14/08/2026
Dari Kalsel untuk Dunia: Mengawal Belut Lokal ke Pasar Global
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kalimantan Selatan (Karantina Kalsel) hadir sebagai salah satu narasumber dalam program Banjar Realita RRI Pro 1 Banjarmasin, Rabu (12/8). Mengangkat tema “Belut Banua Menembus Pasar Dunia”, dialog tersebut membahas potensi belut Kalimantan Selatan sebagai komoditas perikanan yang memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan dan menembus pasar internasional, khususnya Tiongkok.
Karantina Kalsel diwakili Irwan Fakhriza, selaku Ketua Tim Kerja Karantina Ikan, bersama Gusti Faisal, eksportir belut Kalsel. Dalam dialog tersebut, Karantina Kalsel menjelaskan bahwa keberhasilan ekspor belut tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan komoditas dan permintaan pasar, tetapi juga pemenuhan persyaratan kesehatan hewan akuatik yang ditetapkan Indonesia maupun negara tujuan.
Untuk ekspor ke Tiongkok, salah satu persyaratan yang perlu diperhatikan adalah penerapan Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB), ketersediaan sarana dan prasarana sesuai ketentuan, penerapan biosekuriti secara konsisten, monitoring atau surveilans penyakit, serta sistem ketertelusuran melalui dokumen mutu dan logbook.
Khusus untuk hewan akuatik konsumsi yang akan diekspor ke Tiongkok, persyaratan kesehatan menjadi perhatian penting. Untuk belut, terdapat persyaratan bebas dari agen penyakit, seperti Aphanomyces invadans yang berkaitan dengan Epizootic Ulcerative Syndrome (EUS), serta Gnathostoma spp. Selain itu, komoditas harus memenuhi ketentuan terkait residu bahan berbahaya dan logam berat sesuai standar yang ditetapkan Tiongkok.
Karantina Kalsel menegaskan bahwa pemenuhan berbagai persyaratan tersebut merupakan bagian penting dalam menjaga keberterimaan belut Banua di pasar global. Upaya tersebut didukung melalui penerapan biosekuriti mulai dari pemasok hingga proses transportasi, pencegahan dan pengendalian penyakit melalui tindakan karantina, ketertelusuran, pengujian laboratorium, serta pemantauan dan surveilans penyakit ikan.