30/11/2025
MEMILIKI HATI YANG TULUS (1)
Bacaan : Matius 1:18-25; 1 Samuel 25:26-31
Hati yang tulus adalah karakter yang menyenangkan dan memuliakan nama Tuhan. Setiap orang percaya diharapkan memiliki hati tulus, sebab Tuhan berkenan kepada mereka. Sosok tokoh dalam peristiwa Natal yang menggabarkan ketulusn hati ialah Yusuf. Ia pemuda Yahudi yang hidup sederhana, tulus hati dan bijak dalam mengambil keputusan. Langkah-langkah hidupnya melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Lebih dari pada itu ia bukan saja pemuda biasa, melainkan alat Tuhan yang didalamnya Yesus sang Juruselamat lahir ke dunia. Sebelum menjelaskan hal tentang ketulusan hati, ada baik memperhatikan teks di bawah ini:
Matius 1:18-25
1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. 1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat r Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus , karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." 1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 1:23 "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" --yang berarti: Allah menyertai kita. 1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, 1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
1 Samuel 25:14-19
25:14 Tetapi kepada Abigail, isteri Nabal, telah diberitahukan oleh salah seorang bujangnya, katanya: "Ketahuilah, Daud menyuruh orang dari padang gurun untuk memberi salam kepada tuan kita, tetapi ia memaki-maki mereka. 25:15 Padahal orang-orang itu sangat baik kepada kami; mereka tidak mengganggu kami dan kami tidak kehilangan apa-apa selama kami lalu-lalang di dekat mereka, ketika kami ada di ladang. 25:16 Mereka seperti pagar tembok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka. 25:17 Oleh sebab itu, pikirkanlah dan pertimbangkanlah apa yang harus kauperbuat, sebab telah diputuskan bahwa celaka akan didatangkan kepada tuan kita dan kepada seisi rumahnya, dan ia seorang yang dursila, sehingga orang tidak dapat berbicara dengan dia." 25:18 Lalu segeralah Abigail mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai,25:19 lalu berkata kepada bujang-bujangnya: "Berjalanlah mendahului v aku; aku segera menyusul kamu." Tetapi Nabal, suaminya, tidaklah diberitahunya.
Berdasarkan teks di atas dapat dipahami bahwa ketulusan hati ialah sikap yang dibangun secara positif dan mampu menangani masalah dengan rendah hati. Ketulusan menjelaskan bahwa dalam diri kita ada ada niat dna motivasi yang baik, bukan memperkeruh suasana melainkan memiliki tujuan dan keinginan melakukan hal-hal yang baik dan benar. Ketulusan mendorong kita memperbaiki keadaan, jika ada yang salah diakui dan diperbaiki, selain itu ketulusan menunjuk kepada adanya karakter yang baik bukan hanya untuk diri sendiri melainkan orang lain. Ketulusan adalah nilai Ilahi dalam diri kita mendorong perbuatan-perbuatan baik.
Tuhan memberkati