21/09/2025
Kebenaran adalah cahaya yang menghilangkan kegelapan.
— Al-Ghazali
Dalam Mishkāt al-Anwār, Al-Ghazālī membahas bahwa Allah adalah “Cahaya langit dan bumi” (Quran 24:35). Cahaya ini bukan sekadar metaforis yang indah, tetapi menunjukkan kehadiran realitas ilahi yang menerangi jiwa manusia. Kebenaran di sini adalah seperti cahaya yang menerangi; tanpa cahaya, manusia tetap dalam kegelapan kebodohan, keraguan, dan kesalahan.
Agar cahaya kebenaran itu bisa “menerangi”, hati manusia harus dibersihkan dari nafs (ego, keinginan buruk, kebiasaan duniawi) dan dari kebiasaan berpikir yang salah. Proses ini sering dibahas dalam Ihya’ Ulum al-Din: melalui ibadah, zikir, introspeksi, muhasabah, etc. Kegelapan batin (ignorance, hawa nafsu, kebiasaan keliru) harus dikikis agar cahaya — yakni kebenaran — bisa muncul dengan jelas.
Al-Ghazālī juga membedakan antara pengetahuan yang bersumber dari dalil, nalar, pengalaman indrawi, dan yang bersumber dari wahyu atau cahaya batin (ilham, kasyf). Kadang “kebenaran” terselubung oleh “ilusi” (mispersepsi, dogma kosong, kesalahpahaman). Cahaya kebenaran berfungsi untuk mengungkap ilusi ini, untuk menghilangkan keraguan dan kebingungan yang digambarkan sebagai “kegelapan.”
Bagi Al-Ghazālī, kebenaran tidak cukup sekadar dihafalkan atau dipahami secara teoritis; dia harus dirasakan, dialami, dihayati dalam kehidupan batin dan moral. Cahaya kebenaran akan terlihat dalam perbuatan: kejujuran, kasih sayang, ketulusan, dan pengabdian. Manusia yang benar-benar menerima cahaya itu tidak lagi hidup di dalam kegelapan dosa, kebohongan, kebencian, dll.