Bojonegoro Kondhang

Bojonegoro Kondhang Tempat untuk berbagai tentang segala sesuatu tanteng Bojonegoro

18/11/2025

Menurut Menteri Keuangan Ekonomi Purbaya Yudhi Sadewa, bahwa kelambatan ekonomi, juga merupakan dosa jurnalis. Kalimat itu bukan lelucon sarkas di Twitter, tapi merupakan ucapan resmi. Dalam forum dengan para pemimpin redaksi, ia menyebut ekonomi Indonesia bisa lesu karena media sudah terlalu jinak. Pak Purbaya juga menyebutkan bahwa, akibat tidak banyaknya protes dari jurnalis, jadi ekonomi melambat. Ia menambahkan bahwa beberapa tahun ini, jurnalisnya mingkem semuanya, dikutip iNews.id (16/11/2025). Di tengah laporan bahwa bisnis media sedang ambruk, pernyataan ini terdengar seperti tamparan yang keras tapi juga agak absurd,karena seakan-akan, pemulihan ekonomi negeri bisa dimulai dari headline yang lebih pedas.

Purbaya tampaknya punya keyakinan spiritual terhadap kekuatan kritik. Dalam logika beliau, kritik tajam media bisa menggerakkan birokrasi yang mandek, memperbaiki moral pejabat, dan pada akhirnya menaikkan grafik ekonomi nasional. Tapi mari jujur sejak kapan ekonomi bergantung pada volume kritik? Kalau betul teori ini, maka era media paling kritis di Indonesia tahun 1998, seharusnya membuat PDB kita melonjak dua digit. Faktanya, yang naik waktu itu justru harga sembako dan jumlah pengangguran. Kritik memang penting, tapi menjadikannya kambing hitam atas perlambatan ekonomi terasa seperti upaya lari dari tanggung jawab yang lebih nyata, kebijakan fiskal yang tidak efisien, pengeluaran publik yang tidak produktif, dan iklim usaha yang masih remang-remang.

Ironinya, pernyataan Purbaya justru muncul ketika para pemimpin redaksi mengeluh soal lesunya bisnis media. Di tengah serbuan algoritma TikTok dan dominasi media sosial, media konvensional makin sulit bertahan. Iklan berpindah, biaya produksi naik, publik makin malas membaca panjang. Tapi bukannya bicara soal ekosistem digital atau dukungan finansial, Menkeu malah menyalahkan media karena kurang galak. Ibarat dokter menyalahkan pasien karena tidak sembuh-sembuh, padahal obatnya sendiri tidak pernah disediakan.

Kritik memang bahan bakar demokrasi, tapi bahan bakar itu tidak bisa disalahkan tanpa oksigen kebebasan. Di negeri yang wartawannya bisa dilaporkan karena mencemarkan nama baik hanya lewat judul berita, siapa yang berani terlalu keras? Saat ruang redaksi dibayangi pasal karet, ketika anggaran media bergantung pada iklan pemerintah atau BUMN, siapa yang masih punya kemewahan untuk menggigit tangan yang memberi makan? Jurnalis mingkem semua, menurut Purbaya. Tapi kadang mereka bukan mingkem karena malas, melainkan karena sadar, setiap kata bisa berujung tuntutan.

Di sisi lain, Ketua Forum Pemred Retno Pinasti mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif pajak bagi media yang kredibel dan terverifikasi, lewat konsep no tax for knowledge. Ide ini menarik,jika media memang dianggap penting bagi ekonomi, kenapa tidak diperlakukan seperti sektor pendidikan yang bebas pajak? Bukankah pengetahuan publik dan jurnalisme yang sehat adalah pondasi demokrasi ekonomi? Tapi sejauh ini, usulan itu masih sekadar basa-basi dalam ruang rapat. Tidak ada satu pun regulasi fiskal yang benar-benar memihak industri media di tengah krisis eksistensi digital.

Mari kita lihat fakta lain yang tidak disebut dalam forum itu sejak 2020, lebih dari 1.000 jurnalis di Indonesia dirumahkan karena efisiensi media. Banyak media besar menutup rubrik investigasi karena dianggap tidak menghasilkan. Di sisi lain, buzzer dan content creator justru tumbuh pesat, mengisi ruang opini publik yang dulu dijaga wartawan. Jadi ketika Purbaya bilang media terlalu diam, mungkin jawabannya sederhana: karena sekarang, yang paling keras suaranya bukan jurnalis, tapi algoritma.

Mungkin benar kata Menkeu, kritik harus hidup kembali. Tapi sebelum menyuruh media menggigit lebih keras, sebaiknya pemerintah memastikan mereka tidak kelaparan dulu. Kritik tanpa dukungan hanya membuat jurnalis tampak seperti pahlawan yang diminta berperang tanpa peluru. Dan kalau benar ekonomi bisa diselamatkan hanya dengan suara wartawan, mungkin sudah saatnya kementerian ekonomi berhenti membuat kebijakan makro dan mulai membuka kelas menulis tajuk rencana. Karena rupanya, di negeri ini, yang menentukan arah pertumbuhan bukan inflasi, bukan investasi, tapi seberapa tajam pena yang berani menulis pemerintah salah.
---


Disclaimer:
Tulisan ini merupakan ulasan sederhana terkait fenomena bisnis atau industri untuk digunakan masyarakat umum sebagai bahan pelajaran atau renungan. Walaupun menggunakan berbagai referensi yang dapat dipercaya, tulisan ini bukan naskah akademik maupun karya jurnalistik

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tolong dicek komentar dari postingan ini.. ini adalah suara rakyatmu.. tolong validasika...
14/11/2025

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro tolong dicek komentar dari postingan ini.. ini adalah suara rakyatmu.. tolong validasikan...

Warga Bojonegoro penerima GAYATRI (Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri), program unggulan Pemkab Bojonegoro, telah banyak merasakan manfaatnya. Ayam bantuan mulai bertelur dan hasilnya untuk meningkatkan ekonomi warga.

Salah satunya dirasakan warga penerima manfaat di Desa Cancung, Kecamatan Bubulan. Sebanyak 54 ayam petelur yang telah diterima warga sejak akhir Agustus 2025 lalu, saat ini sudah mulai masuk puncak produksi bertelur. Hampir semua ayam yang diterima telah bertelur, dengan total berat telur rata-rata 2,5 - 3 kg setiap harinya.

“Alhamudillah. Rata-rata setiap hari 52 butir sampai 54 telor, karena waktunya tidak sama. Kadang ada yang telat,” ujar salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) GAYATRI, Bejo Utomo yang tinggal di RT 12 RW 04 Dusun Krajan.

Bejo menceritakan, dirinya menerima ayam pada 30 Agustus lalu, dengan usia ayam 16 minggu. Sekitar 2 miggu kemudian satu persatu ayam mulai bertelur. Pada awalnya, ukuran telur masih kecil. Untuk 1 kg berisi sekitar 24 sampai 25 butir. Dan kini, di masa produktif, ukuran telur agak besar. Per 1 kg berisi sekitar 17 butir.

“Untuk pemasaran kita melayani tetangga. Kalau lebih kita kumpulkan. Sekitar 10 sampai 15 kg kita kirim ke toko setiap 5 hari sekali. Alhamdulillah dapat menambah pendapatan untuk keluarga, juga untuk keperluan pakan ayam,” ulas Bejo.

Dariatun, warga RT04 RW02 Dusun Krajan, bersama suaminya, Wulan sebagai KPM, juga merasakan manfaat dari adanya program GAYATRI. Ayam yang dirawat setiap hari sudah menghasilkan 2,5 - 3 kg telur. Untuk perawatan, menurut dia, relatif mudah. Setiap pagi dan sore diberikan pakan. Ia juga selalu membersihkan kandang. Setiap hari 4 sekali dibersihkan, kotoran ayam bisa dipakai untuk pupuk di kebun jagung.

“Jualnya mudah, tetangga banyak yang butuh. Hasil penjualan selain untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian untuk pakan, juga bisa disisihkan untuk ditabung,” ujar Dariatun.

Warga RT 01 RW 01, Mudlofar, selain menjadi bagian dari KPM juga menyediakan pakan untuk para penerima program GAYATRI. Biasanya setiap warga beli pakan langsung 1 karung dengan berat 50kg. “Jika jatahnya habis, tapi kiriman pakan belum datang, di rumah jika masih ada kita pinjami dulu berapa kilo. Kalau sudah datang nanti dikembalikan, karena tidak jual eceran,” ungkapnya.

Selain mendapatkan tambahan pendapatan harian, dengan adanya GAYATRI, warga juga semakin kompak. Rata-rata telur habis terjual setiap hari oleh para tetangga. Namun apabila ada yang masih punya telur, sedangkan KPM lainnya butuh, pasti saling memberikan informasi dan membantu untuk saling melengkapi.

“Penjualan mudah. Bahkan sering kekurangan. Selain dijual telur langsung, istri juga bisa membuat olahan makanan dari telor dan dijual di sekolah. Alhamdulillah juga laku,” tutur Mudlofar.

Sementara itu, Kepala Desa Cancung, Pujiono, melalui Kasi Pemerintahan, Yaryanto menjelaskan bahwa total KPM GAYATRI dari APBD Bojonegoro tahun 2025 sebanyak 40 KPM. Setiap KPM menerima paket program pada 30 Agustus 2025 lalu. Sedangkan APBDes ada 7 KPM yang mana baru proses kandang yang datang saat ini berada di balaidesa.

Akhir-akhir ini, ayam GAYATRI memasuki masa puncak produksi. Untuk penjualan telur juga mudah. Hasil dari penjualan dari awal pihaknya merekomendasikan untuk dibagi antara kebutuhan rumah tangga, kebutuhan pakan, dan menabung.

Terpisah, Kepala Bidang Peternakan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro, Fajar Dwi Nurrizki menjelaskan, Program GAYATRI yang bersumber dari APBD (induk) 2025 telah terealisasi di 10 Desa untuk 400 KPM. Sedangkan untuk P APBD 2025, dilaksanakan untuk 389 Desa/Kelurahan untuk 5.000 KPM, yang saat ini masih berproses Bimtek bagi KPM, dan distribusi barang yakni kandang, pakan, ayam pullet dan obat-obatan serta vitamin.

“Sesuai tahapan SK KPM, bimtek batch 1 telah dilaksanakan untuk 660 KPM, sedangkan batch 2 saat ini dilaksanakan untuk 1.385 KPM. Setiap hari dilaksanakan 2-3 lokasi bimtek,” kata Fajar.

---------------------------------------------------------------



iki Judul  beritane Apik tapi kok komentare banyak yang negatif ya.... ada tanda apa inih?
14/11/2025

iki Judul
beritane Apik tapi kok komentare banyak yang negatif ya.... ada tanda apa inih?

Perekonomian Jawa Timur (Jatim) di kuartal III tahun 2025 menunjukkan pertumbuhan inklusif secara quarter to quarter (QTQ) terhadap kuartal II/2025 sebesar 1,70 persen.

Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa menyatakan menyambut capaian positif oleh Badan Pusat Statistik (BPS) ini, yang dinilai membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Jatim yang stabil dan inklusif.

"Alhamdulillah, secara QTQ ekonomi Jatim tumbuh 1,70 persen, angka ini adalah pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Pulau Jawa. Ini menunjukkan daya tahan dan soliditas ekonomi Jatim yang luar biasa," kata Khofifah di Surabaya, Selasa (11/11).

Sementara itu, secara year-on-year (YOY) terhadap kwuartal III/2024, perekonomian Jatim tumbuh 5,22 persen. Pertumbuhan tersebut tercatat di atas pertumbuhan ekonomi nasional secara (QTQ) terhadap kuartal II/2025 sebesar 1,43 persen, sementara secara YoY tumbuh 5,04 persen.

baca selengkapnya di https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20251112122600-90-1294663/khofifah-sambut-capaian-ekonomi-jatim-q3-2025-tertinggi-di-pulau-jawa

sumber : CNNIndonesia

gass terus
13/11/2025

gass terus

Produksi Padi Bojonegoro Naik Signifikan, Kini Menempati Posisi Kedua se-Jawa Timur

Bojonegorokab.go.id - Pertanian di Kabupaten Bojonegoro terus menunjukkan fakta menggembirakan. Ada kenaikan produksi gabah 24,7% pada 2025 dibanding 2024. Kenaikan ini merupakan terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi gabah kering giling (GKG) Bojonegoro tahun 2025 mencapai 886 ribu ton, naik signifikan dibanding tahun 2024 yang sebesar 710 ribu ton.

Baca selengkapnya ➡️ bojonegorokab.go.id

info kondhang lur
12/11/2025

info kondhang lur

08/11/2025

layak dicontoh

piye menurutem lurr?
01/11/2025

piye menurutem lurr?

25/10/2025

Siap siap..

Address

Bojonegoro

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bojonegoro Kondhang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Bojonegoro Kondhang:

Share