29/09/2022
“Jangan terjebak dengan narasi Penguasa, Perlawanan terhadap elit Papua yang Korup dan Penguasan di Jakarta harus di Lakukan.”
Penguasa (jakarta) terus membangun narasi seakan-akan kemiskinan, rendahnya sumber daya manusia, kurangnya kesejahteraan dan segalanya problem yang ada di Papua akibat dari watak elit politik di Papua yang Korup. Di lain sisi ada benarnya, namun semua itu dilakukan dengan tujuan menyembunyikan watak kolonialisme di Papua.
kita harus ingat bagwa Kemiskinan yang terjadi di Papua bukan akibat tunggal dari watak birokrasi yang korup itu tetapi, ada akumulasi primitif yang terjadi, perampokan sumber daya alam yang dilakukan sejak awal kolonialme Indonesia bercokol di Bumi Papua. Sejak papua di aneksasi secara paksa pada tahun 1963 dan melalui penentuan pendapat rakyat (PEPERA 1969) di dimenangkan dengan cara-cara biadab.
Benar bahwa kita tidak bisa memisahkan elit-elit Papua yang korup itu dengan penguasa di jakarta. Mereka merupakan satu kesatuan yang menjadi beban hidup bagi rakyat Papua, yang hanya menyengsarakan rakyat Papua dan Kedua-duanya harus disingkirkan dengan pemberontakan.
Rakyat Papua tidak punya alasan apapun untuk terjebak dalam politik identitas yang kerap digunakan elit Papua. Dan cara pandang sempit ini yang selalu digunakan oleh klas menengah, kelompok oportunis di Papua guna mencari dukungan mereka.
Kelas menengah di papua merupakan penjilat pantat elit-elit Papua, pelayan setia yang selalu mengunakan rakyat sebagai tumbal dengan melemparkan rakyat papua dalam jurang kekacauan demi kepentingan mereka. klas menegah ini selalu menguakan argumentasi bawah; kita harus mendukung lukas enembe karena dia orang Papua, dia gubernur terakhir, dia merupakan tokoh Papua yang mampu menentang jakarta dan lain sebagainya.
Pertanyaan-nya, kalau mampu menentang jakarta kenapa disaat rakyat papua melakukan perlawanan berdarah-darah saat menolak Otsus dan pemekaran tidak didukung oleh tingkatan elit-elit di Papua dengan konsolidasi untuk menolak Kebijakan Otsus dan Pemekaran? namun justru mendukung keberlanjutan Otsus dan pemekaran. itu artinya, mendukung lukas enembe atau siapapun elit Papua maka, sama saja kita membenarkan kolonialisme hidup makmur di Papua.
Untuk menghindari dari cara pandangan sempit diatas, Karl Marx sejak seratus tahun yang lalu telah memberikan kita senjata ilmiah nya kepada kita rakyat tertindas dalam guna memahami musuh sejati dengan menempatkan perjuangan klas sebagai basis perlawanan kita yang dituangkan dalam Manikom (manisfesto komunis) dalam bap Pendahuluannya dengan jelas menyatakan bahwa “sejarah dari semua masyarakat yang ada hingga hari ini adalah sejarah perjuangan klas”.
Artinya bawah, rakyat Papua tidak bisa melihat musuh dari sudut pandang identitas atau berdasarkan perbedaan Ras, Budaya, Agama, Gender dan lain sebagainya. ini artinya tidak serta merta elit-elit politik korup yang ada di birokrasi ini “orang Papua” sehingga harus di dukung. Tidak!
Mereka elit-elit papua datang dari latar belakang kelas yang berbeda, keberadaan mereka di dalam birokrasi merupakan representasi dari Kolonialisme dan kapitalsime di Papua yang telah hidup makmur dibawah perbudakan yang harus dilawan dengan Pemberontakan.
Holandia, 29 Spetember 2022
Jefry Wenda