09/06/2026
MENATAP SENJA DIKUBUR SANG PEJUANG
: Seseorang Yang Bersih Dalam Beragama
Sore itu, menjelang senja, “dibawah Mega Mendung yang menggantung seakan menjadi air mata langit yang ikut kehilangan."di hari Jumat, 5 Juni 2026, tanah makam masih merah basah. Langkah-langkah pelayat perlahan menjauh, namun kaki ini terpaku. Saya lama mematung, menatap gundukan tanah tempat Keluarga, Shahabat, teman seperjuangan kini beristirahat. Tak Terasa air mata ini akhirnya tumpah juga, Kepergianmu meninggalkan luka yang menganga dan kepiluan yang teramat dalam di hati kami semua. Kutengok disebelah kanan, temanmu yang lain menangis mengiba, seolah tak percaya bahwa kau telah tiada. Ku tengok sebelah kiri, kakak sepupumu sudah kehabisan air mata… ahhh banyak sekali yang menangisi kepergianmu… banyak sekali yang menyesal tak membersamaimu Ketika pergi… akupun menyesal… Lantunan do’a yang bisa terucap terus terlantun. Ampunan dan kasih saying allah SWT bagimu Kawan.
Di bawah langit yang mulai meremang, ingatanku melompat pada lembaran-lembaran kisah hidupmu. Sebuah perjalanan yang tidak hanya menyentuh hati, tapi menampar kesadaran kami tentang arti hidup yang sesungguhnya. Selamat jalan Kawan, Selamat jalan Shahabat kulihat engkau tersenyum merekah Indah menyambut surga yang dijanjikan. Tugasmu didunia sudah usai dengan semua kebaikan, keshabaran , ketawakalan, keta’atan dan perjuangan yang engkau tuntaskan. Sungguh engkau istiqomah , sungguh engkau husnul khotimah.. sungguh kami menjadi saksi atas semua apa yang engkau lakukan . sungguh akupun berharap mati dalam kesyahidan… ahhh entahlah mungkin harapan yang keterlaluan, yang tidak sesuai dengan perjalanan .. ya Rabb..
1. Rahasia Kata "Sehat" di Balik Tubuh yang Ringkih
Sembilan ( 9 ) tahun bukan waktu yang singkat untuk bersahabat dengan mesin cuci darah setiap Rabu dan Sabtu. Terbayang fisikmu yang Lelah, Lemah , harus menempuh perjalanan jauh dari rumahmu di Simpang Kecamatan Bantarkalong, menuju RS Dr. Soekardjo di Kota Tasikmalaya. Engkau harus berjuang naik-turun angkutan umum Elf pulang-pergi. Berangkat jam 3 Pagi, pulang jam 3 sore. Bukan naik mobil pribadi, tapi naik elf, sendirian . ya Sendirian. Rasa sakit itu kau tahan sendiri, tanpa mau berbagi dengan yang lain… kau selalu tak ingin menyusahkan siapapun… atau mungkin kami yang tak peduli denganmu… maafkan kami Kawan … kami yang tidak peka ..
Ingatanku tertuju pada satu hal yang luar biasa: Setiap kali ditanya bagaimana kabarmu, bibirmu tidak pernah mengeja kata sakit. Tak pernah ada keluhan yang terucap. kau selalu menjawab dengan wajah tenang: "Alhamdulillah, Baik, sehat."
Itulah puncak dari ketawakalanmu. Bagimu, sehat bukan sekadar fungsi organ tubuh, melainkan kondisi hati yang selalu ridha terhadap takdir Allah. kau menolak dikasihani. kau memilih berdamai dengan ujian -Nya. Itulah dirimu… malu aku rasanya, yang sakit sedikit saja mengeluh sini sana. Minta dimaklumi ini itu, menyusahkan banyak orang. Kenapa kau harus menampar kami sedemikian rupa. Tidak bisakah kau mengeluh sedikit saja agar kami punya alasan nanti …
2. Ketika Komitmen Mengalahkan Rasa Sakit
Saya teringat sebuah momen yang menggetarkan hati. Saat itu ada acara kemah Bakti selama dua hari, Sabtu dan Ahad. Kau, dengan tubuhmu yang ringkih, dengan segala sakitmu , kau ikut mendaftar sebagai peserta. Ahhh Kau ini kenapa tidak izin saja, kami yang sehat saja banyak yang izin dan minta dimaklumi… kau ini …
Dengan cemas saya bertanya, "Bukankah Sabtu itu jadwal cuci darahmu?"
Dengan senyum khasmu yang menenangkan, kau menjawab ringan tanpa beban, "Cuci darahnya akan saya geser ke hari Jumat."
Di situlah saya melihat arti komitmen, ketaatan, dan kedisiplinan tingkat tinggi. kau tidak menjadikan penyakitmu sebagai alasan untuk absen dari jalan kebaikan. Jika kebanyakan orang sehat mencari-cari alasan untuk menghindar dari tugas, kau justru mencari jalan keluar agar tetap bisa berkontribusi. .. Kau ini ada ada saja jadwal sepenting itu kau geser geser, tidak bisakah kau izin saja agar kami benar Ketika izin beralasan dengan kesibukan…
3. Tangan yang Terus Memberi, Jiwa yang Dirindukan
Sebagai Relawan Inspirasi di Rumah Zakat, denyut nadi hidupmu adalah tentang Pengabdian, Tentang kebahagiaan orang lain. terbayang sebuah ketulusan yang melampaui batas logika : di saat tubuhmu sendiri ringkih, lemah, sakit, kau pun menderita dan tenagamu terkuras habis oleh jarum-jarum medis, kau justru melangkah tanpa mengeluh. Tangan yang menahan perih itu tetap mengetuk pintu-pintu rumah para lansia untuk mengantarkan senyuman, memeluk sesama orang sakit agar tidak putus asa untuk sembuh , dan merangkul para pelaku UMKM kecil dengan bantuan modal agar mereka bisa mandiri tegak berdiri. kau tidak pernah menunggu diri sehat untuk menjadi pahlawan bagi sesama… kau ini … ahhh …
Maka tidak heran, ketika engkau menghembuskan nafas terakhirmu pada hari Jumat suci dipagi hari, bumi seolah terguncang oleh kesedihan yang mendalam. Hari itu, langit mendadak meremang sendu dan cakrawala tampak sembap, seakan semesta pun ikut menangis melepas kepergian seorang pejuang langit, ikut mengantarkan pulang seorang hamba yang selama hidupnya selalu menebar cahaya."
Lautan manusia yang berdesakan menghantarkan jenazahmu ke liang lahat menjelang senja adalah saksi paling nyata. Hari itu, bukan hanya ibu tercinta, adik-adik, dan saudara kandungmu yang tumpah ruah air matanya. Namun, setiap jiwa yang pernah berpapasan, setiap orang yang pernah kau sapa ramah , dan mereka yang pernah kau selamatkan oleh kebaikanmu, seketika merasa patah hati—merasa kehilangan separuh belahan jiwa yang selama ini menjadi pelindung mereka.
________________________________________
KAU MENGAJARKAN BANYAK HAL
Bagi Kita semua yang masih diberi detak jantung dan tubuh yang bugar hari ini, kisah mu adalah sebuah pesan pembakar semangat:
• Berhentilah Mengeluh, Mulailah Bersyukur!
Jika kita hari ini mengeluh hanya karena lelah bekerja, macet di jalan, atau kekurangan materi, ingatlah sosoknya. Beliau menembus batas sakitnya naik Elf demi bertahan hidup, namun selalu merasa "sehat" dan "baik". Fisik yang sehat adalah aset terbaik untuk beribadah, jangan sia-siakan.
• Jangan Menunggu Sempurna untuk Bermanfaat!
beliau mengajar kita bahwa menjadi penolong tidak butuh kondisi tubuh yang prima atau harta yang melimpah. Menolong hanya butuh hati yang lapang. Jika seorang pasien cuci darah bisa membangkitkan UMKM dan membahagiakan lansia, kita yang sehat seharusnya bisa berbuat sepuluh kali lipat lebih banyak.
• Berhentilah Beralasan…
apapun pun itu, sakit, sibuk , yang kita sebutkan sebagai alasan untuk tidak melaksanakan kewajiban… berhentilah beralasan… ingat ia yang membawa penyakit setiap saat tetap pada komitmen dan keta’atannya.
• Ukirlah Akhir Hidup yang Indah!
Kematian di hari Jumat, diantarkan ribuan doa, dan ditangisi oleh masyarakat adalah "piala kemenangan" akhirat yang nyata. Kita tidak bisa memilih bagaimana kita mati, tapi kita bisa memilih bagaimana kita hidup. Hiduplah seperti Fitriyadin: sibuk mengurus urusan manusia, hingga Allah sendiri yang menggerakkan seluruh hati manusia untuk memuliakan kematian kita.
________________________________________
Selamat jalan, Kakang, Sahabat, dan Guru Kehidupan kami, Seseorang Yang Bersih Dalam Beragama. Senja di kuburmu sore itu boleh saja menggelap, namun cahaya inspirasi yang kau tinggalkan di hati kami akan tetap menyala, menuntun kami untuk menjadi manusia yang lebih tangguh, lebih taat, dan lebih bermanfaat bagi sesama.
Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu.
Seseorang Yang Bersih Dalam Beragama = Shahabatku “ FITRIYADIN “
________________________________________