01/04/2026
Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Aljufri bukan sekadar peringatan waktu wafat seorang ulama besar, tetapi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang telah beliau wariskan bagi bangsa dan umat. Sosok yang akrab dikenal dengan panggilan Guru Tua, telah menorehkan jejak panjang dalam membangun peradaban, khususnya di kawasan Indonesia Timur, melalui dakwah, pendidikan, dan penguatan akhlak umat.
Perjuangan Guru Tua dimulai dari kesadaran bahwa kebangkitan umat tidak akan terwujud tanpa pendidikan. Dalam konteks penjajahan dan keterbatasan akses ilmu pada masa itu, beliau mendirikan lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi Alkhairaat. Dari sebuah madrasah sederhana di Palu, Alkhairaat tumbuh menjadi jaringan pendidikan yang meliputi ribuan sekolah, madrasah, dan perguruan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui Alkhairaat, Guru Tua tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai kebangsaan, kemandirian, dan semangat persatuan. Ini menunjukkan bahwa perjuangan beliau tidak terbatas pada aspek keagamaan semata, melainkan juga berkontribusi nyata dalam membangun Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan berilmu. Dalam banyak catatan sejarah, Alkhairaat menjadi salah satu pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, terutama di wilayah yang sebelumnya minim akses pendidikan.
Pesan kehidupan Guru Tua sangat relevan dalam konteks hari ini, termasuk dalam pelaksanaan program-program sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH). PKH yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui akses pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial sejatinya sejalan dengan visi Guru Tua: membangun manusia dari akar, yaitu keluarga dan pendidikan.
Dalam perspektif nilai yang diwariskan Guru Tua, PKH bukan sekadar bantuan sosial, tetapi harus dipandang sebagai jalan untuk memuliakan manusia. Bantuan yang diterima hendaknya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas hidup—memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak, menjaga kesehatan keluarga, dan membangun kemandirian ekonomi secara bertahap.
Guru Tua mengajarkan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk berhenti berjuang. Justru dalam keterbatasan, manusia diuji untuk tetap berikhtiar, bersabar, dan menjaga kehormatan diri. Maka, dalam konteks PKH, penting untuk menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan semangat perubahan, agar bantuan yang diberikan tidak melahirkan ketergantungan, tetapi kemandirian.
Haul ke-58 ini mengingatkan kita bahwa perjuangan belum selesai. Tantangan zaman boleh berubah, tetapi prinsip tetap sama: membangun manusia melalui ilmu, akhlak, dan kepedulian sosial. Apa yang telah dirintis oleh Guru Tua melalui Alkhairaat harus terus dilanjutkan—tidak hanya dengan mengenang, tetapi dengan mengamalkan.
Akhirnya, pesan besar dari Guru Tua untuk kita semua adalah: jadilah manusia yang memberi manfaat, bangunlah kehidupan dengan ilmu dan adab, serta jadikan setiap kesempatan—termasuk program sosial seperti PKH—sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki kualitas hidup umat.
Karena sejatinya, warisan terbesar seorang ulama bukan hanya bangunan atau lembaga, tetapi manusia-manusia yang tumbuh menjadi lebih baik karena sentuhan ilmunya.
========