Prima Brin

Prima Brin Pusat Riset Iklim dan Atmosfer - Organisasi Riset Kebumian dan Maritim, BRIN

Pusat Riset IkliM dan Atmosfer merupakan bagian dari Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang bertugas melaksanakan kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan serta invensi dan inovasi di bidang sains iklim dan atmosfer

Perekayasa PRIMA-BRIN Arief Darmawan menjelaskan, perdagangan karbon dikenal sebagai perdagangan emisi atau pasar karbon...
27/10/2024

Perekayasa PRIMA-BRIN Arief Darmawan menjelaskan, perdagangan karbon dikenal sebagai perdagangan emisi atau pasar karbon. Dimana mekanismenya berbasis pasar yang memungkinkan negara, perusahaan, atau organisasi untuk membeli dan mengizinkan atau mengkredit emisi gas rumah kaca (GRK).

“Tujuannya adalah membatasi emisi secara keseluruhan dan memberi insentif pada pengurangan karbondioksida, dan emisi gas rumah kaca lainnya untuk memitigasi perubahan iklim,” ucap Arief saat webinar “The Role Of Mangrove Ecosystem As Climate Control In Terms of Carbon Trading Prospection” Kamis (24/4).

Dari sisi regulasi, Indonesia sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 98 Tahun 2021 yang mengatur perdagangan karbon dan penetapan harganya. Lembaga yang ditunjuk untuk menjalankan mekanisme perdagangan karbon ini adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Sektor energi atau pembangit listrik tenaga batubara merupakan pilot project dari perdagangan karbon. Ke depan, akan di ekspansi ke sektor lain seperti industri kertas, semen, baja serta sektor lainnya,” tegas Arief.

Mangrove dapat berperan dalam perdagangan karbon (carbon trading) karena merupakan salah satu dari 3 ekosistem karbon biru yang efektif dalam menyerap karbon. Distribusi mangrove di Indonesia adalah terluas di dunia yaitu sekitar 3,3 juta hektar dan berpotensi dijadikan aset untuk Indonesia dalam perdagangan karbon. Menurutnya, terdapat 3 negara di Asia Tenggara yang memiliki pop**asi mangrove terbanyak yaitu Indonesia, Myanmar dan Thailand.

Arief menyebutkan, mangrove adalah ekosistem karbon biru yang mampu menyerap CO2 terbesar, kemudian menyimpannya dalam bentuk biomassa atau stok karbon. “Tentu saja ekosistem ini memiliki peran penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Terdapat 3 ekosistem di dalamnya seperti mangrove, padang lamun (seagrass meadows), dan rawa (salt marshes),”

Beberapa hasil riset mangrove pernah dilakukan, dan menunjukkan kandungan karbon dari mangrove memiliki 3 hingga 5 kali lipat lebih banyak dibanding hutan tropis.

Baca selengkapnya di
https://www.brin.go.id/news/121268/peneliti-brin-jelaskan-perdagangan-karbon-sebagai-perdagangan-emisi

Para Peneliti BRIN sedang mengembangkan alat pemantauan kualitas udara vertikal untuk mengukur Volatile Organic Compound...
20/10/2024

Para Peneliti BRIN sedang mengembangkan alat pemantauan kualitas udara vertikal untuk mengukur Volatile Organic Compounds (VOC). VOC merupakan senyawa organik yang memiliki tekanan uap yang tinggi pada suhu ruangan.

Penelitian melibatkan beberapa tim dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA), Pusat Riset Mekatronik Cerdas (PRMC) dan Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT).

Periset PRIMA-BRIN, Halimurrahman menjelaskan, pengujian lapangan pertama ini dilakukan di rooftop gedung BRIN Kawasan Sains Subang, dengan menggunakan simulator UAV. Alat pemantauan kualitas udara vertikal ini dirancang dapat dioperasikan melalui platform UAV sehingga memungkinkan pemantauan udara di berbagai ketinggian sesuai kebutuhan.

“Prototipe tersebut menggunakan Solid Phase Microextraction (SPME) untuk mendeteksi VOC di atmosfer. Uji kinerja ini bertujuan untuk mengevaluasi performa prototipe dalam mengukur komposisi VOC di udara sekitar”, jelas Halimurrahman pada Rabu (9/10).

Lebih lanjut Halimurrahman menerangkan, kegiatan pengujian awal prototipe pemantauan kualitas udara vertikal ini dimulai dari pengoperasian alat di lapangan hingga analisis data. ‘’Dalam penelitiannya menggunakan Kromatografi Gas di laboratorium BRIN KS Subang.” pungkasnya.

Periset PRIMA-BRIN, Ginaldi Ari Nugroho menambahkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk menguji kinerja lapangan dari prototipe modul pemantauan kualitas udara vertikal. "Penelitian ini diinisiasi dari penelitian disertasi Eka Dian Pusfitasari di Helsinki University mengenai pengukuran VOC di udara dengan menggunakan Solid Phase Microextraction (SPME)," tambah Ginaldi.

Periset PRMT-BRIN, Dewi Deslinasari mengungkapkan pengujian sampling SMPE Kromatografi Gas dinyatakan bahwa hasil analisis kualitas udara menunjukkan hasil yang baik.

‘’Pengembangan teknologi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pemantauan kualitas udara secara real-time di berbagai ketinggian, khususnya di kawasan perkotaan dan industri," ungkap Dewi.

Selengkapnya baca di
https://brin.go.id/news/121189/periset-brin-lakukan-uji-prototipe-alat-pemantauan-kualitas-udara-vertikal

*BISAAN BANGGA Edisi 9 Tahun 2024*Hallo Kawan BRIN semua.. Kehadiran sebuah sistem monitoring pemantauan cuaca, kebakara...
15/10/2024

*BISAAN BANGGA Edisi 9 Tahun 2024*

Hallo Kawan BRIN semua..

Kehadiran sebuah sistem monitoring pemantauan cuaca, kebakaran lahan dan kabut asap sangat dibutuhkan untuk wilayah Indonesia, terlebih jika sistem tersebut berbasis partisipasi masyarakat.

Melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dilakukan penelitian terkait Sistem Monitoring Cuaca, Kebakaran lahan dan Kabut Asap (SIMOCAKAP).

Lalu bagaimana pemanfaatannya dan hasilnya?

Mari, simak pembahasan lengkapnya dalam Talkshow *Bisaan Bangga (Bincang Sains Kawasan Bandung Garut)* edisi ke-9 tahun 2024 dengan topik: *"Sistem Monitoring Cuaca, Kebakaran Lahan dan Kabut Asap"*

📆 Waktu:
Senin, 21 Oktober 2024
Pukul 14.00 - 15.00 WIB

📱Live streaming di Kanal Youtube BRIN Indonesia
https://youtube.com/live/H_MbzomBITY

💻 Narasumber:
*Dr. Albertus Sulaiman, S.Si, M.Si*
(Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN)

👩‍💻 Host:
*Kristanty Permata Vidiarsy, S.IP.*
(Pranata Humas BRIN Kawasan Bandung-Garut)

Ayo, Kawan BRIN, catat tanggalnya dan jangan lupa join youtubenya!

Penelitian dan pengembangan teknologi berbasis sistem pendukung keputusan (Decision Support System/DSS) merupakan inovas...
22/09/2024

Penelitian dan pengembangan teknologi berbasis sistem pendukung keputusan (Decision Support System/DSS) merupakan inovasi yang terus dilakukan. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, terutama pada Kelompok Riset Interaksi Atmosfer - Laut dan Variabilitas Iklim dalam memutakhirkan platform prediksi musim “KAMAJAYA”.

“KAMAJAYA membantu para petani mengetahui awal musim dengan lebih tepat, sehingga mereka bisa memutuskan dengan lebih akurat kapan harus memulai tanam,” jelas Ketua Kelompok Riset Interaksi Atmosfer-Laut dan Variabilitas Iklim, Erma Yulihastin, pada Rapat Koordinasi Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Jumat (20/9).

Dijelaskan Erma, KAMAJAYA merupakan salah satu dari dua produk inovasi kami adalah prediksi musim yang dikembangkan sejak tahun 2020. KAMAJAYA merupakan akronim dari Kajian Awal Musim Wilayah Indonesia Jangka Madya. Platform ini mendukung pengembangan sistem pertanian dengan pendekatan pintar dan presisi dalam hal pemilihan lokasi, waktu, dan jenis tanaman, untuk optimalisasi kegiatan pertanian.

Pilot project KAMAJAYA, lanjut Erma, merupakan kerja sama dengan pihak swasta, yaitu PT Mitra Tanam Sejahtera. Kerja sama ini menjadi bukti bahwa KAMAJAYA dapat diimplementasikan secara luas di sektor perkebunan dan memiliki mitra pengguna yang jelas.

"Ini berbasis industri dan merupakan langkah awal komersialisasi bagi KAMAJAYA, yang ke depannya akan banyak berperan dalam membantu sektor pertanian, perkebunan, serta sektor-sektor lain yang membutuhkan prediksi musim yang akurat," tutur Erma.

Secara teknis, KAMAJAYA didukung oleh sistem pengamatan atmosfer berbasis sensor permukaan, radar, dan satelit, serta sistem prediksi atmosfer berbasis model atmosfer dan sistem komputasi kinerja tinggi. Oleh karena itu, Erma menekankan bahwa prediksi musim dari KAMAJAYA merupakan strategi yang dapat digunakan sebagai rekomendasi manajemen pertanian untuk menghadapi ancaman kekeringan atau kebanjiran.

Baca selengkapnya di
https://brin.go.id/news/120736/tingkatkan-akurasi-prediksi-musim-untuk-pertanian-brin-terus-mutakhirkan-kamajaya

Jumat (20/9), Kepala PR IA-BRIN, Albertus Sulaiman mengungkapkan bahwa kemandirian pangan memiliki peran yang penting da...
22/09/2024

Jumat (20/9), Kepala PR IA-BRIN, Albertus Sulaiman mengungkapkan bahwa kemandirian pangan memiliki peran yang penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Namun, di sisi lain, perubahan iklim memberikan pengaruh besar terhadap ketahanan pangan, karena menyebabkan terjadi pergeseran musim hujan atau kemarau yang sangat mempengaruhi pola dan waktu tanam tanaman pangan.

Melalui sistem prediksi musim Kajian Awal Musim Jangka Madya Wilayah Indonesia (KAMAJAYA), BRIN memberikan rekomendasi terkait prediksi curah hujan beberapa bulan ke depan, sehingga rekomendasi awal tanam dan panen dapat dioptimalkan.

Sulaiman menyambut baik kerja sama penelitian dan pengembangan verifikasi sistem prediksi musim KAMAJAYA. Tujuannya untuk meningkatkan produksi tanaman pangan pada site PT Mitra Tanam Sejahtera di Kabupaten Ogan Komering Ulu. Selain itu, juga dapat memperkuat peranan sistem prediksi musim dalam peningkatan produksi tanaman khususnya di wilayah Kabupaten OKU, Sumatera Selatan.

“Sifat lokal di Indonesia itu sangat kuat, jadi tiap daerah memang mempunyai iklim yang unik. Dengan kerja sama ini diharapkan kedua belah pihak akan diuntungkan, kita bisa mempelajari iklim di wilayah OKU, sehingga dengan banyaknya penelitian, maka prediksi iklim semakin akurat,” ucap Sulaiman.

“Kerja sama ini tidak hanya memberikan data-data, akan tetapi ke depan nya kita akan mengembangkan kemampuan kita melakukan prediksi yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Kepala Divisi Ekosistem Jagung, PT Mitra Tanam Sejahtera, Gustaf Ridanus, menyatakan bahwa kerjasama ini sangat penting untuk peningkatan produktivitas dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Gustaf menyebutkan hasil riset yang dilakukan PR IA bisa memberikan manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada perusahaannya. Selain mendapatkan data-data dan informasi terkait musim, kedepannya diharapkan dapat lebih dimutakhirkan secara akurat untuk mendukung meningkatkan produktivitas tanaman. “Kami berharap kedepannya kerjasama ini dapat dikembangkan secara kontinyu,” pungkas Gustaf.

Selengkapnya baca di
https://brin.go.id/news/120730/brin-rekomendasikan-kamajaya-sebagai-awal-tanam-dan-panen-lebih-optimal

PR IA-BRIN bersama Sekolah Tinggi Teknologi TNI Angkatan Laut (STTAL), Prodi S1 Hidrografi dan Prodi S2 Oseanografi, mel...
18/09/2024

PR IA-BRIN bersama Sekolah Tinggi Teknologi TNI Angkatan Laut (STTAL), Prodi S1 Hidrografi dan Prodi S2 Oseanografi, melakukan riset dan pemantauan variabilitas parameter oseanografi selama peralihan monsun timur ke monsun barat di perairan Teluk Banten.

Kegiatan riset ini berlangsung melalui pemasangan alat pemantauan berupa sensor suhu permukaan laut dan tekanan permukaan laut milik BRIN di Karangantu, Teluk Banten, mulai 4 September hingga akhir September tahun ini.

Peneliti Ahli Utama PR IA BRIN Widodo Setyo Pranowo menjelaskan, pemasangan alat tersebut dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Latihan Praktek (Lattek) Prodi S1 Hidrografi yang dipimpin oleh Letkol Laut Yulianto dari STTAL.

“STTAL melakukan survei dan pengukuran batimetri, arus laut, gelombang laut, tide master, dan automatic weather station. Data hasil pemantauan akan dianalisis dan dibandingkan dengan data citra satelit oleh para perwira mahasiswa Prodi S2 Oseanografi yang dipimpin oleh Letkol Laut Johar Setiyadi,” jelas Widodo dalam keterangannya, Jumat (13/9).

Widodo menerangkan, bulan September, Oktober, dan November adalah masa peralihan dari monsun timur menuju monsun barat. Pada bulan-bulan ini, terjadi transisi dari musim kemarau ke musim penghujan, atau perubahan dari angin timur ke angin barat.

Monsun timur biasanya bertepatan dengan musim kemarau, sementara monsun barat yang dimulai pada Desember hingga Februari bersamaan dengan musim penghujan.

“Beberapa minggu terakhir ini sudah terasa adanya lonjakan suhu yang sangat tinggi, udara sangat panas, lalu keesokan harinya terjadi hujan lebat,” kata Widodo.

Menurutnya, perairan Teluk Banten dipilih karena Lokasi ini strategis dan unik, terletak di antara Laut Jawa, Selat Karimata, dan Selat Sunda.

“Selat Sunda memiliki akses langsung ke Samudra Hindia. Sehingga, ada banyak tema riset yang bisa dikembangkan ke depannya,” ungkapnya.

Selengkapnya baca di
https://brin.go.id/news/120636/kolaborasi-brin-dan-tni-al-tingkatkan-riset-kelautan-di-teluk-banten

Luasnya kopling laut-atmosfer-ionosfer tidak hanya mencakup fenomena skala lokal, regional, dan global, tetapi juga pada...
18/09/2024

Luasnya kopling laut-atmosfer-ionosfer tidak hanya mencakup fenomena skala lokal, regional, dan global, tetapi juga pada kejadian cuaca dan iklim serta kejadian alam lainnya seperti tsunami.

Tsunami juga dapat disebabkan oleh gempa bumi, letusan gunung bawah laut, dll. Sehingga dalam riset perlu membatasi hal tersebut.

“Maka di sini kami membatasi kopling laut atmosfer ionosfer pada saat terjadi tsunami Tonga,” ungkap Buldan Muslim, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PR IA) BRIN, dalam Kolokium PRIMA bertajuk “Kopling Laut-Atmosfer-Ionosfer Saat Terjadi Tsunami", Kamis (12/9) di Bandung.

Buldan menjelaskan, terdapat banyak hal yang dapat menyebabkan terjadinya tsunami, di antaranya adalah gempa yang terjadi di laut, di mana, episenter gempa di permukaan laut.

Buldan menuturkan pada saat gempa, dasar laut di episenter bisa mendorong air laut di atasnya. Sehingga atmosfer di atas episenter terkompresi yang memicu terjadinya gelombang akustik.

Ketika terjadi tsunami, terjadi p**a perpindahan gelombang tsunami yang bergerak secara horizontal. Hal ini yang mengganggu atmosfer, sehingga menimbulkan gelombang gravitasi atmosfer.

“Gelombang gravitasi atmosfer dan akustik dapat menjalar ke atas sampai ionosfer. Sehingga, ada pengaruh laut ke atmosfer kemudian ke ionosfer,” terangnya.

Lebih lanjut dijelaskannya, metode yang dilakukan oleh Buldan pada saat terjadi tsunami Tonga tahun 2022 adalah dengan pengamatan Global Navigation Satellite System (GNSS).

“Kami menggunakan 3 stasiun pengamatan GNSS di sekitar lokasi letusan. Dari grafik, kami melihat adanya garis-garis yang menunjukkan detik pengamatan di ionosfer, dan jika diproyeksikan ke laut itu melintasi koordinat lokasi di sekitar Tonga,” tutur Buldan.

Setelah terjadi erupsi Tonga, muncul gelombang kejut sampai stratosfer, debu sampai stratosfer, gelombang bunyi, gelombang gravitasi atmosfer, gelombang akustik, longsoran kaldera sebesar 5 kilometer kubik, dan tsunami, serta gangguan ionosfer.

Selengkapnya baca di
https://brin.go.id/news/120634/dampak-letusan-gunung-berapi-tonga-terhadap-ionosfer-melalui-penelitian-kopling-laut-atmosfer-ionosfer

Peneliti Ahli Utama PR IA-BRIN Widodo Setiyo Pranowo, menyatakan, gelombang internal merupakan fenomena yang terjadi di ...
18/09/2024

Peneliti Ahli Utama PR IA-BRIN Widodo Setiyo Pranowo, menyatakan, gelombang internal merupakan fenomena yang terjadi di bawah permukaan laut, dipicu oleh perbedaan densitas air akibat variasi suhu dan salinitas.

Menurutnya, memahami fenomena ini tidak hanya krusial untuk penelitian ilmiah, tetapi juga untuk aplikasi praktis, seperti prediksi perubahan iklim dan mitigasi bencana.

“Gelombang internal bisa menjadi indikator awal untuk perubahan besar di ekosistem laut yang mungkin berpengaruh pada iklim global. Jika kita bisa memahami dan memodelkan pergerakan ini dengan baik, kita dapat memprediksi perubahan iklim dengan lebih akurat,” kata Widodo, dalam Kolokium bertajuk “Analysis of Internal Wave in the Buru Island Coastal Waters, Banda Sea, Indonesia”, Kamis (29/8).

Dijelaskannya, gelombang internal memengaruhi sirkulasi massa air di lautan, yang pada gilirannya berdampak pada distribusi nutrien dan pola arus laut yang sangat penting bagi kehidupan laut.

Widodo juga menggarisbawahi kontribusi penelitian yang dilakukan di PR IA BRIN terhadap pemahaman global tentang fenomena ini.

Dalam kolaborasi dengan berbagai institusi internasional, seperti Marine Technology Cooperation Research Center (MTCRC) antara Indonesia dan Korea, penelitian yang dipimpin Widodo berhasil membuka wawasan baru tentang peran gelombang internal dalam dinamika oseanografi.

“Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi signifikan bagi komunitas ilmiah Indonesia, tetapi juga diakui secara internasional. Kami bekerja sama dengan para ahli dari berbagai negara untuk memastikan bahwa hasil riset kami bisa diaplikasikan secara global,” ujar Widodo, yang juga merupakan anggota dewan penasihat ilmiah di MTCRC ini.

Widodo menyampaikan pandangannya tentang arah penelitian oseanografi di masa depan. Dia menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya laut.

Selengkapnya baca di
https://brin.go.id/news/120476/brin-teliti-gelombang-internal-di-bawah-permukaan-laut-untuk-prediksi-perubahan-iklim

BRIN melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer bekerja sama dengan PT PLN Nusantara Power untuk memperkuat riset dalam pene...
30/08/2024

BRIN melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer bekerja sama dengan PT PLN Nusantara Power untuk memperkuat riset dalam penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) menggunakan metode Drone Rotary (Extended GBG) dengan bahan semai serbuk mikropartikel higroskopis di PLTA Unit Pembangkitan Minahasa dan Tondano

Kepala PR IA BRIN Albertus Sulaiman, menyambut baik kerja sama pemanfaatan teknologi TMC. “Penerapan teknologi modifikasi cuaca merupakan upaya mempengaruhi sistem awan dengan menerapkan teknologi, sehingga dapat mengkondisikan cuaca agar berperilaku sesuai dengan yang dibutuhkan,” tutur Sulaiman dalam sambutannya saat membuka pertemuan penandatanganan kerja sama di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Samaun Samadikun, Bandung, pada Rabu (28/8)

Perekayasa Ahli dari PR IA, Purwadi menambahkan bahwa kegiatan riset yang dilakukan antara BRIN dan PT PLN Nusantara Power adalah uji coba penyemaian awan menggunakan metode Drone Rotary (Extended GBG) dengan bahan semai serbuk mikropartikel higroskopis berukuran 2 hingga 5 mikrometer untuk melihat efek penyemaian awan dengan bahan tersebut

Selain itu, menurut Ketua Kelompok Riset Fisika Awan dan Aplikasinya tersebut akan dilakukan pemantauan pertumbuhan awan dengan berbagai peralatan yang dimiliki BRIN. “Seperti Radar Cuaca Radar, Distometer dan juga peralatan-peralatan pengukuran cuaca yang lainnya sehingga efek dari penyemaian awan dapat dijelaskan secara ilmiah,” imbuhnya

Vice President Technology Development PT PLN Nusantara Power Ardi Nugroho, menyampaikan bahwa kerjasama ini sangat penting untuk melakukan teknologi modifikasi cuaca pada salah satu pembangkit kami di DAS Tondano menggunakan drone

“Harapan kami dengan kerjasama antara Nusantara Power dan BRIN ini, pembangkit PLTA kami khususnya yang ada di DAS Tondano bisa menambah produksi listrik berdasar metode TMC drone sehingga nanti penambahan KWH produksi dari PLTA,” jelasnya

Baca selengkapnya di
https://brin.go.id/news/120448/brin-dan-pt-pln-nusantara-power-kolaborasi-dalam-penerapan-teknologi-modifikasi-cuaca

Siklus El Nino dan La Nina telah diamati sejak 1961 hingga 1993. Hasil pengamatan menunjukkan, Indonesia secara konsiste...
30/08/2024

Siklus El Nino dan La Nina telah diamati sejak 1961 hingga 1993. Hasil pengamatan menunjukkan, Indonesia secara konsisten mengalami anomali hujan pada April hingga Desember.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Edvin Aldrian menyebut, La Nina memiliki sifat berlawanan dengan El Nino. La Nina cenderung menyebabkan peningkatan curah hujan, sementara El Nino biasanya mengurangi curah hujan.

“Indonesia merupakan daerah pintu masuk dari El Nino. Anomali tinggi muka laut di wilayah Indonesia menunjukkan korelasi negatif dengan indeks El Nino di Samudra Pasifik,” jelas Edvin, pada BRIN Insight Every Friday (BRIEF), secara daring, Jumat (23/8).

Edvin mengatakan, Samudra Pasifik memiliki sifat dari suhu yang terus naik akibat dari El Nino dan La Nina, serta pemanasan global. Saat La Nina, suhu permukaan laut di bagian tengah dan timur Samudra Pasifik menjadi lebih dingin dari biasanya. Fenomena ini menurutnya, berdampak besar terhadap pola cuaca di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

“Dampak La Nina tidak hanya terbatas pada perubahan pola hujan, tetapi juga memengaruhi sektor pertanian, perikanan, dan ekosistem laut,” tuturnya.

Melalui Great Ocean Conveyor Belt, yaitu sebuah sistem sirkulasi arus laut bumi yang terus bergerak dan memengaruhi distribusi panas di seluruh permukaan bumi, Edvin mengungkap, perpindahan panas yang terjadi di Indonesia lalu berpindah ke Samudra Pasifik tengah. Ini bisa terjadi ketika waktu El Nino atau La Nina, dan pengaruhnya bisa terjadi di seluruh permukaan bumi.

Kelautan Indonesia sebagai kanal atau pintu masuk utama arus lintas Indonesia (arlindo) dapat digunakan sebagai prekursor kedatangan El Nino dengan tingkat keyakinan tinggi.

Namun demikian, menurut profesor dengan keahlian dan pengalaman yang luas di bidang meteorologi dan klimatologi tersebut, La Nina dapat menyebabkan kekeringan hebat yang kadang disertai dengan kebakaran hutan, serta peningkatan potensi gagal panen pada sektor pertanian, terutama padi.

Baca selengkapnya di
https://brin.go.id/news/120372/memahami-siklus-el-nino-dan-la-nina-apa-pengaruhnya-di-indonesia

BRIN melakukan penelitian terkait erupsi Gunung Merapi yang memiliki dampak signifikan terhadap kekeruhan atmosfer atau ...
30/08/2024

BRIN melakukan penelitian terkait erupsi Gunung Merapi yang memiliki dampak signifikan terhadap kekeruhan atmosfer atau turbiditas. Hal ini memengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia.

Peneliti Ahli Madya PR IA-BRIN Lilik Slamet Supriatin menjelaskan, turbiditas atmosfer dapat disebabkan oleh faktor alami dan aktivitas antropogenik, seperti kebakaran hutan, polusi udara, serta badai debu dan pasir.

“Turbiditas berdampak pada berkurangnya visibilitas, gangguan kesehatan, gangguan pemandangan kota, serta koefisien pemadaman,” kata Lilik, dalam kolokium “Pengaruh Kekeruhan (Turbiditas) Atmosfer pada Gross Primary Productivity (GPP) di Taman Nasional Gunung Merapi”, Kamis (15/8).

Di wilayah Gunung Merapi, kata dia, turbiditas atmosfer berasal dari awan panas (wedus gembel) dan debu vulkanik yang dihasilkan saat erupsi.

Koefisien pemadaman menunjukkan berkurangnya cahaya matahari yang diterima di suatu permukaan. Pada hari yang bersih, koefisien ini berada di angka 30 persen, sementara pada hari yang terpolusi mencapai 65 persen.

Perubahan 10 hingga 20 persen pada koefisien pemadaman dapat mengakibatkan penurunan visibilitas hingga 50 persen.

Latar belakang penelitian yang dilakukan oleh Lilik dan tim Kelompok Riset Lingkungan Atmosfer dan Aplikasinya adalah untuk mengukur turbiditas menggunakan teknik penginderaan jauh, yaitu mengambil data GPP atau produktivitas primer kotor dari satelit.

“Kami mengukur indeks turbiditas dari rasio antara radiasi global yang diukur di permukaan dengan radiasi global di puncak atmosfer. Namun, karena kesulitan mendapatkan instrumen pengukuran radiasi di permukaan, kami menghitung indeks turbiditas menggunakan teknik penginderaan jauh, yaitu mengambil data produktivitas primer kotor dari satelit,” jelasnya.

Teknik pengukuran produktivitas primer kotor yang digunakan meliputi teknik hasil panen, oksigen, dekomposisi sampah, radioaktif, serta penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai GPP sebelum, selama, dan setelah erupsi Gunung Merapi.

Baca selengkapnya di
https://brin.go.id/news/120271/gunakan-data-satelit-dampak-erupsi-gunung-merapi-terhadap-kekeruhan-atmosfer-diteliti-brin

Deputy Director Centre Climate Research Singapore (CCRS) Aurel Moise mengungkapkan, wilayah Indonesia, khususnya di sela...
30/08/2024

Deputy Director Centre Climate Research Singapore (CCRS) Aurel Moise mengungkapkan, wilayah Indonesia, khususnya di selatan khatulistiwa, pada musim kemarau diperkirakan akan terjadi peningkatan nilai maksimum dari Consecutive Dry Days (CDD), atau jumlah hari tanpa hujan berturut-turut dalam satu tahun.

Lokasi dengan peningkatan CDD terbesar berada di wilayah yang rentan terhadap kebakaran hutan, seperti Sumatera Selatan, Riau, dan sebagian besar Kalimantan.

“Di masa depan, kemungkinan besar akan terjadi peningkatan kejadian kebakaran hutan dan asap kabut saat musim kemarau,” kata Aurel, dalam webinar PRIMA's Talk bertajuk “High-resolution Climate Change Projections for Singapore and the Wider Southeast Asia Region in Support of Climate Impacts Research”, yang dihelat BRIN, Kamis (8/8).

Aurel menjelaskan, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD), yaitu perbedaan suhu hangat di bagian timur dan barat Samudra Hindia yang memengaruhi curah hujan di seluruh Benua Maritim. Selain itu, El Nino Southern Oscillation (ENSO), yang merupakan anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik, juga berdampak signifikan terhadap curah hujan di wilayah ini.

"Perbedaan kondisi hangat dan dingin yang disebut La Nina dan El Nino ini sangat berdampak pada curah hujan di seluruh Benua Maritim," tegas Aurel.

Melalui laporan studi Singapore’s Third National Climate Change Study (V3) yang berisi hasil penelitian tentang perubahan dampak iklim di Singapura dan Asia Tenggara, Aurel memproyeksikan bahwa permukaan air laut akan meningkat di seluruh kawasan Asia Tenggara dengan tingkat yang berbeda-beda hingga akhir abad ini.

Selain itu, tren curah hujan yang bervariasi dan peningkatan suhu udara yang signifikan, terutama di bulan Juni, Juli, dan Agustus, menjadi kunci utama dalam studinya.

Baca selengkapnya di
https://brin.go.id/news/120141/ri-diperkirakan-alami-peningkatan-jumlah-hari-tanpa-hujan-berturut-turut-di-musim-kemarau

Address

Jalan Drive Djundjunan Nomor 133
Bandung
40173

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00

Telephone

+628112187807

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Prima Brin posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Prima Brin:

Share