ARP Melayani rescue ular area purwodadi dan sekitarnya free tidak di pungut biaya

Hay sobat ARP kali ini mimin mau bahas tenteng viper lagi nih... Di simak yha heheheUlar Hijau GunungBerbisa Tinggi dan ...
30/06/2021

Hay sobat ARP kali ini mimin mau bahas tenteng viper lagi nih... Di simak yha hehehe
Ular Hijau Gunung
Berbisa Tinggi dan Berbahaya
Suku : Viperidae
Anak Suku : Crotalinae
Marga : Trimeresurus
Spesies : Trimeresurus gunaleni
Panjang Maksimum : 1m / 100cm

Kontribusi pada ekosistem : Menjaga keseimbangan burung, tikus dan tikus pohon. Individu muda biasanya memangsa kodok atau kadal.

Bahaya bagi manusia: Ular ini berbisa tinggi seperti ular Viperidae lainnya.

Status konservasi dan ancaman : Trimeresurus gunaleni tidak memiliki masalah konservasi di Indonesia dan merupakan spesies yang sudah lama diketahui namun baru-baru ini keberadaannya ditermukakan.

Persebaran : Sumatera

Trimeresurus gunaleni merupakan spesies yang tidak lama baru dikemukakan informasi mengenainya. Ular ini tinggal di hutan hujan lembab pada daerah pegunungan hanya pada ketinggian paling rendah 1500m hingga 2000m, mungkin juga dapat ditemukan pada ketinggian 2200m. Ular ini tidak dapat ditemukan pada ketinggian lebih rendah dari 1500m, tidak seperti jenis ular beludak lainnya yang biasanya menghuni dataran rendah seperti P.sumatranus, T. gunaleni hanya dapat ditemukan pada daerah pegunungan tinggi.

Badan ular ini memanjang, gepeng vertikal, kapalnya segitiga agak memanjang. Tubuh ular ini berwarna hijau terang dengan sisik-sisik interstitial berwarna hitam yang menciptakan sosok cincin pudar yang berjangkau hingga seluruh bagian dorsal. mata ular ini berwarna hijau-kuning.

Daerah ventral berwarna kuning-hijau atau hijau polos. Buntutnya warna abu-abu merah, coklat karat atau abu-abu dengan beberapa cincin hijau pudar. Pada siang hari ular ini ditemukan berdiam di tanah, dibawah sebuah akar pohon, namun juga pernah ditemukan di atas pohon setinggi 2m diatas tanah. Spesies ini cenderung menghindari habitat dekat sumber air seperti air terjun. Ular ini memangsa pada tikus, amfibi dan kadal. Cara reproduksi ular ini belum diketahui.
Nah kali ajha ada yang mau request bisa chat pribadi atau komen di bawah yha.... 😊

ULAR DAN GIGITANNYAHai sobat ARP kali ini mimin mau bahas tentang macam" Gigi yang ada pada ular nih-Sebelumnya saya sud...
06/06/2021

ULAR DAN GIGITANNYA

Hai sobat ARP kali ini mimin mau bahas tentang macam" Gigi yang ada pada ular nih
-
Sebelumnya saya sudah membahas soal kesalahpahaman tentang ular, kali ini saya akan membahas ular dan gigitannya. Efeknya, jenis-jenisnya dan cara penanganannya.
Postingan ini dibuat dikarenakan keprihatinan saya terhadap banyaknya kasus gigitan ular yang berakibat fatal bagi korban karena ketidaktahuan masyarakat tentang ular dan cara penangan gigitan ular.
-
-
-
-
PERHATIAN :
Mengenal dan memahami dasar-dasar tentang ular bukan semena-mena diperuntukan hanya untuk mereka yang menyukai ular. Dengan memahami hal-hal dasar tentang ular kita dapat meminimalisir efek negatif yang sekiranya akan ditimbulkan oleh ular dan supaya kita tidak salah dalam menangani gigitan ular. Jika bertemu ular memang lebih baik tidak menanganinya seorang diri jika belum berpengalaman, tapi setidaknya jika sudah tahu dasar-dasar tentang ular maka hal-hal yang tidak diinginkan dapat diminalisir.
-
-
1. Taring Ular
Secara garis besar ular bisa dibedakan menjadi empat berdasarkan taringnya :
a. Tidak bertaring (dentisi agylpha)
Ular tidak bertaring adalah tipe ular yang tidak memiliki taring bisa dan kelenjar bisa, mereka tidak berbisa dan hanya memiliki gigi.
Tapi karena tidak berbisa bukan berarti ular tipe ini tidak berbahaya.
b. Taring belakang (dentisi opistoglhypa)
Taring belakang sering ditemukan pada ular-ular colubridae dan boiga. Taring pada ular jenis ini berada di belakang mulut dan cenderung berukuran kecil, karena hal ini gigitan dari ular taring belakang seringkali merupakan tipe gigitan kering (dry bite).
c. Taring depan tidak bergerak (dentisi proteroglypha)
Sering ditemukan pada ular elapidae seperti Kobra atau Weling. Taring tipe ini berukuran relatif kecil dan berada di depan mulut ular sehingga berpotensi mengakibatkan gigitan basah (wet bite).
d. Taring depan lipat (dentisi solenoglypha)
Ditemukan pada ular-ular viper, taring ini sangat khas dengan ukurannya yang besar, panjang dan dapat dikekuk ke belakang. Tidak seperti kedua tipe taring di atas taring tipe ini akan sangat sakit saat menembus kulit dan sangat besar kemungkinan mengakibatkan gigitan basah. Saat menggigit untuk melepaskanya terkadang juga sedikit sulit karena ukuran taring yang panjang dan besar.
-
-
-
2. Tipe Gigitan Ular Berbisa
Ular berbisa memiliki dua tipe gigitan, yaitu :
a. Wet Bite (gigitan basah)
Wet bite atau gigitan basah adalah gigitan dimana taring ular berhasil menusuk tubuh target dan ular mengalirkan bisa ke dalam tubuh. Tipe gigitan ini lah yang sering berakibat fatal bagi manusia.
b. Dry Bite (gigitan kering)
Kebalikan dari wet bite, dry bite merupakan gigitan dimana taring ular menembus tubuh target tetapi tidak mengeluarkan bisa sehingga bisa ular tidak masuk ke dalam tubuh. Gigitan ini sering dilakukan oleh ular bertaring belakang tapi tidak jarang ular bertaring depan tidak bergerak juga melakukan hal ini. Ular berbisa tinggi sekalipun jika gigitan yang dilakukan adalah dry bite biasanya tidak akan berakibat serius untuk manusia, sering terjadi pada Ular Picung.
Terkadang ada ular berbisa menengah atau tinggi menggigit dan kita tidak merasakan apa-apa, itu bukanlah kekebalan melainkan bisa jadi gigitan tersebut merupakan dry bite. Ada banyak faktor mengapa dry bite bisa terjadi seperti stok bisa yang sudah sedikit/habis atau ular tersebut yang memang tidak mau mengeluarkan bisa saat menggigit.
c. Cara mengetahui dry bite dan wet bite?
Sebenarnya saya sendiri tidak tahu cara membedakannya dikarenakan sulitnya mengidentifikasi bekas gigitan dan gigi apa yang digunakan ular berbisa untuk menggigit. Tapi biasanya saat digigit oleh ular berbisa menengah berbisa tinggi dan tidak terjadi apa-apa pada tubuh kita dapat di asumsikan bahwa gigitan tersebut merupakan dry bite. Tapi hal ini tidak 100% benar karena bisa juga disebabkan oleh perbedaan imun tubun.
-
-
-
3. Penanganan gigitan ular
a. Penanganan gigitan ular tidak berbisa
Jika tergigit ular tidak berbisa khususnya yang berukuran besar seperti piton bisa menyebabkan luka yang cukup serius mulai dari luka luar, kulit robek bahkan daging robek sampai terlihat
tulang. Penanganannya bervariasi tergantung parahnya luka, jika luka kecil cukup dibasuh atau ditangani seperti luka luar lain, jika cukup parah seperti terkelupasnya daging maka perlu dibawa ke fasilitas kesehatan untuk dijahit dsb.
Beberapa ular tipe ini juga memiliki bakteri di giginya seperti Koros, Jali, Lanang Sapi atau King Koros, jadi setelah tergigit sangat disarankan untuk membasuh luka yang ada sampai bersih.
b. Penanganan gigitan ular berbisa
Jika tergigit ular berbisa khususnya ular berbisa tinggi ada satu hal yang wajib dan perlu dilakukan, yaitu imobilisasi. Secara singkat imobilisasi dilakukan untuk meminimalisir gerakan pada bagian tubuh yang tergigit, hal ini sangat penting untuk memperlambat penyebaran bisa ular.
Imobilisasi dapat dilakukan dengan cara memgikatkan dua buah papan atau kayu lurus di bagian yang tergigit (dapat di lihat di gambar), dan harus dipastikan bahwa ikatan harus kuat. Setelah dilakukan imobilisasi segera bawa orang yang tergigit ke fasilitas kesehatan terdekat seperti rumah sakit untuk dilakukan penanganan secara medis.
c. Hal yang tidak boleh dilakukan
Ada beberapa hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan saat kita tergigit ular, khususnya ular tidak berbisa. Yaitu :
- Menyedot bisa
Menyedot bisa dari bagian yang tergigit sangat tidak disarankan, selain sia-sia hal ini terkadang malah membuat bisa semakin menyebar karena gerakan pada bagian tubuh.
- Mencabut gigit dengan paksa
Sama seperti gigitan hewan lain saat digigit ular khususnya ular tidak berbisa dengan gigi tajam seperti piton pencabutan secara paksa malah akan membuat ular menancapkan giginya lebih dalam, dan saat dicabut paksa kulit dan daging akan terkelupas dan menyebabkan luka yang sangat parah.
Pencabutan secara paksa pada ular bergigi kecil juga sering menyebabkan tertinggalnya sebagian gigi di dalam daging dan menyebabkan infeksi bahkan pembusukan. Pada ular berbisa pencabutan secara paksa juga terkadang menyebabkan ular menjadi takut dan menyuntikan bisa dengan dosis yang lebih banyak dan menyebabkan mereka menggigit semakin dalam sehingga menjadi sangat berbahaya.
- Mengikat bagian yang tergigit
Mengikat disini adalah mengikat pada bagian yang tergigit, hal ini sangat berbahaya karena pada bisa menyebabkan kematian jaringan dan akhirnya terjadi pembusukan sampai di amputasi.
- Menggerakan bagian yang tergigit
Saat tergigit ular berbisa sangat disarankan untuk tenang dan tidak sering menggerakan bagian yang tergigit, dengan sering menggerakannya maka akan memperburuk keadaan. Imobilisasi juga pada dasarnya dilakukan untuk membuat bagian yang tergigit tidak sering bergerak.
- Dibiarkan
Hal YANG SANGAT tidak boleh dilakukan. Jika kita tergigit oleh ular, sakit atau tidak kita harus melakukan penanganan pertama seperti imobilisasi. Banyak kasus dimana gigitan ular berbisa tinggi (seperti kobra atau weling) tidak ditangani karena korban merasa gigitan tidak sakit dan akhirnya menyebabkan kematian. Jika tidak tahu jenis ular apa yang menggigit SELALU lakukan langkah pertama yaitu imobilisasi dan bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Sumber gambar :
Panduan Bergambar Ular Jawa (Nathan Rusli)

Hay sobat arp kali ini mimin mau bahas tentang ular yang punya keahlian bisa menidurkan orang nih 😁 biasa didn't debut d...
20/04/2021

Hay sobat arp kali ini mimin mau bahas tentang ular yang punya keahlian bisa menidurkan orang nih 😁 biasa didn't debut dengan Bungarus candidus

Bisanya yang mematikan bisa dapat membunuh manusia apabila tergigit.

Ular Weling memiliki panjang tubuh yang sedang, ramping dan silindris kira-kira sekitar 1 meter.

Kepala Ular Weling berwarna hitam dengan jumlah belang sekitar 25-30.

Bentuk kepalanya datar dengan mata yang berukuran kecil dan hitam.

Sisik punggung halus dan mengkilap dengan garis vertebral membesar dan heksagonal. (1)

Dalam bahasa Inggris Ular Weling disebut sebagai Malayan Krait.

Dikenal dengan bisanya yang mematikan, tipe gigi Ular Weling adalah Proteglypa.

Proteglypa adalah jenis taring panjang yang berada di bagian depan mulut.

Ular weling dapat ditemukan di Asia Tenggara yaitu Thailand, Kamboja, Vietnam, dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi).Ular jenis ini banyak ditemui di hutan dataran rendah, perbukitan, dan di perkebunan dengan ketinggian hingga 1.200 mdpl.

Selain itu Ular Weling menyukai lokasi hutan yang kering dan panas seperti hutan mangrove, semak belukar, perkebunan atau lahan pertanian.

Ular Weling juga kerap ditemukan muncul di pemukiman warga. (3)

Ular Weling beraktifitas pada malam hari dan sebenarnya tidak agresif.

Makanan ular ini adalah kadal, amfibi, mamalia kecil, dan bahkan ular.

Ketika merasa terganggu, Ular Weling akan melilit longgar dan menyembunyikan kepala di bawah tubuhnya.

Ular Weling tidak akan menggigit apabila tidak diganggu secara terus menerus.

Ular Weling bereproduksi dengan bertelur, sekitar 10 butir setiap kali bertelur.Ular Weling memiliki bisa yang sangat beracun, bahkan lebih kuat daripada Ular Kobra (Naja kaouthia).

Racun Ular Weling bersifat neurotoksik dan menyerang sistem saraf manusia, mematikannya.

Koma, kematian otak, dan mati lemas karena kelumpuhan otot dan saraf yang diperlukan untuk fungsi-fungsi penting seperti diafragma, dan atau jantung, sering menjadi penyebab kematian.
Apabila tidak diobati, dapat terjadi kematian dalam 12 hingga 24 jam.
Biasanya rasa sakit tidak dirasakan di lokasi gigitan.
Bahkan jika diobati, ada kemungkinan 50% dari korban gigitan akan menyerah pada efek racun, biasanya mati karena respirasi berhenti ketika diafragma berhenti.
Ular Weling jarang menggigit pada siang hari, umumnya terjadi pada malam hari.
Ada penawar racun khusus yang bisa diberikan untuk mengobati gigitan Ular Weling.
Jenis serupa dengan Ular Weling adalah Ular Welang.
Keduanya sama-sama memiliki warna kulit belang hitam putih sehingga sering disangka kembar.
Ular welang (Bungarus fasciatus) memiliki belang yang cenderung kuning-hitam.
Berikut ini beberapa perbedaan di antara keduanya :
Bentuk Tubuh
Ular Weling : bulat
Ular Welang : Segitiga
Bentuk Ekor
Ular Weling : Runcing Panjang
Ular Welang : Tumpul
Gerakan
Ular Weling : Lebih Lincah
Ular Welang : Lebih senang dalam posisi bertahan menyembunyikan kepala
Warna Belang
Ular Weling : Melingkar hanya separuh tubuh
Ular Welang : Melingkar hampir keseluruh tubuh

Hay sobat ARP udah lama kayaknya mimin gak update nih hehe.... Kali ini mimin mau bahas tentang ular endemik Indonesia n...
05/04/2021

Hay sobat ARP udah lama kayaknya mimin gak update nih hehe....
Kali ini mimin mau bahas tentang ular endemik Indonesia nih hmmm.... Tahukah kalian tentang ular yang satu ini....?
Hmmm pasti banyak yang belum tau nih hehe... Nih mimin jelasin yha πŸ˜…πŸ˜Š
Ular ini memiliki nama ilmiah trimeresurus albolabris atau biasa di sebut dengan ular bangkai laut walau hidupnya tidak di laut yha πŸ˜…... Ular bangkai laut juga dikenal dengan sebutan viper hijau dan merupakan jenis ular berbisa tinggi dengan kandungan racun hemotoksin. Ular ini umumnya akan ditemukan di sekitar pepohonan nih..
Pesen mimin sih hati" Yha dengan ular yang satu ini karena sekali gigit bisa menimbulkan efek bengkak dan demam tinggi lho.... Mungkin sampai sini dulu yha next mimin akan bahas tentang penanganan pertama pada gigitan ular berbisa😁
Jangan lupa di share agar teman" Sobat ARP paham akan ular 😁

Ular Viper Tanah (Calloselasma rhodostoma Boie, 1827) / Malayan Pit ViperCalloselasma rhodostoma merupakan jenis ular be...
27/02/2021

Ular Viper Tanah (Calloselasma rhodostoma Boie, 1827) / Malayan Pit Viper

Calloselasma rhodostoma merupakan jenis ular berbisa neurotoksin (menyerang saraf)yang aktif pada malam hari. Hewan ini dapat ditemukan pada permukaan tanah, di tempat yang lembab, termasuk tumpukan kayu, tumpukan sampah, dan di bawah rumah (Hill et al 2006). C. rhodostoma cenderung diam di tempat dan akan menggigit orang yang mendekati. Oleh karena itu jumlah gigitan akibat ular ini diperkirakan cukup tinggi. Mangsa utama C. rhodostoma merupakan kadal, burung, tikus dan kodok. Di Indonesia, serum anti bisa ular poli-valen yang dikeluarkan biofarma meliputi anti bisa jenis ini. Ancaman utama C. rhodostoma adalah hilangnya habitat yang berubah fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman. C. rhodostoma tersebar luas sepan-jang Asia Tenggara, untuk wilayah Indonesia baru tercatat ditemukan di pulau Jawa (Grismer & Chan-Ard 2012).

24/02/2021
Kingdom:AnimaliaFilum:ChordataKelas:ReptiliaOrdo:SquamataFamili:ElapidaeGenus:NajaSpesies:N. sputatrixDengan leher menge...
01/02/2021

Kingdom:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Reptilia
Ordo:Squamata
Famili:Elapidae
Genus:Naja
Spesies:N. sputatrix
Dengan leher mengembang

Ular bertubuh sedang hingga agak besar, kekar, dapat mencapai panjang 1,85 m (6,1 ft), namun kebanyakan hanya sekitar 1,3 m (4,3 ft) saja. Tubuhnya hampir bulat torak, namun acap memipih datar di bagian muka; bagian di sekitar leher dapat dilebarkan serupa tudung apabila merasa terancam. Bentuk kepalanya agak jorong, sedikit lebih besar dari lehernya; dengan moncong tumpul membulat dan lubang hidung besar. Matanya berukuran sedang, dengan orang-orangan mata (pupil) bundar. Sisik-sisik dorsal (punggung) halus tak berlunas, biasanya dalam 25 - 19(21) - 15 deret.

Pola-pola warnanya sangat bervariasi. Spesimen dari Jawa berwarna kehitaman, kecokelatan, atau kekuningan; dengan ular muda (yuwana) kerap kali dengan pita dan bercak-bercak lateral di sekitar tenggorokan. Biasanya tidak ada pola gambar di belakang tudungnya, namun jika ada, pola itu sedikit banyak menyerupai bentuk-V.Kobra jawa umumnya dijumpai di lingkungan hutan hujan tropika, namun ular ini mampu beradaptasi dengan sangat baik pada pelbagai variasi habitat, termasuk pada wilayah-wilayah yang lebih kering, hutan tanah kering dan lahan-lahan pertanian. Di Pulau Komodo, ular sendok ini hidup di sabana yang kering dan hutan gugur daun tropika.

Naja sputatrix bersifat sangat defensif dan lekas menyemburkan bisanya apabila merasa terganggu. Ular ini hidup di atas tanah (terestrial) dan aktif di malam hari ( nokturnal). Mangsa utamanya adalah mamalia kecil seperti tikus, namun ia pun tak keberatan untuk menangkap kodok, ular lain, dan juga kadal untuk makanannya.

Musim kawin berlangsung di saat kemarau, antara Agustus hingga Oktober. Ular betina bertelur di sekitar November hingga awal musim hujan, meletakkan sebanyak 13-19 butir telur. Menurut Kopstein, telur-telur ini akan menetas setelah 88 hari. Anak-anak ular hidup mandiri sejak menetas dari telur. Jadi tetap waspada

Biawak air atau biawak air asia (Varanus salvator) adalah jenis biawak yang tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tengg...
31/01/2021

Biawak air atau biawak air asia (Varanus salvator) adalah jenis biawak yang tersebar luas di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Biawak ini merupakan jenis biawak yang paling sering dijumpai di berbagai wilayah di Indonesia dan sering dekat dengan pemukiman manusia.

Spesies ini juga dikenal dengan berbagai nama, antara lain bajul, biawak air Malaya, biawak air Asia, biawak air biasa, biawak bergaris ganda, dan kadal sawah, kadal bercincin, kadal biasa and kadal tanpa tanda, atau "biawak air".

Deskripsi fisik
Biawak ini berukuran panjang sekitar 1.5 meter hingga 2 meter dengan berat mencapai 19 kg. Spesimen-spesimen yang sering ditemui rata-rata memilikipanjang tidak lebih dari 1.5 meter dan berat hanya sekitar 4 sampai 6 kg. Akan tetapi, pernah ditemukan spesies yang panjangnya bahkan mencapai hampir 3 meter dan berat lebih dari 20 kg. Bentuk kepalanya meruncing. Kulitnya kasar dan berbintik-bintik kecil agak menonjol. Warna tubuhnya hitam atau indigo dengan bercak bercak tutul dan bulatan berwarna kuning pucat dari bagian atas kepala, punggung, hingga pangkal ekor. Bagian perut dan leher berwarna lebih pucatdengan bercak-bercak agak gelap. Ekor berwarna dasar sama dengan tubuh dan dihiasi belang-belang samar berwarna kuning pucat yang berbaur (blending) dengan warna dasar. Untuk biawak muda, biasanya berwarna dasar cokelat gelap dengan bercak-bercak pucat seperti induknya.

Penyebaran dan Habitat
Biawak air tersebar luas mulai dari India timur-laut, Bangladesh, Kepulauan Andaman, Nikobar, Tiongkok (Guangxi, Hainan, Yunnan), Hong Kong, Myanmar, Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia (termasuk Serawak dan Sabah), dan Indonesia (Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi).

Biawak air, sesuai dengan namanya, tinggal tidak jauh dari sumber air atau perairan. Habitat kesukaannya adalah pinggiran sungai atau rawa-rawa hutan. Kadang-kadang, biawak ini juga tinggal di daerah pertanian, perkebunan, hingga pemukiman - menjadi salah satu hewan liar yang memangsa ung

31/01/2021

Send a message to learn more

Klasifikasi ilmiahKingdom: AnimaliaFilum: ChordataSubfilum: VertebrataKelas: ReptiliaOrdo: SquamataSubordo: SerpentesFam...
31/01/2021

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Subfilum: Vertebrata
Kelas: Reptilia
Ordo: Squamata
Subordo: Serpentes
Famili: Cylindrophiidae
Genus: Cylindrophis
Spesies: C. ruffus
Nama binomial
Cylindrophis ruffus
( Laurenti, 1768)
Sinonim
Anguis ruffa Laurenti 1768
Anguis rufus β€” Gmelin 1789 (nomen emend.)
Anguis striatus β€” Gmelin 1789
Anguis rufa β€” Shaw 1802 (nomen emend.)
Cylindrophis resplendens Wagler 1828
Tortrix rufa β€” de Filippi 1840
Cylindrophis rufa Gray 1842
Sinonim selengkapnya: The Reptile Database

Ular kepala-dua atau ular-p**a ekor-merah adalah sejenis ular primitif penggali liang yang menghuni tanah subur dan lembab di kawasan tropis Asia Tenggara. Ular ini disebut "ular kepala-dua" karena bentuk ekornya yang tumpul dan lebar, nyaris mirip dengan bentuk kepala aslinya. Perbedaannya, pada bagian bawah ekornya berwarna merah cerah, sedangkan bagian bawah kepalanya berwarna keputihan.

Etimologi

Close up kepala. Spesimen 49 cm TL

Close up perut dan bawah ekor.

Kepala dan ekor serupa bentuknya. Spesimen 25 cm TL

Ekornya ditegakkan ketika merasa terganggu

Sketsa sisik-sisik kepala.

Ilustrasi C. resplendens menurut Wagler 1828
Ular ini juga disebut dengan nama-nama lokal, di antaranya: oray totog atau oray teropong (Sunda), majara (Toraja), ular gelenggang, dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut Red-tailed Pipe Snake, Common Pipe Snake atau Two-headed Snake, sementara nama ilmiahnya adalah Cylindrophis ruffus (Laurenti, 1768). Nama marganya sendiri, Cylindrophis berasal dari dua kata, yaitu kylinder = "batang penggiling" atau "p**a tabung", dan ophis = "ular", sementara nama spesifiknya, ruffus, yang artinya "kemerah-merahan", merujuk pada pola belang-belang berwarna merah cerah atau oranye yang terdapapat di kedua sisi badannya, dari leher hingga ekor.

Pengenalan
Panjang tubuh ular kepla-dua dewasa dapat mencapai 1 meter, namun spesimen yang sering ditemukan panjangnya tidak lebih dari 70 cm.

Address

Purwodadi

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ARP posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share