Kisah Dari Mereka

Kisah Dari Mereka Konten Kreator , Horor ,
(1)

Ditinggalkan Ibu, Bocah 12 Tahun Berjuang Lawan Sakit Bersama Ayah Tukang OjolHanif, anak usia 12 tahun yang saat ini me...
16/01/2026

Ditinggalkan Ibu, Bocah 12 Tahun Berjuang Lawan Sakit Bersama Ayah Tukang Ojol
Hanif, anak usia 12 tahun yang saat ini memiliki kelainan Hipospadia Penoscrotal dan asma akut bawaan sejak lahir. Namun malangnya Hanif telah ditinggalkan Ibunya disaat usianya masih 4 tahun. Saat ini, Hanif duduk di bangku kelas 6 sekolah Madrasah Ibtidiyah. Sementara Ayahnya hanya seorang driver ojek online, bagaimana caranya dia sembuh sedangkan tindakan b*d*h operasi Hipospadia dilakukan setidaknya 2 hingga 4 kali

Sebelum operasi pertama, Hanif melakukan buang air kecil tidak seperti anak laki-laki normal lainnya. Hanif mengeluh sakit setiap buang air kecil. Karena lubang p***s yang terletak tidak di tempat yang sebenarnya dan lubang p*n*s tersebut berukuran lebih kecil daripada lubang alat k*l*min laki-laki normal pada umumnya
Hingga saat ini Hanif sudah melakukan operasi Hipospadia yang pertama. Namun sayangnya terkendala biaya untuk tindakan operasi selanjutnya

Seringkali Hanif mengeluh sakit setiap buang air kecil dan ditambah juga Hanif memiliki riwayat penyakit asma / sesak nafas bawaan sejak lahir

Ayah dari Hanif saat ini berprofesi sebagai driver ojek online. Yang penghasilan perharinya mulai pagi hingga larut malam tidak lebih dari Rp. 30.000 setiap harinya. Sedangkan Ayah dari Hanif juga menghidupi Ibunya yang saat ini sedang dalam kondisi lumpuh
Tak hanya mendoakan dan berdonasi,anda juga dapat membagikan halaman penggalangan donasi ini agar semakin banyak ! yang turut menemani perjuangan Ananda Hanif hingga sembuh.

12/01/2026
Buat yang merasa jual motor ini ke saya, saya tunggu i'tikad baik anda.Tenang saya tidak akan ngeTAG nama anda, juga tid...
08/01/2026

Buat yang merasa jual motor ini ke saya, saya tunggu i'tikad baik anda.

Tenang saya tidak akan ngeTAG nama anda, juga tidak akan menyebut inisial nama.

Saya hanya ingin penjelasannya dari motor yang anda jual kpd saya katanya mulus tanpa minus,dan saya percaya !!

Ternyata setelah saya bayar besoknya saya pakai malah banyak minus nya:

1.kalo motor di nyalakan lampu depan nyala terus gak bisa di matikan, kayaknya ada yang konslet, dan tidak ada tombol buat matikan lampunya.

2.kalau di standar samping mesin selalu mati, tidak bisa dihidupkan.

3. shock belakangnya cuma satu tok.

4. Tidak ada karburatornya.

5. Tidak ada rantenya.

6. Tidak ada rem kaki.

7. Tidak ada engkol nya.

Jangan main2 ya sama saya, saya orangnya ngerti mesin.

Itu yang keliatan belum yang lainnya.

Saya tunggu konfirmasinya...dalam 1minggu...

Ditinggal Suami Wafat, Bu Sumini Berjuang Rawat Kedua Buah Hatinya yang Sakit KronisBu Sumini — Ibu Tangguh yang Merawat...
08/01/2026

Ditinggal Suami Wafat, Bu Sumini Berjuang Rawat Kedua Buah Hatinya yang Sakit Kronis
Bu Sumini — Ibu Tangguh yang Merawat Dua Anak dengan Kondisi Istimewa
“Meski sering lelah, Bu Sumini tetap berusaha kuat… karena hanya kasih seorang ibu yang jadi alasan untuk bertahan.”
Sejak suaminya meninggal, Bu Sumini harus berjuang seorang diri merawat dua anak dengan kondisi medis yang berat. Anak pertamanya, Ahmad, mengalami hidrosefalus (kepala membesar), sedangkan si bungsu, Reza, menderita mikrosefali (kepala mengecil) sekaligus cerebral palsy (lumpuh otak).
Setiap hari, Bu Sumini berusaha mencari nafkah dengan menjahit di rumah. Namun, penghasilannya sering kali tidak menentu. Lebih sering habis untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan tidak jarang masih kurang. Saat anak-anaknya kambuh, ia harus berhenti bekerja. “Kalau sedang begitu, saya terpaksa berhenti menjahit. Tidak ada penghasilan, bahkan untuk beli susu saja kadang harus pinjam ke sana ke mari,” ucapnya lirih.
Di balik lelah dan beratnya beban hidup, Bu Sumini tetap tegar. Ia menahan tangis sendirian, memilih untuk tidak merepotkan orang lain. Baginya, kasih seorang ibu adalah alasan terkuat untuk terus bertahan demi Ahmad dan Reza.

Seorang Ayah Jadi Badut Rela Menahan Sakit Demi Hidupi KeluargaDi usia 33 tahun, dengan tubuh yang terus menahan sakit, ...
08/01/2026

Seorang Ayah Jadi Badut Rela Menahan Sakit Demi Hidupi Keluarga
Di usia 33 tahun, dengan tubuh yang terus menahan sakit, Pak Rohman terpaksa menjalani kehidupan yang jauh dari kata mudah. Sakit paru-paru yang tak kunjung sembuh dan lambung yang kerap kambuh membuatnya kehilangan pekerjaan. Kini, ia harus berjuang sebagai badut jalanan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dulu, saat tubuhnya masih lebih sehat, Pak Rohman bekerja keras sebagai karyawan untuk mencari nafkah. Namun, kini ia hanya mampu mendapat Rp30.000 dalam sehari, dan sering kali pulang dengan tangan kosong. Itu pun sudah menjadi keberuntungan baginya.
Istrinya baru saja melahirkan anak ketiganya, namun biaya rumah sakit yang belum terbayar membuat bayi mereka terpaksa tertahan di bidan. Sementara itu, kedua anaknya yang masih kecil juga sedang sakit, salah satunya terkena cacar air yang tidak pernah diperiksa oleh dokter.
“Kadang, kalau anak saya pengen beli susu, saya nggak bisa bayar… tapi Alhamdulillah, ada orang baik yang bantu,” ucap Pak Rohman dengan mata berkaca-kaca. Sementara itu, ia harus menahan sakit paru-paru yang sering kambuh, bahkan rela tidak berobat agar keluarganya tidak kelaparan.
Kini, Pak Rohman hanya bisa berharap sedikit rezeki yang didapat dari bekerja sebagai badut jalanan bisa cukup untuk makan dan biaya hidup sehari-hari. Namun, sekeras apapun ia berjuang, beban hidupnya seakan tak pernah berkurang.

Dibuang Ayah Ibunya, Kakek Idris Berjuang Jualan Cemilan Sambil Menggendong Cucu SakitDi tengah teriknya matahari, seora...
07/01/2026

Dibuang Ayah Ibunya, Kakek Idris Berjuang Jualan Cemilan Sambil Menggendong Cucu Sakit
Di tengah teriknya matahari, seorang kakek bernama Kakek Idris terlihat berjalan pelan sambil menggendong cucunya, Muhammad Dava, yang berusia 9 tahun. Setiap hari, kakek renta ini menjajakan usus goreng keliling sambil membawa Dava, karena tidak ada siapa pun yang bisa menjaga cucu kecilnya yang sedang sakit.
Dava mengidap cerebral palsy dan bronkopneumonia, kondisi yang membuatnya lemah dan membutuhkan perhatian khusus. Orang tuanya tega membuangnya begitu saja kemudia pergi dan tidak pernah kembali, meninggalkan Dava di bawah pengasuhan sang kakek. Sejak neneknya meninggal pada 2017, Kakek Idris merawat Dava seorang diri di sebuah gubuk sederhana yang hanya beratapkan plastik biru dan berdinding anyaman bambu.
Setiap hari mereka berjalan hingga 20 kilometer tanpa alas kaki. Saat Dava tidak kuat dan mulai menangis karena panas atau sakitnya kambuh, kakek akan berhenti di tempat teduh untuk menenangkannya. Keuntungan jualan hanya sekitar 10 ribu rupiah per hari, cukup untuk membeli sedikit beras yang dimakan berdua hanya dengan siraman air.
Di balik kelelahan dan keterbatasannya, Kakek Idris tetap merawat Dava dengan penuh kasih sayang. “Saya cuma ingin dia sembuh… supaya walau sekali saja bisa bermain seperti anak-anak lain sebelum saya tiada,” ucapnya sambil menahan haru.
Dava sangat membutuhkan pengobatan dan perawatan yang layak agar kondisinya membaik. Namun, dengan kondisi ekonomi mereka yang sangat terbatas, hampir tidak mungkin bagi sang kakek memenuhi semua kebutuhan medis cucunya

Ayah Telah Meninggal, Zahra Rela Jualan Kopi Keliling Demi Berobat Kanker Gak kebayang sesakit apa rasanya… kanker hidun...
05/01/2026

Ayah Telah Meninggal, Zahra Rela Jualan Kopi Keliling Demi Berobat Kanker
Gak kebayang sesakit apa rasanya… kanker hidung merambat ke otak tapi masih kuat-kuatin untuk jualan kopi keliling.
Mana siang bolong dan panas-panasan lagi. Apalagi baru aja ditinggal oleh Ayah tersayang, tapi gak boleh sedih dan harus tetap berjuang untuk sembuh sambil bantu Mama.

Selama tiga tahun, tumor telah bersarang di hidung Zahra, yang kini berusia 14 tahun, membuatnya kesulitan bernafas. Saat dia berjuang melawan penyakitnya, musibah besar menimpa keluarganya. Ayah yang sangat dicintainya meninggal karena sakit jantung. Rasanya hancur dan kehilangan, mengapa ayahnya harus pergi saat dia sedang berjuang melawan penyakitnya?

3 tahun lalu, ketika sedang bermain di sekolah, Zahra tiba-tiba mengeluarkan d*r*h dari hidungnya dalam jumlah yang sangat banyak. Dia segera dibawa ke rumah sakit, di mana pemeriksaan mengungkapkan adanya gumpalan daging di hidungnya. Kondisinya semakin memburuk, dan dia tidak bisa bernafas melalui hidungnya lagi karena tertutup oleh tumor yang juga telah menyebar ke otaknya.

Meskipun tanpa kehadiran ayah, Zahra tidak sendiri dalam perjuangannya. Ibunya adalah sosok yang luar biasa, selalu ada untuknya. Meskipun hatinya terluka melihat kondisi Zahra, ibunya bertekad untuk membawa Zahra melewati semua rintangan ini. Dia bekerja keras mencari uang untuk biaya pengobatan Zahra yang tidak sedikit.

Zahra, meskipun harus putus sekolah dan berjuang melawan sakit, tidak menyerah begitu saja. Dia membantu ibunya dengan menjual kopi di depan sekolah saat waktu senggangnya. Meskipun terkadang sedih melihat teman-temannya pulang sekolah sementara dia tidak bisa, Zahra tetap bersemangat dan bertekad untuk sembuh.
Pengobatannya butuh biaya yang sangat besar, dan beberapa tindakan dan obat tidak dapat dicover oleh BPJS.

Rasa sakit di hidung dan kepalanya sangat berat, hingga terkadang Zahra tak sanggup bangkit dari kasur. Akan tetapi, harapan untuk sembuh hingga kembali bersekolah dan membanggakan ayahnya menjadi motivasi untuk Zahra tetap berjuang setiap harinya.
“Ayah, Zahra ingin sembuh dan membanggakan Ayah di surga dan juga Mama.”

Ditelantarkan Anaknya, Mbah Sarmi Jualan Daun Pisang Demi Upah 2 Ribu PerakSetiap pagi, saat kebanyakan orang masih terl...
05/01/2026

Ditelantarkan Anaknya, Mbah Sarmi Jualan Daun Pisang Demi Upah 2 Ribu Perak
Setiap pagi, saat kebanyakan orang masih terlelap atau bersiap memulai hari dengan nyaman, Mbah Sarmi sudah melangkah pelan menuju pasar. Tubuhnya yang renta menahan dingin pagi, tangannya menggenggam beberapa lembar daun pisang—satu-satunya harapan untuk bisa makan hari itu.
Mbah Sarmi kini berusia 75 tahun. Ia hidup sebatangkara. Suami yang menemani hidupnya telah meninggal 10 tahun lalu semnatara anaknya tak pernah memperdulikannya bahkan tak pernah menengoknya apalagi menafkahinya. Mbah Sarmi sendirian menjalani hari-hari sunyi tanpa keluarga yang mendampingi, ketika lelah menghampiri Mbah hanya bisa merebahkan tubuh di atas dipan bambu yang keras tanpa kasur.
Daun pisang yang ia jual bukan dibeli dari pemasok. Semua ia cari sendiri di sekitar rumah. Dengan tenaga yang semakin terbatas, Mbah Sarmi memetik satu per satu daun, membersihkannya, lalu membawanya ke pasar. Daun-daun itu ia jual dengan harga sangat murah, hanya Rp1.500 hingga Rp2.000 per lembar.
Namun murahnya harga tidak menjamin dagangannya laku.
Dalam sehari, Mbah Sarmi hanya mampu menjual 2 hingga 3 lembar daun pisang. Bahkan tak jarang, seharian penuh ia duduk di pasar tanpa satu pun pembeli. Uang yang didapatkan pun hanya cukup untuk membeli sepiring nasi putih—tanpa lauk, tanpa gizi yang layak untuk tubuh lansia seusianya.
Ada momen yang paling menyayat hati. Mbah Sarmi sering termenung di pinggir lapaknya. Matanya menatap ke kanan dan kiri, melihat pedagang lain ramai pembeli, dagangan mereka habis, tawa dan obrolan terdengar di sekitar.
Sementara di depannya, daun pisang miliknya masih tersusun rapi, tak tersentuh siapa pun.
Ia tak mengeluh. Ia hanya diam. Menunggu. Dan berharap.
Di rumah sederhana yang ia tinggali sendirian, tak ada yang menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Tak ada yang menemani saat tubuhnya lelah atau saat sakit datang. Namun Mbah Sarmi tetap berusaha bertahan, karena jika ia tidak berjualan, ia tidak tahu bagaimana bisa makan esok hari.
Di usia senja, Mbah Sarmi seharusnya bisa beristirahat dengan tenang. Tapi kenyataan memaksanya terus berjuang, demi sesuap nasi.

Ibu Wafat dan Ayah Kabur, Bocah 15 Th Jadi Penjual Pentol Demi Upah 100 Perak“ ibu sudah tiada kak, kalau ayah pergi nin...
05/01/2026

Ibu Wafat dan Ayah Kabur, Bocah 15 Th Jadi Penjual Pentol Demi Upah 100 Perak
“ ibu sudah tiada kak, kalau ayah pergi ninggalin aku”ucap Afifa
Afifa (15) harus berjuang mencari nafkah dengan keliling berjualan sepulang sekolah. Ia bahkan merelakan waktu bermain untuk bekerja.

Ia setiap hari keliling berjualan pentol tahu milik orang. Satu pentol dijual 500 rupiah, Afifa dapat upah 100 rupiah dari satu pentol yang laku. Seharian biasanya ia dapat 5-10rb saja.
Afifa harus berjuang tanpa orang tua.

Ibunya meninggal saat Afifa 9 tahun karena komplikasi, setelah itu ayah pun ikut pergi ninggalin Afifa bersama kakek dan nenek.
Setahun ini kakek terbaring sakit menderita stroke hingga lumpuh, sedangkan nenek menderita asam urat tak mampu bekerja lagi.

Kini hanya Afifa satu-satunya harapan mereka.
Setiap berjualan Afifa harus menahan lapar sampai pentol nya habis terjual. Kadang Afifa bingung memilih membeli beras atau obat kakek

Jualan Keliling Sejauh 7 KM, Lansia Ini Hidupi Cucu Yatim yang Dibuang IbunyaHidupi cucu yatim terlantar nenek bertahan ...
02/01/2026

Jualan Keliling Sejauh 7 KM, Lansia Ini Hidupi Cucu Yatim yang Dibuang Ibunya
Hidupi cucu yatim terlantar nenek bertahan hidup menjadi penjual cangkarok.
Nenek Mahwani (64) setiap hari harus berjuang mencari nafkah untuk bisa menyambung hidup ditengah kondisi sakitnya. Nenek keliling berjualan cangkarok (nasi karak).
Semua itu dilakukan nenek Mahwani untuk cucu yatimnya. Fahmi (5) ia harus kehilangan ayahnya meninggal ketika berusia 3 tahun, sedangkan ibunya membuangnya begitu saja sudah bertahun-tahun sampai sekarang belum pernah kembali.
Kini, nenek lah yang menjadi pengganti orang tuanya. Sang cucu hanya punya nenek satu2nya.
Setiap hari nenek dan cucunya berjalan sekitar 7 km menawarkan cangkarok yang dijualnya kepada orang yang ditemuinya.
Satu ikat berisi 10 bungkus, satu bungkus cangkarok dijual harganya 500 perak saja. Paling dalam sehari hanya dapat 10 ribu itupun jika laku semua.
Bahkan, sering sekali jualan cangkaroknya laku sedikit. Hanya dapat 2 ribu saja karena tak ada yang beli cangkarok nenek.
Nenek dan cucunya hanya bisa makan cangkarok tersebut untuk mengganjal rasa laparnya ditambah dengan air minum saja.
Di usia senjanya ia masih harus berjuang mencari nafkah agar cucu yatimnya bisa makan.

Ditiggal Ayah Saat Masih Kecil, Ifroh Rela Jadi Kuli Demi Hidupi Kakek Stroke"Maafkan Ifroh ya, Kek. Ifroh belum bisa ba...
02/01/2026

Ditiggal Ayah Saat Masih Kecil, Ifroh Rela Jadi Kuli Demi Hidupi Kakek Stroke
"Maafkan Ifroh ya, Kek. Ifroh belum bisa bahagiakan Kakek... Nanti, kalau ada uang, semoga Ifroh bisa bawa Kakek berobat, belikan baju yang bagus, dan makan enak bersama," ucap Ifroh (10 tahun).

Kisah hidup Ifroh begitu menyentuh hati. Bocah kecil ini menjadi yatim sejak usia 2 tahun, ketika sang ayah wafat karena sakit parah. Karena keterbatasan biaya, ayahnya tak sempat dibawa ke rumah sakit. Sepeninggal sang ayah, Ifroh dirawat oleh kakeknya, sementara sang ibu mengalami kebutaan dan tunarungu. Kini, di usianya yang baru 10 tahun dan duduk di kelas 5 SD, Ifroh menghadapi ujian yang berat. Sang kakek mengalami stroke sejak dua tahun lalu, dan demi melanjutkan sekolah serta merawat kakeknya, Ifroh bekerja sebagai kuli batu di tambang dekat rumahnya.

Saat anak-anak lain menikmati waktu tidur siang atau bermain, Ifroh tak punya kemewahan itu. Sepulang sekolah, ia langsung menuju tambang batu di bawah terik matahari, tanpa alas kaki, dan dengan tubuh kecilnya yang bercucuran keringat. Mengangkat pasir dan batu sudah menjadi kebiasaannya. Karena tenaga Ifroh yang terbatas, juragan tambang tak menuntut seperti pekerja dewasa.

Jika tambang sedang ramai, Ifroh mendapatkan upah sekitar Rp15.000; namun jika sepi, ia hanya membawa pulang Rp5.000. Saat upahnya sedikit, Ifroh dan kakeknya sering kali hanya bisa makan ketela rebus sebagai pengganti nasi.
"Berat rasanya melihat Ifroh, Nak. Dia harus kerja di tambang demi bantu rawat Kakek. Kakek sering nangis, apalagi kalau dia cuma bawa pulang uang Rp5.000,” ungkap kakek Ifroh sambil menitikkan air mata.

Anak sekecil Ifroh tak pernah tahu betapa besar risiko yang dihadapinya di tambang batu tradisional itu. Tanpa perlindungan, ia mengangkat batu-batu besar dengan tangan mungilnya, tak sadar akan bahaya longsor atau batu yang jatuh dari atas. Meski begitu, Ifroh terus berjuang agar tetap bisa sekolah dan merawat sang kakek. Setiap sore, sepulang dari tambang dengan tubuh lelah dan wajah kotor, Ifroh tetap meluangkan waktu untuk menyuapi dan mengelap kaki kakeknya yang bengkak. Upah dari menjadi kuli batu hanya cukup untuk membeli obat-obatan sederhana bagi kakeknya

Kehidupan Ifroh memang tak seberuntung anak-anak lain. Ia hidup dalam serba kekurangan dan harus merawat kakeknya yang sakit. Namun, semua itu tak membuatnya patah semangat. Dalam setiap doanya, Ifroh hanya berharap agar kakeknya diberi kesehatan, karena kakeklah yang menjadi alasan ia terus bertahan dan menggapai cita-citanya.

Remaja 14 Tahun Tak Gengsi Jualan Cemilan Demi Rawat Adik Idap Syndrome LangkaJelita (14) selalu tergesa-gesa pulang dar...
02/01/2026

Remaja 14 Tahun Tak Gengsi Jualan Cemilan Demi Rawat Adik Idap Syndrome Langka
Jelita (14) selalu tergesa-gesa pulang dari sekolahnya yang setara dengan SMP. Meskipun tidak setiap hari, ia harus meninggalkan adiknya Sendi (5) yang menderita syndrome langka. Tubuh Sendi kurang berkembang, masih seperti bayi. Kepalanya membesar disertai matanya yang nampak kosong tanpa penglihatan. Jangankan berjalan, merespon pun Sendi tidak mampu.
Setiap hari, Jelita berjualan makanan ringan berkeliling dengan membawa Sendi di pangkuannya. Beban berat barang jualan ditambah gendongan tak membuat Jelifa mengeluh. Ada tanggung jawab sebagai seorang kakak yang harus ia penuhi. Ikhtiar itu ia sanggupi karena tak ada lagi yang adiknya miliki, sebab orangtuanya pergi bekerja merantau dan belum kembali.
Saat ini, Jelita mengenyam pendidikan nonformal sebab orangtuanya yang hanya serabutan tidak mampu membiayai pendidikan formal juga jarak sekolah yang terlampau jauh. Tetapi, angan Jelita sangat menginginkan untuk bersekolah di sekolah negeri seperti teman-temannya yang lain. Ia harap, di tingkat selanjutnya keingingan yang ia impikan dapat terwujud.
"Sebenarnya, aku gak tega bawa adek jualan karena kasihan s**a kepanasan juga kehujanan. Apalagi kondisi adek sensitif dan sakit. Lebih gak tega kalau adek sendirian di rumah", ujar Jelita sambil berlinang air mata. Tak ada pilihan pasti bagi kehidupannya sekarang. Di usia nya yang masih sangat dini, ia harus memikul beban dan tanggung jawab atas kehidupan.
Perjuangan keras Jelita semata-mata untuk memenuhi kebutuhan Sendi dan dirinya sendiri. Ia berikhtiar dengan ikhlas demi kasih sayangnya untuk Sendi.

Address

Jl, Ds Pulosari Brebes
Brebes

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kisah Dari Mereka posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share