11/05/2026
"Ada 5 Perkara Yang Menjadikan usahamu Berkah"
Berkata seorang ahli fikih (Abu Laits As-Samarqandi):
من أراد أن يكون كسبه طيباً، فعليه أن يحفظ خمسة أشياء
Barang siapa ingin agar usahanya (pekerjaannya) menjadi baik/berkah, maka hendaknya ia menjaga lima perkara:
Pertama:
أن لا يؤخر شيئاً من فرائض الله تعالى لأجل الكسب، ولا يدخل
النقص فيها
Tidak menunda sedikit pun kewajiban kepada Allah (seperti shalat, dll.) karena sibuk mencari nafkah, dan tidak mengurangi pelaksanaannya.
Maksudnya, jangan sampai pekerjaan membuat seseorang:
~Menunda salat,
~Meninggalkan jamaah,
~Melalaikan puasa,
atau mengurangi kewajiban agama lainnya.
Karena tujuan rezeki adalah membantu taat kepada Allah, bukan malah menjauhkan dari-Nya.
Kedua:
أن لا يؤذي أحداً من خلق الله تعالى لأكل الكسب
Tidak menyakiti siapa pun dari makhluk Allah demi mencari penghasilan.
Artinya dalam berdagang atau bekerja jangan:
~Menipu,
~Curang,
~Memfitnah saingan,
~Mengambil hak orang,
~Menaikkan harga dengan zalim,
atau memakan harta orang lain secara batil.
Rezeki yang diperoleh dengan menyakiti manusia akan menghilangkan keberkahan.
Ketiga:
أن يقصد بكسبه استعفافاً لنفسه وعياله، ولا يقصد به الجمع . والكثرة
Berniat dalam bekerja untuk menjaga kehormatan diri dan mencukupi keluarga, bukan bukan untuk menumpuk harta dan memperbanyak kekayaan.
Yakni bekerja agar:
~Tidak meminta-minta,
~Mencukupi keluarga,
~Menjaga kehormatan diri,
dan membantu ibadah.
🛑Bukan semata-mata:
~Mengejar kemewahan,
~Menumpuk kekayaan,
atau berbangga dengan banyaknya harta.
Karena amal tergantung niatnya.
Keempat:
أن لا يجهد نفسه في الكسب جداً
Tidak memaksakan diri secara berlebihan dalam mencari nafkah.
Maksudnya jangan sampai seluruh hidup habis hanya untuk dunia:
~Siang malam bekerja tanpa ibadah,
~Merusak kesehatan,
~Melupakan keluarga,
~Dan hati selalu gelisah karena harta.
Islam mengajarkan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Kelima:
أن لا يرى رزقه من الكسب، ويرى الرزق من الله تعالى والكسب . سبباً
Tidak meyakini bahwa rezeki datang dari pekerjaannya semata, tetapi meyakini bahwa rezeki itu dari Allah Ta'ala, sedangkan usaha hanyalah sebab.
Ini bagian terpenting.
Usaha hanyalah sebab, sedangkan pemberi rezeki hakikatnya adalah Allah Ta‘ala.
Karena itu seseorang:
~Tidak sombong dengan usahanya,
~Tidak putus asa ketika sulit,
~Dan tidak bergantung penuh pada makhluk.
Sebanyak apa pun usaha seseorang, kalau Allah tidak menghendaki, rezeki tidak akan datang.
📚 Kitab : Tanbihul Ghofilin hal- 166