08/07/2026
Transformasi ekonomi Indonesia menuju negara maju membutuhkan sumber pertumbuhan baru. Lalu, mengapa ekonomi dan keuangan syariah menjadi salah satu jawabannya?π
, di tengah ketidakpastian global, setiap negara perlu memperkuat resiliensi yang mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan secara inklusif.
Salah satu peluang strategis Indonesia adalah ekonomi dan keuangan syariah (EKSyar), didukung dengan modal kuat, mulai dari pasar domestik yang besar, sumber daya manusia unggul, ekosistem keuangan syariah yang terus berkembang, hingga dukungan kebijakan yang terintegrasi.
Potensi tersebut tercermin dari kinerja sektor Halal Value Chain yang tumbuh 6,2% pada 2025, didukung peningkatan ekspor makanan minuman halal, pertumbuhan fesyen muslim, serta posisi Indonesia sebagai salah satu destinasi wisata ramah muslim terbaik dunia. Pembiayaan syariah juga tumbuh 10,84% pada April 2026 dengan tingkat risiko yang tetap rendah, yaitu 2,28%.
Untuk memperkuat momentum tersebut, Bank Indonesia bersama Pemerintah, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), dan pemangku kepentingan terus mendorong pengembangan EKSyar melalui penguatan ekosistem produk halal, pembiayaan syariah, literasi, inklusi, inovasi, dan gaya hidup halal.
Hal ini diperkuat dengan amanah Indonesia sebagai Ketua Organisasi Kerja Sama Ekonomi D-8 periode 2026β2027. Dengan populasi lebih dari 1,2 miliar jiwa, D-8 membuka peluang besar untuk memperkuat kerja sama perdagangan, investasi dan pengembangan ekonomi halal di tingkat global.
Sejalan dengan itu, penyelenggaraan D-8 Halal Expo Indonesia pada 8β12 Juli 2026 menjadi langkah strategis untuk memperkuat diplomasi ekonomi antarnegara anggota sekaligus mendorong kolaborasi bisnis halal di pasar global.
Ekonomi dan keuangan syariah diharapkan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru yang memperkuat daya saing Indonesia menuju Indonesia Maju.
π¬Menurut , sektor ekonomi halal apa yang paling berpotensi membawa Indonesia menjadi pemain utama di pasar global?