelasan :
إِخْلاصُهُ أَنْ يَحْجُزَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
Ikhlas yang dimaksud adalah kalimat tahlil itu menghalanginya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah . [HR Thabrani]

Terdapat beberapa penjelasan mengenai hadits utama di atas. Al-Hasan Al-Bashri berkata : hadits tersebut masih global sehingga membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Maksud dari hadits tersebut adalah orang yang mengucapkan kalimat (tahlil) itu memenuhi hak dari kalimat tahlil dan kewajibannya. Dan Imam Bukhari berkata : kalimat tahlil bisa menjadikan masuk surga itu berlaku bagi orang yang mengucapkannya ketika menyesal dan bertaubat (atas maksiat) sehingga ia mati di atas kalimat tahlil tersebut. Terdapat juga pendapat dari Ibnul Musayyib dll bahwa hadits tersebut terjadi sebelum turunnya beberapa kewajiban, perintah dan larangan. Namun Imam nawawi mengatakan pendapat tersebut lemah bahkan bathil, dikarenakan salah satu perawi haditsnya adalah Abu Hurairah RA dan ia masuk Islam belakangan yaitu pada tahun terjadinya perang Khaibar yaitu tahun Ke 7 H di mana saat itu syariat islam telah tetap dan mayoritas kewajiban sudah ditetapkan seperti sholat, zakat, puasa dll. bahkan juga ibadah haji menurut satu pendapat. [Tuhfatul Ahwadzi]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk istiqamah menjalankan apapun yang menjadi ajaran Nabi ﷺ baik berupa perkataan maupun perbuatan sehingga kita masuk surga dan dapat berkumpul bersama dengan beliau.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi ﷺ menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

22/02/2026

Semoga Rahasia Langit (1000 Bulan) Memberkahi Kita Semua Atas Izin Allah SWT

22/02/2026

Tentang Mereka SANTRI Annur 2

PUASA BATHIN*ONE DAY ONE HADITH* Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِ...
21/02/2026

PUASA BATHIN
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya melainkan lapar saja.” [HR Ahmad]

_Catatan Alvers_

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan shaum. Shaum sendiri bermakna menahan. Puasa didefinisikan dengan :
إِمْسَاكٌ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ
menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. [Fathul Wahhab]

Ditinjau dari sisi bathin, puasa memiliki beberapa tingkatan. Dalam Ihya ulumiddin, Imam Ghazali berkata :
اِعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الْخُصُوصِ وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.
Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga derajat : Puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil khusus. [Ihya ulumiddin]

Lebih lanjut Imam Ghazali menjelaskan : Pertama, Puasa umum dan ini merupakan puasanya kebanyakan orang (awam) yaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan dari syahwat. Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan orang berpuasa berpinsip yang peting tidak makan minum dan tidak berjima’ dengan istri di siang bulan ramadhan.

Kedua, Puasa khusus dan ini merupakan puasanya orang-orang shalih. Yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dan ini adalah puasanya orang-orang shalih. Kesempurnaan puasa tingkatan ini adalah dengan enam perkara yaitu :

(1) Menjaga Pandangan dari melihat hal-hal tercela, yang membangkitkan syahwat, atau melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda:
النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
“Pandangan (yang haram) adalah salah satu anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberinya iman yang manisnya dapat ia rasakan dalam hati.” [HR Al-Hakim]

(2) Menjaga Lisan dari ucapan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, debat kusir dan mengisi lisan dengan dzikir dan tilawah. Mujahid berkata :
خَصْلَتَانِ يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الغِيبَةُ وَالكَذِبُ
“Dua perkara yang merusak puasa yaitu ghibah dan dusta.” [Ihya]

Diriwayatkan bahwa ada dua orang wanita berpuasa pada masa Rasul SAW. Menjelang sore, keduanya sangat lapar dan haus hingga hampir pingsan. Lalu mereka mengirim utusan kepada Rasul untuk meminta izin berbuka. Rasul SAW mengirimkan sebuah bejana dan bersabda : Katakan kepada mereka, muntahkanlah ke dalam bejana ini apa yang kalian makan. Maka salah satunya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar dan daging mentah, dan yang lain memuntahkan hal yang sama hingga penuh. Orang-orang pun keheranan melihat hal itu. Rasul SAW bersabda:
هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا
“Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka”.
Keduanya duduk bercengkrama sambil maka daging manusia (yaitu dengan menggunjing mereka). [HR Ahmad]

(3) Menjaga Pendengaran dari hal-hal yang haram, seperti ghibah atau kebohongan. Allah menyamakan pendengar kebohongan dengan pemakan harta haram. Nabi SAW bersabda:
المُغْتَابُ وَالمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الإِثْمِ
“Penggunjing dan pendengar ghibah adalah sekutu dalam dosa.” [Ihya]

(4) Menjaga Anggota Tubuh Lain seperti tangan, kaki, dan seluruh anggota dari perbuatan maksiat. Menjaga perut dari makanan haram atau syubhat saat berbuka. Puasa seseorang akan sia-sia jika ia menahan diri dari perkara yang halal namun ia berbuka dengan perkara yang haram. Imam Ghzali berkata : “Perumpamaan orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan hal-hal yang merusak puasanya”,
مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا
“seperti orang yang membangun sebuah istana namun meruntuhkan kota”.

Sesungguhnya makanan halal itu membahayakan bukan karena jenisnya, melainkan karena banyaknya. Maka puasa bertujuan untuk mengurangi jumlah makanan. Orang yang meninggalkan banyaknya obat karena takut mudarat, lalu beralih kepada racun, adalah orang yang bodoh. Yang haram itu ibarat racun yang membinasakan agama, sedangkan yang halal itu ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, banyaknya membahayakan. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi (makanan halal) agar tidak berlebihan.” [Ihya]

(5) Tidak Berlebihan dalam Memakan makanan yang Halal saat berbuka. Bukankah tujuan puasa itu adalah melemahkan syahwat dan nafsu. Jika seseorang ketika puasa di bulan ramadhan takaran makanannya sama saja dengan ketika tidak puasa, maka ruh puasa jadi hilang dan puasa menjadi sia-sia sebab Ia hanya memindah jam makan saja.

(6) Hati antara Khauf (cemas) dan Raja’ (penuh harap) setelah seseorang berbuka puasa. Takut kalau puasanya ditolak namun ia berharap agar diterima. Demikian p**a sikap ini harus tetap ada setelah ibadah dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya untuk taat kepada-Nya. Maka ada kaum yang mendahului lalu menang, dan ada kaum yang tertinggal lalu rugi. Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang tertawa dan bermain pada hari ketika para pemenang telah berhasil dan para yang lalai telah gagal.
أَمَا وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لاشْتَغَلَ المُحْسِنُ بِإِحْسَانِهِ وَالمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ
Ingatlah Demi Allah, seandainya tirai penutup itu disingkap, niscaya orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan keburukannya. [Ihya]
Maksudnya kegembiraan orang yang diterima amalnya melupakannya akan bermain-main, sementara penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menjadikannya tidak bisa tertawa.

Imam Ghazali berkata : Manusia kedudukannya di atas binatang karena manusia memiliki akal sementara hewan tidak memilikinya, tetapi manusia di bawah derajat malaikat karena manusia memiliki syahwat sedangkan malaikat tidak memilikinya. Jika manusia memperturukan syahwatnya maka derajatnya turun ke derajat asfalas safilin, derajat paling rendah dan bergabung dengan golongan hewan. Namun jika manusia mampu mengendalikan syahwatnya maka derajatnya naik ke derajat a’la illiyin. Derajat paling tinggi dan bergabung dengan derajat malaikat.
Malaikat itu didekatkan dengan Allah. Maka siapa saja yang bisa meneladani malaikat serta menyerupai akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan malaikat. Sesungguhnya (manusia) yang menyerupai dengan yang dekat (malaikat), maka ia (manusia) pun menjadi dekat p**a (seperti malaikat).
وَلَيْسَ القُرْبُ ثَمَّ بِالمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ
Dan kedekatan disitu bukanlah dengan tempat, melainkan dengan sifat.” [Ihya]

Ketiga, Puasa khususil khusus dan ini merupakan puasanya para nabi, Shiddiqin dan Al-Muqarrabin. Yaitu puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sepenuhnya. Puasa ini batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, serta dengan memikirkan urusan dunia—kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia.

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan puasa kita tidak hanya urusan menahan perut namun juga urusan semua anggota badan bahkan urusan hati.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

WAR TAKJIL *ONE DAY ONE HADITH* Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda : لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ...
20/02/2026

WAR TAKJIL
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu tuhannya. [HR Muslim]

_Catatan Alvers_

Tiap Ramadan ada topik yang hangat di media sosial yaitu “War takjil” (berburu makanan buka puasa yang juga dilakukan oleh non muslim). Momen ini memperlihatkan antusiasme masyarakat non-Islam yang disingkat dengan istilah “Nonis” dalam membeli makanan takjil. Bahkan viral video pendeta Gereja Tiberias Indonesia yang berkata : "Agama kita toleran, tapi takjil kita duluan. Jam 3 mereka masih lemas, jam 3 kita sudah stand by." [fakta com] ada juga pendeta yang memberi instruksi : “Disampaikan bagi seluruh jemaat bahwa pembukaan penjualan takjil dimulai pada jam 3 sore jadi diharapkan untuk tetap berburu takjil”. [ig obouthetic]

Terlepas dari pro kontra pendapat netizen, maka saya melihat bahwa fenomena ini semakin membuktikan kebenaran hadits Nabi SAW di atas yaitu : “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu tuhannya”. [HR Muslim] bahkan dari dahsyatnya sabda Nabi ini, mereka para nonis juga ikut bahagia dan senang dengan makanan takjil yang pada awalnya disiapkan hanya untuk dijual ke orang-orang islam yang berpuasa. Subhanallah!.

Istilah takjil berasal dari bahasa Arab “Ta’jil” yang merupakan bentuk mashdar dari Fiil Madli Mudlari, Ajjala Yu’ajjilu yang artinya menyegerakan. Maka Takjil dalam kamus didefinisikan sebagai mempercepat berbuka puasa. [KBBI] Tentunya takjil ini dilaksanakan setelah masuk waktunya (maghrib). Imam Bukhari dalam Shahihnya menulis Bab ini secara khusus yaitu Babu Ta’jilil Ifthar (Bab mengenai menyegerakan berbuka puasa).

Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa jika sudah yakin maghrib tiba. Dan makruh menunda buka puasa jika dilakukan dengan sengaja dan disertai keyakinan akan baiknya penundaan tersebut. [Ianatut Thalibin] Suatu ketika Abu Athiyyah dan Masruq (keduanya adalah tabi’in) bertanya kepada Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, Ada dua orang sahabat yang satu ia menyegerakan berbuka puasa dan menyegerakan shalat (maghrib) dan yang kedua, ia mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan shalatnya”. Maka Aisyah pun bertanya, "Siapa yang menyegerakan berbuka dan shalat?" Mereka menjawab : "Abdullah (Ibnu Mas'ud)." Aisyah berkata :
كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Seperti itulah yang diperbuat oleh Rasul SAW."
Abu Kuraib menambahkan : Orang kedua yang dimaksud adalah Abu Musa. [HR Muslim] dan dalam riwayat lain redaksinya adalah orang yang menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur dan orang yang mengakhirkan berbuka puasa dan menyegerakan sahur. [HR An-Nasa’i]

Anas bin Malik berkata : Rasul SAW berbuka sebelum shalat mahgrib dengan beberapa Rutab (Kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering) dan jika tidak ada, maka beliau minum beberapa teguk air. [HR Abu Dawud] Rasul SAW bersabda :
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka puasa.” [HR Bukhari]
Dalam riwayat lain terdapat tambahan :
عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُودَ يُؤَخِّرُونَ
Segerakanlah berbuka puasa karena orang Yahudi mengakhirkan buka puasanya. [HR Ibnu Majah]

Menyegerakan berbuka puasa merupakan perilaku yang dicintai Allah. Dalam hadits disebutkan :
إِنَّ مِنْ أَحَبِّ الْعِبَادِ اِلَى اللهِ مَنْ كَانَ أَعْجَلَ إِفْطَارًا
Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling menyegerakan berbuka puasa. [HR Ibnu Hibban]

Tidak hanya menganjurkan, Nabi SAW sendiri juga melakukannya. Beliau bersabda :
أُمِرْنَا مَعَاشِرَ الأَنْبِيَاءِ أَنْ نُعَجِّلَ إِفْطَارَنَا وَنُؤَخِّرَ سُحُورَنَا وَنَضْرِبَ بِأَيْمَانِنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِى الصَّلاَةِ
Kami para Nabi, diperintahkan agar menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat. [HR Daruqutni]

Para sahabat juga demikian, Amru bin Maimun berkata :
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُ سُحُورًا
Para sahabat Nabi SAW mereka adalah orang yang paling awal berbuka dan paling akhir sahurnya. [Mushannaf Abdir Razzaq]

Dari uraian keutamaan takjil di atas maka wajar jika dalam hadits disebutkan :
مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ فِي دِيْنِهِ تَعْجِيْلُ فِطْرِهِ وَتَأْخِيْرُ سُحُوْرِهِ
Di antara tanda seseorang paham agamanya adalah menyegerakan berbuka puasanya dan mengakhirkan sahurnya. [HR Ibnu Asakir]

Selanjutnya mengenai sisi kebahagiaan berbuka puasa yang terdapat pada hadits utama di atas, Al-Qurthubi berkata : “bahagia yang dimaksud disebabkan lepasnya dahaga dan hilangnya lapar dengan berbuka puasa. Ini adalah kebahagiaan alamiyah dan ini adalah perkara yang dipahami secara spontan. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan yang yang dimaksud adalah kebahagiaan karena seseorang bisa menyempurnakan puasanya, merampungkan ibadahnya dan mendapat dispensasi dari tuhannya serta pertolongan untuk puasa kedepannya”. Lalu ia berkata :
قُلْتُ وَلَا مَانِعَ مِنَ الْحَمْلِ عَلَى مَا هُوَ أَعَمُّ مِمَّا ذُكِرَ فَفَرْحُ كُلِّ أَحَدٍ بِحَسَبِهِ لِاخْتِلَافِ مَقَامَاتِ النَّاسِ فِي ذَلِكَ
Dan menurutku tidak ada masalah jika kebahagiaan itu dipahami dengan jangkauan yang lebih luas dari itu karena setiap akan orang merasakan kebahagiaan yang berbeda-beda sesuai dengan taraf kedudukannya masing-masing. [Fathul Bari]

Al-Baihaqi berkata : “Kebahagiaan tersebut dirasakan karena seseorang akan mendapatkan pahala yang luar biasa yang tak seorangpun tahu akan hakikatnya dan juga dikarenakan ia diperbolehkan untuk berbuka serta ia dilarang mengakhirkan bukanya sehingga ia menyambung puasa (wishal) dengan esok harinya, karena yang demikian itu akan dapat menyebabkan kebinasaannya. Dan lagi terdapat janji bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan doa mustajabah ketika berbuka serta harapan mendapatkan kebahagiaan kelak di hari kiamat karena mendapat pahala yang besar”. [Syu’abul Iman]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu meneladani sunnah Nabi dalam berpuasa sehingga kita bisa merasakan dua kebahagiaan karena puasa kita.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

Gus Baha dan Cara Santai Menghadapi Dunia yang Terlalu SeriusDi zaman sekarang, hidup rasanya seperti lomba lari yang ti...
18/02/2026

Gus Baha dan Cara Santai Menghadapi Dunia yang Terlalu Serius

Di zaman sekarang, hidup rasanya seperti lomba lari yang tidak pernah ada garis finisnya.

Begitu lulus sekolah, ditanya kerja di mana.
Begitu kerja, ditanya kapan naik jabatan.
Begitu naik jabatan, ditanya kapan nikah.
Begitu nikah, ditanya kapan punya anak.
Begitu punya anak, ditanya anaknya sekolah di mana.

Kalau hidup ini lomba, kita ini seperti pelari yang bahkan tidak tahu siapa panitianya.

Di tengah dunia yang ribut, kompetitif, dan penuh tuntutan ini, ada satu sosok yang justru tampil sangat santai: Gus Baha.

Beliau bukan motivator dengan jas mahal dan slide PowerPoint berbunyi, “Unlock Your Potential.”
Beliau hanya pakai sarung, peci miring, dan sering tertawa sendiri saat ngaji.

Tapi anehnya, jutaan orang merasa waras kembali setelah mendengarkan beliau.

Kenapa?

Karena Gus Baha tidak mengajarkan cara menaklukkan dunia.
Beliau mengajarkan cara berdamai dengan dunia.

1. Dunia Itu Cuma Mampir Minum

Kalimat ini sederhana, tapi menghantam ego kita dengan lembut:

“Dunia itu cuma mampir minum.”

Bayangkan hidup ini seperti perjalanan jauh.
Kita berhenti sebentar di rest area.
Minum, ke toilet, lalu lanjut lagi.

Masalahnya, kita sering mengira rest area itu rumah permanen.

Kita beli semua barangnya.
Kita dekor ulang parkirannya.
Kita ribut rebutan tempat duduk.

Padahal sebentar lagi kita disuruh jalan lagi.

Gus Baha melihat dunia seperti itu: sementara.
Maka beliau tidak terlalu panik ketika kehilangan sesuatu.

Kehilangan uang?
“Ya bukan milik saya kok, cuma titipan.”

Gagal jabatan?
“Berarti bukan skenario saya di bab ini.”

Putus cinta?
“Mungkin Tuhan lagi selamatkan dari sinetron panjang.”

Logika ini terdengar sederhana.
Tapi kalau benar-benar dipakai, hidup langsung terasa ringan.

2. Kita Ini Hamba, Bukan Admin

Masalah utama manusia modern adalah merasa jadi “admin kehidupan.”

Kita ingin:
• Mengatur masa depan
• Mengontrol semua hasil
• Memastikan semuanya sesuai rencana

Padahal kenyataannya?

Napas saja kita tidak mengatur.
Detak jantung kita tidak tahu sistemnya.
Matahari terbit tidak pernah minta izin pada kita.

Gus Baha sering memberi contoh seperti ini:

Bayangkan kita naik bus malam.

Sopirnya profesional.
Busnya bagus.
Tujuannya jelas.

Tapi kita duduk di kursi penumpang sambil:
• Ikut rem imajiner
• Ikut ngeden saat bus menyalip
• Panik kalau sopir belok

Padahal kita cuma penumpang.

Begitulah hidup.
Tuhan sopirnya.
Kita cuma duduk, menikmati perjalanan.

Begitu kita sadar posisi kita sebagai hamba, bukan pengatur, stres turun drastis.

3. Hidup Itu Biasa Saja, dan Itu Tidak Apa-Apa

Zaman sekarang, “biasa saja” dianggap gagal.

Kalau tidak viral → tidak sukses.
Kalau tidak kaya sebelum 30 → tertinggal.
Kalau tidak punya pencapaian → kalah.

Gus Baha justru berkata:

“Urip iku biasa wae.”

Hidup itu biasa saja.

Bangun pagi bisa pipis tanpa sakit?
Itu nikmat besar.

Bisa makan nasi hangat?
Sudah kemewahan.

Bisa tidur nyenyak tanpa obat?
Prestasi luar biasa.

Masalahnya kita sering lupa menghitung nikmat kecil.
Kita hanya menghitung yang besar.

Padahal orang sakit ginjal akan menangis bahagia hanya karena bisa pipis normal.

Standar bahagia kita terlalu mahal.
Gus Baha mengajarkan cara menurunkannya.

Dan ketika standar bahagia diturunkan, kebahagiaan justru sering muncul.

4. Kerja Itu Penghapus Dosa

Banyak orang merasa kerja itu beban.

Senin pagi seperti hukuman.
Macet seperti siksaan.
Deadline seperti azab dunia.

Gus Baha punya sudut pandang yang berbeda:

Capek cari nafkah itu penghapus dosa.

Keringat yang jatuh bukan cuma air asin.
Itu sabun spiritual.

Kalau saja kita bisa melihat dosa kita rontok setiap kali lelah bekerja, mungkin kita p**ang kantor sambil tersenyum.

“Wah, hari ini dosa saya lumayan banyak yang dicuci.”

Tiba-tiba kerja bukan lagi beban.
Ia menjadi ibadah yang realistis.

5. Soal Utang: Jangan Tukar Nyawa dengan Angka

Utang adalah momok menakutkan.

Banyak orang depresi bahkan bunuh diri karena utang.

Gus Baha mengajarkan satu hal penting:

Jangan tukar nyawa mahal dengan utang murah.

Kalau sudah usaha, sudah jujur, sudah niat bayar — tapi belum mampu — jangan hancurkan diri.

Tuhan Maha Kaya.

Yang penting tetap tanggung jawab, tetap berusaha, tapi jangan sampai kehilangan akal sehat.

Karena hidup lebih mahal daripada cicilan.

6. Humor adalah Senjata

Satu hal yang sangat khas dari Gus Baha adalah tawanya.

Beliau sering tertawa saat membahas hal serius.

Kenapa?

Karena orang yang sudah paham dunia tidak terlalu takut pada dunia.

Ban bocor sebelum ngaji?
“Wah, mungkin Tuhan pengen saya belajar sabar dulu.”

Masakan asin?
“Berarti hari ini kita belajar makan garam lebih banyak.”

Masalah tetap ada.
Tapi ketika ditertawakan, ukurannya mengecil.

Humor bukan pelarian.
Humor adalah bukti iman yang rileks.

7. Jangan Jadi Polisi Tuhan

Satu lagi pelajaran penting: jangan sok jadi hakim akhirat.

Tuhan saja sabar pada orang yang salah.
Masih diberi napas, diberi rezeki.

Kita ini cuma sesama hamba.

Kenapa sibuk menghakimi?

Gus Baha sering bertanya:

“Lha kowe iku sopo?”

Kita siapa sampai-sampai lebih galak dari Tuhan?

Toleransi bukan berarti setuju.
Tapi sadar bahwa setiap orang sedang menjalani prosesnya.

8. Keluarga Tidak Harus Sempurna

Di media sosial, keluarga terlihat rapi dan bahagia.

Di dunia nyata:
• Anak tantrum
• Pasangan cemberut
• Dapur berantakan

Gus Baha tidak menuntut keluarga sempurna.

Yang penting?
Sujud bareng.

Pasangan ngomel?
Latihan sabar.

Anak bandel?
Latihan maklum.

Keluarga bukan showroom.
Keluarga tempat belajar jadi manusia.

Penutup: Kopi Sachet dan Kedamaian

Bayangkan sore hari.

Hujan tipis.
Kopi sachet dua ribuan.
Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Tidak ada yang perlu ditaklukkan.

Hanya duduk.
Bernapas.
Dan sadar bahwa Tuhan sedang mengatur semuanya.

Itu bukan hidup yang gagal.

Itu hidup yang waras.

Dan mungkin, di dunia yang terlalu serius ini,
menjadi waras adalah kemewahan paling tinggi.

MALAIKAT TAK BERSAYAP*ONE DAY ONE HADITH*Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Dzar R , Nabi SAW bersabda: وَإِنَّهُ لَ...
18/02/2026

MALAIKAT TAK BERSAYAP
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan Abu Dzar R , Nabi SAW bersabda:
وَإِنَّهُ لَجِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام نَزَلَ فِي صُورَةِ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ
Sesungguhnya ia adalah Jibril AS, ia turun dengan berwujud seperti rupa dihyah alkalbi. [HR An-Nasai]

_Catatan Alvers_

Orang yang bertaqwa adalah orang yang beriman kepada hal yang ghaib sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 3.
Termasuk hal ghaib yang wajib diimani adalah malaikat. Allah swt berfirman :
وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. [QS. An-Nisa`: 136]

Sebagai makhluk yang ghaib, malaikat dalam bentuk aslinya tidak bisa dilihat oleh kasat mata.Namun demikian Rasul SAW pernah melihatnya dalam bentuk aslinya sebagaimana disebutkan oleh Aisyah RA :
رَأَى جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي صُورَتِهِ مَرَّتَيْنِ
Nabi SAW melihat jibril AS dalam bentuknya yang asli sebanyak dua kali [HR Bukhari]

Ternyata bentuknya begitu besar dan bersayap. Allah swt berfirman :
جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ
(Allah) Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. [QS. Fathir: 1]

Baginda Rasul SAW malaikat Jibril berada di angkasa. Beliau bersabda :
جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
Jibril duduk di atas kursi di antara langit dan bumi [HR Bukhari]
Rasulullah SAW Juga bersabda :
رَأَيْتُ جِبْرِيلَ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، عَلَيْهِ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ، يُنْتَثَرُ مِنْ رِيشِهِ التَّهَاوِيلُ: الدُّرُّ وَالْيَاقُوتُ
“Aku melihat Jibril di sisi Sidratul Muntaha. Ia memiliki 600 sayap. Dari bulu sayapnya bertaburan permata dan batu-batu mulia.” [HR Ahmad]

Malaikat memang identik dengan sayap sehingga seringkali kita temui hadits-hadits yang menyebutkan aktifitas malaikat dengan sayapnya sebagai berikut :
من سلك طريقا يبتغي فيه علما سهل اللّٰه له طريقا إلى الجنة، وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يصنع
Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan untuk mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia perbuat. [HR Tirmidzi]

Begitu p**a hadits berikut :
إِنَّ لِلَّهِ مَلاَئِكَةً يَطُوفُونَ فِى الطُّرُقِ ، يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ . قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
Sesungguhnya ada malaikat-malaikat milik Allah Swt yang berkeliling di jalan-jalan, mereka mencari ahli zikir. Apabila mereka mendapati sekelompok orang yang berzikir kepada Allah Swt, mereka saling memanggil, “Kemarilah kepada apa yang kamu cari”. Maka para malaikat meliputi mereka dengan sayap-sayapnya hingga ke langit dunia.[HR. al-Bukhari].

Rasul SAW juga bersabda :
إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِى السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلاَئِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَاناً لِقَوْلِهِ كَالسِّلْسِلَةِ عَلَى صَفْوَانٍ يَنْفُذُهُمْ ذَلِكَ
Apabila Allah SWT menetapkan perintah di langit, maka para malaikat mengepakkan sayap-sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya seakan-akan suara (yang didengarnya) itu seperti gemerincing rantai di atas batu yang licin yang menembus ke dalam hati mereka. [HR Bukhari]

Namun tidak selamanya malaikat itu identik dengan sayap, sehingga kita dengar istilah “Malaikat tak bersayap” untuk menunjuk malaikat yang menjelma seperti manusia sebagaimana hadits utama di atas “Sesungguhnya ia adalah Jibril AS, ia turun dengan berwujud seperti rupa dihyah alkalbi”. [HR An-Nasai] Anas RA berkata : dihyah alkalbi adalah pria tampan yang berkulit putih [HR Thabrani]

Sebagaimana hadits yang familier yang diriwayatkan oleh Sayyidna Umar RA dimana “Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah SAW. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Dst [HR Muslim] dan pada akhir hadits, setelah lelaki tersebut segera pergi, Nabi bertanya bersabda :”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim]

Hal yang sama juga terdapat dalam kisah terdahulu, dimana Rasul saw bersabda : Sesungguhnya ada tiga orang dari kaum Bani Israil, yaitu orang yang sakit kulit (sopak), orang botak dan orang buta. Allah hendak menguji mereka itu, kemudian mengutus seorang malaikat kepada mereka. [HR Bukahri]
Singkat cerita setelah tiga orang tadi disembuhkan maka Allah mengirim malaikat dengan rupa yang sama dengan masing-masing dari ketiga orang tersebut. Rasul SAW bersabda :
إِنَّهُ أَتَى الْأَبْرَصَ فِي صُورَتِهِ وَهَيْئَتِهِ
Sesungguhnya malaikat mendatangi orang yang dulu terkena penyakit kulit dalam wujud seperti rupa dan kondisinya dahulu. [HR Bukhari] begitu p**a ketika mendatangi orang yang buta dan yang botak.

Namun demikian mereka tetap tidak makan dan minum. Sebagaimana kisah ketika nabi ibrahim menyuguhkan makanan kepada tamunya yang tak lain adalah jelmaan malaikat. Allah swt berfirman: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,”
فَمَا لَبِثَ أَنْ جَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً
maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya (tidak memakannya), Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka.
Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’” [QS. Huud: 69 – 70]
Maka dari itu Ar-Razi berkata :
اتفقوا على أن الملائكة لا يأكلون ولا يشربون ولا ينكحون ، يسبحون الليل والنهار لا يفترون
para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak makan, tidak minum, dan juga tidak menikah, mereka bertasbih siang dan malam tanpa kenal lelah.[Tafsir Ar-Razi]

Dan Sayyid Ahmad Al Marzuqi dalam Syairnya menyebutkan :
وَالْمَلَكُ الَّذِيْ بِلَا أَبٍ وَأُمْ * لَا أَكْلَ لَا شُرْبَ وَلَا نَوْمَ لَهُمْ
Dan para Malaikat iu tidak mempunyai ayah dan ibu. Mereka tidak makan, tidak minum dan tidak tidur [Aqidatul Awam]
Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-Bari membuka hati kita untuk terus memuliakan sesama manusia apapun kondisinya kerena boleh jadi mereka adalah jelamaan malaikat yang sedang menguji kita.

Salam Satu Hadits,
Dr. H. Fathul Bari Alvers

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Sarana Santri ber-Wisata Rohani Wisata Jasmani
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren Lho!

Address

Malang

Telephone

+6285745441897

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GUS GUS Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to GUS GUS Indonesia:

Share

Category