GUS GUS Indonesia

GUS GUS Indonesia Semoga Yang Melihat Mendengarkan Menyimak Mengkaji dan Mengamalkan Serta Membagikannya Selalu Mendapatkan Ridho dan Rahmat Allah SWT

DAHSYATNYA ARAFAH*ONE DAY ONE HADITH*Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi SAW bersabda :خ...
26/05/2026

DAHSYATNYA ARAFAH
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi SAW bersabda :
خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Do’a terbaik adalah do’a pada hari Arafah dan dzikir terbaik yang aku ucapkan dan diucapkan oleh nabi-nabi sebelumku adalah tiada tuhan selain Allah, yang maha esa, tiada sekutu baginya. Hanya milikNya kerajaan dan pujian. Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.” [HR. Tirmidzi]

_Catatan Alvers_

Tanggal 9 Dzulhijjah lazimnya dikenal dengan hari arafah adalah hari yang sangat istimewa. Bukan hanya untuk jamaah haji saja yang mana saat itu adalah waktu mereka untuk wuquf di padang arafah namun hari arafah itu sendiri adalah spesial karena :

Pertama, Hari arafah adalah salah satu hari dalam bulan dzulhijjah yang mana ini termasuk dari asyhurul hurum (bulan-bulan mulia yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab) [QS at-Taubah :39],

Kedua, Hari arafah adalah salah satu hari dalam bulan haji yang disebut dengan Asyhurum Ma’lumat (Bulan yang dimaklumi yaitu Syawal, Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah) [QS Al-Baqarah : 197]

Ketiga, Hari arafah adalah salah satu hari dari Al-Ayyam al-Ma’lumat [QS Al-Hajj : 28] Yakni Hari-hari yang diketahui yaitu 10 hari awal bulan Dzulhijjah sebagaimana pendapat Ibn Abbas RA [Tafsir Ibn Katsir]

Keempat, Hari arafah adalah salah satu hari dari “Layalin Asyr” [QS Al-Fajr : 2] Yakni Malam-malam yang sepuluh yaitu 10 hari awal bulan Dzulhijjah sebagaimana pendapat Ibn Abbas RA [Tafsir Jalalain]

Kelima, Hari arafah adalah salah satu hari dari “Ayyamal Asyr” yang disebut oleh Nabi SAW bahwa tidak ada satu amal kebaikan yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal kebaikan yang dilakukan pada “Ayyamal Asyr” yakni 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah). [HR Abu Daud]

Keenam, Hari Arafah adalah al-watr (ganjil) sedangkan asy-syaf’ adalah yaum ad-dzabhi (hari Idul kurban) sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas RA [Tafsir At-Thabari] dalam Sumpah-Nya:
وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
“dan (demi) yang genap dan yang ganjil” [QS. Al Fajr: 3].

Ketujuh: Puasa pada hari Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Dari Abu Qatadah, Nabi SAW bersabda,
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
“Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.” [HR. Muslim]
Ibnu Abbas RA berkata :
وهذه بشرى بحياة سنة مستقبلة لمن صامه، إذ هو صلى الله عليه وسلم بشر بكفارتها، فدل لصائمه على الحياة فيها، إذ هو صلى الله عليه وسلم لا ينطق عن الهوى إن هو إلا وحي يوحى.
Hal ini adalah kabar gembira bahwa orang yang berpuasa hari arafah akan mendapatkan usia setahun ke depan karena Nabi SAW telah memberi kabar gembira akan menghapus dosa setahun ke depan, maka hal ini menunjukkan bahwa orang yang berpuasa akan hidup setahun ke depan karena Nabi SAW tidak akan berkata dari sumber hawa nafsu, tiada lain apa yang beliau sampaikan melaikan wahyu. [I’anatut Thalibin]

Kedelapan: Hari Arafah adalah hari pengampunan dosa dan pembebasan dari siksa neraka. Rasul SAW bersabda :
مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ
“Tiada hari yang mana Allah lebih banyak membebaskan seseorang dari neraka melebihi hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu membanggakan mereka pada para malaikat. [HR Muslim]

Kesembilan, Hari Arafah adalah hari disempurnakannya agama dan nikmat. Suatu ketika ada seorang Yahudi berkata kepada ‘Umar :
“Ada ayat dalam kitab kalian yang kalian membacanya dan seandainya ayat tersebut turun di kalangan orang Yahudi, niscaya kami akan menjadikannya sebagai hari raya.” ‘Umar lantas bertanya: “Ayat apakah itu?”. Ia menjawab,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama

kalian, dan telah Ku-cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” [QS Al-Maidah : 3]
Umar berkata, “Kami telah mengetahui hari dan tempat di mana ayat tersebut diturunkan pada Nabi SAW. Saat itu Beliau berdiri di padang arafah pada hari Jum’at.” [HR. Bukhari – Muslim]

Kesepuluh, Hari Arafah adalah hari raya. Ibnu Abbas berkata :
فإنها نزلت في يوم عيدين اثنين : في يوم جمعة ، يوم عرفة
“Sesungguhnya QS Al-Maidah : 3 tersebut turun pada dua hari raya yaitu hari Jum’at dan hari Arafah.” [Tafsir Dzurrul Mantsur]

Begitu p**a Umar RA berkata :
وكلاهما بحمد الله لنا عيدٌ
“Keduanya (hari Jum’at dan hari Arafah) -alhamdulillah- adalah hari raya bagi kami.” [Tafsir At-Thabari]

hari Arafah adalah hari raya bagi orang yang sedang wukuf di Arafah saja sehingga Abu Hurairah berkata :
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ ، رَوَاهُ أَحْمَدُ
Rasul SAW melarang puasa arafah di arafah [HR Ahmad]
Sedangkan bagi yang tidak wukuf dianjurkan untuk berpuasa sebagaimana keterangan hadits riwayat Muslim diatas.

Kiranya kedahsyatan inilah yang menjadikan do’a pada hari Arafah dinobatkan sebagai do’a terbaik. al-Baji al-Maliki (403-474 H) mengatakan : “Maksud do’a terbaik adalah paling banyak berkahnya, paling besar pahalanya dan paling berpeluang dikabulkan”. [Al-Muntaqa Syarah Muwattha’] Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk mengisi hari ini dengan amalan terbaik dan doa terindah, semoga diijabah.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

PEKERJAAN DALAM RUMAH*ONE DAY ONE HADITH* Diriwayatkan dari A’isyah RA, Ia berkata :كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ ...
24/05/2026

PEKERJAAN DALAM RUMAH
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari A’isyah RA, Ia berkata :
كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ
"Beliau (Nabi Muhammad SAW) biasa melakukan pekerjaan rumah tangganya, dan apabila waktu shalat tiba, beliau keluar untuk shalat." [HR Bukhari]

_Catatan Alvers_

"Banyak Miliarder Masih Cuci Piring Sendiri.” Apa benar demikian? CNBC melaporkan : “Memiliki harta yang berlimpah, para miliarder sanggup membeli apa saja yang mereka butuhkan dan inginkan, mulai dari rumah mewah hingga asisten pribadi. Namun, ternyata di balik kekayaan fantastis yang mereka miliki, ada miliarder yang justru memilih melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Menurut hasil survei terbaru Forbes, banyak dari orang kaya melakukan pekerjaan seperti mencuci piring, memasak, hingga berbelanja kebutuhan sehari-hari. Jajak pendapat terhadap 65 orang terkaya di dunia menemukan bahwa, meskipun mereka membayar ART, banyak miliarder masih memilih untuk mengerjakan setidaknya beberapa pekerjaan rumah tangga dan tugas-tugas domestik lainnya sendiri... Bagi sebagian orang, mengerjakan pekerjaan rumah tangga adalah cara untuk bersantai di luar pekerjaan. Sebagian lain bertujuan untuk memberi contoh bagi anak-anak mereka. Ada juga yang mengaku karena ia tidak nyaman menerima layanan pribadi dari orang lain”. [cnbcindonesia com]

Dengan berita di atas kita disadarkan bahwa orang yang melakukan pekerjaan rumah itu bukannya pelit atau menghemat pengeluaran namun ada tujuan-tujuan lainnya. Andai para para miliarder mau, mereka dengan mudah mengangkat banyak asisten atau pembantu tanpa mengurangi kekayaan mereka sedikitpun. Demikianlah, Nabi SAW dalam melakukan pekerjaan rumah juga bukan dikarenakan pelit. Seandainya mau, banyak yang bisa membantu pekerjaan rumah nabi sehingga tak tersisa satu pekerjaanpun namun diceritakan oleh siti Aisyah bahwa Rasulullah SAW waktu berada di rumah :
يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُرَقِّعُ ثَوْبَهُ... يَفْلِي ثَوْبَهُ وَيَحْلُبُ شَاتَهُ وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ
Beliau menjahit sandalnya dan menambal bajunya... menjahit pakaiannya, memeras susu kambingnya, dan memenuhi keperluannya sendiri. [HR Ahmad]

Rasul SAW hendak mengajarkan kepada kita bagaimana seorang kepala rumah tangga bisa bertanggung jawab atas keluarganya. Beliau bersabda :
وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” [HR Bukhari]

Dalam menunaikan tugasnya, seorang suami hendaklah berniat karena Allah supaya ia mendapatkan pahala dan bukan kepentingan duniawi semata. Rasul SAW bersabda :
إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
"Sesungguhnya seorang Muslim, apabila ia menafkahi keluarganya dan ia mengharap pahala dari itu, maka itu menjadi sedekah baginya."[HR Muslim]

Imam Nawawi berkata :
وَمَعْنَاهُ أَرَادَ بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَعَال
"Maksudnya adalah ia meniatkannya untuk mencari ridla Allah Ta’ala”.
Maka tidak termasuk (yang mendapat pahala) orang yang menafkahkannya dalam keadaan lalai... Cara mengharap pahala itu adalah dengan mengingat bahwa ia wajib menafkahi istri, anak-anak, pelayan, dst... " [Al-Minhaj]
Al-Qurthubi berkata :
مَنْ لَمْ يَقْصِدْ الْقُرْبَة لَمْ يُؤْجَرْ لَكِنْ تَبْرَأُ ذِمَّتُهُ مِنَ النَّفَقَةِ الْوَاجِبَةِ
"Barang siapa yang tidak meniatkan (nafkahnya) sebagai pendekatan diri kepada Allah, maka ia tidak mendapat pahala. Namun tanggung jawabnya atas nafkah wajib telah gugur." [Fathul Bari]

Di samping itu, Rasul SAW hendak mengajarkan kepada kita agar tidak bermalas-malasan dalam pekerjaan rumah. Satu ketika Siti Fatimah meminta budak (pembantu) kepada ayahandanya namun beliau tidak memberikannya. Rasul SAW bersada:
أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَانِي
“Maukah kutunjukkan kalian berdua (Siti Fatimah dan Sayyidina Ali) kepada sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta (pembantu) ?” [HR. Bukhari]
Beliau lanjut bersabda : “Jika kalian berbaring di atas tempat tidur, maka ucapkanlah takbir (Allahu akbar) 34 kali, tahmid (alhamdulillah) 33 kali, dan tasbih (subhanallah) 33 kali. Itulah yang lebih baik bagi kalian daripada pembantu yang kalian minta. [HR. Bukhari]

Rasul SAW juga mengingatkan tanggung jawab seorang istri. Beliau bersabda :
وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا
Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. [HR Bukhari]

Seorang wanita madinah bernama Asma’ binti Yazid Al-Anshari dengan mengatas namakan perwakilan para perempuan menyatakan akan keinginan untuk mendapatkan pahala besar seperti yang diperoleh kaum lelaki dengan shalat berjamaah, mendatangi shalat jum’at, shalat jenazah, berhaji berkali-kali bahkan berperang di medan jihad. Namun demikian ia menyatakan bahwa pekerjaan istri di rumah tidak kalah berat. Ia berkata : Apabila laki-laki di antara kalian pergi berhaji, umrah, atau berjaga di medan perang,
حَفِظْنَا لَكُمْ أَمْوَالَكُمْ، وَغَزَلْنَا لَكُمْ أَثْوَابًا، وَرَبَّيْنَا لَكُمْ أَوْلَادَكُمْ
“Maka kamilah yang menjaga harta-harta kalian, menjahit pakaian kalian, mengasuh anak-anak kalian”.
Lalu apakah kami berserikat dengan kalian dalam pahala, wahai Rasulullah?”
Rasul SAW menjawab :
أَنَّ حُسْنَ تَبَعُّلِ إِحْدَاكُنَّ لِزَوْجِهَا، وَطَلَبِهَا مَرْضَاتِهِ، وَاتِّبَاعِهَا مُوَافَقَتَهُ، تَعْدِلُ ذَلِكَ كُلَّهُ
Sesungguhnya seseorang dari kalian mempergauli suami dengan sebaik-baiknya, serta mencari keridla-annya dan mengikuti persetujuannya, itu setara (pahalanya) dengan seluruh apa yang kau sebutkan (tentang amal-amal kaum lelaki).” [HR Baihaqi]

Dengan uraian di atas, hendaknya kepala rumah tangga tidak merekrut asisten rumat tangga dalam jumlah banyak sehingga menyisakan sedikit pekerjaan rumah yang bisa dikerjakan oleh suami, istri ataupun anak-anak. Dan ada pertimbangan lain, Abu Hamzah al-Kufi berkata :
لَا تَتَّخِذْ مِنَ الْخَدَمِ إِلَّا مَا لَا بُدَّ مِنْهُ، فَإِنَّ مَعَ كُلِّ إِنْسَانٍ شَيْطَانًا.
Janganlah engkau mengambil pembantu kecuali yang benar-benar diperlukan, karena bersama setiap manusia ada setan." [Ihya Ulumiddin]
Itu artinya menurut Assayyid Al-Murtadla bahwa memperbanyak orang (pembantu) sama halnya memperbanyak setan (masalah). [Ithafus Sadah Al-Muttaqin]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan setiap aktifitas bernilai pahala termasuk aktifitas dalam rumah tangga sendiri dengan niat ikhlas dan karena Allah Ta’ala.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

09/03/2026

MASUK SURGA DENGAN TAHLIL
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah RA, Rasul ﷺ bersabda :
نَادِ فِي النَّاسِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Umumkan kepada semua orang bahwa barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) maka ia akan masuk surga. [HR Ibnu Hibban]

_Catatan Alvers_

Ada pernyataan menarik ketika Al-Hasan Al-Bashri diberikan pertanyaan “Jika disuruh memilih di antara dua perkara, Shalat dua reka’at dan masuk surga mana yang kau pilih terlebih dahulu?” Beliau menjawab :
سَأَخْتَارُ الرَّكْعَتَيْنِ أَوَّلاً لِأَنَّ فِى أَدَائِهِمَا رِضَاءً لِرَبِّى وَفِى دُخُوْلِ الْجَنَّةِ رَضَاءً لِنَفْسِي وَأَوْلَى بِالْعَبْدِ الْمُؤَدَّبِ أَنْ يُفَضِّلَ رِضَاءَ رَبِّهِ عَلَى رِضَاءِ نَفْسِهِ
Aku memilih mengerjakan dua rekaat terlebih dahulu karena hal itu akan mendatangkan ridlo tuhanku sedangkan masuk surga itu merupakan ridlo diriku. Maka yang lebih utama bagi seorang hamba yang ber-adab agar dia mengutamakan ridlo tuhannya dari pada ridlo dirinya sendiri. [amrkhaled net]

Pernyataan ini dan semacamnya bukan berarti menafikan pentingnya surga dan menjadikan keinginan masuk surga menjadi hal yang tercela. Mengapa demikian? karena surga memang dijadikan oleh Allah sebagai kabar gembira agar manusia termotivasi untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman :
وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أَنَّ لَهُم جَنَّـٰتٍ تَجرِى مِن تَحتِهَا ٱلأَنهَـٰر
Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan ber-amal shalih, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai... [QS Al-Baqarah : 25].

Rasul ﷺ sendiri juga meminta surga dan mengajarkan agar kita juga meminta surga dalam lantunan doa kita. Rasul ﷺ pernah mengajarkan doa tersebut kepada sayyidah Aisyah RA, yaitu :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ
Ya Allah, sungguh aku memohon surga kepada-Mu dan semua perkataan atau perbuatan yang dapat mendekatkan diriku kepadanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan semua perkataan dan perbuatan yang dapat mendekatkan diriku kepadanya. [HR Ibnu Majah]

Kata “Surga” itu sudah cukup mewakili semua keindahan dan kenikmatannya. Sehingga Sa’d (bin Abi Waqqash) ketika mendengar anaknya berdoa :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيمَهَا وَإِسْتَبْرَقَهَا...
Ya Allah Aku memohon kepada-Mu surga, kenikmatannya dan sutera tebalnya...
Maka Sa’d berkata : sungguh engkau telah meminta kebaikan yang (terlalu) banyak kepada Allah... Aku telah mendengar Rasul ﷺ bersabda : Akan datang satu kaum di mana mereka berlebih-lebihan dalam berdoa. Allah berfirman “Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. [QS Al-A’raf: 55] Cukuplah bagimu doa “Allahumma inni As’alukal jannata mawa qarraba ilayha min qaulin wa amal..dst” [HR Ahmad]

Berdoa memohon surga merupakan keinginan yang baik. Lihatlah bagaimana sabda Nabi ﷺ :
مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتْ الْجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ
Barang siapa meminta surga kepada Allah sebanyak tiga kali maka surga akan berdoa “Ya Allah masukkanlah dia ke surga”. [HR Turmudzi]

Tidak hanya dengan perbuatan dan amal-amal besar, ternyata meraih surga bisa juga dengan cara mengucapkan kata-kata yang “ringan” misalnya dengan “kalimat tahlil” sebagaimana hadits utama di atas. Hadits riwayat Jabir tersebut dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan juga Albani mengatakan sanadnya shahih dan memasukkan dalam as-silsilah as-shahihah. Dalam riwayat lain, suatu ketika Rasul ﷺ memanggil Muadz dan beliau bersabda :
بَشِّرِ النَّاسَ أَنَّهُ مَنْ قَالَ: لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
Berilah kabar gembira kepada semua orang bahwa barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) maka ia akan masuk surga. [HR Thabrani]

Dalam riwayat yang lain, Rasul ﷺ memerintahkan Bilal agar mengumumkan bahwa :
مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ قَبْلَ مَوْتِهِ بِسَنَةٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَوْ شَهْرٍ أَوْ جُمُعَةٍ أَوْ يَوْمٍ أَوْ سَاعَةٍ
Barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) sebelum kematiannya satu tahun maka ia akan masuk surga, atau satu bulan, satu minggu, satu hari atau satu jam.

Bilal (menilai bahwa mudah sekali mendapat surga sehingga) Ia berkata : Kalau begitu nanti dikhawatirkan orang-orang akan berpegangan dengan sabda tersebut?. Rasul ﷺ menjawab : Ya, meskipun demikian. [HR Thabrani]

Kejadian serupa juga terjadi pada Abud Darda’ setelah mendengar orang yang membaca tahlil akan masuk surga maka ia bertanya kepada banginda Nabi ﷺ : Apakah orang yang membaca tahlil akan tetap masuk surga meskipun ia berzina dan mencuri? Rasul ﷺ menjawab : Ya, meskipun ia telah berzina dan mencuri. Abud Darda mulai mengabarkan kabar gembira tersebut, namun ketika Umar RA mengetahui hal ini maka Umar RA mencegahnya karena khawatir orang-orang gegabah karena berpegang dengan sabda Nabi tersebut. Abud Darda’ melaporkan pelarangan Umar RA tersebut dan Nabi ﷺ bersabda : Umar benar. [HR Ahmad]

Zaid bin Arqam meriwayatkan hadits di atas dengan tambahan, bahwa Rasul ﷺ bersabda :
مَنْ قَالَ : لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ مُخْلِصًا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Barang siapa yang mengucapkan “La Ilaha Illallah” (tiada Tuhan selain Allah) dengan ikhlas maka ia akan masuk surga.

Rasul ﷺ lalu memberikan penjelasan :
إِخْلاصُهُ أَنْ يَحْجُزَهُ عَمَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ
Ikhlas yang dimaksud adalah kalimat tahlil itu menghalanginya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah . [HR Thabrani]

Terdapat beberapa penjelasan mengenai hadits utama di atas. Al-Hasan Al-Bashri berkata : hadits tersebut masih global sehingga membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Maksud dari hadits tersebut adalah orang yang mengucapkan kalimat (tahlil) itu memenuhi hak dari kalimat tahlil dan kewajibannya. Dan Imam Bukhari berkata : kalimat tahlil bisa menjadikan masuk surga itu berlaku bagi orang yang mengucapkannya ketika menyesal dan bertaubat (atas maksiat) sehingga ia mati di atas kalimat tahlil tersebut. Terdapat juga pendapat dari Ibnul Musayyib dll bahwa hadits tersebut terjadi sebelum turunnya beberapa kewajiban, perintah dan larangan. Namun Imam nawawi mengatakan pendapat tersebut lemah bahkan bathil, dikarenakan salah satu perawi haditsnya adalah Abu Hurairah RA dan ia masuk Islam belakangan yaitu pada tahun terjadinya perang Khaibar yaitu tahun Ke 7 H di mana saat itu syariat islam telah tetap dan mayoritas kewajiban sudah ditetapkan seperti sholat, zakat, puasa dll. bahkan juga ibadah haji menurut satu pendapat. [Tuhfatul Ahwadzi]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk istiqamah menjalankan apapun yang menjadi ajaran Nabi ﷺ baik berupa perkataan maupun perbuatan sehingga kita masuk surga dan dapat berkumpul bersama dengan beliau.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi ﷺ menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

22/02/2026

Semoga Rahasia Langit (1000 Bulan) Memberkahi Kita Semua Atas Izin Allah SWT

22/02/2026

Tentang Mereka SANTRI Annur 2

PUASA BATHIN*ONE DAY ONE HADITH* Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِ...
21/02/2026

PUASA BATHIN
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW Bersabda :
كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya melainkan lapar saja.” [HR Ahmad]

_Catatan Alvers_

Puasa dalam bahasa Arab disebut dengan shaum. Shaum sendiri bermakna menahan. Puasa didefinisikan dengan :
إِمْسَاكٌ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ
menahan diri dari perkara yang membatalkan dengan cara tertentu. [Fathul Wahhab]

Ditinjau dari sisi bathin, puasa memiliki beberapa tingkatan. Dalam Ihya ulumiddin, Imam Ghazali berkata :
اِعْلَمْ أَنَّ الصَّوْمَ ثَلاثُ دَرَجَاتٍ: صَوْمُ الْعُمُومِ وَصَوْمُ الْخُصُوصِ وَصَوْمُ خُصُوصِ الْخُصُوصِ.
Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga derajat : Puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil khusus. [Ihya ulumiddin]

Lebih lanjut Imam Ghazali menjelaskan : Pertama, Puasa umum dan ini merupakan puasanya kebanyakan orang (awam) yaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan dari syahwat. Kenyataannya memang demikian. Kebanyakan orang berpuasa berpinsip yang peting tidak makan minum dan tidak berjima’ dengan istri di siang bulan ramadhan.

Kedua, Puasa khusus dan ini merupakan puasanya orang-orang shalih. Yaitu menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dan ini adalah puasanya orang-orang shalih. Kesempurnaan puasa tingkatan ini adalah dengan enam perkara yaitu :

(1) Menjaga Pandangan dari melihat hal-hal tercela, yang membangkitkan syahwat, atau melalaikan dari mengingat Allah. Nabi SAW bersabda:
النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ، فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
“Pandangan (yang haram) adalah salah satu anak panah beracun dari panah-panah Iblis. Maka barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah Azza wa Jalla, maka Allah akan memberinya iman yang manisnya dapat ia rasakan dalam hati.” [HR Al-Hakim]

(2) Menjaga Lisan dari ucapan sia-sia, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, debat kusir dan mengisi lisan dengan dzikir dan tilawah. Mujahid berkata :
خَصْلَتَانِ يُفْسِدَانِ الصِّيَامَ: الغِيبَةُ وَالكَذِبُ
“Dua perkara yang merusak puasa yaitu ghibah dan dusta.” [Ihya]

Diriwayatkan bahwa ada dua orang wanita berpuasa pada masa Rasul SAW. Menjelang sore, keduanya sangat lapar dan haus hingga hampir pingsan. Lalu mereka mengirim utusan kepada Rasul untuk meminta izin berbuka. Rasul SAW mengirimkan sebuah bejana dan bersabda : Katakan kepada mereka, muntahkanlah ke dalam bejana ini apa yang kalian makan. Maka salah satunya memuntahkan setengah bejana berupa darah segar dan daging mentah, dan yang lain memuntahkan hal yang sama hingga penuh. Orang-orang pun keheranan melihat hal itu. Rasul SAW bersabda:
هَاتَانِ صَامَتَا عَمَّا أَحَلَّ اللَّهُ لَهُمَا وَأَفْطَرَتَا عَلَى مَا حَرَّمَ اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِمَا
“Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang Allah halalkan bagi mereka, tetapi berbuka dengan apa yang Allah haramkan atas mereka”.
Keduanya duduk bercengkrama sambil maka daging manusia (yaitu dengan menggunjing mereka). [HR Ahmad]

(3) Menjaga Pendengaran dari hal-hal yang haram, seperti ghibah atau kebohongan. Allah menyamakan pendengar kebohongan dengan pemakan harta haram. Nabi SAW bersabda:
المُغْتَابُ وَالمُسْتَمِعُ شَرِيكَانِ فِي الإِثْمِ
“Penggunjing dan pendengar ghibah adalah sekutu dalam dosa.” [Ihya]

(4) Menjaga Anggota Tubuh Lain seperti tangan, kaki, dan seluruh anggota dari perbuatan maksiat. Menjaga perut dari makanan haram atau syubhat saat berbuka. Puasa seseorang akan sia-sia jika ia menahan diri dari perkara yang halal namun ia berbuka dengan perkara yang haram. Imam Ghzali berkata : “Perumpamaan orang yang berpuasa tetapi tetap melakukan hal-hal yang merusak puasanya”,
مِثَالُ مَنْ يَبْنِي قَصْرًا وَيَهْدِمُ مِصْرًا
“seperti orang yang membangun sebuah istana namun meruntuhkan kota”.

Sesungguhnya makanan halal itu membahayakan bukan karena jenisnya, melainkan karena banyaknya. Maka puasa bertujuan untuk mengurangi jumlah makanan. Orang yang meninggalkan banyaknya obat karena takut mudarat, lalu beralih kepada racun, adalah orang yang bodoh. Yang haram itu ibarat racun yang membinasakan agama, sedangkan yang halal itu ibarat obat: sedikitnya bermanfaat, banyaknya membahayakan. Tujuan puasa adalah untuk mengurangi (makanan halal) agar tidak berlebihan.” [Ihya]

(5) Tidak Berlebihan dalam Memakan makanan yang Halal saat berbuka. Bukankah tujuan puasa itu adalah melemahkan syahwat dan nafsu. Jika seseorang ketika puasa di bulan ramadhan takaran makanannya sama saja dengan ketika tidak puasa, maka ruh puasa jadi hilang dan puasa menjadi sia-sia sebab Ia hanya memindah jam makan saja.

(6) Hati antara Khauf (cemas) dan Raja’ (penuh harap) setelah seseorang berbuka puasa. Takut kalau puasanya ditolak namun ia berharap agar diterima. Demikian p**a sikap ini harus tetap ada setelah ibadah dilakukan. Diriwayatkan dari Al-Hasan al-Bashri, bahwa ia pernah melewati suatu kaum yang sedang tertawa. Maka ia berkata: ‘Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menjadikan bulan Ramadan sebagai gelanggang perlombaan bagi hamba-hamba-Nya, di mana mereka berlomba di dalamnya untuk taat kepada-Nya. Maka ada kaum yang mendahului lalu menang, dan ada kaum yang tertinggal lalu rugi. Maka sungguh mengherankan, sangat mengherankan, orang yang tertawa dan bermain pada hari ketika para pemenang telah berhasil dan para yang lalai telah gagal.
أَمَا وَاللهِ لَوْ كُشِفَ الغِطَاءُ لاشْتَغَلَ المُحْسِنُ بِإِحْسَانِهِ وَالمُسِيءُ بِإِسَاءَتِهِ
Ingatlah Demi Allah, seandainya tirai penutup itu disingkap, niscaya orang yang berbuat baik akan sibuk dengan kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk akan sibuk dengan keburukannya. [Ihya]
Maksudnya kegembiraan orang yang diterima amalnya melupakannya akan bermain-main, sementara penyesalan orang yang ditolak amalnya akan menjadikannya tidak bisa tertawa.

Imam Ghazali berkata : Manusia kedudukannya di atas binatang karena manusia memiliki akal sementara hewan tidak memilikinya, tetapi manusia di bawah derajat malaikat karena manusia memiliki syahwat sedangkan malaikat tidak memilikinya. Jika manusia memperturukan syahwatnya maka derajatnya turun ke derajat asfalas safilin, derajat paling rendah dan bergabung dengan golongan hewan. Namun jika manusia mampu mengendalikan syahwatnya maka derajatnya naik ke derajat a’la illiyin. Derajat paling tinggi dan bergabung dengan derajat malaikat.
Malaikat itu didekatkan dengan Allah. Maka siapa saja yang bisa meneladani malaikat serta menyerupai akhlak mereka, maka ia akan dekat dengan Allah sebagaimana kedekatan malaikat. Sesungguhnya (manusia) yang menyerupai dengan yang dekat (malaikat), maka ia (manusia) pun menjadi dekat p**a (seperti malaikat).
وَلَيْسَ القُرْبُ ثَمَّ بِالمَكَانِ بَلْ بِالصِّفَاتِ
Dan kedekatan disitu bukanlah dengan tempat, melainkan dengan sifat.” [Ihya]

Ketiga, Puasa khususil khusus dan ini merupakan puasanya para nabi, Shiddiqin dan Al-Muqarrabin. Yaitu puasa hati dari ambisi rendah dan pikiran duniawi, serta menahannya dari segala sesuatu selain Allah Ta‘ala sepenuhnya. Puasa ini batal dengan memikirkan selain Allah dan hari akhir, serta dengan memikirkan urusan dunia—kecuali dunia yang dimaksudkan untuk agama, karena itu termasuk bekal akhirat dan bukan bagian dari dunia.

Wallahu A’lam. Semoga Allah Al-bari membuka hati dan pikiran kita untuk menjadikan puasa kita tidak hanya urusan menahan perut namun juga urusan semua anggota badan bahkan urusan hati.
Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata
Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
Jangan pelit berbagi ilmu. Sufyan Ats-sauri berkata : “Barang siapa pelit berbagi ilmu maka ia akan ditimpa satu dari tiga perkata : (1) lupa, (2) wafat tanpa manfaat dan (3) catatan ilmunya hilang”. [Al-Majmu’]

WAR TAKJIL *ONE DAY ONE HADITH* Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda : لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ...
20/02/2026

WAR TAKJIL
*ONE DAY ONE HADITH*

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasul SAW bersabda :
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu tuhannya. [HR Muslim]

_Catatan Alvers_

Tiap Ramadan ada topik yang hangat di media sosial yaitu “War takjil” (berburu makanan buka puasa yang juga dilakukan oleh non muslim). Momen ini memperlihatkan antusiasme masyarakat non-Islam yang disingkat dengan istilah “Nonis” dalam membeli makanan takjil. Bahkan viral video pendeta Gereja Tiberias Indonesia yang berkata : "Agama kita toleran, tapi takjil kita duluan. Jam 3 mereka masih lemas, jam 3 kita sudah stand by." [fakta com] ada juga pendeta yang memberi instruksi : “Disampaikan bagi seluruh jemaat bahwa pembukaan penjualan takjil dimulai pada jam 3 sore jadi diharapkan untuk tetap berburu takjil”. [ig obouthetic]

Terlepas dari pro kontra pendapat netizen, maka saya melihat bahwa fenomena ini semakin membuktikan kebenaran hadits Nabi SAW di atas yaitu : “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu bahagia ketika berbuka dan bahagia ketika bertemu tuhannya”. [HR Muslim] bahkan dari dahsyatnya sabda Nabi ini, mereka para nonis juga ikut bahagia dan senang dengan makanan takjil yang pada awalnya disiapkan hanya untuk dijual ke orang-orang islam yang berpuasa. Subhanallah!.

Istilah takjil berasal dari bahasa Arab “Ta’jil” yang merupakan bentuk mashdar dari Fiil Madli Mudlari, Ajjala Yu’ajjilu yang artinya menyegerakan. Maka Takjil dalam kamus didefinisikan sebagai mempercepat berbuka puasa. [KBBI] Tentunya takjil ini dilaksanakan setelah masuk waktunya (maghrib). Imam Bukhari dalam Shahihnya menulis Bab ini secara khusus yaitu Babu Ta’jilil Ifthar (Bab mengenai menyegerakan berbuka puasa).

Disunnahkan untuk menyegerakan berbuka puasa jika sudah yakin maghrib tiba. Dan makruh menunda buka puasa jika dilakukan dengan sengaja dan disertai keyakinan akan baiknya penundaan tersebut. [Ianatut Thalibin] Suatu ketika Abu Athiyyah dan Masruq (keduanya adalah tabi’in) bertanya kepada Aisyah. “Wahai Ummul Mukminin, Ada dua orang sahabat yang satu ia menyegerakan berbuka puasa dan menyegerakan shalat (maghrib) dan yang kedua, ia mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan shalatnya”. Maka Aisyah pun bertanya, "Siapa yang menyegerakan berbuka dan shalat?" Mereka menjawab : "Abdullah (Ibnu Mas'ud)." Aisyah berkata :
كَذَلِكَ كَانَ يَصْنَعُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Seperti itulah yang diperbuat oleh Rasul SAW."
Abu Kuraib menambahkan : Orang kedua yang dimaksud adalah Abu Musa. [HR Muslim] dan dalam riwayat lain redaksinya adalah orang yang menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur dan orang yang mengakhirkan berbuka puasa dan menyegerakan sahur. [HR An-Nasa’i]

Anas bin Malik berkata : Rasul SAW berbuka sebelum shalat mahgrib dengan beberapa Rutab (Kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering) dan jika tidak ada, maka beliau minum beberapa teguk air. [HR Abu Dawud] Rasul SAW bersabda :
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka puasa.” [HR Bukhari]
Dalam riwayat lain terdapat tambahan :
عَجِّلُوا الْفِطْرَ فَإِنَّ الْيَهُودَ يُؤَخِّرُونَ
Segerakanlah berbuka puasa karena orang Yahudi mengakhirkan buka puasanya. [HR Ibnu Majah]

Menyegerakan berbuka puasa merupakan perilaku yang dicintai Allah. Dalam hadits disebutkan :
إِنَّ مِنْ أَحَبِّ الْعِبَادِ اِلَى اللهِ مَنْ كَانَ أَعْجَلَ إِفْطَارًا
Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling menyegerakan berbuka puasa. [HR Ibnu Hibban]

Tidak hanya menganjurkan, Nabi SAW sendiri juga melakukannya. Beliau bersabda :
أُمِرْنَا مَعَاشِرَ الأَنْبِيَاءِ أَنْ نُعَجِّلَ إِفْطَارَنَا وَنُؤَخِّرَ سُحُورَنَا وَنَضْرِبَ بِأَيْمَانِنَا عَلَى شَمَائِلِنَا فِى الصَّلاَةِ
Kami para Nabi, diperintahkan agar menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur serta meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika shalat. [HR Daruqutni]

Para sahabat juga demikian, Amru bin Maimun berkata :
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْرَعَ النَّاسِ إِفْطَارًا وَأَبْطَأَهُ سُحُورًا
Para sahabat Nabi SAW mereka adalah orang yang paling awal berbuka dan paling akhir sahurnya. [Mushannaf Abdir Razzaq]

Dari uraian keutamaan takjil di atas maka wajar jika dalam hadits disebutkan :
مِنْ فِقْهِ الرَّجُلِ فِي دِيْنِهِ تَعْجِيْلُ فِطْرِهِ وَتَأْخِيْرُ سُحُوْرِهِ
Di antara tanda seseorang paham agamanya adalah menyegerakan berbuka puasanya dan mengakhirkan sahurnya. [HR Ibnu Asakir]

Selanjutnya mengenai sisi kebahagiaan berbuka puasa yang terdapat pada hadits utama di atas, Al-Qurthubi berkata : “bahagia yang dimaksud disebabkan lepasnya dahaga dan hilangnya lapar dengan berbuka puasa. Ini adalah kebahagiaan alamiyah dan ini adalah perkara yang dipahami secara spontan. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa kebahagiaan yang yang dimaksud adalah kebahagiaan karena seseorang bisa menyempurnakan puasanya, merampungkan ibadahnya dan mendapat dispensasi dari tuhannya serta pertolongan untuk puasa kedepannya”. Lalu ia berkata :
قُلْتُ وَلَا مَانِعَ مِنَ الْحَمْلِ عَلَى مَا هُوَ أَعَمُّ مِمَّا ذُكِرَ فَفَرْحُ كُلِّ أَحَدٍ بِحَسَبِهِ لِاخْتِلَافِ مَقَامَاتِ النَّاسِ فِي ذَلِكَ
Dan menurutku tidak ada masalah jika kebahagiaan itu dipahami dengan jangkauan yang lebih luas dari itu karena setiap akan orang merasakan kebahagiaan yang berbeda-beda sesuai dengan taraf kedudukannya masing-masing. [Fathul Bari]

Al-Baihaqi berkata : “Kebahagiaan tersebut dirasakan karena seseorang akan mendapatkan pahala yang luar biasa yang tak seorangpun tahu akan hakikatnya dan juga dikarenakan ia diperbolehkan untuk berbuka serta ia dilarang mengakhirkan bukanya sehingga ia menyambung puasa (wishal) dengan esok harinya, karena yang demikian itu akan dapat menyebabkan kebinasaannya. Dan lagi terdapat janji bahwa orang yang berpuasa akan mendapatkan doa mustajabah ketika berbuka serta harapan mendapatkan kebahagiaan kelak di hari kiamat karena mendapat pahala yang besar”. [Syu’abul Iman]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk selalu meneladani sunnah Nabi dalam berpuasa sehingga kita bisa merasakan dua kebahagiaan karena puasa kita.

Salam Satu Hadits
Dr.H.Fathul Bari.,SS.,M.Ag

Pondok Pesantren Wisata
AN-NUR 2 Malang Jatim
Ngaji dan Belajar Berasa di tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB.
“Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada supaya sabda Nabi SAW menghiasi dunia maya dan menjadi amal jariyah kita semua.

Address

Malang

Telephone

+6285745441897

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when GUS GUS Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to GUS GUS Indonesia:

Share

Category