Puisi Cinta Kita

Puisi Cinta Kita Puisi Cinta Kita
Berisi kump**an puisi-puisi tentang cinta

16/10/2024
07/10/2024
03/10/2024
27/09/2024
Padahal sudah kerap introspeksi, agar bisa segera sadar diri, saat kembali menjatuhkan hati..Tapi, kenapa otak tak mau d...
24/10/2021

Padahal sudah kerap introspeksi, agar bisa segera sadar diri, saat kembali menjatuhkan hati..
Tapi, kenapa otak tak mau diajak berkompromi, terus saja tak tahu diri, dengan terus mencintai, padahal jelas tak mungkin dimiliki..??

Buat para pejuang jari yang masih pemula, perlu dipahami beberapa arti tersembunyi dari tanggapan orang yang sedang kamu...
20/10/2021

Buat para pejuang jari yang masih pemula, perlu dipahami beberapa arti tersembunyi dari tanggapan orang yang sedang kamu perjuangkan..
Dipikirkan lagi, baiknya dilanjutkan ke level perjuangan berikutnya atau memilih mengibarkan bendera putih sampai sini saja...

02/05/2021

LUAPAN YANG MERINDU

Kini hatiku menapak pada sebuah lorong gelap tanpa setitik cahaya pelita,
Hanya terdengar sayup ngiang suaramu dalam sekerat ingatan yang perlahan bertambah usang,
Pun itu tak lagi seindah saat kau ada,
Dan rindu yang menetes pada tube kini melantun perlahan dalam simfoni yang makin menggetar perlahan terbias semua tawamu..

Aku merasa sunyi untuk melebur sendiri tiap-tiap detik dalam hidup,
Aku merasa sunyi untuk terus bermimpi dalam sadarku tanpamu,
Jika rindu adalah metamorfosa, yang aku ingin bukan sayap atau sense yang sempurna,
Hanya sebatas mimpi yang terwujud dalam nyataku..

Dan semua rindu yang kau teteskan dalam bentuk buih perlahan meluas membentuk laut yang bergelombang,
Hatiku tenggelam dalam sebentuk karang..

Mungkin hanya dengan bait doa dan permohonan yang tak pernah terputus yang bisa membawa semua luapan rasa yang kau tuang,
Semuanya mengalir makin deras dalam bentuk sungai yang menujumu..

17/01/2021

Kau Yang Berjalan Sendiri
Dan kau masih berjalan di gelap ini..
Menyusuri lorong-lorong tanpa setitik cahaya..
Mungkin kau sembunyikan sedihmu dalam gelap..
Atau mencoba membuat temaram dari api kecilmu sebagai pelipur duka...

Bukan aku tak melihat..
Atau tak peduli..
Tapi, langkahmu yang menyilangi jalan kita..
Kau pilih sendiri menjauh dari pelita dalam genggamanku...

Biarlah,
Langkahmu terseok..
Tanganmu meraba-raba dinding yang dingin..
Yang lembab,
Berlumut..

Hanya kalau kau masih bisa mendengar suaraku,
Tinggalkanlah semua susah hatimu pada hitam di lorong itu..
Agar esok ketika mentari benar-benar tlah tinggi..
Perasaanmu pun menjadi tinggi..
Menerima kenyataan,
Bahwa, jalan kita memang harus terpisah..

Dan aku..
Mungkin jauh sebelum shubuh menyelimuti bumi..
Pelitaku tlah benar-benar padam..
Dan aku akan berjalan terseok dan meraba..
Seperti kau....
, 18/10/15

27/03/2020

ALARM SUDAH BERBUNYI

Alarm sudah berbunyi,
Makin keras dari hari ke hari,
Tapi, kita masih berpura menjadi tuli,
Bertindak seolah tak peduli,
Dengan terus menyombongkan diri,
Seolah sangat yakin mampu melewati semua ini..

Alarm sudah berbunyi,
Makin keras dari hari ke hari,
Dan kita masih tak bisa mawas diri,
Lihatlah, mau berapa lagi ?
Apakah harus kita sendiri yang merasai ?
Agar kita benar-benar bisa mengerti,
Bahwa kita telah salah sejauh ini..

Alarm sudah berbunyi,
Makin keras dari hari ke hari,
Kita masih berpura tak menyadari,
Bertindak sesuka hati,
Dengan terus menyombongkan diri,
Ah sungguh, orang yang paling pantas kita benci adalah diri kita sendiri...

03/27/20

05/02/2019

DAN AKU RINDU

Aku bahkan tak pernah benar-benar memilikimu..
Pernah mengenalmu saja itu sudah terlalu membuatku bahagia,
Hingga malam-malam yang hujan pun tak lagi sedingin tanpamu..
Bahkan tanpa pernah benar-benar harus berada di sampingmu..

Kau bagai mentari,
Dan aku kuncup-kuncup yang tersiakan..
Mekarku ada kala hangatmu benar-benar menyentuhku..
Atau mungkin kau hanya purnama saat malam sendiriku di batas resah..
Saat gelisah dan gundah memenuhi gelap langitku..
Dan rindu akan cahaya memenuhi seisi tempat di hati..
Lalu kau datang dalam sebentuk purnama,
Yang terangnya membakar semua mendung yang memenuhi langitku sejak petang tadi..
Dan terangmu mengisi setiap ruang dalam hati..
Mencipta sejuta harapan lalu menjadikannya mimpi indah pada tiap malamku..

Hingga tiba saatnya,
Hari tak selamanya tak bermendung..
Dan mentari terkadang hilang sepanjang hariku..
Rembulan tak selamanya selalu berpurnama..
Dan cahayamu tak selamanya selalu bisa menemaniku..
Awalnya aku menyerah,
Aku pikir takdirmu dalam hidupku hanya sebatas malam indahku saat itu saja..
Dan senyum ceriamu tak selamanya mampu menemani hariku..
Kini dalam jauhmu aku justru merindumu..
Suatu rasa yang harusnya tak pernah ada..
Karna kau memang tak pernah benar-benar ada untukku..
Tapi, rasa ini makin nyata..
Biarlah,
Siang pun aku sudah menanti..
Merindu pada purnama,
Berharap malamku masih memimpikanmu...

, 06/02/19

18/11/2018

TENTANG WAS-WAS

Ada beban dalam hati,
Tentang keresahan yang mungkin aku sendiri yang membuatnya..
Hingga lelah aku mencegahnya sekalipun,
Toh sekali tolak jauh terlempar, tak mampu lagi terurung dan kembali...

Ini tentang was-was yang aku sendiri mungkin terlalu takut menghadapi..
Mengapa harus terlalu banyak berkata,
Bahkan kejujuran sekalipun terkadang menghancurkan..
Memang baik berkata kebaikan,
Bukankah lebih baik lagi berkata kebijakan..??

Ini tentang syaksangka yang mungkin aku terlalu jauh memikirkannya..
Padahal hari esok tak selalu menjadi mendung,
Jika hanya malam ini mega-mega hitam memenuhi segala penjuru langit..
Mungkin esok pagi mentari bersinar hangat,
Dan siang berlalu panas membakar..
Tapi, bisa jadi juga badai yang datang,
Bahkan mungkin saat hari masih terlalu dini..
Apapun itu, was-was selalu menghantui penuh malam ini..
Berwujud mimpi buruk dari yang terburuk..
Apapun esok,
Aku yang menciptakan awan-awan ini seharian,
Maka, aku p**a yang harus menghadapinya esok...

, 18/11/18

12/11/2018

SEPERTI HUJAN YANG DULU

Seperti hujan yang dulu,
Sore ini turun sederas waktu dulu saat menantimu..
Dengan beberapa kilat walau suaranya tak sampai,
Tertelan jutaan tetes air yang jatuh..
Ku pikir air matamu,
Karna dulu pun kau pernah menangis mengharu,
Seperti derasnya hujan ini..

Seperti hujan yang dulu,
Genangannya makin naik melewati batas di tiap-tiap batang air..
Bahkan dulu kita harus mencari jalan mana yang tak berlubang karna tertutup genangan itu..
Seperti rindumu dulu,
Yang tak hanya memenuhi hari-harimu,
Juga menjadikan dinding hatimu basah..
Yang tak pernah merasa kering,
Karna tak pernah sedetik saja aku tak membasahinya..

Seperti hujan yang dulu,
Yang membuat orang-orang mengurungkan diri dalam rumahnya..
Hanya beberapa yang melawannya,
Membelah derasnya rinainya,
Terjatuhi ribuan tetes air yang beberapa kali buramkan mata..
Dan aku salah satunya,
Melawan dingin rintik-rintik yang semakin menjadi..
Mencarimu..
Menungguimu dalam guyuran kerinduan yang juga semakin menjadi..
Hanya saja, itu hujan yang dulu..
Walaupun mungkin air yang jatuh sekarang sama,
Pun waktu dan tempatnya sama..
Tapi, derasnya tak cukup setetespun menggeraki hati untuk mencarimu..
Walau dinginnya mungkin memaksa merinduimu lagi..
Mungkin, kau sudah menemukan tempat berteduh,
Bahkan saat belum gelap,
Saat gerimis baru saja mulai siang tadi...

, 12/11/18

Address

Gombong, Kebumen
Gombong
54361

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Puisi Cinta Kita posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category