24/01/2026
Bersekolahlah.
Meski sekolah tidak selalu menjanjikan kamu akan menjadi kaya.
Tidak ada kontrak tertulis bahwa ijazah otomatis menaikkan gaji,
atau bahwa orang bersekolah pasti mengumpulkan uang lebih banyak dibanding mereka yang tak pernah duduk di bangku kelas.
Karena sejak awal, sekolah bukan program untuk mengisi saku dan dompet.
Sekolah adalah upaya mengisi otak, cara berpikir, dan nurani,
agar manusia mampu berjalan dengan akal sehat
dalam mewujudkan ihsan fid-dunya wal akhirah.
Namun realitas sering kali tak seindah kalimat di buku pelajaran.
Hari ini kita sering mendengar klaim manis:
“pemerintah diuntungkan dengan angka putus sekolah menurun”,
tetapi di saat yang sama,
“beban pendidikan semakin meningkat”.
Biaya seragam, buku, transportasi, kuota, hingga kegiatan tambahan
perlahan menjadi beban sunyi bagi orang tua.
Lalu pertanyaan yang jarang dijawab dengan jujur pun muncul:
“subsidi pendidikan ke mana?”
Sekolah terus didorong, anak-anak diminta bertahan,
namun setelah lulus mereka justru berhadapan dengan kalimat pahit:
“mau kerja apa?”
Seolah pendidikan hanyalah antrean panjang
menuju ketidakpastian.
Di titik ini kita perlu bertanya lebih dalam:
paradigma pendidikan ini tuntutan atau doktrin?
Mendidik manusia merdeka,
atau sekadar menyiapkan angka statistik dan laporan tahunan?
Ironisnya, mereka yang paling setia menjaga api pendidikan
sering justru berada di posisi paling rapuh.
Di daerah, di desa, di pelosok—
“setelah mengajar belasan tahun”,
kabar menyayat itu datang:
“guru honorer di Lombok Tengah banyak diberhentikan sepihak”.
Tanpa dialog.
Tanpa kepastian.
Tanpa penghargaan atas pengabdian.
Di sinilah sekolah seharusnya kembali kita maknai.
Bukan sekadar gedung, kurikulum, atau angka kelulusan.
Tetapi sebagai ruang memanusiakan manusia-
muridnya, gurunya, dan orang-orang yang hidup di dalamnya.
Karena pendidikan yang sejati
tidak hanya mencetak lulusan,
tetapi melahirkan kesadaran, keberanian berpikir,
dan keadilan yang nyata.