Dian Flores

Dian Flores Usaha sosial untuk pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat

Senyum Harapan Sang Ibu Guru CantikDi sebuah kota kecil yang dikelilingi bukit dan hamparan sawah yang hijau, hiduplah s...
29/12/2025

Senyum Harapan Sang Ibu Guru Cantik

Di sebuah kota kecil yang dikelilingi bukit dan hamparan sawah yang hijau, hiduplah seorang guru perempuan bernama Maria. Semua orang memanggilnya Ibu Guru Maria. Ia dikenal bukan hanya karena kecantikannya—kulitnya bersih, matanya teduh, dan senyumnya selalu hangat—tetapi karena caranya melihat setiap anak bukan sekadar murid, melainkan “anak-anaknya”.
Namun, di balik senyum itu, ada kisah panjang yang jarang diketahui orang.
Cinta yang Tetap Tinggal Meski Pemiliknya Pergi
Maria pernah bahagia. Ia hidup bersama pria yang begitu ia cintai: Andreas, seorang pria sederhana yang penuh perhatian. Mereka tidak kaya, tetapi rumah kecil mereka selalu terasa paling hangat di lingkungan itu.
Hingga suatu hari, hidup berubah.
Andreas jatuh sakit. Penyakit itu perlahan melemahkan tubuhnya. Uang gaji Maria yang hanya cukup untuk makan sebulan harus dibagi untuk biaya pengobatan. Maria sering pulang sekolah dengan tubuh lelah, tetapi tetap tersenyum ketika memijat tangan suaminya yang semakin kurus.
Suatu malam, saat hujan turun pelan, Andreas menggenggam tangan Maria dan berkata,
“Jangan berhenti tersenyum, Maria. Karena senyummu bukan hanya milikku… itu cahaya untuk banyak orang.”
Itulah kata-kata terakhirnya.
Andreas pergi.
Dan Maria kehilangan separuh jiwanya.
Tetapi keesokan paginya, ia tetap berangkat ke sekolah.
Bukan karena ia kuat.
Bukan karena ia tidak sedih.
Tetapi karena ia tahu: ada banyak anak yang menunggu senyumnya.
Guru dengan Gaji Kecil, Namun Hati Tak Pernah Kekurangan
Hidup Maria tidak berubah banyak setelah itu.
Ia tetap tinggal sendirian di rumah kecil mereka.
Gajinya tetap sederhana, sering kali hanya cukup untuk kebutuhan paling dasar.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berkurang: perhatian dan cintanya pada murid-muridnya.
Ia selalu datang lebih awal hanya untuk memastikan kelas rapi.
Ia sering membeli buku tambahan dari sebagian uang makannya supaya muridnya bisa belajar lebih baik.
Ia sabar mendengar cerita, keluh kesah, bahkan tangis murid-muridnya.
Bagi Maria, menjadi guru bukan pekerjaan.
Itu panggilan hidup.
Anak-anak yang Diselamatkan Senyumnya
Di sekolah itu, ada banyak murid yang datang dari keluarga sederhana.
Ada yang hampir putus sekolah.
Ada yang kehilangan orang tua.
Ada yang hidup di tengah kekerasan rumah tangga.
Dan di tengah semua itu… ada senyum Maria.
Senyum yang menguatkan.
Senyum yang membuat anak-anak percaya bahwa hidup mereka masih punya harapan.
Ia mengajar bukan hanya membaca dan berhitung.
Ia mengajar tentang hidup.
Bahwa kesedihan bisa menjadi kekuatan.
Bahwa kehilangan tidak selalu berarti berakhir.
Bahwa cinta bisa tetap hidup, bahkan setelah orang yang kita cintai pergi.
Waktu Berlalu…
Tahun berganti tahun.
Anak-anak yang dulu duduk di kelas sederhana itu kini telah tumbuh dewasa.
Ada yang menjadi dokter.
Ada yang menjadi pengacara.
Ada yang menjadi pengusaha.
Ada yang menjadi pemimpin.
Tetapi ketika mereka ditanya siapa yang paling berperan dalam hidup mereka…
Hampir semuanya menjawab nama yang sama:
“Ibu Guru Maria.”
Karena dari wanita itu mereka belajar satu hal:
“Kita tidak selalu bisa memilih hidup seperti apa yang kita jalani.
Tapi kita bisa memilih cara menjalaninya.”
Hari Itu Datang
Suatu sore di sekolah tua itu, bel berbunyi lebih lama dari biasanya.
Bukan untuk memulai pelajaran.
Bukan untuk mengakhiri jam sekolah.
Tetapi untuk menyambut seseorang.
Puluhan mobil berhenti di halaman sekolah.
Orang-orang berpakaian rapi turun satu per satu.
Dokter, pengusaha, pejabat, guru, ibu rumah tangga sukses—semuanya datang.
Semua adalah muridnya.
Mereka sengaja pulang.
Untuk seseorang yang pernah menyalakan harapan dalam hidup mereka.
Di ruang aula yang sederhana, Maria duduk di kursi roda.
Tubuhnya kini menua.
Tetapi senyumnya… tetap sama.
Seorang pria yang kini menjadi pemimpin besar berdiri di depan. Dengan suara bergetar ia berkata,
“Jika hari ini kami berdiri sebagai orang-orang yang berhasil, itu karena ada seorang wanita yang dahulu memilih tetap tersenyum, bahkan ketika hidup menyakitinya.
Seorang guru…
Yang gajinya kecil, tetapi hatinya seluas langit.”
Saat itu, Maria menangis.
Bukan karena sedih.
Tetapi karena ia mengerti…
Selama ini ia tidak pernah hidup sendirian.
Cintanya kepada Andreas tidak sia-sia.
Kesetiaannya pada tugasnya tidak sia-sia.
Dan Di Ujung Cerita…
Malam itu, setelah acara selesai, Maria duduk sendirian di bangku halaman sekolah. Angin pelan berhembus. Ia menatap langit, seolah berbicara kepada seseorang yang tak terlihat.
“Aku sudah melakukan yang terbaik. Aku tetap tersenyum, seperti yang kau minta.”
Seolah menjawab, langit tampak lebih terang malam itu.
Pesan dari Kisah Ini
Tidak semua pahlawan mengenakan seragam militer.
Tidak semua orang hebat tampil di panggung besar.
Kadang, orang paling luar biasa adalah mereka yang bekerja dalam diam…
Menguatkan banyak hati…
Sambil menahan luka di dalam dirinya sendiri.
Seperti Ibu Guru Maria.
Wanita dengan gaji kecil
Dengan hidup yang penuh kehilangan
Tetapi memiliki senyum paling kuat di dunia.
Karena dari senyum itulah, lahir generasi yang lebih kuat, bijak, dan berhasil.

Hari ini, saya masih menantikan kabar baik dari para donatur dan sponsor agar semua anak yang tahun lalu dibantu dapat t...
08/09/2025

Hari ini, saya masih menantikan kabar baik dari para donatur dan sponsor agar semua anak yang tahun lalu dibantu dapat tetap bersekolah dan belajar dengan aman.
Semoga Tuhan mengabulkan do'a dan harapan kita semua.

29/05/2025

Late post bantuan Dana Pendidikan di Takatunga.
Semoga di hari peringatan kenaikan Yesus ke Surga ini, program bantuan ini dapat terus berlanjut karena saya percaya Yesus Maha Mukhjizat pasti akan mendengarkan do'a setiap orang yang membutuhkan.

Hubungi kami ke nomor WA yang ada
10/12/2024

Hubungi kami ke nomor WA yang ada

10/12/2024

Dia baru saja menjadi piatu karena Ibunya baru saja meninggal pada bulan oktober 2024.
Kami hanya dapat membantu membayar uang sekolahnya di SMAK ST Agustinus Langa

05/12/2024

PENDIDIKAN YANG UTUH

Di suatu pagi di akademi Athena yang megah, Aristoteles mengumpulkan murid-muridnya di bawah pohon besar di dekat akademinya. Dia merasa bahwa hari itu adalah waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran yang lebih dalam dari sekadar ilmu pengetahuan biasa.

Aristoteles berdiri di depan murid-muridnya dan mulai bertanya, “Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata ‘pendidikan’?”

Murid pertama, seorang anak muda bernama Alexios, segera menjawab, “Saya berpikir tentang belajar membaca, menulis, dan berhitung, Guru.”

Aristoteles tersenyum dan berkata, “Benar, itu bagian dari pendidikan. Tetapi, apakah hanya itu yang penting dalam pendidikan?”

Murid kedua, seorang gadis bernama Eirene, menambahkan, “Mungkin juga belajar ilmu pengetahuan, sejarah, dan filsafat, Guru.”

Aristoteles mengangguk, “Ya, ilmu pengetahuan dan filsafat sangat penting. Namun, apakah pendidikan hanya tentang mengisi pikiran dengan pengetahuan?”

Murid ketiga, seorang anak bernama Niketas, berpikir sejenak sebelum menjawab, “Sepertinya tidak, Guru. Tetapi, apa lagi yang harus kita pelajari?”

Aristoteles melihat murid-muridnya dengan penuh kasih dan berkata, “Pendidikan sejati adalah lebih dari sekadar mendidik pikiran. Ia juga harus mendidik hati. Tanpa mendidik hati, pendidikan kita tidaklah lengkap.”

Alexios bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Apa maksud Anda dengan mendidik hati, Guru?”

“Mendidik hati,” jawab Aristoteles, “berarti mengembangkan karakter dan moral kita. Ini berarti belajar untuk menjadi orang yang baik, jujur, adil, dan bijaksana. Apakah kalian pikir orang yang pintar tetapi tidak memiliki moral yang baik bisa membuat dunia ini lebih baik?”

Eirene berpikir sejenak dan menjawab, “Mungkin tidak, Guru. Orang pintar tanpa moral bisa melakukan hal buruk dengan pengetahuannya.”

“Tepat sekali,” kata Aristoteles. “Pendidikan sejati adalah lebih dari sekadar mengisi pikiran dengan pengetahuan. Pikiran yang terlatih tanpa hati yang terarah adalah seperti kapal tanpa kemudi. Ilmu dan pengetahuan sangat penting, tetapi tanpa moral dan nilai-nilai, kita akan tersesat. Dan itulah mengapa kita harus seimbang. Kita harus mengembangkan intelektual kita dan juga moral kita. Pikiran tanpa hati bisa menjadi sangat berbahaya, tetapi hati tanpa pikiran juga bisa menjadi tidak efektif.”

Niketas bertanya dengan antusias, “Bagaimana kita bisa mendidik hati kita, Guru?”

Aristoteles menjawab: “Pertama-tama, seorang guru harus menjadi contoh moralitas yang tinggi. Kedua, melalui diskusi tentang etika dan kebajikan dalam konteks yg nyata. Dan yang tidak kalah penting, melalui pengalaman langsung dan refleksi pribadi seperti menjadi seseorang yg jujur, adil, sabar, dan berempati, serta merenungkan setiap tindakan kita dan dampaknya terhadap orang lain.”

Alexios mengangguk paham dan bertanya, “Jadi, tujuan akhir dari pendidikan adalah untuk menjadi orang yang baik?”

“Ya, benar,” kata Aristoteles dengan bijak. "Pendidikan sejati adalah tentang membentuk karakter yang utuh, di mana pikiran dan hati saling melengkapi. Hanya dengan demikian kita bisa menjadi manusia yang seutuhnya, yang mampu berkontribusi pada kebaikan dunia. Kebahagiaan sejati datang dari kehidupan yang beretika dan penuh kebajikan.”

Eirene pun tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Guru. Saya mengerti sekarang bahwa pendidikan adalah tentang membentuk diri kita secara utuh, bukan hanya mengisi pikiran kita.”

Aristoteles tersenyum bangga pada murid-muridnya. “Itulah esensi dari pendidikan sejati. Ingatlah, mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah pendidikan sama sekali. Jadilah pribadi yang tidak hanya cerdas tetapi juga baik hati, karena itulah yang akan membuat dunia kita lebih baik.”

Murid-muridnya mengangguk dengan penuh semangat, merasa terinspirasi oleh kata-kata bijak gurunya. Mereka berjanji dalam hati untuk terus belajar dan berlatih kebajikan, memahami bahwa pendidikan sejati adalah perpaduan antara pengetahuan dan moralitas.

Kisah mereka menginspirasi banyak orang di seluruh Athena, menyebarkan pesan bahwa pendidikan yang sejati harus mencakup hati dan pikiran.

(Aristoteles, filsuf Yunani kuno)

04/12/2024

Haruskah Indonesia Menerapkan Pendidikan Gratis?
DUNIA pendidikan Indonesia sangat berdinamis dan kaya dengan berbagai wacana dan program. Salah satu wacana yang kerap didengungkan adalah menerapkan pendidikan gratis. Pendidikan gratis adalah pendidikan yang membebaskan para peserta didik atau pun orangtua peserta didik, terutama biaya yang berkaitan dengan proses belajar mengajar dan kegiatan pembangunan sekolah. Wacana tersebut diangkat karena ada begitu banyak kisah miris yang menggambarkan anak-anak usia sekaolah tidak bisa ke sekolah, diperlakukan tidak adil di sekolah/kampus, putus sekolah, dan tidak menerima ijazah, karena orangtua/wali tidak mampu membayar biaya pendidikan yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah/kampus.
Begitu Kisah-kisah tersebut tampak ironis karena Konstitusi atau UUD 1945 mengamanatkan bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab negara. Selain itu, pasal 34 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya program wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Sementara itu Peraturan Pemerintah 18/2022, pasal 80 dan 81 menegaskan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah membiayai pendidikan dengan alokasi anggaran 20 persen dari APBN atau APBD.
Meski Konstitusi dan UU mengamanatkan penerapan pendidikan gratis, minimal untuk pendidikan dasar, tidak semua kalangan masyarakat, termasuk para penyelenggara dan pengelola pendidikan memiliki suara bulat tentang hal tersebut. Dalam artikel “Debating Europe”, Direktur Direktorat Pendidikan dan Keterampilan OECD, Andreas Schleicher menjelaskan dalam masyarakat digital sekarang ini, yang paling penting adalah orang-orang terbaik dan terpintar dan bukan hanya orang-orang terkaya saja yang memiliki akses ke pendidikan yang bermutu. Namun tingginya biaya membuat pendidikan tidak dapat diakses di banyak tempat di belahan bumi, termasuk di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini, beberapa negara telah menawarkan pendidikan gratis. Di antaranya adalah Austria, Republik Siprus, Republik Ceko, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Islandia, Luksemburg, Malta, Norwegia, Polandia, Slovakia, Slovenia, dan Swedia. Manfaat utama dari kebijakan pendidikan gratis adalah membuka akses terhadap pendidikan. Pendidikan gratis akan memungkinkan masyarakat dari semua latar belakang, termasuk mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, memiliki akses terhadap pendidikan bermutu. Pendidikan gratis juga dapat mengurangi angka kemiskinan. Pendidikan merupakan faktor kunci dalam mengurangi angka kemiskinan, karena pendidikan memberikan individu keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih baik dan meningkatkan status ekonomi mereka. Manfaat lainnya adalah peningkatan angka melek huruf. Karena melalui pendidikan gratis semakin banyak orang yang memiliki akses terhadap pendidikan. Pendidikan gratis berpotensi menurunkan angka kemiskinan. Sebab dengan pendidikan gratis, lebih banyak orang akan mampu memperoleh keterampilan dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih baik. Pendidikan gratis dapat memacu peningkatan perekonomian. Tenaga kerja yang lebih terdidik akan berkontribusi lebih besar pada perbaikan perekonomian dengan meningkatkan produktivitas dan inovasi. Lebih banyak orang akan mampu memulai bisnis dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Pendidikan gratis akan mendorong mobilitas sosial, karena individu dari semua latar belakang akan mempunyai akses terhadap pendidikan dan kesempatan untuk meningkatkan status ekonomi mereka. Benefit lain dari pendidikan gratis adalah pengurangan kejahatan. Pendidikan telah terbukti menjadi faktor kunci dalam mengurangi tingkat kejahatan.
Dengan pendidikan gratis, lebih banyak orang akan memiliki akses terhadap pendidikan, sehingga akan mengurangi tingkat kejahatan. Pendidikan gratis akan mengarah pada peningkatan inovasi, karena lebih banyak orang memiliki akses terhadap pendidikan dan dapat berkontribusi pada pengembangan teknologi dan ide-ide baru. Pendidikan gratis juga dapat mengurangi ketimpangan pendapatan. Pasalnya, pendidikan memberikan individu-individu keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih baik dan meningkatkan status ekonomi mereka. Pendidikan gratis bisa membantu perbaikan kesehatan warga menjadi lebih baik. Karena individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung memiliki perilaku dan hasil kesehatan lebih baik. Pendidikan gratis dapat membekali individu dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk membuat keputusan dan berpartisipasi dalam kehidupan sipil, termasuk dalam proses politik dan demokrasi. Pendidikan gratis dapat mendorong kohesi sosial dengan menyatukan orang-orang dari latar belakang berbeda dan memberikan mereka pengalaman bersama.
Pendidikan gratis juga bisa membantu peningkatan pertumbuhan pribadi karena memberi individu kesempatan untuk mengalami pengembangan karakter, yang dapat meningkatkan martabat dan kepercayaan diri. Pendidikan gratis sangat penting untuk mengurangi kesenjangan gender. Pasalnya, pendidikan memberikan perempuan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat. Pendidikan gratis dapat menghasilkan tenaga kerja yang lebih terampil dan lebih produktif. Sebab, terbukti individu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi cenderung lebih produktif dan inovatif dalam pekerjaannya. Pendidikan gratis bermanfaat memajukan teknologi. Sebab pendidikan membekali individu dengan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk mengembangkan teknologi dan inovasi baru. Pendidikan gratis dapat mendorong peningkatan kesadaran dan pemahaman budaya, yang dapat mengarah pada kohesi sosial dan toleransi lebih besar. Pendidikan gratis sangat penting untuk meningkatkan kelestarian lingkungan, karena pendidikan memberikan individu pengetahuan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang tepat mengenai lingkungan.
Pendidikan gratis dapat mendorong peningkatan daya saing internasional. Tenaga kerja yang lebih berpendidikan akan menghasilkan perekonomian yang lebih kompetitif di panggung global, karena negara-negara dengan angkatan kerja yang lebih berpendidikan cenderung lebih sukses dalam perekonomian global. Jadi, secara keseluruhan, pendidikan gratis mempunyai potensi untuk memberikan berbagai hasil positif bagi individu dan masyarakat secara keseluruhan.

Argumen kontra pendidikan gratis Meski memberikan begitu banyak manfaat bagi kehidupan individual, masyakarat dan bangsa, tak sedikit orang yang menolak pendidikan gratis diterapkan karena penerapan pendidikan gratis akan membebani pemerintah yang berujung pada peningkatan pajak. Menurut mereka, penyelenggaraan dan pengelolaan lembaga pendidikan membutuhkan biaya yang besar. Apabila pemerintah menerapkan pendidikan gratis, itu berarti seluruh pembiayaan pendidikan ditanggung oleh negara. Untuk maksud itu, pemerintah dapat mematok pajak yang tinggi kepada warga negara demi mendanai proses pendidikan.
Mereka berargumen bahwa penerapan pendidikan gratis mengharuskan pemerintah mengalokasikan sebagian besar anggarannya untuk pendidikan, sehingga berpotensi menyebabkan berkurangnya pendanaan untuk bidang-bidang penting lainnya seperti layanan kesehatan, infrastruktur, dan pertahanan nasional. Dengan bertumpu pada APBN dan APBD, lembaga pendidikan memiliki pilihan yang terbatas untuk melakukan pengembangan infrastruktur (gedung dan ruang pembelajaran). Selain itu, tak dapat merekrut sumber daya manusia (tenaga pendidik dan kependidikan) yang berkompeten, tak dapat mengadakan fasilitas pembelajara yang up to date, tak dapat mengembangkan kurikulum dan metode pembelajaran secara inovatif.
Terakhir, penerapan pendidikan gratis berpotensi memperburuk sistem, efisiensi dan akuntabilitas birokrasi. Dengan kata lain, penerapan pendidikan gratis dapat membuka peluang praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang semakin meluas. Pilihan yang dapat diambil Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa kalangan pro dan kontra terhadap pendidikan gratis memiliki argumennya masing-masing. Namun, nenurut hukum hak asasi manusia internasional, pendidikan dasar bersifat wajib dan tidak dipungut biaya, alias gratis. Sedangkan pendidikan menengah dan tinggi dapat digratiskan secara bertahap. Faktanya, di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, jutaan anak usia sekolah kehilangan akses ke pendidikan, karena negara masih memungkinkan pengelola sekolah swasta mengenakan biaya untuk pendidikan dasar.
Selain itu, seringkali di sekolah negeri pun masih terdapat biaya tidak langsung yang terkait dengan pendidikan, seperti biaya seragam atau perjalanan tour dan kegiatan lainnya. Keterbatasan APBN sering dijadikan alasan untuk membenarkan praktik pendidikan dasar yang tdak gratis. Namun, sejatinya hal itu tidak dapat membebaskan pemerintah dari kewajiban menyelenggarakan pendidikan dasar gratis. Apalagi, Indonesia sendiri telah melakukan ratifikasi terhadap International Covenant On Civil And Political Rights (ICCPR) atau Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik) melalui diundangkannya Undang – Undang Nomor 12 Tahun 2005.
Meskipun memprioritaskan penyediaan pendidikan dasar gratis, negara harus mulai memberlakukan pendidikan gratis secara progresif untuk pendidikan menengah dan tinggi. Sebab, sudah terbukti di banyak negara bahwa pendidikan gratis memberikan benefit yang jauh lebih besar, daripada pendidikan berbiaya, apalagi berbiaya mahal.

04/12/2024

Halo semuanya! 🌟 Anda bisa mendukung saya dengan mengirim Bintang, itu membantu saya mendapatkan uang untuk terus membuat konten yang Anda sukai.

Setiap kali Anda melihat Stars, Anda bisa mengirimi saya Stars!

Selain bantuan Dana Pendidikan untuk anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar, Kami juga menggunakan uang pribadi u...
04/12/2024

Selain bantuan Dana Pendidikan untuk anak-anak yatim piatu dan anak-anak terlantar,
Kami juga menggunakan uang pribadi untuk membantu sesama pada saat badai seroja menerjang Bajawa Ngada Flores.

22/11/2024

Lanjutan bantuan dana pendidikan dan semua kebutuhan untuk sekolah sejak tahun 2019 hingga saat ini oleh Yayasan Dian Flores Indonesia yang didanai oleh keluarga besar Degroote dari Belgia.

09/11/2024

Namanya Riski Be'o,
Anak yatim piatu dari Boradho yang tinggal dengan seorang nenek yang penuh keterbatasan ekonomi.
Beasiswa ini adalah lanjutan dari tahun 2023 dengan sumber dana dari Miss Karley Davidson dan keluarga besarnya dari Amerika yang disalurkan melalui Yayasan Dian Flores Indonesia.

Address

Kampung Borani Langa
Bajawa
86419

Telephone

+6282236681223

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dian Flores posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category