10/09/2013
THE SILENT COUNTRY WITH BLUE EYES
Bicara masalah keturunan Portugis, Lamno juga dikenal dengan pesona wanita bermata birunya. Mereka tinggal di pedalaman Lamno yang sebenarnya gak semua bermata biru, ada yang bermata coklat, yang tidak ada hanya bermata uang..haha..rasa penasaran iseng-iseng ngeliat tiap cewek yang lewat berpas-pas-an dengan mobil alis, haha. Cewek Lamno banyak yang manis-manis, sesekali melihat mereka dengan balutan kerudung yang melingkari wajah putihnya, dengan dihiasi mancungnya hidung yang terletak di manisnya senyuman. Sangat khas, hingga saat tulisan ini dibuat, masih terbayang…haha
Satu kali di pasar central Lamno, terlihatlah wanita itu, pakaian ungu menjadi perhatian saya dari jauh, menjadi perhatian, karena wajah putihnya menjadi nilai lebih, hingga ia sampai berada di samping, terlihat cahaya biru dari matanya, alamak….. manis nya roman itu…
Adat istiadat warga Lamno bermata biru ini tak berbeda dengan adat istiadat dan kebudayaan masyarakat pada umumnya. Bahasa Aceh mereka, logat, maupun aksen, serta pengucapannya sama dengan bahasa Aceh biasa dan berlogat Aceh Barat. Menu makanan, dan makanan khasnya adalah makanan khas Aceh, seperti kari, dan masakan Aceh lainnya. Dan nasi merupakan makanan utamanya.
Seorang pemilik rumah makan di Lamno menceritakan pada hari-hari pasar mingguan, wanita dan pria bermata biru ini datang ke Pasar Lamno untuk belanja. "Kalau mau melihat mereka, saat itulah," kata pemilik tempat makan Ci taa Rasa di jalan pasar Lamno (makan siang disini lumayan enak, ada ayam gulai, ikan paya dll). Tapi jarang yang mau difoto. Maka untuk mendekati pria atau gadis Lamno bermata biru sebaiknya melalui kepala desa atau tokoh-tokoh Desa Daya yang biasanya lebih terbuka dengan masyarakat luar, gitu katanya..hhe
Sejarahnya kenapa mereka banyak yang bermata biru bermula dari cerita kerajaan Daya, saat masa penjajahan Portugis. Sebuah kapal perang Portugis yang kalah perang dengan Belanda di Melaka/Singapura. Dalam perjalannya dari Singapura ke negaranya mengalami kerusakan dan terdampar di daratan Kerajaan Daya, pada abad ke-15.
Raja Daya tidak membiarkan begitu saja kapal perang Portugis yang lari dari Perang Malaka dan Singapura itu bersembunyi di daratan Daya. Tentara Daya menembaki kapal itu dengan meriam-meriam besar hingga kapalnya tenggelam. Semua awak kapal dan tentara Portugis menyerah dan minta perlindungan dari Raja Daya, sambil menunggu datangnya kapal Portugis datang menjemput mereka.
Seluruh awak dan tentara Angkatan Laut Portugis tersebut kemudian ditawan oleh Raja Daya dan dikurung dalam suatu kawasan yang berpagar tinggi. Mereka menunggu bantuan, tetapi komunikasi sulit dan bantuan tak pernah datang. Akhirnya mereka menyerah kepada Raja Daya dan menyatakan masuk agama Islam. Setelah itu mereka pun dibebaskan dari tempat tawanannya. Mereka kemudian diajar bertani, diajar bahasa, adat istiadat dan kebudayaan Aceh, dan belajar menjadi orang Aceh. Dan jadilah mereka penduduk Aceh hingga sekarang.
Kalau melihat warga Lamno yang bermata biru atau coklat dan berprofil Eropa ini, tak salah kalau pakar sejarah Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Muhammad Gade, mengatakan ejaan lama kata "ATJEH" mempunyai makna, Arab (A), Tjina (Tj), Eropa (E), dan Hindustan/India (H). Maka orang Aceh yang sekarang, sebagian besar adalah keturunan Arab, Cina, Eropa, dan Hindustan.
Kerajaan Islam pertama adalah Pasai (Pase) berdiri pada abad ke- 9. Pase yang sekarang tepatnya berada di kawasan pantai Samudera Gedong, sekitar 25 km dari Lhok Seumawe arah ke Medan. Di sini masih dapat disaksikan bekas-bekas bandar besar dan sebuah kompleks makam besar keluarga Sultan Pase (Sultan Malikussaleh). Tanah sekitar Bandar Pase ini hingga sekarang banyak mengandung pecahan keramik kuno Cina yang diperkirakan dibawa oleh kapal-kapal Cina yang kemudian juga terlibat perang dengan Kerajaan Pase.
Kerajaan Pase, Daya dan Pedir (Pidie), dan Lamuri kemudian bersatu menjadi Kerajaan Aceh Darussalam pada tahun 1513 di bawah Raja Ali Mughayat Syah dari Kerajaan Lamuri. Ketika Kerajaan Pase diperintah Sultan Zainal Abidin (tahun 1511), tentara Portugal sebelum berperang melawan Kerajaan Melaka, sempat menyerang Kerajaan Pase.
Menurut Ali Akbar, Ketua Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) Cabang Kabupaten Aceh Utara, semua peristiwa itu masih dapat dibaca tertulis dalam aksara Babilonia, Arab, dan Turki kuno pada beberapa batu nisan besar Kompleks Makam Sultan Malikussaleh, Raja Pasai (Pase).
Oke, selesai bicara tentang wanitanya, pesona alam di perjalanan menuju Lamno tidak kalah menarik untuk dibicarakan. Perjalanan berawal dari pantai barat Banda Aceh, mulai dari kawasan Lhok’nga. Jangan lupa untuk membeli kue-kue khas Aceh di kawasan Lampisang, dekat rumah peninggalan Cut Nyak Dhien. Selain untuk membudidayakan peninggalan kuliner tradisional Aceh, juga membantu warga-warga di Lampisang yang saat Tsunami lalu banyak ditinggal keluarganya akibat bencana 2004 itu. Selain itu ya untuk mengisi perut dalam perjalanan yang akan menghabiskan waktu sekitar 3 jam itu.
Jangan lupa p**a untuk mengisi perut dengan makanan mengenyangkan, karena perjalanan akan melewati jalan berkelok-kelok yang merupakan perpaduan 3 gunung, Geureutee, Kulu dan satu gunung lupa namanya, hhe.. kemudian, isi bensin mobil atau motor anda, karena di gunung gak ada SPBU. Oia jangan lupa juga dan yang paling penting, siapkan kamera anda…
Melintasi Lhok’nga, melewati Pabrik Semen Andalas, dengan jembatan curahnya menambah indahnya pantai barat Banda Aceh dan Aceh Besar ini. Perjalanan ini akan ditemani ruas jalan selebar 16 meter, sangat luas untuk ukuran jalan negara di Aceh. Jalan yang dibangun oleh Amerika ini menghabiskan dana $ 1 juta per 1 km nya (itu menurut pak Kuntoro Mangkusubroto, mandor BRR Aceh Nias). Bayangkan perjalanan melintasi negara bagian Amerika di Texas menuju Oklahoma, jalanan sangat luas, namun di perjalanan Banda Aceh ke Lamno, melintasi gunung, hhe..
Pesona laut di sebelah kanan mobil bisa dinikmati dengan mata telanjang, karena apa? Garis laut berada di bawah mobil anda..ya, dibawah tebing yang sangat curam dan sangat rawan akan kecelakaan yang akan menyebabkan mobil langsung masuk ke jurang dan ya seperti yang terbayangkan, masuk ke laut.. Keamanan jalan masih sangat kurang, meski ada di beberapa bagian perjalanan gunung, ada pagar pembatas jurang. (saran buat supir: jangan pernah menikmati pemandangan disini, tanggung jawab penumpang berada di tangan anda). Dari gunung geureutee sangat indah, kelihatan laut nan biru, pesona 2 p**au yang terpisah dari daratan sumatera. Beberapa warung tersedia di tengah perjalanan, namun karena kondisi jalan yang disebelah kiri tebing dan sebelah kanan jurang, sangat susah untuk memarkirkan mobil jika hanya singgah membeli sprite dan coca cola untuk memancing angin dalam perut keluar.
Perjalanan akan sangat berbahaya jika dilakukan di tengah hujan lebat, karena tebing-tebingnya masih sangat rawan menghasilkan hujan batu dari atas. Perhatikan setiap rambu lalu lintas yang ada, karena itu akan sangat membantu kita menikmati perjalanan. Selain rambu-rambu adanya batu jatuh dan tanah longsor, perhatikan p**a rambu-rambu tikungan. Postur geografis Gunung mengakibatkan perjalanan ini banyak menjumpai tikungan berletter U, mungkin ada puluhan tikungan U disini, sebelum akhirnya di kaki bukit, perjalanan kembali pada lebar jalan belasan meter..ada p**a rambu-rambu khas masyarakat Aceh : “Dilarang Berkhalwat..!!”
Dikaki gunung geurutee juga terdapat pasir putih, yang tidak panjang seperti di Pangandaran, Cuma lumayan lah untuk menikmati indahnya pantai yang belum banyak terjamah ini (masih sangat alami), mungkin mirip pantai Pamengpeuk di selatan Jawa.. di kaki Geureutee ini, terdapat sebuah kawasan indah bekas Kerajaan Islam Daya, yang pernah jaya dan kuat.
Di Desa Daya juga terdapat sebuah bukit kompleks Makam Marhum Daya. Di batu-batu Nisannya terdapat catatan-catatan sejarah yang tertulis dalam aksara Babilonia dan Arab. Kompleks Makam Marhum Daya ini terpelihara dengan baik dan selalu ada yang berziarah dan membaca ayat-ayat suci Al Quran. Juga banyak yang datang karena tertarik pada sejarah kebesaran Kerajaan Daya.
ADA tradisi yang cukup menarik dalam masyarakat Daya yang juga diikuti oleh warganya yang bermata biru, yaitu perayaan adat Seumeulueng (suguhan makanan) untuk raja dan juga semua rakyat Daya. Perayaan Seumeulueng ini berlangsung pada setiap Hari Raya kedua Idul Adha.
Pada hari tersebut, seluruh rakyat Daya dengan dikawal oleh 17 pengawal yang berpakaian unik yakni, jubah hitam dengan kepala dan wajah tertutup oleh kerudung hitam sampai ke dada bagian atas, hanya berlubang pada bagian mata untuk melihat. Jubah itu bergaris-garis merah, dan pasukan pengawal kerajaan itu semuanya mengenakan pedang.
Rakyat yang berjalan dibelakangnya membawa hidangan makanan untuk raja. Tempat upacaranya berada di atas sebuah bukit tak jauh dari kompleks Makam Marhum Daya. Karena Raja Daya tidak ada lagi, maka yang menerima hidangan itu adalah salah seorang dari tokoh masyarakat Daya atau bisa juga salah seorang pejabat Kabupaten Aceh Barat yang dihormati rakyatnya.
Hari itu semua warga Daya keluar dari rumahnya dan mereka mengenakan pakaian yang baru yang indah-indah sebagai tanda ikut merayakan hari Seumeulueng. Upacara ini selalu ramai karena masyarakat Lamno, Meulaboh, ibu kota Aceh Barat, dan juga dari Banda Aceh, datang untuk menyaksikan acara langka dan unik itu.
Semua kegiatan adat Seumeulueng itu jika dikemas dalam satu paket wisata, ditambah dengan situs Kerajaan Daya yang masih tersisa, termasuk Kompleks Makam Marhum Daya yang penuh relief beraksara Babylonia, Turki, dan Arab kuno, akan menjadi daya tarik tersendiri.
di kota Lamno sendiri tidak banyak yang menarik, selain wanitanya..setelah shalat Zuhur dijama’ Ashar di Lhoong, perjalanan p**ang menuju Banda Aceh disiapkan, sampah dibuang (ingat untuk tidak membuang sampah sembarangan dimana pun anda bertualang, karena petualang adalah pecinta alam, bukan perusak Alam). Perjalanan hujan, meskipun demikian pemandangan masih terlihat jelas diantara wiper yang dengan setia membersihkan kaca depan mobil. Perjalanan di akhiri dengan makan jagung bakar di pantai Lhoknga, lumayan untuk kembali memanaskan suasana karena dinginnya hujan. Dalam perjalanan p**a akan banyak pedagang yang menjajakan buah-buah seperti Rambutan, Durian, ada juga yang menjual ikan Asin, dari berbagai jenis ikan dan cumi-cumi.
Perjalanan yang menyenangkan, will be back in the next destination.. wait for me the Blue Eyes Girls..