27/06/2025
𝗠𝗨𝗦𝗨𝗛 𝗕𝗘𝗥𝗡𝗚𝗜 — 𝗣𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘁𝘂𝗹𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝗧𝗲𝗿𝘀𝗶𝗿𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮 | Oleh: Juara R Ginting ....
Mejuah-juah!
Kalangan akademisi dalam negeri maupun luar negeri umumnya mengenal istilah 𝙈𝙪𝙨𝙪𝙝 𝘽𝙚𝙧𝙣𝙜𝙞 sejak membaca tulisan T. Lukman Sinar mengenai Perang Sunggal. Lukman Sinar menjelaskan Musuh Berngi adalah taktik perang gerilya yang dilancarkan oleh Pasukan Datuk Sunggal dalam membakari bangsal-bangsal tembakau 𝗕𝗲𝗹𝗮𝗻𝗱𝗮.
𝗨𝗹𝗶 𝗞𝗼𝘇𝗼𝗸 merujuk ke tulisan 𝗟𝘂𝗸𝗺𝗮𝗻 𝗦𝗶𝗻𝗮𝗿 itu saat dia menjelaskan tulisan-tulisan beraksara Karo di seruas bambu yang ditemukan pekerja perkebunan tergantung di bangsal tembaku mereka.
“Musuh Berngi akan dilancarkan bila Tuan tidak membayar upah saya membangun bangsal,” demikian kira-kira isi tulisan itu yang dijelaskan oleh Uli Kozok sebagai sebuah ancaman akan membakar bangsal itu di malam hari bila Tuan tidak melunasi pembayaran upah membangun bangsal.
Di Tahun 1990, saya menemukan ancaman yang mirip dengan apa yang disebut Uli Kozok Musuh Berngi itu, ditulis di dalam 𝗔𝗸𝘀𝗮𝗿𝗮 𝗞𝗮𝗿𝗼 pada sehelai kain putih (𝘶𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘨𝘢𝘯𝘨𝘦𝘯) yang dikibarkan pada puncak sebatang tiang bambu. Itu saya lihat di sebuah padang rumput dekat Perkemahan Pramuka Sibolangit.
Isinya: “𝘊𝘪𝘭𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶, 𝘮𝘣𝘪𝘭𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘭𝘵𝘦𝘬𝘮𝘶, 𝘳𝘦𝘳𝘦 𝘵𝘶𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘢 𝘶𝘭𝘪𝘩𝘬𝘦𝘯𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘳𝘣𝘰 𝘴𝘪𝘵𝘢𝘯𝘨𝘬𝘰𝘮𝘶.”
Dari isi tulisan itu tergambar di dalam benak saya kalau beberapa waktu lalu ada seseorang kehilangan kerbau saat dia menambatkannya di padang rumput di sana. Walaupun isinya berupa ancaman seperti Musuh Berngi yang disebut oleh Uli Kozok, dari penelitian lapangan, saya mengenal itu bersifat magis yang dikenal dengan 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘺𝘢𝘩.
Benarkah pengertian Musuh Berngi tiada lain daripada serangan malam alias gerilya?
Ada satu hal menarik dari laporan 𝗝𝗼𝗵𝗻 𝗔𝗻𝗱𝗲𝗿𝘀𝗼𝗻 (1826) saat dia mengunjungi 𝗦𝘂𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹 pada Tahun 1823. Karena 𝗦𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 𝗔𝗵𝗺𝗲𝗱 (putra Penghulu Buluh Cina) tak kunjung datang sementara Anderson tidak punya banyak waktu, dia dan rombongannya berangkat ke Sunggal tanpa Sultan Ahmed.
Tapi, karena tak seorang pun pendatang dari pantai boleh memasuki wilayah 𝗞𝗮𝗿𝗼 tanpa ditemani oleh seorang dalam, seperti Sultan Ahmed yang ibunya berasal dari Sunggal, rombongan itu harus berjalan melalui pinggiran sungai. Di tengah perjalanan, Sultan Ahmed datang menyusul sambil menunggang seekor kuda.
Kini, ditemani oleh Sultan Ahmed, rombongan bisa berjalan mengikuti jalan biasa menuju Sunggal.
John Anderson menjelaskan mengapa mereka berjalan di tepi sungai menuju Sunggal tanpa Sultan Ahmed, sebagai berikut. Menurut para pemikul barang bawaannya, bila mereka menempuh jalan biasa, mereka akan mendapat serangan 𝗠𝘂𝘀𝘂𝗵 𝗕𝗲𝗿𝗻𝗴𝗶.
Penjelasan Anderson pada instansi pertama membuat saya teringat istilah 𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘪𝘦𝘳 yang diperkenalkan oleh 𝗗𝗿. 𝗠. 𝗗𝗿𝗮𝗸𝗮𝗿𝗱 di Barus, Pantai Barat Sumatera. Warga Barus Hilir yang 𝗠𝗲𝗹𝗮𝘆𝘂 tidak bisa melintasi garis frontier untuk memasuki wilayah-wilayah 𝗕𝗮𝘁𝗮𝗸 di Barus Julu. Sebaliknya, orang-orang Batak bisa memasuki Barus Hilir.
Saya sendiri yang beberapa kali mengunjungi 𝗕𝗮𝗿𝘂𝘀, sangat terkesan dengan adanya penggunaan 2 bahasa di Kota Barus yang batasnya adalah sebuah garis abstrak yang membedakan hulu dengan hilir. Di Hilir, bahasa yang digunakan adalah 𝗠𝗶𝗻𝗮𝗻𝗴, sedangkan di Hilir Batak.
Demikian juga terjadi di 𝗣𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗧𝗶𝗺𝘂𝗿 𝗦𝘂𝗺𝗮𝘁𝗲𝗿𝗮. Warga Deli Hilir tidak bisa melintasi garis 𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘪𝘦𝘳 memasuki wilayah-wilayah Karo, sementara orang-orang Karo bebas sampai ke laut hingga berdagang ke 𝗣𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴. Pada instansi ke dua, saya bertanya di benak, mengapa mereka mesti takut Musuh Berngi sementara rombongan Anderson menempuh perjalanan di siang hari (𝘴𝘶𝘢𝘳𝘪). Ini membuat saya teringat pengertian 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘨𝘪 di dalam 𝗕𝗮𝗵𝗮𝘀𝗮 𝗞𝗮𝗿𝗼 yang artinya “𝘭𝘶𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺” dan 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘪 “𝘴𝘰𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺”.
𝗥𝗶𝘁𝘂𝗮𝗹-𝗿𝗶𝘁𝘂𝗮𝗹 𝗦𝘂𝗸𝘂 𝗞𝗮𝗿𝗼 hanya boleh dilakukan pada saat “𝘭𝘶𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺” (𝘣𝘦𝘳𝘯𝘨𝘪) yang durasinya adalah 24 jam (𝘴𝘰𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺 durasinya 12 jam). Ini sebaliknya dari pemahaman kita sehari 24 jam sementara malam hanya 12 jam.
Untuk menjelaskan hal itu, saya mengingatkan kita pada anjuran waktu menanam padi (𝘮𝘦𝘳𝘥𝘢𝘯𝘨), yaitu “𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘰𝘱𝘦 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘥𝘢𝘩 𝘪𝘬𝘶𝘳 𝘣𝘢𝘣𝘪“. Artinya, babi-babi di rumah 𝘒𝘶𝘵𝘢 belum bangun karena 𝘴𝘰𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺 belum tiba.
Berangkat pada 𝘭𝘶𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺, meskipun tibanya di ladang sudah siang hari, kita tetap berada di wilayah 𝘭𝘶𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺 sehingga peristiwa menanam padi itu terjadi di wilayah 𝘭𝘶𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺. Bila 𝘮𝘦𝘳𝘥𝘢𝘯𝘨 dilakukan di wilayah 𝘴𝘰𝘭𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘺 maka padi akan 𝘮𝘦𝘴𝘦𝘯𝘨 (terbakar) oleh matahari.
Demikian juga ritual-ritual Karo, melalui ramalan 𝘯𝘪𝘬𝘵𝘪𝘬 𝘸𝘢𝘳𝘪 serta menentukan waktu 𝘱𝘦𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘦𝘯, ritual dapat berlangsung pada 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘨𝘪 meskipun dalam perhitungan kita manusia-manusia masa kini itu adalah 𝘴𝘶𝘢𝘳𝘪.
Singkat cerita, 𝘔𝘶𝘴𝘶𝘩 𝘉𝘦𝘳𝘯𝘨𝘪 bisa untuk kasus-kasus tertentu berwujud kekerasan seperti halnya Serangan Malam yang dilancarkan oleh Pasukan Datuk Sunggal menghabisi kapital asing di Deli, tapi pada prinsipnya adalah soal KLASIFIKASI. Hal ke dua adalah sebuah pengingat bahwa hanya setelah pendudukan Kolonial Belanda orang-orang Melayu bisa melintasi 𝘧𝘳𝘰𝘯𝘵𝘪𝘦𝘳 memasuki Deli Hulu.
Sebagaimana dikatakan oleh 𝗞𝗮𝗿𝗹 𝗝. 𝗣𝗲𝗹𝘇𝗲𝗿 (2012 [1978]) dalam bukunya Planter and Peasent, 𝗦𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗹𝗶 memindahkan istananya dari 𝗟𝗮𝗯𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗹𝗶 (Deli Hilir) ke 𝗜𝘀𝘁𝗮𝗻𝗮 𝗠𝗮𝗶𝗺𝗼𝗼𝗻 yang terletak di wilayah 𝗨𝗿𝘂𝗻𝗴 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗽𝗶𝗿𝗶𝗻𝗴 alias Deli Hulu. Ini menurut Pelzer untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa dia juga berkuasa terhadap orang-orang 𝗞𝗮𝗿𝗼 (terjadi setelah Belanda datang).
Mejuah-juah INDONESIA 🇮🇩