04/01/2022
JEJAK JAM’IYAH RIFA’IYAH
Oleh, KH. Ahmad Syadzirin Amin
Berdasarkan Surat Keputusan tanggal 13 Juli 1991 or, yang ditandatangani oleh Kordinator Pemikir Rifa’iyah, Pimpinan FKMR dan Pimpinan Yayasan Pendidikan Rifa’iyah di Pemalang, dan memperhatikan saran-saran serta nasehat para sarjana ketika seminar nasional tahun 1990 di Yogyakarta, maka dengan ini kami ikhtiar dan upaya segera untuk membentuk kepanitiaan. Ahmad Syadzirin Amin sebagai ketua dan H. Ali Nahri sebagai sekretaris.
Panitia mengadakan sidang dan memutuskan rencana membentuk Majelis Ulama Rifa’iyah (MUR) untuk mengatasi segala permasalahan yang terjadi di Rifa’iyah, terutama masalah kerukunan dan kekompakan warganya, antara lain :
1. Masyarakat yang terikat dengan Yayasan Pendidikan Rifa’iyah dan Tarajumah segera bergabung menjadi satu dalam satu Organisasi.
2. Mengurangi perbedaan pendapat antara Rifa’iyah dan Tarajumah tentang beberapa hukum.
3. Mewujudkan kesamaan visi dan misi dalam sebuah Organisasi yang akan diupayakan bersama untuk menuju cita-cita perjuangan dalam melestarikan pengamalan Islam sesuai dengan cita cita KH. Ahmad Rifa’i, kesinambungan dan perubahannya melalui kitab kitab karangannya, masa kini dan mendatang.
4. Kekayaan warga yang tersedot ke organisasi lain, dapat dimanfaat-kan kembali untuk kepentingan warganya.
5. Meningkatkan dakwah, amar makruf nahi munkar, pendidikan, sosial, budaya dan ekonomi untuk mensejahterakan warga melalui organisasi yang akan dibentuk nanti. Pembinaan para pemuda dan warga melalui organisasi merupakan tuntutan yang tidak boleh diabaikan.
6. Oleh karena itu Panitia akan menyelenggarakan musyawarah besar di Karangsambo Wonosobo Jawa Tengah.
Musyawarah di Karangsambo Wonosobo
Setelah mendapat persetujuan, maka musyawarah ulama-ulama dan cendekiawan Rifaiyah-Tarajumah diselenggarakan di masjid Karangsambo Kelurahan Tempursari Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo pada hari Selasa Pahing tanggal 22 Rabiul Awal 1412 H/1 Oktober 1991 jam 13.00. hingga selesai dengan acara: (1) Informasi tentang keikutsertaan Rifa’iyah-Tarajumah dalam acara budaya Islami, Festival Istiqlal 1991 di Jakarta (2) Pembentukan lembaga Majelis Ulama Rifa’iyah se Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY dan DKI Jakarta. Undangan yang hadir sekitar 500 orang.
Para ulama yang hadir antara lain ialah: KH. Achmad Baidhowi, Sumpyuh, KH. Ali Munawir, Kendal, KH. Muhammad Saud, Kendal, KH. Zaeni, KH. Muh. Mahfudl, KH. Zaenudin, KH. Amin Ridho, KH. Bahar Mustofa, KH. Abd. Rahman, KH. Jasroni Achmad, Kiai Afif Afdhol, KH. Mukhtar, masing-masing dari Wonosobo, KH. Achmad Badri, KH. Abdul Hamid, Kiai Kailani, KH. Husni, masing-masing dari Kendal, KH. Achmad Zaenuri, Porwarejo, Kiai Achmad Zaeri Kutowinangun, KH. Muhammad Sholihin, Temanggung, KH. Abdul Ghaffar (Wuriyan), Semarang, KH. Anas Anwar, Kiai Ahmad Kalmain, Semarang, KH. Ali Zuhri, KH. Nur Yahya Dahlan, Pati, Kiai Achmad Rafi’i, Kiai Muhammad Syaikhun, Demak KH. Ahkamudin Halali, KH. Asiri Dasuki, Cirebon, KH. Achmad Sathori, Karawang, KH. Zaenal Abidin, KH. Amrudin Nasihun, KH. Achmad Rifa’i, KH. Rafi’ie, KH. Abdul Kholik, Kiai Abdullah Fadholi, KH. Khaerudin, masing masing dari Pekalongan, H. Umar Fathoni, Kendal, H. Abdul Jamil, Batang, KH. Nurhadi Mastur, KH. Chafidhin Mastur, KH. Achmad Tauhidi, KH. Achmad Khaeroni, Kiai Sholihin dan Kiai Maskun, masing-masing dari Batang.
Adapun para cendekiawan dan kaum intelektual Rifa’iyah yang hadir antara lain : Drs. Saefudin Simon, Drs. Ahmad Fauzi dan beberapa teman dari Jakarta, Drs. Hasyim Asy’ari, MA. Drs. Abdul Fatah, Ahmad Fanshuri, Muslihin, Drs. Ahmad Lutfi, masing-masing dari Yogyakarta, Drs. Mukhlisin Muzari, Cirebon, Drs. Hasan Bisyri, Pamanukan Subang, Drs. Busyrolkarim Tegal, Drs. Nurasikhin, Drs. Makmuri Drs. Sulistianto, masing-masing dari Batang, Drs. Khotim Muhammad, H. Zaeroni, BA, Drs. Muslimin, masing-masing dari Pekalongan, Drs. Slamet Siswadi, Drs. Burhanudin, Kendal, Drs. Mursyidin Romli, Pemalang, Drs. Saefudin Karihi Drs. Mustofa Ay, Semarang, Drs. Masykur Munawar, Drs. Farid Subakti, Indramayu, Sanen, Anggota TNI AL, Surabaya Jawa Timur.
Para ulama dan cendekiawan serta tokoh masyarakat bersidang. Walaupun dihambat oleh oknum-oknum sarjana dan kiai dari daerah tertentu yang dikompori oleh oknum-oknum kontra Rifa’iyah, akan tetapi akhirnya, sidang dapat memutuskan antara lain : (1) Terbentuk Majelis Ulama Rifa’iyah, dan (2) Ikut serta dalam Festival Istiqlal 1991 di Jakarta. Biaya ditanggung, terutama oleh masyarakat Rifa’iyah di Jakarta, dan dibantu oleh masyarakat di Jawa Tengah dan daerah lainnya.
FESTIVAL ISTIQLAL I DI MASJID ISTIQLAL JAKARTA
15 OKTOBER – 15 NOPEMBER 1991
Dasar Pemikiran
Dalam kebudayaan kita, Festival atau perayaan sering diadakan untuk menandai peristiwa-peristiwa penting bersejarah dan masa-masa krisis dalam kehidupan seseorang. Dilihat sebagai proses kehidupan, Festival mengandung dua unsur pokok: Dalam kebudayaan kita, Festival atau perayaan sering diadakan untuk menandai peristiwa-peristiwa penting bersejarah dan masa-masa krisis dalam kehidupan seseorang. Dilihat sebagai proses kehidupan, Festival mengandung dua unsur pokok: Pertama sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas terlewatnya suatu tahap kehidupan dengan selamat. Kedua, sebagai tanda peringatan agar waspada dalam menyongsong tahap kehidupan selanjutnya yang penuh tantangan. Dengan demikian, Festival atau upacara pada dasarnya menghubungkan peris-tiwa masa lalu, masa kini dan masa mendatang dalam suatu kesinam-bungan yang berarti.
Sebagai suatu bangsa yang telah menghirup udara kemerdekaan selama 46 tahun, bangsa Indonesia patut bersyukur atas rahmat dan nikmat kemerdekaan yang telah dilimpahkan Allah. Ungkapan syukur itu telah dinyatakan oleh bangsa Indonesia dengan jalan mengisi iklim kemerdekaan itu dengan amal saleh yang memberi makna pada hake-kat kemanusiaan : yaitu upaya membangun suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur dibawah lindungan Rabbul ‘Alamin.
Kehidupan suatu bangsa mengenal adanya tahapan-tahapan. Bangsa Indonesia sekarang sedang berada dalam tahapan antara meny-elesaikan pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama, serta bersiap siap memasuki pembangunan Jangka Panjang Tahap Kedua. Tahap antara ini dapat dikatakan sebagai masa yang menentukan, karena merupakan Tahap Tinggal Landas. Peristiwa ini sudah selayaknya ditan-dai dengan suatu perayaan dan karena ini p**a merupakan ungkapan rasa syukur atas 46 tahun kemerdekaan, maka Festival ini diseleng garakan di Masjid Istiqlal atau Masjid Kemerdekaan, sehingga Festival ini disebut Festival Istiqlal.
Tujuan Festival
Tujuan Festival tersebut tidak lain ingin meningkatkan kwalitas dan peran serta umat Islam Indonesia dalam proses pembangunan. Meninjau tradisi masa lalu dengan kenyataan dan tantangan masa seka-rang. Menggali dan mempekenalkan khazanah hasil budaya Indonesia khususnya ragam kebudayaan Islam Indonesia, ke masya-rakat luas, baik nasional ataupun internasional. Dan menampilkan wajah Islam di Indonesia yang ramah, penuh toleransi antar sesamanya maupun antar agama lain, sehingga merupakan sumbangan yang sangat besar bagi persatuan dan kesatuan bangsa dan kehidupan dunia yang lebih aman dan damai.
Landasan Penyelenggaraan
Penyelenggaraan Festival ini berlandaskan 1) Surat Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Nomor: KM.6/OT.001/ MPPT-91, Menteri Agama Nomor: 17 Tahun 1991 dan Menteri Pendi-dikan dan Kebudayaan Nomor: 031/P/1991 Tentang Pembentukan Panitia Nasional Festival Istiqlal 1991. 2) SK. Menparpostel Nomor: 65/OT.001/MPPT-90 tertanggal 27 Juni 1990, Tentang Pembentukan Panitia Nasional Tahun Kunjungan Indonesia 1991. Dan 3) Inpres No. 3 Tahun 1989, Tentang Penerapan Tahun 1991 sebagai Tahun Kunjungan Indonesia.
Tempat dan Waktu
Tempat penyelenggaraan Festival Istiqlal berpusat di Masjid Istiqlal dengan kemungkinan penggunaan gedung lainnya di Jakarta. Waktu penyelenggaraan tahun 1991 pada bulan Oktober selama satu bulan. Pada tahun itu ada dua kejadian penting yaitu dijadikannya tahun itu sebagai “Visit Indonesia Tear” dan diselenggarakannya Konferensi OKI di Bandung. Diharapkan, Festival Istiqlal sekaligus menjadi pusat orientasi peristiwa penting tahun 1991.
Panitia Nasional Festival
Susunan Personalia Panitia Nasional Festival Istiqlal 1991 adalah sebagai berikut: Dewan Pelindung: Pelindung Utama Bapak Presiden RI. Pelindung Bapak Wakil Presiden RI. Dewan Kehormatan:Ketua MPR/DPR RI. Ketua BPK, Ketua MA, Menteri Luar Negeri. Dewan Pem-bina:Ketua Menko Kesra, Wakil Ketua Kesra, Menteri Agama. Anggota: Menteri Parpostel, Menteri Segneg, Mendigbud, Mendagri, Menpen, Menristek, Mensos, Menkop, Menteri Pertambangan dan Energi, Menteri Perhubungan, Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Panglima ABRI, Gubernur DKI, dan Ketua MUI.
Adapun Dewan Pengarah: Ketua Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji, Wakil Ketua, Dirjen Kebudayaan. Anggota: Dirjen Pariwisata, Dirjen Radio, Televisi dan Film, Dirjen Cipta Karya, Kabakin, Wakabais ABRI, Pangdam V Jaya, dan Kapolda Metro Jaya. Dewan Pendukung/ Tokoh Masyarakat: Sultan Hamengkubuwono X, Hadi Thoyeb, Dubes RI. Di London, Ibrahim Hasan, Gubernur Aceh, Nurcholish Majid, Aang Kunaifi, Abdurrahman Wahid, Ashar Bashir, Probosutejo, H.B. Yasin.
Panitia Pelaksana
Susunan Personalia Panitia Pelaksana Faestival Istiqlal: Badan Pelaksana: Ketua Umum Pontjo Sutowo, Wakil Ketua Drs. A.D. Firous, Direktur Eksekutif: H. Ferdi Salim. Bidang Perencanaan dan Penga-wasan, Administrasi dan Keuangan, Bidang Khusus Daerah, Bidang Pameran, Bidang Pertunjukan, Bidang Forum Ilmiah, Bidang Sayem-bara. Bagian Komputer/Audio Visual, Bagian Desain Pameran, Bagian Desain Grafis dan Bagian Penulisan Buku Katalog/Booklet. Sebagai Pendukung adalah para Gubernur dari 27 Propinsi di seluruh Indonesia.
Para Pakar, Budayawan dan Seniman pendukung Faestival Istiqlal tersebut yang juga sebagian sebagai penyaji utama dalam Simposium yang diadakan pada tanggal 22-25 Oktober 1991 di gedung Indosat Jl. Merdeka Barat, Jakarta adalah sebagai beriku:
Rifa’iyah Dalam Festival
Khusus Rifa’iyah melalui Ulumul Qur’an (LSAF) diberi kesempatan supaya ikut Festival Istiqlal 1991 di Jakarta. Dalam Festival itu, Rifa’iyah ikut dalam bagian Seni Rupa Tradisional, Naskah, Simposium, Bazar, Kesenian dan Kebudayaan Tradisional, Penyebaran Brosure, Wawancara, Penerangan, Pengenalan, Pelacakan, Public Opini, Siaran Pers, Informasi, Publikasi dan Pertemuan silaturahmi dengan MUI di ruang sidang MUI lantai dasar Masjid Istiqlal Jakarta.
Sebagai peserta, Rifa’iyah kedudukannya disamakan dengan peserta yang lain. Menurut Drs. Syarif Hidayat, Penanggung Jawab buku dan naskah, bahwa semua peserta Festival adalah sebagai putra lelaki. Pembagiannya sama, tidak ada perbedaan. Kalaupun ada, karena mereka dikirim dan atas nama Pemda, dan memberikan sumbangan yang tidak sedikit. Menurut Syaefudin Simon, Pemda Aceh menyumbang dana Festival Istiqlal, sebesar lebih kurang 600 juta Rupiah.
Barang-Barang Yang Dipamerkan
Dalan Festival, Rifa’iyah hanya meminjamkan beberapa kitab yang dipamerkan di stand pameran dalam Masjid Istiqlal. Sedang untuk Bazar dapat menampilkan sekitar 500 buah kitab Tarajumah tulisan tangan dan cetak, Al-Qur’an tulisan tangan dan cetak, dan kitab-kitab kuning ber bahasa Arab.
Makalah-makalah Seminar Nasional, Kesimp**an Seminar, Kaset Video rekaman Seminar, Kliping-kliping koran dan majalah, Foto-foto dokumentasi sejarah, Kaligrafi-kaligrafi Al Qur’an, figura putih bertuli-san KH. Ahmad Rifa’I, buku Mengenal Ajaran Rifa’iyah dengan Mazhab Syafi’i dan I’tiqad Ahlissunnah, buletin Ukhuwah, kitab Asnal Miqasad, Daftar Kitab-Kitab Karangan KH. Ahmad Rifa’I, buku Potensi Gerakan Rifa’iyah, kitab Jam’ul Masail, Manaqib Syaikh Abdul Qadir Al Jailani bahasa Jawa Kuno, dan kitab-kitab yang didatangkan dari daerah Kedu Kendal, Temanggung, Batang, Pekalongan dan Wonosobo.
Pengunjung Bazar
Sungguh diluar dugaan kalau stand Rifa’iyah dalam Bazar Festival No. 16 itu akan dikunjungi tamu-tamu penting dari berbagai propinsi dan negara. Masyarakat dari berbagai kalangan dan lingkungan serta tingkatan berkunjung ke Stand Rifa’iyah. Menteri Parpostel, Bapak Ir. Susilo Sudarman menyempatkan diri berkunjung ke Stand Rifa’iyah. Stand non provit itu banyak dikunjungi para ulama, cendekiawan, ABRI pengacara, mahasiswa, pelajar, dan kaum ibu dari berbagai majelis taklim di Indonesia, Darul Arqam yang berpusat di Malaisia, hampir setiap hari berkunjung ke Stand Nomor 16.
Ulama, cendekiawan, dan tokoh masyarakat kita yang meluang kan waktu berkunjung ke Stand Rifa’iyah juga banyak, antara lain: KH. Muhammad Sa’ud dan rombongan, KH. Husni dan rombongan, Kiai Zaeri dan rombongan, Drs. Mukhlisin dan Ibu, Kiai Faishol Abidin dan rombongan, KH. Sathori dan rombongan, KH. Hakamudin Halali dan rombongan, KH. Khaeruddin Hasbullah dan rombongan, KH. Zaenal Abidin dan rombongan, KH. Fadlullah dan KH. Ali Munawir beserta rombongan, Sudardji, KH. Nur Hadi, H. Chafidzin Mastur, Halimin Sya-rif, Ustaz Makruf Sabrawi, Drs. Saefuddin Karihi, Drs. Mustofa, Ay. Drs. Nurrasikhin, Drs. Abdul Fatah, Ya’kub Jamal, Zahroni, BA. Kiai Ahmad Zuhri dan rombongan, Ir. Syaefudin Simon, Budi Rahman Munawar, Drs. Muhamad Fauzi, Kiai Ahmad Hambali, Kiai Asrori dan lainnya.
Banyak kaum ibu dari daerah baik perorangan maupun rombo-ngan seperti MT. Kaum Ibu Kalipucang, berkunjung ke Stand Rifa’iyah dengan biaya sendiri. Panitia terharu dan terima kasih.
Panitia Daerah
Untuk lebih memudahkan pelaksanaan mengikuti Festival Istiqlal Rifa’iyah menggunakan Panitia Daerah Seminar Nasional dan Panitia Perwakilan yang dibentuk setelah itu. Semua kegiatan Festival dilaku-kan sesuai dengan keputusan Panitia lengkap. Tetapi untuk masalah yang sifatnya ringan dijalankan menurut petunjuk kebijakan Ketua Panitia. Berhubung penyelenggaraan Festival tersebut di Jakarta maka sebagian besar yang bekerja adalah panitia di Jakarta, tanpa meng-urangi penghormatan terhadap partisipasi panitia daerah. Yaitu H. Abdul Djamil, H. Umar Fathoni, Fakhrozi, BA, Fauzan H. Rahmatullah, Abdul Kholik, Nasirin, Alimun, Marhadi, Zawazir, Sholihin, H. Abrori, Mustofa, H. Thoha Mubarak, Samsari, Saefuddin, Muhamidun, Sambudi Muhsan, Jamhuri, Makruf Sabrawi, H. Zaenudin, H. Hudleri, H. Nur Hasan, H. Abdul Basith, Hadlirin, Wahidin, Zaelusi, Su’udi, Sugiharto, Razim, H. Fakhrudin, Mustofa Syukri, H. Abukhaeri, Khaerun Latif, Zawawi, Jamal Ya’kub, Khadirin, H. Shaleh Wanadi, Rahmat dan lain-lainnya.
Tidak kalah pentingnya peranan Panitia Kecil (Daerah) dan para sesepuh daerah seperti KH. Muhammad Sa’ud, KH. Ali Munawir, KH. Fadlullah, KH. Zaenal Abidin, Kiai Husni, Kiai Yahmin, Zaenal Abidin, H. Ali Nahri, H. Chafidhin, Sodikin, Tauhidi, Drs. Slamet Siswadi, Suprayis, H. Anas Anwar, Afif Afdhol, Aman Makmur, Jasroni Ahmad, Kartono, Kai Sholihin, Faishol Abidin, Sudardji, Kiai Ahmad Zuhri, Muhammad Thoha, H. Rafi’i, H. Kusnadi, H. Dahroni, Ustaz Faizin, Jumairi, Ahmad Ikhwandi, Rohani, Junaidi, H. Abror, KH. Muchotib, Ustaz Mashun, Kiai Asiri, Drs. Burhanudin, Mustakhrofi, Hujaiz KH. Sathori dan lainnya.
Penjaga Stand minggu pertama dan kedua, Drs. Mustofa Ay. Dan Drs. Saefudin Karikhi, keduanya dari Jetis Ambarawa Semarang. Minggu selanjutnya adalah Drs. Abdul Fatah dan Zahroni BA, Pekalongan serta dibantu teman-teman di Jakarta.
Pelacakan Gambar/Foto
Ketika Festival Istiqlal berlangsung, Panitia di Jakarta mencoba melacak jejak foto gambar KH. Ahmad Rifa’i di berbagai instansi di Jakarta, sesuai dengan petunjuk dari seorang tamu yang berkunjung ke Stand Rifa’iyah di Bazar. Setelah beberapa hari dilacak, gambar foto KH. Ahmad Rifa’I, akhirnya dapat ditemukan. Foto yang dimaksud ialah gambar KH. Ahmad Rifa’i Kendal. Hanya Panitia belum berani menun-jukkan gambar tersebut dan belum waktunya demi kepentingan umat.
Pada awal Desember 1991 kami bertiga dengan H. Abdul Djamil dan H. Umar Fathoni silaturahmi ke rumah Bapak Bilal di Kaliwungu Kendal dan bertemu dengan isterinya bernama Rubi’ah keturunan dari Ibu Rumidjah isteri Kiai Asy’ari Kaliwungu, yang merupakan kakaknya KH. Ahmad Rifa’i. Ibu Rabi’ah isteri Bilal (Alm) mempunyai dua anak, masing-masing Khotimah (putri) dan Ahmad Rifa’i (putra) yang tinggal bersama di Purin (Perumahan Industri) Kendal. Busana yang dikenakan Ibu Rabi’ah persis seperti pakaian yang dikenakan ibu-ibu Rifa’iyah di Jawa Tengah, memakai tapih dan kebaya, berkerudung dan berbeng-kung. Ketika kami waspadakan, postur tubuh mereka mirip sekali dengan gambar KH. Ahmad Rifa’i yang kami temukan di Jakarta.
Keterangan Gambar Foto
Gambar KH. Ahmad Rifa’i yang ditemukan itu dalam posisi berdiri ukuran setengah badan, sedang memegang kalam bergagang bulu itik dan setumpuk kertas yang siap ditulis kitab. Memakai surban putih yang dililitkan di kepala. Memakai pakaian jubah putih berpotongan longgar. Memakai baju leher “Gambar KH. Ahmad Rifa’i yang ditemukan itu dalam posisi berdiri ukuran setengah badan, sedang memegang kalam bergagang bulu itik dan setumpuk kertas yang siap ditulis kitab. Memakai surban putih yang dililitkan di kepala. Memakai pakaian jubah putih berpotongan longgar. Memakai baju leher “Kun” dengan tiga kancing berurutan. Wajahnya cerah menunjukkan seorang Fiqih yang Sufi atau Sufi yang berorientasi Fiqih dengan penuh rasa tawadlu’. Matanya bersinar memancarkan cahaya memandang tajam, tetapi tidak terkesan angker. Hidungnya mancung, bibirnya merah delima tampak basah tersenyum berwibawa, menunjukkan seorang ulama khawash yang senantiasa berzikir kepada Allah. Pendiam tetapi penuh ramah, damai dan kasih sayang kepada sesamanya. Optimis sekali dalam berjuang menuju kemerdekaan. Berjanggut putih tetapi tidak berkumis. Bidangnya luas, seluas ilmu dan amalnya. Sikap yang tercermin menunjukkan sikap kebapak-bapakan.
Kalau kita amati figur KH. Ahmad Rifa’i dalam gambar itu seperti seorang hakim yang bijaksana. Seorang mahaguru yang pintar dan cerdas. Mubalig ulung. Pejuang pantang menyerah. Pahlawan tak takut mati, seluruh tubuhnya tersinari cahaya keimanan. Waliyullah yang susah dicari bandingnya. Ulama yang penuh kharisma. Seolah berpe-san , umat Islam harus bangkit berjuang. Kehalusan kulit yang kuning langsat itu menunjukkan kehalusan budi pekertinya dan arif bijaksana. Kalau kita amati figur KH. Ahmad Rifa’i dalam gambar itu seperti seorang hakim yang bijaksana. Seorang mahaguru yang pintar dan cerdas. Mubalig ulung. Pejuang pantang menyerah. Pahlawan tak takut mati, seluruh tubuhnya tersinari cahaya keimanan. Waliyullah yang susah dicari bandingnya. Ulama yang penuh kharisma. Seolah berpe-san , umat Islam harus bangkit berjuang. Kehalusan kulit yang kuning langsat itu menunjukkan kehalusan budi pekertinya dan arif bijaksana. “Ruhamaa’u Bainahum”, kasih sayang antara sesama mukmin, dan kasih sayang antara sesama mukmin, dan “Asyiddaa’u ‘alal Kuffaar”, anti kolonialisme.
Itulah yang dapat kami rekam dari kenyataan gambar KH. Ahmad Rifa’i yang diperoleh dari Jakarta. Secara pribadi, setelah kami melihat beberapa orang keturunan beliau di Kaliwungu Kendal, kami yakin (ilmul yaqin) bahwa gambar itu adalah benar gambar KH. Ahmad Rifa’i bin Muhammad bin Abu Syuja’ alias Raden Sucowijoyo yang berasal dari Kendal Jawa Tengah.
Sillaturahmi Dengan MUI
Dalam kesempatan lain Panitia di Jakarta sempat bersilaturahmi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengukuhkan ukhuwah Islamiyah sekaligus bermaksud mengenalkan faham KH. Ahmad Rifa’i dan Jam’iyah Rifa’iyah. Disamping itu juga meminta penjelasan menge-nai BMI, BMT, SDSB, Yayasan Hira dan pendirian sebuah Organisasi Keagamaan.
Kesempatan itu perwakilan Jam’iyah Rifa’iyah diterima kehadiran nya sebagai tamu terhormat di ruang sidang MUI tanggal 19 Nopem-ber 1991 jam 10.30. hingga 12.00 siang oleh Ketua MUI Prof. Dr. KH. Ali Yafie, Dr. H. Quraish Shihab, Sekjen MUI, H. Prodjokusumo dan HM. Soedjono.
Sedang sebagai perwakilan Jam’iyah Rifa’iyah adalah H. Ahmad Syadzirin Amin, Drs. Nur Rasikhin, Drs. Muhammad Fauzi, Fakhrozi BA, Makruf Sabrawi, Shalihin, H. Umar Fathoni, H. Abdul Djamil dan Su’udi Pertemuan itu diekspos Harian Angkatan Bersenjata, Pelita, Terbit dan lainnya.
Sebelum acara silaturahmi dimulai, kami jelaskan apa, siapa, di-mana, bagaimana dan kapan Rifaiyah secara panjang lebar, Pertemuan tersebut nampak akrab sekali, setelah mendapat penjelasan Rifa’iyah penganut faham Ahlus Sunnah dan berpegang pada salah satu mazhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Karena menurut Prof. Dr. Ali Yafie, selama ini MUI kurang informasi tentang Rifa’iyah. Akan tetapi setelah mendengar penjelasan-penjelasan secara rinci akhirnya MUI mendapat gambaran-gambaran yang jelas mengenai Rifa’iyah, bahkan menurut Quraish Shihab, bahwa antara MUI dengan Rifa’iyah sejalan dalam faham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Sehingga walau kita dalam tempat yang cukup jauh, karena MUI di Jakarta, sedang Rifa’iyah berada di pedesaan, namun dekat dalam hati. Alhamdulillah.
Setelah pertemuan silaturahmi dan dialog selama satu setengah jam, kami serombongan pamit p**ang. Dalam kesempatan pamitan itu kami terimakan kenang-kenangan berharga kepada MUI yaitu satu set kitab Abyanul Hawaij (6 jilid), Kesimp**an Seminar Nasional, Kaset Video rekaman Seminar, buku Menganal Ajaran Rifa’iyah, Kliping ko-ran dan lain sebagainya.
Hasil yang Diperoleh dalam Festival
Selama sebulan penuh Rifa’iyah mengikuti Festival Istiqlal 1991 di Jakarta, Selain kitab-kitab Tarajumah yang dipajang d ruang pamer-an di Masjid Istiqlal, juga memajang kitab-kitab Salaf, lebih 500 jilid kitab di Stand Bazar Istiqlal No. 16 selama satu bulan. Kliping-kliping majalah dan surat kabar, Video rekaman Seminar, Kesimp**an Seminar Nasional, majalah Ukhuwah, Silsilah Isnad Al Masyikhah, dan berbagai dokumen Rifa’iyah. Dari berbagai dokumentasi yang dipamerkan di arena Festival, ternyata banyak memperoleh keuntungan antara lain:
1. Tampilnya Rifa’iyah dalam Festival Istiqlal merupakan bukti nikmat dan anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Hasil kerja sama semua pihak bertekad mensukseskan Festinal yg. Merupakan pesta rakyat Indonesia.
3. Masyarakat Rifa’iyah yang terkesan penakut itu berani tampil pada forum nasional, bahkan internasional. Ini merupakan satu kejutan tersendiri bagi warga Rifa’iyah.
4. Memberikan informasi kepada masyarakat Indonesia khususnya dan masyarakat dunia, tentang Kehidupan dan perjuangan serta ajaran KH Ahmad Rifa’i yang tertuang dalam kitab-kitab karangan-nya.
5. Penulisan kitab-kitab dengan tinta warna hitam dan merah ternyata sudah dimulai sejak abad 14 hingga sekarang oleh para ulama di Indonesia maupun negara lain. KH Ahmad Rifa’i sebagai pengganti meneruskan kebudayaan klasic yang sudah berabad-abad dikem-bangkan oleh pendahulunya.
6. Kitab-kitab tulisan tangan dengan tinta warna merah hitam itu ada hampir diseluruh kep**auan Indonesia. Seperti Sumatera, Kaliman-tan, Sulawesi, Maluku, Madura, Jawa dan lainnya, bahkan Brunei Darussalam dan Malaisia banyak p**a kitab-kitab tulisan tangan yang menggunakan tinta warna hitam merah. Demikian juga di luar negeri, terutama negara-negara Islam (Muslim) .
7. Di dalam buku Katalog KH. Ahmad Rifa’i diakui sebagai ulama peju
ang pada abad 19 disejajarkan urutannya dengan Syaikh Arsyad al Banjari, Banjarmasin, Syaikh Abdurauf Sinkel dan lainnya.
8. Jam’iyah Rifa’iyah sudah dikenal oleh kalangan para ulama, para pejabat, agamawan, cendekiawan, sejarawan, budayawan, seni-man, ilmuan, wartawan, mahasiswa, pelajar dan masyarakat Indo-nesia. Mereka rata-rata kagum atas karya besar dari putra bangsa terbaik, KH. Ahmad Rifa’i.
9. Jam’iyah Rifa’iyah sudah dikenal di kalangan tokoh-tokoh muslim Malaisia, Brunei, Pilipina, Thailand, negara anggota OKI (Organi-sasi Konferensi Islam), Singapura, Jepang, Amerika, Australia, Cina Prancis dan masyarakat muslim internasional.
10. Banyak cendekiawan, ulama, ilmuan berbobot yang mempelajari pemikiran-pemikiran KH. Ahmad Rifa’i yang tertuang dalam kitab-kitab karanyannya, baik sastra, pendidikan, dakwah, budaya, agama dan keorganisasian maupun sejarah yang kemudian diang-kat ke mass media cetak dan elektronik mapun sebagai referensi mahasiswa dalam menyusun skripsi, tesis, disertasi dan penelitian kajian dan seminar.
11. Menambah wawasan pemikiran para cendekiawan Rifa’iyah, baik internal ataupun eksternal untuk menata kembali dan membangun Rifa’iyah yang lebih maju dan modern, kini, esok dan masa yang akan datang.
12. Menimbulkan dan menyadarkan harga diri dan jati diri serta man-diri bagi anak-anak, remaja, pemuda Rifa’iyah dalam menggapai cita-cita melestarikan pengamalan dan pewarisan kitab-kitab yang diwasiatkan oleh guru besar iradahnya.
13. Menganang kembali jasa-jasa KH. Ahmad Rifa’i sebagai ulama besar, berjasa membimbing umat agar kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Demi umat dan demi kebenaran dan keadilan, ia rela diasingkan ke tanah pembuangan.
14. Rifa’iyah ternyata mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan zaman yang berlaku, tetapi masih terus mempertahankan ma-salah mendasar. Hal ini diaktualisasikan dalam sebuah motto Seminar Nasional: 14. Rifa’iyah ternyata mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan zaman yang berlaku, tetapi masih terus mempertahankan ma-salah mendasar. Hal ini diaktualisasikan dalam sebuah motto Seminar Nasional: Kesinambungan dan Perubahannya.
15. Masyarakat kita yang selama ini melupakan Rifa’iyah, sekarang timbul lagi semangat baru untuk kembali bersemangat membang-un Rifa’iyah mendatang.
16. Menghargai masyarakat yang masih menyimpan kitab-kitab atau benda-benda kuno yang ada hubungannya dengan KH. Ahmad Ri-fa’i dan Rifa’iyah untuk dirawat secukupnya agar tidak kehilangan bukti sejarah.
17. Satu-satunya Stand yang mampu menampilkan kitab-kitab agama peninggalan mahagurunya ialah Jam’iyah Rifa’iyah. Banyak masya-rakat terheran dengan adanya kitab-kitab yang sudah ratusan tahun masih terawat baik dan masih relevan diamalkan untuk masa sekarang ini.
18. Mendapat masukan informasi bahwa di Perpustakaan Nasional Jl. Salemba, Jakarta Pusat, ada buku memuat dokumen perdebatan antara KH. Ahmad Rifa’i dengan pengadilan di Bogor, Jawa Barat dengan memakai bahasa Melayu.
19. Ada seorang tokoh menyebutkan bahwa makam KH. Ahmad Rifa’i berada di Kampung Jawa Tondano, Kabupaten Minahasa, Manado, Sulawesi Utara di komplek Makam Pahlawan Kiai Modjo.
20. Menurut seorang tokoh agama dari Luar Jawa mengatakan, bahwa KH. Ahmad Rifa’i, disamping sebagai pejuang Islam dan ualama besar pada zamannya juga termasuk seorang Waliyullah, dibukti-kan dengan karamah Allah atas kemampuanya, dalam waktu relatif singkat, menyusun kitab-kitab Agama tidak kurang dari 57 judul kitab, 500 Tanbih bahasa Jawa, 4 (empat) judul kitab dan 60 Tanbih bahasa Malayu di Ambon. Padahal zaman itu sangat sulit untuk mendapatkan kertas, tinta dan alat pembantu lainnya, mengingat hidupnya selalu dalam pengawasan pihak kolonial Belanda. Rasa-nya tidak akan mungkin dilakukan oleh orang biasa.
21. Menurut seorang peansiunan ABRI, bahwa melihat kenyataan hasil karya KH. Ahmad Rifa’i yang begitu banyak jumlahnya, maka su-dah sepatutnya Pemerintah Indonesia memberi anugerah gelar 21. Menurut seorang peansiunan ABRI, bahwa melihat kenyataan hasil karya KH. Ahmad Rifa’i yang begitu banyak jumlahnya, maka su-dah sepatutnya Pemerintah Indonesia memberi anugerah gelar Pahlawan Nasional kepadanya, bukan hanya di tingkat daerah, melainkan ditingkat Pusat, dalam hal ini, Bapak Presiden RI.
22. Kata orang Madura, Setiap waktu saya akan memasuki Stand Bazar Rifa’iyah. Hati saya berdebar dan mata saya tertuju kepada kitab Al-Qur’an tulisan tangan kemudian melihat ke bawah yaitu kitab-kitab karangan KH. Ahmad Rifa’i, seluruh badan saya bergetar, sehingga saking rasa terharunya oleh ketekunan beliau, saya meneteskan air mata. Tiga kali saya ke Festival, tiga kali juga saya hadir di Stand Rifa’iyah. Coba Anda lihat seluruh Stand tidak ada yang seharum dan berwibawa, selain Stand ini. KH. Ahmad Rifa’i, bahkan ulama-ulama besar hadir ruhnya dalam Stand ini. Maka ja-ngan sembarangan prilakunya menunggu di Stand ini. Bacalah Al Fatihah satu kali setiap membuka Stand kepada beliau agar hidup-nya diberkahi oleh Allah dan mendapat karamatnya.
23. Benda-benda berharga peninggalan KH. Ahmad Rifa’i besar man-faatnya digunakan untuk riset maupun keperluan rumah tangga.
24. Masyarakat di daerah yang kurang kenal dengan Rifa’iyah menjadi faham.Yang tidak senang menjadi senang dan fitnah-fitnah, lambat laun akan mengurang, bahkan menjadi tidak berarti.
25. Tergeraknya hati tokoh-tokoh Rifa’iyah segera ingin menyelesai-kan kasus tragedi SK Kajari Demak 04 dan SK Kajati Jateng, 012 dan kaus-kasus lainnya.
26. Akan memperlicin jalan yang ditempuh untuk mengusahakan per-mohonan anugerah gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Ahmad Rifa’i bin Muhammad.
27. Demi kelangsungan dakwah Islam, sudah saatnya mendirikan lem-baga penerjemah, yang menyalin kitab-kitab bahasa Jawa tulisan Arab pegon dengan bahasa Indonesia tulisan latin, agar kebutuhan masyarakat, terutama yang tidak menguasai bahasa Jawa tulisan Arab pegon.
28. Perlu adanya pembangunan sarana-sarana untuk menunjang per-kembangan kemajuan Rifa’iyah, seperti pendidikan, pesantren, percetakan, penerbitan yang murah dan bermutu, gedung perte-muan, perpustakaan, penelitian, pusat informasi, laboratorium, museum, majlis dakwah, kesejahteraan umat, kantor pusat, lemba-ga hisab dan ru’yat dan sarana lainnya.
29. Banyak masyarakat yang ingin memiliki/membeli kitab-kitab kara-ngan KH. Ahmad Rifa’i, karena dipandang isinya faktual dan aktual untuk diamalkan, bahkan ada yang ingin membelinya untuk kolek-si taman bacaan atau perpustakaan pribadi.Salah seorang pegawai Bank Indonesia di Jakarta memesan kitab sebanyak 6 (enam) judul. Karyawan Pabrik Mobil & Motor Astra di Jakarta Utara memesan 3 (tiga) judul kitab, dan lain-lainnya.
30. Seorang A.B. LOEBIS, SH, Advokat dan Pengacara, pansiunan ha-kimm, alamat Pejompongan Jakarta Pusat mempunyai 3000 judul buku yang semuanya memakai bahasa asing. Tertarisk sekali ingin memiliki kitab As’ad karangan KH. Ahmad Rifa’i dan akan diterje-mahkan ke dalam bahasa Prancis, Jepang dan bahasa lainnya, agar kitab tersebut terkenal di luar negeri.
31. Saudara Arifin Pramono dari LIBRARY OF CONGRESS (Amerika) ingin memiliki, membeli 57 judul kitab karya KH. Ahmad Rifa’i un-tuk melengkapi koleksi Perpustakaan LIBRARY OF CONGRESS, dan beberapa perpustakaan di Amerika Serikat. Untuk mendapatkan kitab tersebut, ia sampai menghubungi LSAF Jakarta. Tujuannya ia akan menerjemahkan kitab-kitab tersebut ke bahasa Engeris dan bahasa lainnya.
Sebetulnya masih banyak hasil-hasil Festival Istiqlal yang didapa-ti oleh Rifa’iyah, namun demikian berhubung ruang sangat terbatas, maka sampai disinilah minta dianggap sudah memadai.
Dana Peserta Festival
Kalau Rifa’iyah hanya titip kitab di Stand di Festival Istiqlal, kami kira biayanya cukup ringan 500 ribu rupiah untuk ongkos transport. Tetapi di kemudian akan menyesal, karena tidak bisa berbuat banyak dalam mengenalkan Rifa’iyah secara leluasa dan terbuka. Maka atas kebijakan Panitia mengambil keputusan menyewan Stand satu Yaitu No. 16. selama penuh satu bulan di Bazar Festival. Selain itu diperlukan dana untuk dekorasi Stand, biaya penjaga Stand, keamanan dan perlu adanya cetak brosure 1000 lembar untuk disebarkan sebagai publikasi kepada masyarakat pengunjung Stand. Ikut serta sebagai narasumber dan peserta dibutuhkan biaya cukup banyak juga.
Untuk pengambilan dan pemulangan kitab-kitab dan barang-barang dari Jakarta ke berbagai daerah di Jawa Tengah, membutuhkan dana yang cukup banyak juga, apalagi mobil pengangkut yang dike-mudikan H. Abrori Amin, mengalami kecelakaan cukup parah. Dana pun membengkak.
Perlu kami laporkan bahwa pendapatan dana masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Barat sebesar Rp. 5,959,850 (Lima juta embilan ratus limapuluh sembilan ribu delapan ratus limapuluh rupiah), dan Jakarta sebesar Rp. 3,861,300,- (Tiga juta delapan ratus enampuluh satu ribu tiga ratus rupiah), jumlah Rp. 9,821,150,- (Sembilan juta delapan ratus duapuluh satu ribu seratus limapuluh rupiah). Berarti Panitia mempu-nyai hutang Rp. 900,000 (Sembilan ratus ribu rupiah). Hutang sebesar itu kemudian dilunasi sepenuhnya oleh Jam’iyah Rifa’iyah Jakarta.