22/04/2026
Miris lihatnya dimana guru honorer di abaikan ketimbang pegawai MBG
Selama seperempat abad, Cacang Hidayat berjalan hampir sembilan kilometer setiap hari demi membuka pintu sekolah, menyapu halaman, menjaga ruang kelas, hingga mengelola perpustakaan kecil tempat anak-anak membaca dan bermimpi.
Dari Desa Sumurbandung menuju SMP Negeri 2 Cibadak, langkahnya tak pernah berhenti. Hujan, panas, jalan terjal semuanya sudah jadi teman setia perjalanan. Bukan karena upah besar. Bukan karena fasilitas mewah. Tapi karena satu hal: pengabdian.
Sebagai tenaga honorer, gajinya hanya berkisar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Angka yang bahkan sering kali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Di rumah berdinding bilik bambu yang mulai lapuk, Cacang tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Atap bocor, tiang rapuh, dan beberapa waktu lalu tertimpa pohon tumbang hingga nyaris roboh.
Setiap kali hujan turun, bukan hanya air yang menetes dari langit-langit. Ada rasa cemas yang ikut jatuh bersama derasnya hujan.
Namun di sekolah, ia tetap tersenyum. Disiplin. Bertanggung jawab. Dekat dengan siswa. Banyak anak mengenalnya bukan sekadar penjaga sekolah, tapi sosok yang selalu ada-membantu mencari buku, membuka gerbang pagi-pagi sekali, memastikan lingkungan tetap aman.
Dan pada 2025, setelah puluhan tahun setia mengabdi, secercah harapan itu akhirnya datang. Cacang dinyatakan lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya status administratif. Bagi Cacang, itu adalah harapan untuk memperbaiki rumah yang hampir roboh. Harapan agar anak-anaknya bisa tidur tanpa takut atap runtuh saat hujan.
"Harapan saya tidak muluk. Saya hanya ingin rumah yang layak untuk keluarga," ucapnya pelan.
Kisah Cacang adalah potret ribuan tenaga honorer di pelosok negeri. Mereka menjaga pendidikan tetap hidup, meski kehidupan mereka sendiri sering kali jauh dari kata layak.
Kadang, pahlawan itu bukan yang berdiri di panggung.
Tapi yang berjalan sembilan kilometer setiap hari, demi memastikan generasi berikutnya bisa bermimpi lebih tinggi.