30/05/2025
Cuplikan photos dari Mba Lina PW, acara Nobar film Roots di TBK 27 Mei 2025
Congrats dan thank you kepada Michael Schindhelm and the gang atas kemunculan karya film nya; Roots. Film apik dan nikmat ditonton. Film menceriterakan perjalanan 100 tahun Walter Spies di Nusantara, terdampar di tanah Bali lalu menetap di Puri Ubud pada warsa 1925. Bali ketika landscapenya dikelilingi bukit hijau, sawah organik berlimpah air yg berlikaliku.
Dari sini kemudian Walter Spies menerjuni dunia seni lukis dan seni tari yang ada di Ubud Gianyar. Walter Spies bertemu dengan maestro seni lukis seperti; Lempad dan seni tari Limbak. Hibriditas seni dan hubungan saling mempengaruhi pun terwujud. Walter Spies mengorganisir seniman Bali membentuk koperasi Pita Maha, menggeser seni dari ranah sakral ke ranah profan untuk menyambut kehadiran industri pariwisata.
Film Roots lebih banyak bercerita peran Walter Spies sebagai seniman dan koreografer, barangkali ini memang fokus perhatian sang sutradara. Walter Spies hadir di Bali, saat Bali dalam cengkraman kolonialisme Belanda.
Belanda dengan politik etisnya, merasa Bali tempat yg aman dan nyaman untuk bersembunyi dari kebangkitan nasionalisme anti penjajah yg muncul di tanah Jawa. Film Roots, tidak banyak menampilkan peran Walter Spies mendidik kaum pribumi atau orang lokal menyikapi kehadiran kolonialisme Belanda yg menjajah Indonesia.
Namun ada hal menarik dari film Roots yg perlu di-highlight, munculnya dua sosok seniman muda Bali; Made Bayak dan Gus Dark . Kedua seniman ini ditampilkan sebagai βtour guideβ yg memandu βhantuβ Walter Spies tamasya ke alam Bali terkini, dengan suasana yang tentu jauh beda ketika Walter Spies di Bali 100 tahun yg lalu.
Kedua Tour guide seniman muda memperkenalkan βhantuβ Walter Spies bagaimana ganasnya industri pariwisata Bali melumpuhkan sawah, memproduksi sampah, menikam sungai dengan limbah, mengurug laut, menebang pohon, membuat jalanan macet. Dan semua itu terjadi tak terlepas dari lumuran darah korban manusia Bali yg dibantai pada peristiwa genosida 65, setelah 40 tahun dari Roots Walter Spies di tanah Bali.
Roots bergandengan mesra dengan imajinasi liar seniman Bayak dan Gus Dark, menampilkan narasi dan karya genosida 65, dipentaskan di Museum ARMA di Ubud. Museum besar yg biasanya menampilkan karya2 moi indie kesukaan pariwisata.
Ada banyak museum di Ubud dan di Bali, namun lebih banyak memberi ruang menyajikan karya2 romantik beraliran humanisme universal. Jarang memberi ruang untuk karya2 bertemakan 65 atau tema2 yg kritis pada penguasa.
Roots mengajak kita melihat bagaimana perjalanan Bali dari akarnya 100 tahun lalu, tumbuh menjadi seperti hari ini, yg kemudian sangat menentukan untuk langkah Bali selanjutnya.
Suksme π
Photos by Lina Pw