05/10/2022
"Rumah tangga adalah tempat di mana ragam ujian melanda. Cinta saja tidak akan bisa mengatasi segalanya."
AKU ISTRI PERTAMA
Bab 3. Kamu Membuatku Takut
Jujur saja, ditatap seperti ini oleh Kaysar cukup membuat perasaan ini merinding waswas. Sejak mengenal Kaysar, aku tak pernah melihat tatapan angker melesat dari kedua matanya. Dan itu disebabkan hanya karena mendengar bahwa tadi siang aku pergi menemani ibunya bertemu keluarga Leona.
“Apa kamu sudah gila, Chasse?” desisnya penuh kegeraman. Sosoknya yang berdiri menghadapku tampak tinggi menjulang serta begitu mengancam, sementara aku duduk mengerut di sofa yang ada di dalam kamar kami.
“Kay, aku tahu ini sulit. Bukan hanya untukmu, tapi juga untukku. Tapi apakah kamu bisa sebentar saja membayangkan berada di posisiku? Kita sudah menikah selama delapan tahun, berteman selama bertahun-tahun bahkan sebelum kita menikah.
“Keluargamu telah bersikap baik padaku selama ini. Menjadi menantu di keluarga Atmaja membuatku sangat bersyukur, Kay. Karena itulah, aku ingin memberikan yang terbaik bagi keluargamu―” Tenggorokanku tiba-tiba saja seperti tercekat. Rasanya lidah ini seketika menjadi kelu, tak sanggup mengakui kelemahanku sendiri.
Akan tetapi, aku harus menguatkan hati untuk mengatakannya supaya pria yang kucintai itu mengerti hal apa yang menjadi keresahanku. “Aku tahu bagimu garis keturunan tidaklah penting. Tapi aku yakin kamu pun memahami kehadiran seorang pewaris nyatanya sangat dibutuhkan. Jangan menyangkalnya demi aku, Kay. Karena aku pun berpikir demikian.”
Kaysar mendongakkan kepala dan membuang napas kesal. “Kita bisa mendapatkannya tanpa aku harus melakukan pernikahan dua kali. Aku yakin kamu juga lebih bisa menerima cara itu ‘kan, Chasse?”
Rasanya aku ingin menjeritkan jawaban yang sesuai dengan tebakannya. Namun, entah kenapa, pikiran ini seperti mencegah diriku untuk mengatakan yang sesungguhnya. Dan alih-alih mengiyakan pernyataannya itu, aku malah menyanggah, “Tidak, Kay. Yang kuinginkan adalah putra darimu. Darah dagingmu sendiri. Dengan begitu, aku akan bisa menyayanginya setulus hati.”
Netra Kaysar terlihat nanar saat ia kembali memandangku. Wajahnya mengerut seolah tak habis pikir dengan semua kata-kata yang ke luar dari mulutku, berikut dengan sikap yang mungkin ia pikir sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai yang kupercaya selama ini.
Pandangan kami saling beradu. Jika rautnya menampakkan kesedihan dan kebingungan, maka aku berusaha semaksimal mungkin menampilkan ekspresi datar yang mencerminkan kekerasan hati. Hingga akhirnya ia menyerah dan berlutut di depanku.
Dia menjatuhkan wajah rupawannya di pangkuanku, beberapa kali menghela napas panjang. Detik dan menit berlalu, sampai akhirnya ia mengangkat wajahnya lagi. Dengan raut putus asa, ia bergumam lirih, “Jika aku melakukan apa yang diminta oleh ibuku, bagaimana aku akan bisa menghadapi orang tuamu? Dan kakakmu? Aku tidak akan sanggup berdiri di hadapan mereka, Chasse. Kumohon ….”
Aku menarik napas panjang seraya menangkup wajahnya dengan kedua tanganku. “Mereka akan mengerti, Kay. Kamu tak perlu mencemaskan hal itu. Aku akan mengurusnya.”
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, Chasse. Jika aku jadi mereka, aku pun tidak bisa menerima putri kebanggaanku menerima penghinaan seperti itu.”
Dia benar. Pengandaian yang dibayangkannya jelas sama dengan yang ada di dalam kepala orang tuaku, tapi itu bukanlah masalah utamanya. “Ini bukan tentang penghinaan. Ini tentang sesuatu yang lebih besar dari itu,” tegasku.
“Kamu akan tersakiti dalam prosesnya.”
“Aku pasti bisa menahannya.”
Kaysar menggertakkan giginya, kentara sekali tengah menahan geram. “Aku sudah memperingatkanmu, Chasse.”
Dengan susah payah aku menelan ludah. “Aku sangat menginginkan seorang putra darimu, Kay.”
Masih dengan wajah yang mengeras, ia membalas ucapanku. “Baiklah, akan kulakukan apa yang kalian inginkan. Dan karena aku sudah memperingatkanmu, maka jangan mengungkit perihal perasaan suatu hari nanti.”
Mataku berkedip lemah karena ucapannya itu. Aku tidak s**a mendengar kalimatnya. Seakan-akan ia sedang memperingatkan tentang adanya suatu perpisahan. “Aku mencintaimu, Kay. Dan aku yakin kamu juga sama. Sampai kapanpun kita akan tetap seperti ini, bersama-sama selamanya.”
Setelah menarik satu helaan napas panjang, Kaysar berdiri. Dia melonggarkan simpul dasi, menariknya hingga lepas. Dengan gerakan kasar yang jelas masih menyimpan amarah, dia menanggalkan jas dan membantingnya di sampingku.
Aku harus mengatakan poin utamanya sekarang. Jika gunung berapi itu akan meletus, maka biarkan saja letusan amarah itu dimuntahkan sekaligus hari ini.
Masih dengan pandangan yang tertancap pada Kaysar lekat-lekat, aku berdeham dulu sebelum akhirnya berkata, “Kay …, masih ada satu hal yang belum kusampaikan padamu.”
“Apa itu?” tukasnya tajam, seolah-olah ia sudah bisa membayangkan akan ada hal yang lebih menyebalkan dari topik yang beberapa saat lalu kami pertentangkan.
“Perikatanmu akan diadakan minggu depan.”
Bola mata Kaysar seketika menyorot tajam kembali. Jika tadi dia tampak memendam amarah, maka saat ini ia jelas sekali tampak geram. Kedua tangannya sampai terkepal kuat. Rasanya seperti ia akan menelanku hidup-hidup. “Apa katamu?” desisnya penuh ancaman.
“Waktu perikatan kalian sudah ditentukan. Semuanya setuju akan melakukannya minggu depan.”
Tawa sumbang Kaysar pecah berderai. “Ini menggelikan! Sungguh menggelikan! Jika tahu jalan takdirku akan seperti ini, aku tidak akan sudi dilahirkan dalam keluarga Atmaja. Percuma mereka menghujaniku dengan materi yang tak berbatas, jika akhirnya menjerumuskan hidupku seperti ini. Dan yang lebih menyakitkan, istriku pun mendukung kegilaan ini.”
“Jika kamu begitu menolak keputusan ini, lalu kenapa tadi siang kamu malah tidak datang?” timpalku tajam. Rasanya aku mulai tertular oleh kemarahan yang sejak tadi menguar dari dalam diri Kaysar.
“Aku sengaja tidak datang, karena kupikir dengan begitu ibuku akan merasa malu karena putranya tidak sudi hadir. Sayang sekali bahwa pikiran kita berdua tidak sama. Kamu malah dengan bodohnya mengekorinya dan duduk sambil mendengarkan obrolan gila mereka,” kecamnya dengan pedas.
“Aku tak punya pilihan, Kay!” seruku seraya bangkit dari sofa dan berdiri di hadapannya.
“Pilihan akan selalu ada, Chasse! Kamu bisa membantah semua hal itu dan kita fokus menciptakan kebahagiaan kita sendiri. Pilihan lainnya semudah itu.”
“Seandainya aku bisa bersikap egois seperti itu.”
“Egois jika kamu menentukan bagaimana orang lain akan menjalani hidup mereka sesuai keinginanmu,” sindir Kaysar.
Aku tak tahan lagi. Kedua mataku mulai merembang. Dengan suara bergetar karena menahan tangis, aku menimpali kata-kata tajamnya. “Kita sudah membahasnya, Kay. Kumohon … turuti saja keinginan mereka.
“Jika kamu benar-benar tak bisa menerimanya, pikirkanlah setidaknya semua ini demi diriku. Aku sangat mendambakan seorang anak di antara kita. Lakukan sampai hal itu terwujud.”
Kaysar menatapku seolah-olah aku adalah makhluk asing dengan penampilan yang aneh. “Itu lebih gila lagi, Chasse. Apakah kamu baru saja menyuruhku untuk mengikat diriku dengan wanita lain, membuatnya melahirkan anak yang kamu inginkan, lalu meninggalkannya?”
Kaysar lagi-lagi menggelengkan kepalanya. “Tak kusangka pemikiran sekejam itu akan terlintas di kepalamu, Chasse. Lama-lama kamu membuatku takut.”
Penasaran dengan kisah mereka? Silakan ikuti kisahnya di 👇 baca gratis sampai tamat.
https://www.fizzo.org/page/share/?bid=7792293487239494909&isNew=1&from=copy_link&group=2&d=5828328656907269886&u=7882105164230292734&language=id®ion=ID