TPQ AL MUSTHAFAWIYYAH

TPQ AL MUSTHAFAWIYYAH Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from TPQ AL MUSTHAFAWIYYAH, Muaralembu.

20/08/2020
Indah Nya Kepungan.....
27/08/2019

Indah Nya Kepungan.....

Perbedaan Salaf, Salafi, dan SalafiyahMembicarakan makna “salaf” tidak hanya terpaku pada satu makna. Sebagaimana yang k...
16/06/2019

Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah

Membicarakan makna “salaf” tidak hanya terpaku pada satu makna. Sebagaimana yang kita tahu bahwa Bahasa Arab itu memiliki banyak makna dalam satu kata bakunya yang jika dikembangkan ke berbagai wazan, maka artinya pun beda, begitu juga denga perbedaan harakat.

Istilah ini sejak dulu sudah digunakan di Indonesia, contohnya pesantren salafiyah yang berarti metodenya masih menggunakan metode salaf dalam proses menyalurkan pengetahuan, yaitu sorogan dan bandongan atau dalam istilah ilmu hadits yaitu tahammul wal ada’ via qira’ah ‘ala syaikh (murid membaca kepada guru) atau sima’ min syaikh (guru yang membaca dan murid yang mendengarkan).

Akhir-akhir ini p**a banyak kelompok yang mendakwahkan dirinya sebagai pengikut salafi. Jika ada sebagian orang desa mendengar istilah itu, maka langsung terbersit makna pesantren salafiyah yang tersebar di desa mereka, atau santri-santri pondok tersebut, padahal yang dimaksud bukanlah itu.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid (yang disusun oleh Dr Abdul Hamid Ali Izz Al-Arab, Dr Shalah Mahmud Al-‘Adily, dan Dr Ramadhan Abdul Basith Salim, ketiganya dosen Al-Azhar Mesir), kita perlu membedakan ketiga istilah di atas karena satu di antara tiga istilah itu berbeda dengan yang lainnya.

Adapun istilah “Salaf” yaitu para sahabat, tabi’in dan atba’it tabiin yang hidup sampai batas 300 H. Merekalah sebaik-baiknya generasi, sebagaimana termaktub dalam hadits nabi SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari dengan sanad dari Abdullah bin Mas’ud dari nabi SAW:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ يَجِئُ قَوْمٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمَيْنُهُ وَ يَمَيْنُهُ شَهَادَتُهُ

Artinya, “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian yang setelahnya lagi (atba’it tabi’in), kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannnya mendahului sumpahnya, dan sumpahnya mendahului persaksiannya.”

Meskipun definisi mereka sampai batas 300 H, di sini ada catatan penting yaitu keselarasan mereka dengan Al-Quran dan Hadits. Jika hanya hidup pada rentang masa 300 H tetapi kontradiksi dengan kedua pedoman ini, maka tidak disebut sebagai salaf. Salah satu contohnya adalah sekte musyabbihah yang hidup pada masa itu.

Musyabbihah adalah kelompok tekstualis dalam membaca Al-Quran dan hadits yang meyakini bahwa Allah serupa dengan makhluk-Nya, yaitu memiliki anggota tubuh antara lain bertangan, berkaki, bermulut, bermata, dan seterusnya.

Adapun “salafi” adalah mereka (ulama maupun orang biasa) yang datang setelah 300 H dan dinisbahkan pada kaum salaf yang telah disebutkan di atas, juga menganut manhajnya (metode). Istilah ini dapat dikaitkan dengan semua orang yang yang mengikuti manhaj salaf, bahkan kita pun bisa, namun itu terjadi jika memang benar-benar perilaku dan manhajnya berdasarkan salaf, bukan hanya menyandang titel salafi tetapi perilakunya berbeda.

Terakhir adalah salafiyyah yang difondasikan dan disusun oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (728 H) dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (751H) dari Al-Quran, Hadits, perbuatan serta perkataan ulama salaf dan mengodifikasikannya dalam bentuk kitab khusus dan prinsip yang tetap. Unsur-unsur dalam kitab kedua ulama itu memang sudah ada sebelumnya, namun masih berserakan terpisah, kemudian barulah dikumpulkan.

Setelahnya munculah Muhammad bin Abdil Wahhab (1206 H) yang menyebarkan apa yang disusun oleh kedua ulama tadi, Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah Rahimahumallah di jazirah arab, ia berpegang teguh pada beberapa risalah dan ikhtisar yang dikutip dari kitab-kitab Ibnu Taimiyyah.

Mengutip dari kitab Nazarat fi Jauharatit Tauhid, terdapat catatan yang menurut saya penting dari perkataan salah seorang peneliti di dalam kitab Al-Fikrul Islamy Al-Hadits karya Dr Abdul Maqshud Abdul Ghani, “Jika kita membandingkan antara pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah dalam beberapa masalah akidah hampir keduanya sama dan tidak berbeda, kecuali Ibnu Taimiyyah telah merinci pendapatnya dan menguatkannya dengan dalil-dalil dan hujjah, serta membantah pendapat orang yang berseberangan dengannya dengan dalil dan sanad. Sedangkan Muhamad bin Abdul Wahhab hanya mennyebutkan keterangannya secara singkat saja.”

Hal yang menonjol dari ketiganya hanya dari segi waktu dan pijakan dalam berpegang pendapat, jika salafy itu memang orang-orang yang menisbahkan dirinya sebagai pengikut manhaj salaf atau Ahlussunah wal Jamaah, salafiyyah lebih condongnya disebut usaha regenerasi, meskipun dalam beberapa realitanya tidak begitu.

Sebagai warga Indonesia, banyak istilah naturalisasi dari bahasa lain yang kita gunakan di kehidupan keseharian secara umum, seperti tadi pondok pesantren salafiyah. Lagi-lagi kita harus mencermati suatu istilah berdasarkan makna, substansi, dan intisarinya. Jangan terpaku pada sisi zahirnya saja. Adakalanya suatu istilah berbeda antara praktik dan substansinya. Wallahu a’lam. (Amien Nurhakim)

MBAH KYAI DALHAR, WALIYULLAH KETURUNAN RAJA YANG TAK GILA TAHTA • Kelahiran dan Latar Belakang Mbah Dalhar Mbah Kyai Dal...
06/02/2019

MBAH KYAI DALHAR, WALIYULLAH KETURUNAN RAJA YANG TAK GILA TAHTA

• Kelahiran dan Latar Belakang
Mbah Dalhar Mbah Kyai Dalhar lahir di komplek Pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H atau 10 Syawal 1798 – Je (12 Januari 1870 M). Ketika lahir beliau diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang da’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo. Kyai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kyai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja,
Kyai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning. Diriwayatkan, Kyai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena beliau memang lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Beliau hidup menyepi di daerah Godean, Yogyakarta yang sekarang desa tempat beliau tinggal itu dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang putera beliau yang bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama.
Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama- sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran. Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis-habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure-figure yang dapat membantu perjuangan beliau melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat. Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kyai Abdurrauf. Pesantren Kyai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh puteranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara di tempat yang sekarang dikenal dengan Dukuh Santren (masih dalam Desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kyai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kyai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser ke arah sebelah barat di tempat yang sekarang bernama Watu Congol. • Lebih Dekat Mengenal Mbah Dalhar Mbah Kyai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak- kanaknya, beliau belajar al- Quran dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kyai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, Mbah Kyai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kyai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Di sini beliau belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun. Sesudah dari Salaman, Mbah Kyai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Saat itu beliau berusia 15 tahun. Oleh ayahnya, Mbah Kyai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syaikh as- Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, atau yang dikenal dengan Syaikh Abdul Kahfi ats- Tsani. Delapan tahun Mbah Kyai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayah beliau sendiri pada Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al- Hasani. • Mbah Dalhar Belajar ke Makkah Sekitar tahun 1314 H/ 1896 M, Mbah Kyai Dalhar diminta oleh gurunya, Syaikh as-Sayyid Ibrahim bin Muhammad al-Jilani al-Hasani, untuk menemani putera laki-laki tertuanya yang bernama Sayyid Abdurrahman al-Jilani al-Hasani mencari ilmi ke Makkah al-Mukarramah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuritauladani atas ketaatan dan keta’dziman Mbah Kyai Dalhar pada gurunya. Namun akan kita tulis pada segmen lainnya. Syaikh as-Sayid Ibrahim bin Muhammad al- Jilani al- Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayyid Abdurrahman al- Jilani al-Hasani kepada kerabat beliau yang berada di Makkah. Kerabat Syaikh Ibrahim al-Hasani waktu itu selaku M***i Syafi’iyyah Makkah, yakni Syaikh as- Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani (ayah Syaikh as-Sayid Muhammad Sa’id Babashol al-Hasani). Sayyid Abdurrahman al-Hasani bersama Mbah Kyai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang. Saking ta’dzimnya Mbah Kyai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayyid Abdurrahman. Padahal Sayyid Abdurrahman telah mempersilakan Mbah Kyai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok Mbah Kyai Dalhar. Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), Mbah Kyai Dalhar dan Sayyid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syaikh as-Sayyid Muhammad Babashol al- Hasani, yaitu di daerah Misfalah. Sayyid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syaikh as-Sayid Muhammad Babashol al- Hasani selama 3 bulan, karena beliau diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu Mbah Kyai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar di tanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun. Syaikh as-Sayyyid Muhammad Babashol al- Hasani inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” pada Mbah Kyai Dalhar. Hingga akhirnya beliau memakai nama Nahrowi Dalhar, dimana nama Nahrowi adalah nama asli beliau dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syaikh as-Sayyid Muhammad Babashol al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt., Mbah Kyai Nahrowi Dalhar di belakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kyai “Dalhar”. Ketika berada di Hejaz inilah Mbah Kyai Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah Syadziliyyah dari Syaikh Muhtarom al-Makki dan ijazah aurad Dalailul Khairat dari as-Sayyid Muhammad Amin al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini di belakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan nama beliau di Jawa. • Riyadhah dan Amaliah Mbah Dalhar Mbah Kyai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Sehingga pantas saja jika menurut riwayat shahih yang berasal dari para ulama ahli hakikat, para sahabatnya, beliau adalah orang yang amat akrab dengan Nabiyullah Khidhir As. Sampai-sampai ada putera beliau yang diberi nama Khidhir karena tafaulan (mengharap berkah) dengan Nabiyullah Khidhir As. Sayang putera beliau yang cukup alim walau masih amat muda ini dikehendaki kembali oleh Allah Swt. ketika usianya belum menginjak dewasa. Selama di tanah suci, Mbah Kyai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun di suatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu p**a beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri-santriny a. Dalam hal adab selama di tanah suci, Mbah Kyai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk buang hajat, beliau lari keluar tanah Haram. Selain mengamalkan dzikr jahr ‘ala thariqatis syadziliyyah, Mbah Kyai Dalhar juga senang melakukan dzikir sirri. Ketika sudah tenggelam dengan dzikir sirrinya ini, Mbah Kyai Dalhar dapat mencapai 3 hari 3 malam tak dapat diganggu oleh siapapun. Dalam hal Thariqah Syadziliyyah, menurut KH. Ahmad Abdul Haq, Mbah Kyai Dalhar menurunkan ijazah kemursyidan hanya kepada 3 orang; yaitu Kyai Iskandar Salatiga, KH. Dimyathi Banten dan KH. Ahmad Abdul Haq. Sahrallayal (meninggalkan tidur malam) adalah juga bagian dari riyadhah Mbah Kyai Dalhar. Sampai dengan sekarang, meninggalkan tidur malam ini menjadi bagian adat kebiasaan yang berlaku bagi para putera-putera di Watucongol. • Karamah Mbah Dalhar Sebagai seorang Waliyullah, Mbah Kyai Dalhar mempunyai banyak karamah. Diantara karamah yang dimiliki oleh beliau ialah, saat memberikan pengajian suaranya dapat didengar sampai jarak sekitar 300 meter walau tidak menggunakan pengeras suara. Mbah Kyai Dalhar juga mengetahui makam-makam para wali yang sempat dilupakan oleh para ahli, santri atau masyarakat sekitar, dimana para wali tersebut pernah bertempat tinggal di tempat tersebut. Dan masih banyak lagi yang lainnya. • Kewafatan Mbah Dalhar Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kyai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M. Ada yang meriwayatkan beliau wafat pada 23 Ramadhan 1959. Akan tetapi 23 Ramadhan 1959 bukanlah hari Rabu namun jatuh hari Kamis Pahing. Menurut KH. Ahmad Abdul Haq (putera laki-laki mbah Kyai Dalhar), yang benar Mbah Kyai Dalhar itu wafat pada hari Rabu Pon. Sya’roni As-Samfuriy, Tegal 06 Oktober 2013.

SEWU WANITO ORA BAKAL CUKUP YEN MERGO NAFSU.SIJI WANITO ORA BAKAL KURANG YEN MERGO ATI. ---Ora ono wong omah omah sing t...
06/02/2019

SEWU WANITO ORA BAKAL CUKUP YEN MERGO NAFSU.
SIJI WANITO ORA BAKAL KURANG YEN MERGO ATI.
---
Ora ono wong omah omah sing tanpo masalah.
Gedhe utawo cilik mesti pernah ngalami kesempyok perkoro.
Wong wong sing duweni umur dowo anggone omah omah biasane wis ngalami mrangguli alangan sing abot.
Ora mung bab lahir nanging ugo bathin.
Lan wong wong mau tansah njogo katresnane.
Tansah menehi pangapuro sanadjan tansah dilarani.
Pancen abot lan loro ing ati, nanging roso loro ing bab ngene iki biso gawe murnine ati.
---
Tansah eling, yen wong omah omah kui dudu restoran.
Dudu panggonane wong milih panganan sing enak enak.
Ugo dudu lapangan bal balan.
Panggonane wong podho ganti tendang tendangan.

Nanging, wong omah omah kui tamane jiwo. Panggonan wong wong podho nyempurnak'ake Tegese, nglengkapi endi sing kurang lan mbatesi endi sing luwih.
---
TRESNO ORA MAWAS BONDHO LAN RUPO. PAWITANE AMUNG ATI SABAR NRIMO.

*ADAB DINILAI LEBIH DARIPADA MATERI*Banyak yang berusaha dengan sangat ( mati-matian ) menghias diri untuk menjadi sesem...
03/11/2018

*ADAB DINILAI LEBIH DARIPADA MATERI*

Banyak yang berusaha dengan sangat ( mati-matian ) menghias diri untuk menjadi sesempurna( seperfect ) mungkin tapi melupakan kualitas diri. Padahal kehormatan, harga diri, akhlaq, dan adab, itu lebih penting dari cantiknya fisik.
----
إِنَّ اللهَ لَا يَنظُرُ إِلَى أجسَامِكُم وَلَا إِلَى صَوَارِكُم. وَلٰكِن يَنظُرُ إِلَى قُلُوبِكُم ( الحديث )

*'Sesungguhnya الله tidak melihat jasmani kalian, dan tidak melihat rupa kalian. tetapi الله hanya melihat kepada hati kalian'*

16/09/2018
Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ ال...
19/05/2018

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ (3)

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash Shaff: 2-3).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan,

Kenapa kalian berkata kebaikan dan mengajak untuk berbuat baik, bahkan kalian terpuji dengan kebaikan tersebut, namun kalian sendiri tidak melakoni. Kalian melarang dari kejelekan dan menyucikan diri dari kejelekan tersebut, namun sebenarnya kalian sendiri menerjang dan senyatanya memiliki sifat yang jelek.

Address

Muaralembu

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when TPQ AL MUSTHAFAWIYYAH posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share