14/12/2021
PESAN PENTING DARI SAR HIDAYATULLAH
Sesaat setelah gunung Semeru meletus dan musibah banjir melanda sebagian daerah di Indonesia, tim SAR Hidayatullah sigap menurunkan tim aksi kemanusiaan. Bahu membahu membantu warga yang terdampak musibah.
Penulis tidak membahas aksi-aksi kemanusiaan SAR Hidayatullah lebih jauh tetapi lebih ke tag line (slogan) yang selalu digaungkan; Tanpa Tapi Tanpa Nanti, tag line yang membawa pikiran ke puluhan tahun silam. Saat itu, Hidayatullah masih berada di fase pengembangan atau perintisan cabang di seantero nusantara dari Aceh hingga Papua.
SAR Hidayatullah termasuk berani menggunakan tag line itu, saat Hidayatullah telah bertransformasi ke bentuk ormas, dimana, secara struktural dan kultural terdapat disparitas pola gerakan, termasuk kultur yang terbangun.
Di era ormas, para kader bisa memilih, masuk ke dalam struktural, fungsional atau memilih menjadi profesional (tidak terikat). Maka, sepintas, tag line dengan spirit ketaatan sebagai harga mati tidak relevan lagi di era ormas, karena di sana ada ruang negoisasi atau opsi-opsi.
Jika ingin ditarik ke dalam konteks perjalanan misi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, saat telah berada di Madinah dan terjadi kasus kekeringan air, Rasulullah menawarkan (bukan menginstruksikan) kepada para sahabat untuk siapa saja yang mau membebaskan sumur milik seorang Yahudi maka akan mendapat ganjaran surga (Hadits).
Padahal seandainya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada para sahabat yang sultan seperti Abdurrahman bin 'Auf Radhiallahu anhu atau Usman bin Affan Radhiallahu anhu untuk membebaskan sumur itu maka tentu para sahabat itu tidak akan menolak. Tetapi ketaatan para sahabat yang sudah mendarah daging membuat mereka segera merespon seruan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meski dalam bentuk tawaran.
Kehadiran SAR Hidayatullah di era ormas dengan tag line-nya membawa angin segar bagi pergerakan Hidayatullah, meski harus disadari bahwa medan juang dan pengabdian di sektor kemanusiaan yang genting memang membutuhkan perintah yang tegas dan jelas.
Sebagaimana statemen-statemen Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan peristiwa perang. Kesigapan tingkat tinggi dalam aksi kemanusiaan sangat dibutuhkan dan itu berat jika tidak dilandasi "Ketaatan tanpa tapi tanpa nanti".
Selain sigap dan bekerja keras membantu warga yang ditimpa musibah, SAR Hidayatullah juga sejatinya tengah bekerja keras menyelaraskan gerak teks dan realitas dengan cara membantu para kader membangun pemahaman bahwa prinsip "Assam'u wa tha'a" tidak dibatasi oleh periode pergerakan tertentu tetapi berlaku sepanjang masa selama denyut nadi perjuangan masih bergerak. Wallahu A'lam bisshawab.
Pinang, 10 Jumadil Awal 1443 H