08/09/2026
Moin !
Pada Minggu, 6 September 2026, KJRI Hamburg bekerja sama dengan Sagonese e.V. dan Museum am Rothenbaum, Kulturen und Künste der Welt (MARKK), menyelenggarakan acara bertajuk "From West Java's Tea Plantations to Debussy: The Global Life of a (Sundanese) Gamelan" di Hamburg.
Acara ini menghadirkan konser musik yang memadukan musik tradisional Indonesia melalui gamelan dengan piano klasik, terbagi dalam tiga bagian.
Bagian pertama menampilkan musik tradisional Indonesia oleh Gamelan Margi Budoyo, kelompok gamelan binaan KJRI Hamburg yang beranggotakan diaspora Indonesia serta masyarakat internasional di Hamburg.
Bagian kedua diisi penampilan piano klasik oleh salah satu pianis muda berbakat Indonesia, Calvin Abdiel, yang kini terdaftar sebagai mahasiswa Konzertexamen di Hamburg University of Music and Theatre. Calvin membawakan empat karya, mulai dari "Pagodes" karya Claude Debussy yang terpengaruh kuat oleh bunyi gamelan, hingga komposisi terbaru gubahan Ananda Sukarlan berjudul "Rapsodia Nusantara No. 27 - Sriwijaya," yang diperdengarkan secara langsung untuk pertama kalinya di hadapan publik Eropa (European premiere).
Bagian ketiga menghadirkan dialog antara gamelan dan piano melalui komposisi baru berjudul "Waktu, yang Rindu Pulang" karya Marisa Sharon Hartanto, komposer Indonesia lulusan Royal Holloway University of London. Komposisi ini digubah khusus sebagai dialog musikal antara gamelan dan piano, menyatukan dua tradisi musik yang terpisah oleh jarak dan waktu sejak pertemuan mereka di Paris 136 tahun silam, Paris Expo tahun 1889, yang juga untuk pertama kalinya diperdengarkan di hadapan publik.
Konser tersebut didahului oleh seminar mengetengahkan dua narasumber, Geraldus Martimbang (Researcher TU München & Sagonese e.V.) dan Gabriel Laufer (Conductor, Percussion), yang membahas mengenai awal pertemuan antara komposer Claude Debussy dan banyak musisi internasional lainnya dengan gamelan Sunda, sebuah perjumpaan yang turut mempengaruhi arah sejarah musik klasik modern. Dalam kesempatan ini, publik juga berkesempatan menyaksikan langsung salah satu artefak gamelan Sunda yang turut menginspirasi Debussy.