Desa Pakistaji

Desa Pakistaji adalah salah satu desa dari 14 desa di Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi
yang berpebduduk kurang lebih 5.512 jiwa dan rata-rata penghasilan Penduduk adalah pertanian.

*SURAT TERBUKA DARI KEPALA DESA DAN PERANGKAT DESA UNTUK PRESIDEN PRABOWO*Yang kami hormati, Bapak Presiden Republik Ind...
17/02/2026

*SURAT TERBUKA DARI KEPALA DESA DAN PERANGKAT DESA UNTUK PRESIDEN PRABOWO*

Yang kami hormati, Bapak Presiden Republik Indonesia,

Pak Presiden…izinkan kami menyapa dengan sederhana.

Kami adalah rakyatmu. Kami adalah anak-anakmu. Kami adalah pembantumu yang berdiri di barisan paling bawah republik ini.

Kami yang pertama kali didatangi warga ketika malam belum berganti pagi. Kami yang dicari ketika ada kematian, kelaparan, konflik, bencana, dan kesulitan.

Kami yang tak pernah benar-benar pulang dari pekerjaan, karena rumah kami adalah kantor, dan warga kami adalah tanggung jawab yang hidup 24 jam.

Pak Presiden, kami rindu bertemu. Bukan untuk menuntut. Bukan untuk berdebat. Hanya untuk duduk. Berbicara. Didengar.
Seperti dulu, ketika Bapak datang ke desa-desa saat kampanye. Ketika kami bisa menatap langsung mata Bapak. Ketika jarak antara Kita dekat.

Namun hari ini, Pak Presiden, kami seperti terpisah oleh dinding yang tinggi. Kami mencoba datang. Kami mengetuk. Kami mengirimkan suara kami. Kami bersurat.

Tapi sepertinya tak satu pun sampai ke Bapak. Entah Bapak terlalu sibuk mengurus negeri yang besar ini. Atau ada tangan-tangan di sekeliling Bapak yang menutup jalan kami.

Kami tidak tahu. Yang kami tahu, kami tak pernah diberi kesempatan menjelaskan keadaan kami ke Bapak.

Karena itulah, dengan hati yang berat, kami menulis surat terbuka ini.

Pak Presiden, tahun lalu, lebih dari 30 ribu desa tidak menerima Dana Desa tahap kedua. Bukan angka di laporan. Itu desa-desa nyata. Itu rakyat nyata.
Akibatnya, banyak program desa terhenti. Banyak pembangunan yang sudah dimulai, tapi tak bisa diselesaikan.

Lebih dari itu, banyak desa menanggung utang. Utang ke toko material. Utang ke tukang. Utang ke warga kami sendiri.

Kami menanggung malu, Pak Presiden. Karena kami yang berjanji. Kami yang meyakinkan warga. Kami yang akhirnya harus menunduk.

Ketika kami menyampaikan aspirasi, kami tidak didengar. Kami justru dicaci. Kami dituduh berdemo karena tidak bisa lagi korupsi. Begitu suara netizen di ruang - ruang medsos yang liar.

Seolah seluruh pengabdian kami runtuh hanya oleh satu prasangka. Seolah kami tidak pernah bekerja jujur.

Tahun ini, Dana Desa kami kembali berkurang. Lebih dari 70 persen dialihkan untuk program lain. Kami patuh. Kami diam. Kami menahan.

Namun Pak Presiden, pukulan paling keras datang pada Jumat, 13 Februari 2026 lalu.
Di sebuah forum resmi, Bapak menyampaikan bahwa selama 10 tahun ini, banyak Dana Desa tidak sampai ke masyarakat karena dikorupsi oleh Kepala Desa.

Kalimat itu, Pak Presiden…jatuh tepat ke dada kami. Kami terdiam. Kami terpukul. Kami seperti kehilangan pijakan.

Kalimat itu bukan datang dari orang asing. Bukan dari pembenci desa. Bukan dari buzzer. Tapi kalimat itu datang dari Presiden kami sendiri. Kami bahkan seolah tidak percaya andai tidak melihat rekaman videonya.

Sejak hari itu, kami takut membuka media sosial. Kami diserang. Dihina. Dicibir. Para haters dan buzzer berpesta. Bertepuk tangan. Mereka mendapatkan legitimasi dari orang nomor satu di negeri ini.

Desa disebut sarang korupsi. Kepala Desa dicap penjahat. Kami semuanya dianggap pemakan uang rakyat.
Padahal, Pak Presiden…kami ingin mengajak Bapak melihat desa kami hari ini. Melihat jalan yang dulu becek kini bisa dilewati ambulans. Melihat anak-anak desa yang kini bisa sekolah lebih dekat. Melihat puskesmas, posyandu, BUMDes, jembatan, irigasi—semua berdiri sebagai saksi kerja kami selama 10 tahun.

Kami tidak menyangkal, memang ada di antara kami yang khilaf dan korup. Mereka harus dihukum. Kami sepakat.

Tapi Pak Presiden, jangan biarkan kesalahan sebagian kecil menghapus pengabdian puluhan ribu desa lainnya.

Kami hanya meminta keadilan dalam membaca data. Keadilan dalam menyampaikan narasi. Keadilan dalam memandang desa.

Pak Presiden…kami lelah, tapi kami masih berdiri. Kami terluka, tapi kami masih bekerja. Kami kecewa, tapi kami masih setia.

Karena kami percaya, Presiden seharusnya melindungi anak-anaknya. Bukan membiarkan mereka sendirian menghadapi stigma.
Pak Presiden, dengan segala kerendahan hati, tolong beri kami waktu untuk bertemu.

Agar kami bisa bicara langsung. Dari hati ke hati. Tanpa prasangka. Tanpa jarak.

Kami hanya ingin didengar.

Hormat kami,
Anak-anakmu di desa,

*Kepala Desa dan Perangkat Desa*

di seluruh Indonesia



29/12/2025

Bagaimana menurut Anda?

5 Bahaya Membuang Sampah ke Sungai yang Jarang Disadari"Setiap kantong plastik, softex, pempers yang kita lempar ke sung...
23/10/2025

5 Bahaya Membuang Sampah ke Sungai yang Jarang Disadari

"Setiap kantong plastik, softex, pempers yang kita lempar ke sungai adalah bom waktu yang akan meledak di kehidupan kita sendiri."

BlogPakistaji, Sungai di depan Kantor Desa Pakistaji tidak mengalir sendirian. Ia membawa air, sampah, dan limbah dari tengah pemukiman Dusun Krajan dari Dam ke Pakistaji Tengah, Pakistaji Utara, dan Pakistaji Langgar Umum. Semua aliran bermuara di sini, tepat di depan mata kita.

Kebiasaan membuang sampah ke sungai di wilayah ini bukan sekadar kebiasaan buruk—ini adalah undangan bagi bencana. Inilah bahaya ekstrem yang siap menghantam jika kita terus membiarkan sungai kita menjadi tempat pembuangan:

Menjaga sungai berarti menjalankan amanah Allah, menjaga kesehatan, dan melestarikan kehidupan. Jangan sampai anak cucu kita mewarisi sungai yang mati

✨ “Desa Pakistaji kini bukan hanya hadir di jalan-jalan dan sawah hijau, tetapi juga hadir di layar ponsel Anda. Pelayan...
01/10/2025

✨ “Desa Pakistaji kini bukan hanya hadir di jalan-jalan dan sawah hijau, tetapi juga hadir di layar ponsel Anda. Pelayanan lebih cepat, informasi lebih dekat, dan cerita desa bisa Anda ikuti kapan saja. Inilah wajah baru Pakistaji di era digital.” ✨

“Pelayanan tak lagi terikat meja dan tumpukan kertas, kini Desa Pakistaji hadir dalam genggaman teknologi.”

Lomba Mancing HUT RI ke 80 Desa Pakistaji Sungai depan Balai Desa Pakistaji Jum'at 29 Agustus 2025Pukul 13.00 WIB
28/08/2025

Lomba Mancing HUT RI ke 80 Desa Pakistaji
Sungai depan Balai Desa Pakistaji
Jum'at 29 Agustus 2025
Pukul 13.00 WIB


Lihat video Pakistaji Online TV.

KARNAVAL SENI BUDAYA DESA PAKISTAJI HUT RI KE 80 TH 2020MINGGU, 24 AGUSTUS 2025
24/08/2025

KARNAVAL SENI BUDAYA DESA PAKISTAJI
HUT RI KE 80 TH 2020
MINGGU, 24 AGUSTUS 2025

Lihat video Pakistaji Online TV.

Malam Resepsi Khitanan Umum ke 66 dan Santunan Anak Yatim.LazisNU Ranting Desa Pakistaji Jum'at, 4 Juli 3025
07/07/2025

Malam Resepsi Khitanan Umum ke 66 dan Santunan Anak Yatim.
LazisNU Ranting Desa Pakistaji

Jum'at, 4 Juli 3025

Malam Resepsi Khitanan Umum dan Santunan Anak Yatim serta Zduafa' Laziz NU Ranting Desa Pakistaji yang Ke 66 Th 2025 - 1447Pakistaji, 4 Juli 2025Agenda Rutin...

23/06/2025

"Ayo bayar PBB tepat waktu!
Pajak Anda membangun desa kita: dari jalan, jembatan, hingga fasilitas umum!"

"Membangun desa tidak cukup dengan mimpi —
Tapi dengan aksi nyata, salah satunya dengan bayar PBB tepat waktu!"

"Sudahkah Anda bayar PBB hari ini?
Bayar sekarang, nikmati pembangunan ke depan!"

"Bayar PBB itu bagian dari tanggung jawab dan keberkahan.
Harta yang bersih, membawa manfaat untuk semua."

"Ngopi bisa, jalan-jalan bisa,
masa bayar PBB ditunda-tunda?"

https://vt.tiktok.com/ZSkcwRRQk/

Semua S**a

31/03/2025

Segenap Keluarga Pemerintah Desa Pakistaji
Mengucapkan
Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir Bathin
🙏🙏🙏🙏

Address

Banyuwangi
68461

Opening Hours

Monday 07:00 - 15:30
Tuesday 07:00 - 15:30
Wednesday 07:00 - 15:30
Thursday 07:00 - 15:30
Friday 07:00 - 12:00

Telephone

+6285232614494

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desa Pakistaji posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Desa Pakistaji:

Share