Kelompok Peduli Biodiversitas Mandalare

Kelompok Peduli Biodiversitas Mandalare untuk alam yang tetap lestari

23/05/2026
18/04/2026

Kegiatan program Berkicik (Belajar Konservasi Bareng Cikananga) dari Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu yang dilaksanakan di SDN 1 Kertamandala bersama Kelompok Biodiversitas Mandalare.

Di kegiatan ini anak-anak belajar sambil bermain. Dikenalkan ke alam sekitar mereka, termasuk satwa liar yang selama ini mungkin belum terlalu mereka pahami.

Kegiatan ini diisi oleh Kak Fifit dan Ka Ica dari .foundation, serta didukung oleh divisi edukasi Biodiversitas Mandalare bersama Ustad Wawan dan Kak Ridho .l.a_

Dari cara mereka merespon, kelihatan kalau pendekatan seperti ini lebih mudah masuk. Ada rasa ingin tahu, ada juga momen mereka mulai paham kenapa alam itu perlu dijaga.
Semoga hal seperti ini bisa terus berjalan dan jadi bagian dari proses belajar mereka ke depan.

06/04/2026

Semalam kami mendapat laporan dari warga…
seekor Trenggiling Jawa masuk ke dalam rumah.
Momen yang mungkin mengejutkan,
tapi sekaligus mengingatkan—bahwa kita hidup berdampingan dengan mereka.

Setelah kami cek, kondisinya alhamdulillah sehat dan masih aktif.
Dan karena trenggiling merupakan hewan nokturnal (aktif di malam hari),
kami memilih untuk melepasliarkannya menjelang malam…

agar ia bisa langsung beradaptasi dengan ritme alaminya.
Bukan sekadar melepas,
tapi mengembalikan satu bagian kecil dari alam
agar tetap berada di jalurnya.

Terima kasih untuk warga yang sudah melaporkan
dan bersedia untuk mengembalikannya.
Semoga ia aman di sana,
dan semoga kita selalu diingatkan
untuk tetap berbagi ruang dengan kehidupan lain.
🌿

11/03/2026

Melalui program “Menjaga Sarang”, Kelompok Biodiversitas Mandalare mendokumentasikan proses induk burung memberi makan anaknya.
Di balik momen sederhana ini, ada kasih sayang dan perjuangan yang sama seperti yang kita rasakan.
Mari bersama menjaga dan melestarikan alam, agar kehidupan kecil seperti ini tetap ada untuk generasi berikutnya.

27/02/2026

Tadi pagi, 27 Februari 2026, kami dapat kabar ada seekor Burung Paok Pancawarna nabrak kaca rumah warga. Burungnya sempat tertangkap, tapi warga langsung menghubungi kami dan menyerahkannya.
Paok Pancawarna ini memang cantik sekali, warnanya mencolok. Dia burung hutan yang lebih sering jalan di lantai hutan, makan serangga dan hewan kecil. Termasuk jenis yang mudah stres kalau terlalu lama dipegang atau disimpan.
Karena kondisinya cukup baik, hari itu juga langsung kami lepaskan kembali ke habitat yang aman 🌳🌿
Biar dia lanjut hidup di tempat yang memang jadi rumahnya 🍃
Semoga Paok Pancawarna ini tetap lestari di alam 🐾🌏
Terima kasih untuk warga yang memilih mengembalikan, bukan menyimpan.

21/02/2026

Ngabuburit kami mah gini weh! 😁

Tebak kita lagi mantau apa? 😊

Alhamdulillah
17/02/2026

Alhamdulillah

Kabar menggembirakan datang dari dunia konservasi satwa liar Indonesia. Populasi Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), burung pemangsa endemik Pulau Jawa yang menjadi simbol negara, kini dilaporkan telah menembus angka 1.000 individu. Angka ini menjadi secercah harapan bagi salah satu raptor paling langka di Indonesia yang selama puluhan tahun berada di ambang kepunahan.

Elang Jawa dikenal sebagai inspirasi lambang negara Garuda Pancasila. Dengan jambul khas di kepalanya dan sorot mata tajam, burung ini kerap dijuluki “Garuda dari Jawa”. Namun di balik status simboliknya, elang ini menghadapi ancaman serius seperti deforestasi, perburuan liar, dan perdagangan ilegal satwa.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Adhi Nurul Hadi menyebut saat ini terdapat sekitar 540 pasang Elang Jawa yang berarti lebih dari 1.000 ekor dan tersebar di 74 kantong habitat di seluruh Pulau Jawa.

Peningkatan populasi ini tak lepas dari kerja keras berbagai pihak, mulai dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), taman nasional, lembaga konservasi, hingga masyarakat sekitar hutan. Habitat utama Elang Jawa tersebar di kawasan hutan pegunungan seperti Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, serta Taman Nasional Meru Betiri. Upaya patroli hutan, rehabilitasi habitat, dan pelepasliaran individu hasil penyelamatan turut berkontribusi pada tren positif ini.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa angka 1.000 individu belum sepenuhnya aman. Populasi tersebut masih tergolong kecil untuk ukuran spesies dengan wilayah sebaran terbatas hanya di Pulau Jawa. Fragmentasi hutan akibat alih fungsi lahan tetap menjadi ancaman nyata yang dapat memecah populasi dan menghambat perkembangbiakan alami.

Karena itu, keberhasilan ini harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan hutan Jawa yang tersisa. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan hutan, tidak memelihara satwa liar dilindungi, serta melaporkan perdagangan ilegal menjadi kunci keberlanjutan populasi Elang Jawa.

Kabar populasi Elang Jawa yang bertambah dan tembus 1.000 ekor bukanlah akhir perjuangan, melainkan awal harapan baru. Jika konsistensi konservasi terus dijaga, bukan tidak mungkin sang “Garuda Jawa” akan kembali menguasai langit hutan Pulau Jawa dengan populasi yang lebih stabil dan aman di masa depan.

17/02/2026

Bukan hanya burung elang dapat laporan sarang apapun gass kita cek dan amati 😁.

Save babi kutil
16/02/2026

Save babi kutil

Mendengar kata “babi” sering kali memunculkan konotasi negatif—hewan yang dianggap kotor, gemar berkubang lumpur, dan mengorek tanah—sehingga kerap dijadikan bahan ejekan.

Citra buruk ini membuat banyak orang menganggap keberadaannya tidak penting, tanpa menyadari bahwa kita sedang berada di ambang kehilangan dua spesies endemik yang kini terancam punah.

Babi kutil jawa (Sus verrucosus) dan babi kutil bawean (Sus blouchi) terus mengalami penurunan populasi yang mengkhawatirkan. Sebagai tindak lanjut dari Lokakarya Perencanaan Aksi Konservasi yang digelar di Taman Safari Prigen awal Februari lalu, Forum Konservasi Satwa Liar Indonesia (Foksi.id) mengadakan diskusi daring melalui Zoom pada Kamis sore, 12 Februari 2026.

Forum bertajuk : "Kisah Si Buruk Rupa—Babi Kutil dan Tantangan Pelestarian Satwa Nonkarismatik" ini menjadi langkah konkret untuk mengampanyekan pentingnya peran kedua spesies tersebut bagi keberlangsungan ekosistem dan kehidupan manusia.

Selengkapnya: https://nationalgeographic.grid.id/read/134352616/merawat-babi-kutil-jawa-dan-bawean-lewat-konservasi-berkelanjutan

Address

Desa Mandalare Kecamatan Panjalu
Ciamis
46264

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kelompok Peduli Biodiversitas Mandalare posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share