05/11/2018
Nikmat mana lagi yang kau Dustakan...
Hanya di masa sekarang
Pengalaman seorang bapak
Saat mengendarai motor ke kantor dan sampai di depan pintu 5 GBK, mendadak polisi menghentikan lalu lintas. Saya pikir, wah ada pejabat lewat nih. Ternyata menang benar bahwa ada pejabat lewat, dan untuk kesekian kalinya, saya berpapasan dengan rombongan RI-1.
Sebenarnya jalan ditutup saat dilintasi seorang Presiden itu memang protokoler. Namun selama pemerintahan presiden yang ini, saya masih saja takjub, karena penutupan jalan hanya berlangsung selama 10 detik saja, 10 detik!
Bahkan voorijder terdepan langsung berteriak pada polisi lantas; "buka jalur, buka jalur", disusul satu unit Mercedes G Klasse berisi empat paspampres juga berteriak, "buka 1 jalur!" sambil melintas beriringan.
Ada buahnya dari situasi ini yaitu saya bisa bermotor jejeran sama mobil RI-1, demi apa coba????
Satu-satunya pemerintahan presiden yang belum saya rasakan hanya pemerintahan B**g Karno, dan baru kali ini saya naik motor bersisian dengan RI-1 tanpa "dihalau" pengawalnya. Yang seumuran dengan saya pasti tahu rasanya bagaimana kalau rombongan presiden lewat di masa lampau.
Antara ragu dan pengen saya dadah dadah kecil ke Pak Jokowi. Kebetulan beliau pas menengok dan membalas, disusul dua unit black rider yang saya tahu tersenyum dibalik topeng hitamnya sambil kasih jempol.
Dimana lagi anda bisa merasakan naik motor/mobil berjejer dengan presiden/kepala negara dengan protokoler lengkap kalau ga di Indonesia saudara-saudara? Bahkan tanpa ada suara sirine sedikit pun.
Berikut adalah hal yang saya petik
1. Walaupun kendaraan kepresidenan adalah kendaraan bulletproof, tapi keberanian seorang presiden untuk membaur dengan warganya adalah sesuatu yang sangat tidak bisa dipungkiri karena hanya segelintir presiden/kepala negara yang berani berbuat seperti itu.
2. Pak Jokowi sangat menghargai waktu kerja warganya, karena beliau berani mendobrak protokoler kawal yang berhak untuk mensterilkan jalan demi keamanan presiden.
3. Pak Jokowi sadar bahwa setelah beliau selesai dengan masa jabatannya, beliau akan kembali lagi menjadi warga Negara Kesatuan Republik Indonesia biasa, yang berbaur dengan tetangga tetangga kiri dan kanannya
Berita seperti ini sebenarnya sudah usang, karena yang biasa lewat di jalur tol jagorawi, sudah sering ketemu Pak Jokowi di jalan. Tapi buat saya yang ber KTP Banten, dan baru 3-4 kali berpapasan, masih luar biasa rasanya.
Di sisa perjalanan, saya yang excited ini akhirnya cuma bisa menangis terharu. Saya WA istri saya, cerita soal ini, dan sampai sore saya tulis ini pun, saya masih sambil menangis terharu. Akhirnya saya benar-benar ngrasain apa yang warga Solo dulu rasakan saat beliau menjabat walikota disana.
Terserahlah saya mau dipanggil cebong, mau dipanggil cebi itu hak anda. Tapi kalau dibilang kampanye, tolong hubungi dokter MRI terdekat, periksakan isi otak anda, ada gangguan atau tidak, lalu cari psikolog untuk terapi perilaku. Karena saya cuma seorang warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang bangga. Saya bangga dan bersyukur bahwa Allah sudah menciptakan orang seperti Pak Jokowi untuk menjadi presiden yang menghargai warganya, berbagi dengan warganya.
Salam
Yuli Arsih