03/09/2026
Itik Bali, Plasma Nutfah yang Terus Berkembang dan Menopang Tradisi Bali
Gianyar, 2 September 2026 — Pengembangan itik Bali sebagai plasma nutfah lokal terus menunjukkan prospek yang menjanjikan. Di Dusun Anggarkasih, Desa Medahan, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, pemeliharaan itik Bali tidak hanya menjadi kegiatan usaha peternakan, tetapi juga bagian dari upaya mempertahankan sumber daya genetik ternak lokal yang memiliki nilai ekonomi, sosial, budaya, dan religius bagi masyarakat Bali.
Salah seorang peternak, I Wayan Warga, saat ini memelihara sekitar 600 ekor itik. Dari populasi tersebut, rata-rata diperoleh sekitar 360 butir telur per hari, atau tingkat produksi sekitar 60 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa usaha ternak itik memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila didukung oleh manajemen pemeliharaan, pakan, kesehatan ternak, pembibitan, dan pemasaran yang baik.
Itik Bali merupakan salah satu sumber daya genetik ternak lokal yang memiliki karakteristik dan nilai tersendiri. Selain dimanfaatkan sebagai penghasil telur dan daging, itik Bali mempunyai keterkaitan yang kuat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Bali. Telur itik, termasuk jenis dan karakter tertentu, dimanfaatkan sebagai bagian dari sarana upacara keagamaan Hindu di Bali.
Karena itu, pengembangan itik Bali memiliki dua kepentingan sekaligus. Pertama, kepentingan ekonomi, yaitu menghasilkan telur dan produk peternakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pasar. Kedua, kepentingan konservasi, yakni mempertahankan keberadaan plasma nutfah lokal agar tetap lestari dan tidak tergeser oleh perkembangan komoditas ternak lainnya.
Keunggulan pengembangan itik di Bali juga terletak pada pasar yang relatif beragam. Telur dapat dipasarkan untuk kebutuhan pangan sehari-hari, sementara kebutuhan masyarakat terhadap sarana upacara memberikan segmen pasar tersendiri.
Dalam konteks tersebut, peternakan itik di Anggarkasih bukan sekadar menghasilkan komoditas. Usaha ini berada pada persimpangan antara pertanian, ekonomi pedesaan, konservasi plasma nutfah, dan kebudayaan Bali.
Kondisi tersebut memberikan peluang bagi peternak untuk membangun usaha yang lebih berkelanjutan. Telur yang dihasilkan dapat dipasarkan secara rutin, sedangkan keberadaan itik Bali sebagai ternak lokal dapat terus dipertahankan melalui pengelolaan pembibitan dan seleksi ternak yang baik.
Untuk mendukung pengembangan usaha, peternak dapat mulai menerapkan pencatatan produksi secara rutin. Setiap hari, peternak dapat mencatat jumlah itik produktif, jumlah telur yang dihasilkan, konsumsi pakan, kematian, jumlah telur retak, serta kondisi kesehatan ternak. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi produktivitas dan menentukan langkah perbaikan pengelolaan ternak.
Peningkatan produksi telur juga harus diikuti dengan manajemen pakan yang tepat. Pakan merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam usaha itik. Pemanfaatan bahan pakan lokal yang tersedia di sekitar wilayah peternakan dapat menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan efisiensi usaha.
Namun, efisiensi tidak berarti sekadar menekan biaya pakan. Kualitas dan keseimbangan nutrisi tetap harus menjadi prioritas, karena kecukupan energi, protein, mineral, vitamin, dan air sangat berpengaruh terhadap produksi telur serta kondisi tubuh itik.
Selain pakan, biosekuriti dan kesehatan ternak perlu mendapat perhatian. Kandang yang bersih, ketersediaan air minum, pengelolaan limbah, pengendalian penyakit, serta pemantauan kondisi itik secara rutin merupakan bagian penting dari sistem peternakan modern.
Dengan demikian, pengembangan itik Bali dapat bergerak dari pola pemeliharaan tradisional menuju peternakan berbasis manajemen, pencatatan, efisiensi, kesehatan, dan keberlanjutan. Di sisi lain, pengembangan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga plasma nutfah ternak lokal yang telah menyatu dengan kehidupan masyarakat Bali.
Itik Bali bukan hanya ternak penghasil telur, tetapi juga bagian dari kekayaan sumber daya genetik dan budaya Bali yang perlu terus dikembangkan dan dilestarikan.
Londra dan Sutami