18/06/2016
Jembatan belambangan
kecamatan muara jaya
Merupakan Pemekaran dari Kecamatan Pengandonan. Dengan adanya Pemekaran wilayah ini sudah terlihat cukup cepat perkembangannya, dimana semala ini wilaya ini yang merupakan daerah de seberang sungai Ogan yang tidak bisa dijangkau oleh kendaraan roda empat. Sekarang sudah terlihar perkembangan yang cukup signifikan bagi yang punya duit sudah nyak yang membli kendaraan dan lansung bisa di simpan digarasi maupun dibawah humah. sekarang kecamatan ini sudah dihubungkan oleh tiga jembatan. Jembatan Ogan, Jembatan Kiwai dan Jembatan Laham.
Asal mula terjadinya dusun muara saeh
Berdasarkan cerita rakyat setempat, di zaman dahulu terdapat suatu dusun yang jumlah penduduknya masih sangat sedikit sekali. Adapun dusun ini terletak di dekat perairan yang luas sehingga di kiri kanan dusun ini banyak persawahan yang menghijau. Sebelum menuju dusun ini terlebih dahulu harus melewati dua jembatan, yang satu diantaranya adalah jembatan gantung yang sangat panjang.
Pada waktu itu dusun ini sangat sedikit penduduknya atau penghuninya, tetapi karena dusun ini banyak di kelilingi dusun- dusun lain, sehingga hal ini yang membuat penduduknya makin bertambah terus. Dusun Muara Saeh ini di apit oleh beberapa dusun diantaranya yaitu Beringin, Mesaeh Anyar dan dusun Lubuk Tupak, yang mana dusun Lubuk Tupak ini merupakan dusun sebelum menuju Muara saeh.
Tidak banyak cerita mengenai dusun Muara Saeh ini, hanya saja di dusun ini terdapat Muara yang terbelah dua. Awal mula nama dusun Muara Saeh adalah terbentuk dari dua kata yaitu muara dan saeh. Muara di sini berarti dua aliran, dan saeh di sini adalah air. Hal ini diartikan oleh penduduk dusun Muara Saeh ini sendiri. Jadi Dusun Muara Saeh adalah suatu dusun yang memiliki dua aliran air atau dapat dikatakan juga bahwa air yang ada di sungai itu bercabang dua.
Nama ini dibuat sesuai dengan kesepakatan dari penduduk dusun Muara Saeh ini sendiri. Setelah dilakukan perundingan yang lumayan sulit, akhirnya disepakati bahwa nama dusun yang digunakan adalah Muara Saeh. Sebelum nama itu dibuat, ada sekelompok penduduk desa itu pulang dari sawah dan tanpa sengaja mereka melihat aliran air yang bercabang dua itu tadi.
Sehingga mereka langsung bergegas melapor kepada pemimpin dusun itu yaitu tetua dusun, atau kalau orang-orang dusun itu menyebutnya dengan panggilan Puyang karena pada saat itu orang belum mengenal yang namanya Kades, RT, dan RW. Adapun nama puyang tersebut adalah Amburanmalang. Dusun ini sudah berdiri lebih dari seribu tahun, semakin lama dusun ini semakin bertambah terus penduduknya. Saat ini banyak juga sekolah-sekolah yang sudah dibangun, karena dari tahun ke tahun banyak penduduk dusun ini ingin mengenyam pendidikan yang layak, yang sama dengan orang-orang di luar dusun.