12/11/2018
SEPERTI HUJAN YANG DULU
Seperti hujan yang dulu,
Sore ini turun sederas waktu dulu saat menantimu..
Dengan beberapa kilat walau suaranya tak sampai,
Tertelan jutaan tetes air yang jatuh..
Ku pikir air matamu,
Karna dulu pun kau pernah menangis mengharu,
Seperti derasnya hujan ini..
Seperti hujan yang dulu,
Genangannya makin naik melewati batas di tiap-tiap batang air..
Bahkan dulu kita harus mencari jalan mana yang tak berlubang karna tertutup genangan itu..
Seperti rindumu dulu,
Yang tak hanya memenuhi hari-harimu,
Juga menjadikan dinding hatimu basah..
Yang tak pernah merasa kering,
Karna tak pernah sedetik saja aku tak membasahinya..
Seperti hujan yang dulu,
Yang membuat orang-orang mengurungkan diri dalam rumahnya..
Hanya beberapa yang melawannya,
Membelah derasnya rinainya,
Terjatuhi ribuan tetes air yang beberapa kali buramkan mata..
Dan aku salah satunya,
Melawan dingin rintik-rintik yang semakin menjadi..
Mencarimu..
Menungguimu dalam guyuran kerinduan yang juga semakin menjadi..
Hanya saja, itu hujan yang dulu..
Walaupun mungkin air yang jatuh sekarang sama,
Pun waktu dan tempatnya sama..
Tapi, derasnya tak cukup setetespun menggeraki hati untuk mencarimu..
Walau dinginnya mungkin memaksa merinduimu lagi..
Mungkin, kau sudah menemukan tempat berteduh,
Bahkan saat belum gelap,
Saat gerimis baru saja mulai siang tadi...
, 12/11/18