26/02/2023
Terakhir Sebelum Gadis itu Menghilang
______________________________________
Tinta: QueenBi
Setiap hari seperti main teka teki. Ada saja kejutan di tiap-tiap tingkatnya. Kadang beruntung kadang juga tidak. Kadang
Menyenangkan, menyebalkan, mengharukan, merindukan.. eh.. bagian ini sepertinya terlalu berlebihan : )
Baiklah, sebelum masuk ke perkara rindu ada baiknya aku memperkenalkan diri dulu biar berasa lebih dekat dan akrab hihihi.
Aku Bimantara Agistya, biasanya teman-teman dan kerabat akrab memanggilku dengan sebutan Mas Abim. Umurku 27 tahun pada 25 Maret 2018 mendatang. Katanya sih, umur segini sudah cukup matang untuk menikah, sayangnya calon mempelai wanita belum juga terlihat. Ohya, aku seorang pengusaha bunga yang terbilang cukup besar di kota ini dan sudah banyak dikenal dari berbagai kalangan.
'Karisma Setangkai Mawar' para pelanggan biasanya menyingkat nama tokoku dengan KSM, jadi aku juga akan menyebutnya demikian. Nah, di KSM ini lah aku menghabiskan waktu dari hari ke hari sambil menyelesaikan teka-teki silang yang semakin ke sini semakin rumit untuk dipecahkan. ..
Teka-teki l ( Datang )
Bulan Mei di tahun 2018.
Hari ini, entah kenapa seperti berbeda. Langit terlihat lebih cerah dari biasanya; Burung-burung terdengar lebih ramai dan ceria; Matahari terasa cukup hangat dan menyegarkan. Seperti biasa, KSM buka pukul 08.00 oleh pak Rudi (karyawan yang paling aku percaya sejak awal toko ini dirintis) setelah itu ia akan lanjut bersih-bersih toko dan menyiram bunga yang tertanam rapih di sekeliling KSM. Berikut juga pak Andi dan semua karyawan ku yang lain akan mengerjakan tugasnya masing-masing. Ada yang bertugas sebagai penanam, pembersih, pemetik, perangkai dan pe-pe lainnya. Sedang aku sendiri akan datang ke toko sekitar pukul 10.00 pagi untuk sekedar ngecek dan berkeliling menyapa customer hingga pukul 12.00 siang.
Sama dengan hari-hari lainnya, KSM selalu ramai pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Kebetulan, KSM tidak hanya menjual bunga, tapi juga pupuk, pot, aksesoris, buket dan lebih banyak lagi printilan-printilan lainnya. KSM tutup jam 17.00/18.00 (tergantung pengunjung)..
"Mas Abim, makan siangnya mau pakai apa hari ini?" Tanya Pak Rudi, rutin setiap hari pada jam makan siang.
"Seperti biasa Pak Rud (Nasi, ayam serundeng, sayurnya dikit, tidak pake kuah). Eh, tapi kali ini pakek kuahnya ya, pak!" Ucapku agak sedikit berteriak karena Pak Rudi sudah menyalakan motor.
.
Ah, tidak terasa hari ini hampir berakhir. Jam menunjukkan pukul 16.27 kurang lebih setengah jam lagi KSM akan tutup, tapi pengunjung masih berkeliaran dan cukup ramai. Seperti yang aku katakan di awal, bahwa hari ini seperti berbeda. Biasanya aku sudah pulang sejak pukul 13.00/14.00 siang tadi, tapi entah kenapa hari ini rasanya nyaman sekali berada di toko.
Hingga waktu tutup tiba dan para pengunjung juga berangsur menyusut sampai akhirnya benar-benar habis pada pukul 17.53.
"Hari ini biar saya yang tutup toko, kalian pulang duluan saja." Titah ku. Sontak membuat mereka kaget dan tidak percaya, Karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya.
" Ini malam minggu, jadi saya ingin tetap disini bersama meraka (menunjuk bunga-bunga) malam ini." Lanjut ku dengan nada bercanda. Mereka menimpali dan kemudian pamit pulang..
Sekarang aku sendiri, berjalan menelusuri jalan setapak diantara bunga-bunga mawar yang mekar sempurna dan merona ini. Mataku menyisir ke segala sisi dari KSM. Aku melihat bunga-bunga cantik yang menjalar dan menggantung di dinding jaring (net yang dipasang seperti sangkar di setiap sisi kanan kiri toko utama yang saling terhubung) yang sekilas terlihat seperti bintang berwarna warni di langit-langit kebun.
Belum sempat aku menyusuri tiap lorong untuk mengecek semua bunga, tapi tiba-tiba mataku tertuju pada setangkai mawar yang terlihat pucat dan layu. Setelah aku mendekat, ternyata ia terlepas dari tangkai lainnya (patah). Aku putuskan untuk memetik dan merendamnya dengan segelas air agar ia bisa kembali segar.
Sambil memandangi mawar tersebut, aku berjalan menuju toko utama untuk mengambil gelas. Saat berada di depan pintu, aku melihat ke arah gerbang yang berjarak kurang lebih 10 meter dari pintu toko. Telihat ada seseorang yang berdiri di sana, sepertinya seorang wanita muda, berambut panjang kira-kira di atas pinggang. Dengan cahaya lampu yang agak ke emas-emasan, membuat wajah gadis itu terlihat sangat cantik. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, matanya sedikit bengkak seperti habis menangis.
Aku berjalan menghampirinya ke arah pagar, untuk memastikan ia baik-baik saja atau butuh bantuan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Tanyaku basa-basi. Dia tidak menjawab apapun, tapi matanya terus tertuju pada mawar yang ku pegang sejak tadi.
"Lagi cari bunga? Mari masuk dan pilihlah didalam barang kali ada bunga yang Nona s**a." Ucapku ramah sambil mempersilahkannya masuk. Lagi-lagi ia tidak menjawab, tapi ia bergerak masuk dan melihat sekeliling dengan tanpa ekspresi.
Ia berjalan sangat lambat, sambil sesekali membelai beberapa bunga yang ia lewati. Kemudian tanpa aba-aba ia berhenti, membuat aku yang sejak tadi membuntutinya kaget dan hampir menabrak punggung gadis itu.
"Kamu ketemu bunga yang cocok?" Tanyaku hati-hati.
Dia menoleh ke arahku, menatapku cukup lama rasanya dan sangat aneh. Dari tatapannya, aku seperti melihat banyak kesedihan dan luka yang tersimpan di sana.
Setelah sekitar 30 detik dia menatapku, matanya lagi-lagi tertuju pada mawar yang masih ku pegang. Perlahan kulihat tangannya terangkat dan merayap mendekati mawar dan mencabutnya dari genggamanku.
Kini mawar itu berada didepan dada si gadis dan bersandar diantara jari jemarinya. Dan tatapan aneh itu berpaling ke mawar. Matanya berkaca-kaca, putik hidungnya memerah.
"Are you okay?" Lagi dan lagi aku bertanya meski tetap tidak ada jawaban.
Kemudian ia merogoh kantong dan mengeluarkan uang pecahan 50 ribu rupiah sebanyak 2 lembar.
"Aku akan membelinya." Ucapnya, sambil menyodorkan salah satu dari kedua lembar tersebut.
"Oh, jangan yang ini Nona. Biar saya ambil yang lain, yang lebih segar." Karna prinsip ku adalah pantang menjual barang yang tidak layak kepada customer. Termasuk bunga layu ini. Namun, setelah menyelipkan uang ke tanganku, gadis itu bergegas pergi.
"Nona, ambil uangmu. Biar saya kasih gratis saja bunganya." Aku berlari kecil mengejarnya dan berusaha mengembalikan uang kepadanya. Tapi tetap saja ia terus berjalan dan tidak menghiraukan ku sama sekali. Hingga akhirnya ia benar-benar keluar pagar dan terus berjalan menjauh dari toko. Aku berhenti mengikutinya namun tetap menatap ia dari belakang. Dia berjalan gontai, sambil memeluk mawar dan tatapannya kosong ke arah depan. Langkahnya terlihat berat, ingin sekali rasanya berlari dan menawarinya tumpangan. Ia terus hanyut dan hilang di ujung jalan...
Teka-teki ll ( Berjalan )
Sejak malam itu, aku selalu pulang malam bahkan tidak jarang menginap. Entah apa yang membuatku seperti ini. Seperti sedang menunggu, tapi tidak tahu apa yang aku tunggu. Aku juga selalu meletakkan pot kecil di dinding pagar dengan setangkai mawar segar bertuliskan 'Untuk Kamu'. Dan setiap hari mawar itu selalu hilang. Entah dibawa seseorang atau jatuh tertiup angin dan lenyap. Tapi aku sangat berharap, bahwa yang mengambil mawar itu adalah dia..
Next ..