05/10/2026
Pelatihan yang berlangsung di Portola Grand Arabia Hotel tersebut menarik bukan semata karena agenda administrasinya. Di balik pembaruan data SIPOL dan pembenahan kesekretariatan, ada pesan yang lebih besar: Partai Aceh sedang menempatkan pendidikan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari pembenahan organisasi.
Politik yang Dimulai dari Dalam
Ketua Panitia, Muhajir, mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam pengelolaan kesekretariatan. Karena itu, peningkatan kapasitas pengurus menjadi salah satu alasan utama pelatihan kembali digelar tahun ini.
Persoalannya pun konkret.
Sejumlah operator SIPOL sudah tidak aktif. Perubahan juga terjadi dalam struktur kepengurusan karena sebagian pengurus berpindah tugas, termasuk mereka yang telah diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Kondisi tersebut membuat pembaruan data menjadi pekerjaan yang harus dilakukan secara berkala. Partai Aceh menargetkan pembenahan data tersebut selesai tahun ini.
Namun, Partai Aceh tidak berhenti pada persoalan data.
Peserta juga dibekali materi mengenai etika dan protokol kesekretariatan, tata persuratan, pengelolaan arsip fisik dan digital, komunikasi profesional, pengelolaan keuangan serta pemanfaatan teknologi informasi. Narasumber berasal dari unsur Kesbangpol Aceh, akademisi, dan KIP Aceh.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Aceh, Dr. Teuku Rasyidin, SH., MH., menempatkan sekretariat sebagai bagian penting dari keberlangsungan organisasi politik.
Menurutnya, administrasi yang tertata, data yang akurat, dan pelayanan internal yang baik akan menentukan efektivitas koordinasi organisasi. Ia juga menekankan bahwa digitalisasi menuntut partai beradaptasi dan bekerja lebih cepat serta efisien.
Dengan kata lain, yang dibangun bukan hanya kemampuan mengurus dokumen, melainkan kompetensi orang-orang yang menggerakkan organisasi dari balik meja kerja.
Ketika Sekretariat Menjadi Ruang Pendidikan Politik