11/04/2013
Jurig Panganten
(Urban Legend-
Subang)
8 April 2013 — 9 komentar
Seperti biasa Mahes bakal
menceritakan kisah Urban
Legenda di sekitar kota Subang.
Kali ini Mahes bakal melaporkan
legenda Jurig Panganten. Dan
seperti biasa p**a ini kesaksian
seorang teman yang tidak mau
di sebutkan namanya, lalu Mahes
akan menceritakan sebagai
pelaku utama supaya gampang
dipahami. Berikut laporan dari
tempat kejdian!!!!
aku tinggal di sebuah rumah
sederhana di depan jalan
kabupaten, memang tak ada
yang spesial di lingkungan
rumahku tapi kami mempunyai
pantangan yaitu: Jangan Pernah
Mengatakan Jurig Panganten
Saat Hujan Deras. Jurig
Panganten (Jurig= setan,
panganten= pengantin) yaitu
korban cinta segitiga yang
berujung maut. Sepasang
pengantin di bunuh saat mereka
sedang berpose seusai akad
nikah, kabarnya mereka dibunuh
oleh laki-laki yang tidak rela
mantan pacarnya dinikahi oleh
pria lain. Mereka di bunuh
dengan cara dibacok
menggunakan golok secara
membabi buta tepat pada saat
hujan turun dengan deras.
saat itu aku sedang bersama
sepupuku di teras rumah, yah
untuk remaja tanggung
sepertinya yang namanya berbau
mistis paling penasaran. Pada
akhirnya Anwar (samaran)
bertanya padaku tentang Jurig
Panganten, sontak aku langsung
menegurnya.
aku: “heh!!!! ngomongmu
jangan sekata-kata, kalau mereka
datang dan membunuhmu saat
kamu sedang menikah nanti
gimana??”
Anwar: “ahhh Ndi, itu kan cuma
dongeng buat anak kecil, ayolah
ceritakan saja padaku……”
aku memang sependapat tapi tak
enak hati juga entah kenapa,
akhirnya aku buka suara juga
soalnya dia rewel terus. Risih aku
sama rayuannya. Setelah selesai
menceritakan itu, Anwar hanya
manggut-manggut berusaha
memahami alasan kenapa
menjadi pantangan sampai
sekarang. Disini mulai ada yang
aneh, seperti ada kilatan
halilintar tapi atak ada bunyi,
hujannya semakin deras, suara
rintikan hujan yang jatuh di atas
genting seperti tangisan pilu
seorang wanita dan jika ada
suara halilintar seperti teriakan
lepas seorang pemuda karena
kemarahnnya.
Merinding, tiba-tiba hawanya
terasa berbeda. Saat kami dalam
kondisi anatara dingin dan takut,
ada asap di hadapan kami
padahal tak ada orang yang
sedang membakar apapun.
Perlahan asap itu berwarna ada
hitam, kuning emas, merah, dan
hijau. Yang kemudian berubah
menjadi sepasang sosok
manusia yang lengkap dengan
kebaya hijau, jas hijau, kopiah,
sanggul serta hiasan emas yang
menghiasi sang wanita. Tapi
mereka menatap kosong pada
kami dengan mata merahnya.
Terlihat kepedihan, marah,
terpancar dari mata itu.
“HUUUUUUAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!”
kami berteriak bersamaan,
setelah itu uwa, ibu dari
sepupuku muncul. Sontak kami
langsung memeluknya eeh malah
diledek, “massa cowo udah SMP
amsih meluk-meluk mama???”
kamipun menceritakan seluruh
kejadian itu, nampak terlihat
cemas wajah uwa. Ia menyimpan
perasaannya.
0O0
“Ndi, aku mau nikah besok
datang yah?” tanya Anwar
“siap, aku juga udah nerima
undanganmu tadi, tunggu aja
kado dariku.!” jawabku mantap.
yahh usia kami sekarang sudah
30 tahun, kejadian tentang
penampakan itupun sudah
terlupakan. Namun legenda tetap
berjalan.
aku datang seusai isya ke
undangan itu, namun tak seperti
acara pernikahan yang biasanya
ramai ini malah sepi. Hanya
terlihat beberapa orang yang ada
di dapur. Tak sangka ketika aku
mendengar uraian kejadian dari
koki disana, kejadiannya sama
dengan legenda Jurig Panganten.
Untung kedua mempelai
langsung dibawa ke RS dan
katanya mereka selamat. Aku
tercengang benar-benar tak
percayalegenda itu berjalan.
Akupun p**ang tak sempat aku
memberikan kado ini, nantilah
kalo mereka sudah sembuh dari
kejadian itu.
0O0000
sepupuku itu sembuh, bahkan
mereka sedang menanti
momongannya, yahh saatnya aku
menyusul. Aku menikah dengan
wanita dari Suku yang sama,
sunda. Semua berjalan lancar,
acara sederhana yang penuh
kenangan apalagi teman-teman
jauh pada datang. Benar-benar
bahagia sampai………………
“heh Yanti!!!! Dasar wanita
l****g, kau putuskan aku hanya
untuk menikah dengan si
b******k Andi??? aku tak
terima!!!! Aku tak terima!!!! ku
bunuh kalian semua!!!!!!” Teriak
seorang pemuda dari kejauhan
dengan basah kuyup sambil
memegang sebilah golok.
“CRAAKKS, CRAAKKS”
goloknya melayang tepat di
dahiku dan istriku, aku terkapar
sakit tak tertahankan, pusing,
dan dalam keadaan aku seperti
ditarik ke belakang, samar-samar
ku lihat sepasang pengantin
sedang tersenyum padaku lalu
mereka lenyap menjadi asap.
Kemudian hanya rintik hujan
yang ku dengar semakin deras.
__________________________________________________________________________
maaf kalo ga’ serem, Andi
(sebenarnya nama samaran)
bangun sudah ada di RS. Namun
malang untuk istrinya, ia
meninggal. Tapi Andi udah nikah
sekarang dengan wanita yang
lebih rajin beribadah. Tentunya
ketika pesta pernikahan
berlangsung selain di jaga oleh
pemuda disana, juga sehari
sebelum pesta itu diadakan
pengajian terlebih dahulu.