22/11/2017
SEJARAH TAMAN LALU LINTAS BANDUNG
Dahulu tempat ini adalah temlat yang dijadikan pusat komando pertahanan Hindia Belanda di Nusantara, bukan hanya gedung Paleis Legercommandant yang sudah berubah fungsi jadi gedung Markas Komando Daerah Militer III/Siliwangi.
Tahun 1898, lahan ini berupa tanah rawa yang ditumbuhi rumpun bambu. Rawa ini kemudian dikeringkan dan sempat digunakan untuk upacara dan olah raga anggota militer.
Sekitar tahun 1915-1918, orang-orang mulai menyadari bahwa cuaca di kota Bandung pada musim pancaroba sangat tidak ramah. Tanpa pepohonan pelindung, angin di lapangan ini berhembus sangat kencang, sedangkan pada musim kemarau udara sangat panas, karena itu disekeliling lapangan ditanami pohon kenari (Canarium commmune) dan pohon Sepatu Dewa (Spathodea campanulata). Secara bertahap, lahan ini terus ditanami hingga akhirnya menjadi taman tropis yang cukup representatif.
Tahun 1925 nama Insulindepark atau Taman Nusantara disematkan menjadi nama taman ini. Nama ini diberikan oleh pemerintah (gemeente) Bandung saat itu, karena taman ini ditetapkan sebagai pusat dari wilayah-wilayah kota Bandung yang memiliki jalan dengan nama-nama kepulauan di Nusantara, seperti Jawa, Sumatra, Riau, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa, serta nama-nama pulau lainnya. Setelah Indonesia merdeka, melalui ketetapan Dewan Perwakilan Rakyat Kota Bandung tanggal 28 April 1950, nama Insulindepark diindonesiakan menjadi Taman Nusantara.
Kemudian pada 1954, Badan Keamanan Lalu Lintas (BKLL) berencana membangun Traffic Garden atau Taman Lalu Lintas di atas lahan Taman Nusantara. Pembangunan Taman Lalu Lintas dikerjakan selama dua tahun, dimulai pada 23 Maret 1956. Peresmian Taman Lalu Lintas pertama di Asia Tenggara ini dilakukan dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 1 Maret 1958. Sebagai pengelola tetap dibentuklah Yayasan Taman Lalu Lintas Bandung pada tanggal 26 Juni 1960. Taman ini kemudian berganti nama menjadi Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani, untuk mengenang putri kecil Jenderal Bintang Lima (Purn) Abdul Haris Nasution.
Banyak wahana yang disumbangkan pihak luar pada masa lalu pun masih terawat dengan baik, di antaranya miniatur lapangan terbang, kantor pos kecil yang disumbangkan Kantor Pos dan Telepon tahun 1961, dan tank baja jenis TL sumbangan Puskac Bandung pada 1968.
Sumber:
http://info.pikiran-rakyat.com/direktori/taman-hiburan/taman-lalu-lintas-ade-irma-suryani-nasution
https://www.kompasiana.com/masrierie/tempo-dulu-di-bandung-6-taman-lalu-lintas-ade-irma-suryani-bina-vokalia-ade-irma-hingga-festival-pop-singer_55988383939373fe0a97b61b