26/07/2026
Mencuri tetaplah salah. Tidak ada keadaan yang membuat pencurian menjadi benar. Tetapi main hakim sendiri, juga bukan keadilan, terutama kamu berada di negara di mana tikus berdasi bisa tetap menikmati hidupnya dengan layak.
Sambil bergetar menulis ini, aku hanya ingin bilang, seandainya negara hadir dengan adil, mungkin seorang bapak tidak perlu mempertaruhkan harga diri, kebebasan, bahkan nyawanya hanya demi membawa pulang makanan untuk anaknya.
Kemiskinan bukan pembenaran untuk mencuri, tetapi seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk bertanya: mengapa masih ada orang yang begitu lapar hingga nekat mengambil seekor ayam? Ironisnya, pencuri kecil sering dihukum tanpa ampun, sementara para “tikus berdasi” yang merampas hak hidup jutaan orang justru kerap diperlakukan dengan jauh lebih manusiawi. Yang satu mencuri karena perut keluarganya kosong, yang lain mencuri karena keserakahan tetapi siapa yang lebih cepat menerima amarah masyarakat? Kita mungkin kehilangan ayam.
Namun anak itu kehilangan bapaknya, tempat pulang, pelindung, dan orang yang selama ini berjuang memberinya makan. Again, hukum seharusnya tidak tajam kepada mereka yang lemah apalagi jika dihakimi sama kita yang sebenarnya juga sama-sama hidup susah, lalu tumpul ketika berhadapan dengan mereka yang berkuasa. Sebab ketika satu ekor ayam dibayar dengan hilangnya seorang bapak, sementara pencurian besar hanya dibalas dengan hukuman ringan, keadilan terasa bukan lagi milik semua orang.
[Sumber:Folksh*t]